Pengelolaan kelas adalah merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh guru atau wali kelas untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal guna berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar dengan mendayagunakan potensi kelas dan fasilitas yang ada secara aktif dan effisien. Dalam usaha menciptakan situasi dan kondisi yang demikian maka seorang guru atau wali kelas harus mampu membaca gejala-gejala atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suasana belajar mengajar di dalam kelas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar dalam kelas tersebut banyak sekali ada yang datang dari luar dan ada yang pula yang datang dari dalam. Faktor-faktor yang datang dari luar tersebut faktor exsogen sedangkan faktor-faktor yang datang dari dalam disebut faktor endogen. Faktor exsogen ini secara teori dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu faktor sosial dan faktor non sosial. Sedangkan faktor endogen juga dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu faktor fisiologis dan faktor psichologis. Perlu ditegaskan bahwa penggolongan di atas tersebut sifatnya hanya teoritis untuk memudahkan pembahasan. Di dalam kenyataannya tidak pernah faktor-faktor tersebut berdiri sendiri secara ekslusif terpisah dari faktor-faktor lainnya. Faktor-faktor itu saling pengaruh mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. .Analisa tentang faktor-faktor itu bertujuan untuk mencari cara-cara pengaturannya yang sebaik-baiknya, sehingga faktor-faktor tersebut mempengaruhi belajar dalam arah yang menguntungkan. Untuk lebih jelasnya di bawah ini diuraikan satu persatu mengenai apa itu belajar mengajar, faktor–faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar dan strategi guru menciptakan iklim belajar yang kondusif.
A. Pengertian Belajar
Belajar pada dasarnya adalah merupakan statu proses mental karena orang yang belajar perlu memikir, menganalisa, mengingat, dan mengambil kesimpulan dari apa yang dipelajari. Sehubungan dengan itu terdapat bermacam-macam pendapat tentang apa yang dimaksud dengan belajar. Dibawah ini akan diketengahkan beberapa pendapat tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa aliran psikologi.
1. Menurut aliran psikologi koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi. Menurut pendapat ini orang belajar karena menghadapi masalah yang harus dipecahkan. Masalah itu merupakan perangsang atau stimulus terhadap individu. Kemudian individu itu mengadakan reaksi terhadap rangsangan itu dan bilamana reaksi itu berhasil, maka terjadilah hubungan perangsang dan reaksi dan terjadilah peristiwa belajar.
2. Belajar menurut aliran fungsionalisme adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi atau situasi situasi yang terdapat di sekitar kita. Dalam pengertian menyesuaikan diri itu termasuk mendapatkan kecekatan kecekatan dan sikap yang baru.
3. Aliran behaviorisme dan psicho-reflexologi menganggap belajar sebagai usaha untuk membentuk reflex-reflex baru. Bagi aliran ini belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan gerakan reflek dan dengan adanya conditioning. Rentetan gerakan-gerakan reflek itu dapat menimbulkan reflek reflek buatan.
4. Menurut aliran psikologi asosiasi, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru. Peristiwa dipandang sebagai masalah yang harus dipecahkan berdasarkan tanggapan-tanggapan yang telah ada. Orang mendapatkan hubungan antara tanggapan tanggapan itu dan hubungan antara tanggapan tanggapan dengan obyek yang dipecahkan.
5. Para ahli psikologi pikir dan psikologi gestalt mengatakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses yang aktif, yang dimaksud dengan aktif disini bukan hanya aktivitas yang tampak seperti gerakan gerakan anggota anggota badan tetapi juga aktivitas aktivitas mental seperti persepsi berpikir, mengingat ingat dan sebagainya.
6. Psikologi dalam dan Klinis mengemukakan belajar adalah suatu usaha untuk mengatasi ketegangan-ketegangan psichis. Bila orang ingin mencapai tujuan dan ternyata mendapatkan rintangan, maka hal itu bisa menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu baru bisa berkurang bila rintangan itu di atasi, dan usaha mengatasi rintangan itulah yang dinamakan belajar.
Dari uraian di atas, menunjukan bahwa adanya pendapat yang bermacam macam mengenai apa yang dimaksud dengan belajar. Namun demikian disamping adanya perbedaan perbedaan mengenai prumusan tentang arti belajar tersebut, tetapi kalau kita kaji dan analisa secara dalam maka terdapat kesamaan kesamaan mengenai aspek aspek yang terdapat dalam proses kegiatan belajar sebagaimana yang dikemukakan olehJ.L. Mursell sebagai berikut : It has revealed a number or specipic or emphasis in the general orientation more define 1) Learning is assentially purposive. It is meaningful in the sense that it matters to the learner. 2) The basic process of learning is one of exploration and discovery, not of routine repetition. 3) The out come or result achieved by learning is always the emergence of insight or under standing or intelegible respond. 4) That result is not tied to the situation in which it was achieved, burt can be used also in other situation.
Sesuai dengan pendapat J.L. Mursell, maka aspek aspek yang terdapat dalam kegiatan proses belajar adalah : 1. Bahwa belajar itu bertujuan. Adanya tujuan itu akan nyata apabila murid dihadapkan masalah. Ia bertujuan memecahkan masalah itu. Ia terlibat dalam pemecahan masalah itu. 2. Bahwa belajar itu prosesnya berlangsung dengan penyelidikan dan penemuan, bukan berlangsung secara ripititif. Seorang yang belajar perlu dihadapkan pada sesuatu masalah. Untuk dapat memecahkan masalah itu perlu adanya penyelidikan dan penemuan pemecahannya. 3. Bahwa hasil belajar adalah munculnya pemahaman, munculnya pengertian, munculnya respond yang berakal. 4. Bahwa hasil belajar itu tidak hanya terikat pada situasi munculnya pemahaman saja, tetapi dapat digunakan pada situasi lain.
Dengan demikian seseorang dikatakan belajar, apabila menghadapi masalah yang harus dipecahkan. Untuk memecahkan masalah tersebut tentu saja diperlukan cara atau jalan untuk memecahkannya dengan mencari keterangan-keterangan atau data yang diperlukan. Kemudian keterangan ataupun data-data yang sudah dikumpulkan tersebut dihubungkan dengan masalah yang dihadapi sehingga apabila terdapat kesesuaian akan muncul pemahaman dan dengan dengan demikian masalahpun akan terpecahkan. Bilamana telah sampai pada tingkat pemahaman ini, maka seseorang yang belajar akan dapat memecahkan masalah ini dalam situasi yang bagaimanapun dan dimanapun. Peristiwa ini dalam belajar dikenal dengan istilah transfer of learning atau tarnfer of training. Dengan munculnya pemahaman maka sesuatu yang dipelajari pada sesuatu situasi akan dapat diterapkan pada situasi yang lain. Dengan demikian tidak ada perbedaan yang nyata antara pengertian tranfer of learning dengan application ( pengeterapan ). Apabila tidak terjadi transfer dalam belajar berarti belajarnya gagal. Kegagalan dalam transfer disebabkan dalam belajar hanya mentitik beratkan kepada belajar secara memorisasi, secara ripitatif, bukan secara insight ( pemahaman ).
Sehubungan dengan itu ada sementara pendapat yang membedakan adanya dua macam proses kegiatan belajar yaitu connection formaing dan rationall learning. Proses belajar connection forming adalah proses belajar yang dilaksanakan oleh mereka yang lemah berfikir ( feeble minded human ) yaitu dengan menghafal fakta-fakta. Sedangkan belajar rationall learning adalah belajar yang dilakukan dengan jalan pemahaman.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila terjadi perubahan dalam tingkah laku ( respond ). Dengan demikian apabila tidak terjadi prubahan dalam respond tidak ada perbuatan belajar. Perbuatan-perbuatan ( tingkah laku ) di mana ada perubahan dalam respond adakalanya perbuatan yang menuju kemunduran dan adakalanya menuju ke perkembangan. Dalam hal ini perbuatan belajar berwujud adanya perubahan dalam respod yang menuju ke proses perkembangan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Pinsent ” Learning is process of development and we can define it as a process of developmen which result in the modifications of respond “ .
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses perubahan . Perubahan-perubahan itu tidak hanya perubahan lahir tetapi juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang nampak tetapi juga perubahan –perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan- perubahan itu buka perubahan yang negatif tetapi perubahan yang positif yaitu perubahan yang menuju ke arah kemajuan atau ke arah pebaikan.
B. Pengertian Mengajar
Mengajar secara umum diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam menyampaikan sejumlah fakta, informasi atau pengetahuan kepada siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkannya di kelas. Pada hal fungsi guru dalam mengajar tidak hanya menyampai sejumlah pengetahuan kepada siswa, tetapi juga membentuk kepribadian siswa. Pengetahuan yang disampaikan hanyalah sebagai alat untuk membentuk kepribadian siswa yang utuh dalam arti beriman dan berbudi pekerti luhur, cerdas dan terampil, sehat jasmani dan rohani, demokratis dan bertanggunga jawab, mandiri dan demokratis, cinta tanah air dan bangsa. Dengan demikian didalam mengajar, guru juga mendidik. Mengajar sebagai alat untuk mendidik. Sedang mendidik, prosesnya berlangsung dalam kegiatan mengajar. Tugas mendidik inilah kadang-kadang dilupakan oleh guru dalam kegiatan mengajar yang dilakukannya di kelas.
Mengajar dewasa ini tidak hanya diartikan sebagai wujud kegiatan yang dilakukan oleh guru di muka kelas, tetapi juga kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum mengajar seperti pembuatan persiapan mengajar dan kegiatan yang dilakukan oleh guru setelah proses mengajar seperti memberi tugas baik individu maupun kelompok dan mengadakan evaluasi. Dengan demikian mengajar merupakan suatu proses dimulai dari persiapan, pelaksanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Disamping itu pengertian mengajar bukan hanya berwujud proses kegiatan mengajar tetapi juga proses kegiatan belajar. Dengan demikian di dalam setiap mengajar selalu terdapat dua proses kegiatan itu : 1. Proses kegiatan dari siswa yang berwujut proses kegiatan belajar 2. Proses kegiatan dari guru berwujut proses kegiatan mengajar.
Di dalam proses mengajar, terjadi interaksi belajar mengajar, guru menyampaikan bahan pelajaran dari berbagai sumber belajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku yang berorientasi kepada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan menggunakan metode dan media tertentu untuk memudahkan siswa di dalam menerima dan memahami apa yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya melakukan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa telah memahami bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Di dalam proses belajar siswa melakukan aktivitas mendengar, melihat, membaca, dan menulis bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru dalam situasi pengajaran tertentu.
C. Komunikasi Guru – Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar
Mengajar pada dasarnya merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa yang dilakukan secara sadar, sistimatis dan terencana. Mengajar dilakukan secara sadar artinya bahwa proses komunikasi itu dilakukan dengan sengaja yaitu dengan melakukan aktivitas :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam proses mengajar
2. Menyiapkan bahan pelajaran yang disampaikan sesuai dengan tuntutan kurikulum
3. Memilih metode yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran
4. Memilih media pengajaran yang sesuai dengan bahan pelajaran yang disampaikan
5. Menyusun evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar
Agar aktivitas itu dapat dilaksanakan secara efektif, selanjutnya disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau program satuan pelajaran yang akan menjadi acuan guru di dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistimatis artinya kegiatan itu dilakukan menurut urutan langkah langkah tertentu dimulai dari persiapan, penyampaian bahan pelajaran, pelaksanaan dan diakhiri dengan penutupan pelajaran. Urutan langkah-langkah dalam mengajar itu, juga disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau program satuan pengajaran.
Pada umumnya penyajian bahan pelajaran dalam suatu proses interaksi belajar mengajar menempuh tiga fase yaitu : 1. Fase pendahuluan ( a warming up phase ) 2. Fase menghasilkan ( a phase of full out – put ) 3. Fase penurunan ( a slowing – down Phase )
Fase pertama, yaitu fase pendahuluan dimaksudkan untuk penyusunan mental set yang favourable guna penyajian bahan pelajaran. Dalam penyusunan mental set ini pelaksanaannya dengan mengadakan rekapitulasi bahan pelajaran yang disajikan untuk menyambut bahan pelajaran yang baru yaitu dengan menjelaskan tujuan penyajian bahan dan sebagainya.Sedangkan waktu yang digunakan pada phase ini tidak berlangsung lama.
Fase Kedua, yaitu fase menghasilkan yaitu siswa-siswa mulai mengkonsentrasikan perhatiannya. Pada fase ini bahan pelajaran baru merupakan kesatuan bahan pelajaran yang diajarkan atau disajikan. Dalam fase ini metode, media dan alat peraga mengajar digunakan. Keterampialan mengajar dan prinsip-prinsip mengajar diterapkan oleh guru. Konsentrasi perhatian siswa-siswa tetap, tetapi menunjukan konsentrasi perhatian yang mantap, diikuti dengan aktivitas belajar mendengar, memperhatikan, bertanya dan mencatat pelajaran yang disampaikan oleh guru. Adakalanya perhatian siswa mengendor, kemudian menjadi tegang. Dapat pula dikatakan perhatian siswa berfluktuasi sesuai dengan bahan yang disajikan dengan metode mengajar yang digunakan. Ini disebabkan karena kebosanan, kelelahan dan sebagainya. Dalam keadaan demikian perhatian tidak dalam keadaan semula.
Fase ketiga, yaitu fase penurunan konsentrasi perhatian berlangsung perlahan-lahan. Ini berarti bahwa penyajian bahan pelajaran dengan menggunakan suatu metode mengajar secara berangsur-angsur perlu diakhiri. Pada akhir suatu penyajian bahan pelajaran pada umumnya konsentrasi perhatian siswa sudah mulai menurun. Menurunnya konsentrasi siswa disebabkan kelelahan mental. Menurut Thorndike, tokoh psikologi dari Amerika, mengemukakan bahwa ada dua sebab terjadinya kelelahan mental yaitu : 1. Substructie yaitu berkurangnya energi 2. Additie yaitu bertambahnya reaksi instinktif yang dierimanya.
Pada waktu siswa mengadakan konsentrasi terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru, banyak reaksi instinktif yang ditahan. Misalnya ingin berdiri, ingin bercakap-cakap, ingin berjalan dan sebagainya.Ini tidak semua dilaksanakan karena mengadakan perhatian. Makin lama dalam mengadakan konsentrasi, perhatian bertambah, makin kuat reaksi instinktif yang direm menyebabkan enerji berkurang dam akhirnya menimbulkan kelelahan mental.
Mengajar merupakan kegiatan terprogram. Ini berarti dakam menyampaikan bahan pelajaran, guru menyusun rencana pengajaran yang disesuaikan dengan jam mengajar per minggu dan target waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan keseluruhan bahan pelajaran. Sehubungan dengan itu ada dua program pengajaran yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau program satuan pelajaran dan program semester.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau Program Satuan Pelajaran yaitu program pengajaran yang disusun oleh guru pada waktu akan tampil mengajar di kelas. Program semester yaitu program pengajaran yang disusun oleh guru untuk jangka waktu enam bulan yang berisikan jumlah frekwensi pertemuan guru- siswa dan pokok bahasan pelajaran yang harus diselesaikan.
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar
Faktor faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar adalah faktor-faktor yang menentukan terciptakan kondisi belajar yang kondusif, dinamis dan produktif bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Faktor –faktor tersebut secara garis besarnya dikelasifikasikan ke dalam dua faktor yaitu faktor exsogen dan faktor endogen. Fakto exsogen adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa terdiri dari faktor sosial dan non sosial. Sedangkan faktor endogen adalah faktor yang berasal dari diri siswa, terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis
1. Faktor Sosial
Faktor-faktor sosial di sini adalah faktor yang berhubungan dengan kehadiran manusia, baik manusia itu ada ( hadir ), maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan artinya tidak langsung hadir yang dapat mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Kehadiran sesorang atau orang lain pada waktu siswa sedang belajar dapat mengganggu suasana belajar dalam kelas. Misalnya ketika sesorang guru sedang menjelaskan materi pelajaran kepada siswa dalam kelas, siswa-siswa kelas sebelahnya ribut karena tidak ada gurunya atau siswa-siswa disebelahnya sedang belajar menyanyi atau tiba-tiba seorang siswa yang terlambat hadir datang mengetuk pintu . Hal ini dapat mengganggu suasana belajar di kelas tersebut. Selain daripada itu kehadiran seseorang secara tidak langsung mempengaruhi juga suasana belajar dalam kelas. Misalnya pada waktu siswa-siswa sedang mengerjakan soal-soal matimatika, maka terdengar suara radio atau televisi yang sedangkan menyiarkan pertandingan bulu tangkis atau sepak bola antara kesebelasan Indonesia melawan kesebelasan Korea Selatan
2. Faktor Non Sosial
Faktor-faktor non sosial yang dapat mengganggu suasana belajar ini tak terbilang banyaknya antara lain dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor alam dan alat-alat perlengkapan atau fasilitas yang digunakan untuk belajar. Faktor alam misalnya keadaan cuaca. Cuaca yang agak panas tentu akan mempengaruhi belajar siswa di dalam kelas. Selain daripada itu juga waktu belajar. Belajar di waktu pagi hari tentu lebih baik dari pada belajar pada waktu sore hari. Mengenai hal ini telah banyak dilakukan penelitian oleh ahli-ahli pendidikan. Mengenai fasilitas dapat dicontohkan misalnya tempat belajar. Belajar di tempat yang tenang tentu akan lebih berhasil jika dibandingkan dengan belajar di tempat yang gaduh. Hal inipun telah banyak dilakukan penelitian. Selain dari pada itu dapat pula dicontohkan misalnya keadaan gedung. Keadaan gedung yang baik, jika dibandingkan dengan keadaan gedung belajar yang kurang baik, tentu suasana belajarnya akan berbeda. Kaadaan gedung yang baik ditunjang dengan fasilitas belajar yang cukup tentu akan membawa pengaruh pada suasana belajar yang baik.
3. Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis individu juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa atau siswi. Faktor fisiologis adalah keadaan jasmani manusia. Keadaan jasmani siswa atau siswa yang segar tentu akan lain dengan keadaan jasmani yang tidak segar pada saat menerima pelajaran dalam kelas. Keadaan jasmani yang lelah tentu akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani siswa yang tidak lelah. Dalam kaitan ini perlu dijelaskan mengenai pengaruh nutrisi terhadap tonus jasmani manusia. Kekurangan kadar makanan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani yang mengakibatkan timbulnya kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, daya tahan rendah, konsentrasi rendah dan sebagainya. Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa dalam kelas. Selain dari pada itu keadaan fungsi fisiologis juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa terutama fungsi panca indera. Sampai saat ini telah terbukti bahwa diantara panca indera yang lima macam tersebut, mata dan telinga memegang peranan yang penting sekali dalam belajar. Penyelidikan-penyelidikan mengenai daya diskriminasi, kemampuan membuat orientasi, ketepatan dan kecepatan persepsi langsung bersangkut paut dengan fungsi panca indera ini. Lebih-lebih penglihatan ( mata ) dan pendengaran ( telinga ). Siswa yang selalu bertanya karena kurangnya pendengaran dan penglihatan tentu akan mengganggu aktivitas belajar di kelas.
4. Faktor-Faktor Psikologis
Belajar sebagai masalah psikologis disyaratkan oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis memegang peranan yang menentukan di dalam belajar. Karena itu sudah sepantasnya faktor-faktor ini mendapatkan pembahasan dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar dalam kelas. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor perhatian, faktor kognitif, faktor affektif, faktor konatif atau motivasi dan intelegensi.
a. Faktor Perhatian
Aktivitas belajar mengajar yang baik adalah suatu aktivitas belajar mengajar dimana siswa mendengarkan penjelasan-penjelasan dari guru dengan penuh perhatian dan guru menyampaikan bahan pelajaran dengan penuh semangat. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar diusahakan agar guru dapat menimbulkan perhatian siswa-siswa nya. Biasanya hal yang menarik perhatian adalah hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi siswa. Suasana belajar yang tidak menarik perhatian akan menimbulkan keributan di dalam kelas. Hal-hal yang menarik perhatian dapat ditunjukan melalui tiga segi ( Wasty Soemanto, 2003 ), yaitu : 1). Segi objek ; hal-hal yang mearik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteknya, misalnya : – benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang. – Warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnnya. – Stimuli yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya. – Keadaan, sifat, sikap dan cara yang berbeda dari biasanya – hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak. 2). Segi subjek ; hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut- paut dengan pribadi subjek, misalnya : – hal-hal yang bersangkut-paut dengan kebutuhan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan minat dan kesenangan subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan profesi dan keahlian subjek – hal-hal yamh bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek – hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman subjek – hal -hal yang bersangkut paut dengan tujuan dan cita-cita subjek 3). Segi komunikator ; Komunikator yang membawa subjek ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya, misalnya : – guru/komunikator yang memberikan pelayanan/perhatian khusus kepada subjek – guru/komunikator yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya. – guru/komunikator yang memiliki sangkut paut dengan subjek. Usaha-usaha lainnya yang dapat dilakukan dalam membangkitkan perhatian anak didik dalam belajar mengajar, yaitu penggunaan metode penyajian pelajaran yang dapat diterima oleh anak didik. Penerimaan ini akan efektif apabila pelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak didik.
Ada macam-macam perhatian yang tepat dilakukan dalam belajar yaitu : 1). Perhatian intensif perlu digunakan, karena kegiatan yang disertai dengan perhatian itensif akan lebih terarah. 2). Perhatian yang disengaja perlu digunakan, karena kesengajaan dalam kegiatan akan menegmbangkan pribadi anak didik. 3). Perhatian spontan perlu digunakan, karena perhatian yang spontan cenderung dapat berlangsung lebih lama dan intensif daripada perhatian yang disengaja.
b. Faktor Kognitif
Faktor kognitif juga dapat mempengaruhi suasana belajar di kelas. Faktor ini berkaitan erat dengan perhatian. Suasana belajar di mana guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah tanpa menggunakan alat peraga yang menarik dapat menimbulkan kebosanan bagi siswa yang belajar di kelas. Sehingga tujuan institusional yang diharapkan oleh guru tidak akan tercapai karena siswa-siswa tidak mengerti dan tidak mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru dengan penuh perhatian. Oleh karena itu di dalam proses belajar mengajar, faktor kognitif siswa ini perlu diperhatikan dengan jalan menimbulkan minat dan perhatian siswa terhadap bahan pelajaran yang disampaikan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan minat belajar siswa. Pertama, menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi. Dengan metode dan media yang bervariasi kebosanan dalam belajar dapat dikurangi atau dihilangkan. Kedua, memilih bahan yang menarik minat dan kebutuhkan siswa. Sesuatu yang dibutuhkan akan menarik perhatian, dengan demikian akan membangkitkan minat untuk mempelajarinya. Ketiga, memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas. Sasaran akhir ini baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan minat belajar maka diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan sebagainya. Keempat, memberi kesempatan untuk sukses. Bahan atau soal-soal yang sulit hanya bisa diterima atau dipecahkan oleh siswa pandai, siswa yang kurang pandai sukar menguasai atau atau memecahkannya. Agar siswa yang kurang pandai bisa menguasai/memecahkan soal, maka berikan bahan/soal yang sesuai dengan kemampuannya. Keberhasilan yang dicapai siswa dapat menimbulkan kepuasan dan kemudian membanglitkan minat belajar. Kelima, ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi rasa persahabatan, ada rasa humor, pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian dapat membangkitkan minat belajar siswa. Keenam, adakan persaingan sehat. Persaingan yang sehat dapat membangkitkan minat belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil belajar yang dicapai orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah. ( R.Ibrahim dan Nana Syaodah s, 1992 )
c. Faktor Afektif
Faktor afektif juga dapat mempengaruhi suasana di kelas. Faktor afektif ini berkaitan dengan perasaan. Perasaan yang saling senang menyenangi antara siswa –siswa dalam kelas, guru dengan siswa akan menimbulkan situasi dan kondisi belajar yang kondusif, sehingga guru dapat menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan rencana pengajaran ( Satuan pelajaran ) dan siswa dapat menerima bahan pelajaran tersebut dengan baik. Oleh karena itu hubungan manusiawi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar perlu dibina dengan sebaik-baiknya. Apabila siswa tidak menyenangi gurunya sudah barang tentu pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, tidak dikuasainya karena siswa malas mempelajarinya karena benci dengan guru bidang studi tersebut.
Selain dari pada itu juga hubungan yang tidak menyenangi antara siswa dengan siswa juga akan menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan yang akhirnya mempengaruhi situasi belajar dalam kelas, malahan mungkin sampai keluar kelas.
d. Faktor Konatif atau Motivasi
Motif adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Jadi motif, bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Oleh karena itu untuk menimbulkan sesuatu aktivitas dalam belajar bagi siswa, motif perlu dirangsang . Motivasi ini sangat penting artinya dalam kegiatan belajar mengajar. Pemberian motivasi kepada siswa menimbulkan pesaingan yang sehat diantara siswa-siswa dalam meningkatkan proses belajarnya. Suasana belajar mengajar di kelas akan hidup dan penuh semangat. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan dengan memberikan hadiah sesuatu untuk siswa yang berprestasi dikelas, memberikan penghargaan, mengirim siswa untuk mengikuti lomba cerdas cermat dan sebagainya.
e. Faktor Intelegensi
Intelegensi memegang peranan penting di dalam kegiatan belajar. Pendapat para ahli mengenai intelegensi ini dalam belajar bermacam-macam. Sementara ahli menganggap intelegensi memegang peranan yang menentukan. Sedangkan yang lain menganggap intelegensi mempunyai peranan yang kecil saja. Namun pada umumnya para ahli beranggapan bahwa intelegensi itu merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Namun demikian harus pula diingat bahwa intelegensi ini dapat juga mempengaruhi aktivitas belajar mengajar di kelas, kalau seorang guru tidak tahu mengarahkan atau mengendalikannya.
Selanjutnya kita ketahui bahwa anak di dalam kelas, mempunyai kemampuan intelegensi yang berbeda-beda. Kemampuan anak tersebut secara garis besarnya dapat digolongkan ada yang pintar, sedang dan kurang. Seorang guru atau wali kelas harus mengetahui anak-anak yang termasuk ke dalam kelompok kelompok terebut. Dengan memahami keadaan anak yang demikian, maka seorang guru akan dapat menentukan sikap terbaik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga dengan demikian akan menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif di kalangan anak atau siswa berupa timbulnya gairah belajar yang tinggi dikalangan siswa-siswa. Pada suatu ketika guru tersebut memberikan tugas kepada salah seorang siswa mengerjakan soal-soal matimatika ke depan kelas. Ternyata soal tersebut merupakan soal yang tingkat kesukaranya cukup tinggi dan anak yang disuruh mengerjakan soal tersebut adalah anak yang termasuk dalam kelompok kurang. Akibatnya soal tersebut tidak mampu diselesaikan oleh anak yang bersangkutan. Demikian seterusnya soal yang sukar diberikan pada anak yang sedang ataupun kurang. Soal yang sedang diberikan kepada anak yang kurang dan yang pintar. Sehingga menyebabkan anak yang kurang dan yang sedang tidak mampu menyelesaikan soal-soal tersebut. Akibatnya menurunnya gairah belajar anak. Berbeda dengan hal di atas, apabila seorang guru memahami tentang keadaan siswa-siswanya, maka di dalam memberikan tugas untuk mengerjakan soal soal matimatika tersebut tentu disesuaikan dengan kemampuan anak masing-masing. Akibatnya soal-soal yang dikerjakan anak anak atau siswa tersebut dapat diselesaikan semua. Hal ini akan menimbulkan semangat belajar pada anak atau siswa-siswa tersebut di dalam kelas.
Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah kepada kita bahwa betapa pentingnya seorang guru atau wali kelas memahami tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar anak atau siswa di dalam kelas. Mengetahui faktor-faktor tersebut seorang guru atau wali kelas akan mampu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menciptakan, mempertahankan dan mengembangkan situasi belajar mengajar yang efektif, kondusif dan produktif di dalam kelas dalam rangka mencapai tujuan sebagaimana yang telah digariskan di dalam kurikulum sekolah sesuai dengan tngkat dan jenis pendidikan masing-masing.
E. Strategi guru dalam Menciptakan Iklim Belajar dan Pembelajaran yang Nyaman, Aman, Tenang dan Menyenangkan
Iklim belajar dan pembelajar yang kondusif dalam arti nyaman, aman. tenang dan menyenangkan merupakan prasyarat bagi berlangsung kegiatan belajar yang dinamis, kreatif dan produktif. Kondisi seperti ini akan meningkat hasil belajar siswa, karena siswa termotivasi dalam belajar dan belajar tanpa merasa tertekan.
Adapun strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi belajar yang kondusif adalah :
1. Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran. Dalam sistem pembelajaran kelasikal, sebagian peserta didik akan sulit untuk mengikuti pembelajaran secara optimal dan menuntut peran ekstra guru untuk memberikan pembelajaran remedial
2. Memberikan pembelajaran remedial bagi para peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah. Dalam sistem pembelajaran kelasikal, sebagian peserta didik akan sulit untuk mengikuti pelajaran secara optimal. Dan menuntut peran serta guru untuk memberikan pembelajaran remedial
3. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman, dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik, serta pengelolaan kelas yang tepat, efektif dan efisien
4. Menciptakan kerja sama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan pandangannya tanpa ada rasa takut mendapatkan sangsi atau dipermalukan.
5. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini guru harus mampu memposisikan diri sebagai pembimbing dan manusia sumber. Sekali-kali cobalah untuk melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan pembelajaran, agar mereka merasa bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.
6. Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan sebagai sumber belajar.
7. Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri ( self evaluation ). Dalam hal ini guru sebagai fasilitator harus mampu membantu peserta didik untuk menilai bagaimana mereka memperoleh kemajuan dalam proses belajar yang dilaluinya. Dengan terkondisinya iklim belajar yang kondusif, akan mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efetktif dan bermakna yang lebih menekankan pada belajar mengetahui ( learning to know ), belajar berkarya ( learning to do ), belajar menjadi diri sendiri ( learning to be ) dan belajar hidup bersama-sama secara harmonis ( learning tog live together ). Suasana seperti itu akan memupuk tumbuhnya kemandirian dan berkurangnya ketergantungan di kalangan siswa, bersifat adaptif dan proaktif serta memiliki jiwa enterprenership ulet, inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, kerja keras, disiplin, menghargai kualitas dan berani mengambil resiko.