Pengaruh Heterogenitas Terhadap Hasil belajar Program Studi Sejarah STKIP-PGRI Pontianak

Oleh:
Drs.H.Zuldafrial M.Si
Buchari S.Pd, M.Pd

ABSTRAK
Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh heteregonitas Mahasiswa yang disebabkan oleh faktor pembawaan dan lingkungan terhadap hasil belajar Mahasiwa program studi sejarah STKIP-PGRI Pontianak. Metode penelitian ini metode ex post facto dengan disain factorial 2x2x2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: (a) Jenis kelamin b) Latar beelakang Pendidikan dan (c) Pekerjaan Oang Tua. Variabel terikat adalah hasil belajar. Variabel kontrol adalah: (a) Tahun perkuliahan akademik 2012-2013 (b) Hasil belajar semester dua.
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapat disimpulkan hasil penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah sebagai brikut: (1). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih baik dari kelompok Mahasiswi.(2). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri dan mahasiswa – mahasiwi yang berasal dari SLTA swasta. Kelompok mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta. (3). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa- mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri dan mahasiswa-mahasiwi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. kelompok mahasiswa-mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa-mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. (4). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa-mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan asal sekolah. (5). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa-maahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan pekerjaan orang tua (6). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar Mahasiswa-mahasiswi berdasarkan interaksi asal sekolah dan pekerjaan orang tua.(7). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa- mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua.

Kata Kunci: Heteregonitas, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Di dalam pendidikan formal berupa sekolah, hasil belajar itu dinyatakan dengan nilai. Nilai itu dikelsifikasikan sangat baik, baik, sedang dan kurang. Pengkelasifikasian hasil belajar itu untuk menunjukan tingkat penguasaan bahan yang telah dipelajari oleh siswa atau mahsiswa melalui suatu penilaian hasil belajar.
Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada peserta didik yang belajar mewarnai hasil belajar yang dicapai. Perbedaan-perbedaan atau keheterogenan dari pada peserta didik itu, pada dasarnya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitiu faktor yang terdapat di dalam diri peserta didik yang dibawanya sejak lahir. Faktor tersebut adalah faktor psikologis dan faktor fisiologis. Faktor psikologis umpamanya bakat, intelegensi, minat dan kemauan.Ini berbeda diantara peserta didik tersebut. Demikian pula dengan faktor fisiologis umpamanya jenis kelamin dan kemampuan panca indera.Ini juga dapat berbeda-beda diantara peserta didik.
Dalam kaitannya dengan panca indera, kita mengenal adanya tipe-tipe manusia diantaranya: ada diantaranya manusia yang bertipe visual yaitu mudah memahami sesuatu melalui penglihatan. Ada yang bertpe auditif, yaitu mudah memahami sesuatu melalui pendengaran. Ada pula yang betipe kinestik, yaitu mudah memahami sesuai dengan melakukan atau berbuat. Selain itu ada pula yang mudah memahami sesuatu melalui penglihatan dan pendengaran. Orang yang demikian disebut bertipe audio-visual.
Faktor eksternal yaitu faktor yang terdapat di luar diri peserta didik yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan diantaranya lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Lingkungan sosial umpamanya lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkunga sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Ini dapat berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain. Demikian pula halnya dengan lingkungan fisik. Umpamanya ada yang mempunyai fasilitas belajar yang lengkap dan ada yang tidak, ada yang mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dan ada pula yang tidak, katerena sibuk bekerja.
Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk melihat apakah heteregonitas peserta didik yang disebabkan oleh faktor pembawaan dan lingkungan memberikan pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar peserta didik STKIP-PGRI Pontianak ?
Dalam lembaga pendidikan formal berupa perguruan tinggi, pengetahuan, kepandaian, ataupun kecekatan-kecekatan yang dipelajari oleh mahasiswa di dapat melalui mata mata kuliah yang diajarkan sesuai dengan program studi di perguruan tinggi masing-masing. Mata mata kuliah itu diberikan dalam satu semester. Keberhasilan mahasiswa dalam menguasi pengetahuan, kepandaian itu dinyatakan dengan nilai atau indeks prestasi belajar setelah melalui suatu proses ujian. Jadi hasil belajar adalah pengetahaun, kepandaian atau kecakapan yang dicapai oleh mahsiswa setelah memepelajari suatu mata kuliah atau sejumlah mata kuliah yang ditunjukan dengan nilai atau indek prestasi yang diperoleh setelah melalu suatu ujian.
Penilaian akhir suatu mata kuliah harus memenuhi keempat komponen. Apabila tidak memenuhi salah satu komponen, maka mahasiswa yang besangkutan dinyatakan tidak lulusan mata kuliah tersebut. Skor akhir suatu mata kuliah merupakan hasil penggabungan dari kempat macam komponen itu, sebagai berikut:
a). Skor aktivitas kelas (kehadiran) (H), dengan bobot 10%
b). Skor tugas (T) dengan bobot 20%
c). Skor ujian tengah akhir semester (M), dengan bobot 30%; dan
d). Skor Ujian akhir semester (S), dengan bobot 40%
Keberhasilan studi mahasiswa perguruan tinggi dinyatakan dengan indek prestasi (IP). Indek ini dihitung setiap akhir semester dan berkisar dari skor 0,00 – 400. Ada dua macam indeks prestasi yaitu:
1) Indeks prestasi mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa selama semester yang baru berakhir disebut Indeks Prestasi Semester (IPS), dan;
2) Indeks Prestasi yang diperoleh beberpa semester yang telah ditempuh, atau disebut Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang diperoleh dengan memperhitungkan secara komulatif (keseluruhan) nilai kridit mata kuliah yang telah ditempuh samapi semester akhir.
Pengkelasifikasian tingkat kerhasilan mahasiswa dalam belajar berdasarkan indeks prestasi mahasiswa yang didapat setelah melalui suatu proses ujian menentukan jumlah sks yang dapat diambil untuk beban belajar semester berikut.
IP semester              Beban belajar                        Kategori

3,00 – 4,00               22 – 24 sks                             sangat baik
2,50 – 2,99                19 – 21 sks                             Baik
2,00 – 2,49                16 -18 sks                              Cukup Baik
1,50 – 1,99                 13 -15 sks                              Kurang
0,00 – 1,49               12 sks                                     Gagal/Tidak lulus

Keberhasilan seseorang dalam belajar umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dikelsifikasikan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Fakta dengan adanya dua realitas ini, yakni realitas individu yang mengandung faktor internal dan realitas lingkungan yang mengandung faktor eksternal, maka perlu kiranya diketengahkan teori perkembangan individu yaitu teori nativisme, teori empirisme dan teori konvergensi ( Fudyartanta, 1970: 57)
a. Teori Nativisme
Nativisme berasal dari kata “nativis“ yang artinya pembawaan. Teori ini berpendapat pembawaan atau nativius lah yang menentukan perkembangan individu. Individu yang pembawaanya baik maka perkembangannya akan baik pula.Jadi jika seseorang mempunyai intelegensi yang tinggi maka hasil belqajarnya juga akan tinggi.sebaliknay demikian pula, jika intelegensi seseorang rendah, maka hasil belajarnya juga akan rendah.

b. Teori Empirisme
Empirisme berasal dari kata “ empiris “ yang artinya pengalaman. Teori ini berpendapat bahwa perkembangan individuditentukan oleh pengalaman yang diperoleh individu. Karena pengalaman datangnya dari luar, maka faktor eksternallah yang menentukan perkembangan individu. Teori ini menekankan bahwa perkembangan individu diutentukan oleh pengaruh lingkungan. Jadi hasil belajar seseorang akan baik, jika lingkungannya baik dan hasil belajar sesorang menjadi kurang baik, jika lingkungannya tidak menunjang.
c. Teori Konvergensi
Teori ini merupakan perpaduan daripada teori nativisme dan teori empirisme. Teori ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan. BaIk faktor internal maupun eksternal kedua-duannya mempengaruhi dan memegang peranan penting dalam perkembangan individu. Hasil belajar yang dicapai seseorang adalah merupakan hasil kerja sama antara faktor internal dan eksternal.
Dari ketiga teori perkembangan individu itu, maka teori terakhirlah yang menjadi pegangan kita. Bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Oleh karemna itu hasil belajar yang dicapai oleh sesorang merupakan perpaduan dari kedua faktor ini.
Hasil belajar seseorang dapat pula dipengaruhi oleh fasilitas belajar, umur orang yang belajar, pekerjaan, latar beakang pendidikan dan jenis kelamin. Siswa atau mahasiswa yang mempunyai fasilitas belajar yang cukup dalam menunjang aktivitas belajarnya, tentu akan mendapat hasil belajar yang lebih baik jika dibandingkan dengan siswa atau mahasiswa yang belajarnya tidak ditunjang oleh fasilitas belajar yang memadai. Siswa atau mahasiswa yang masih muda, tentu hasil belajarnya akan lebih baik, jika dibandingkan dengan siswa atau mahasiswa yang sudah tua. Karena orang muda lebih cepat menangkap, lebih mudah mengingat, dan lebih cektan dalam belajar dibandingkan dengan yang sudah tua. Siswa atau mahasiswa yang belum bekerja dibandingkan dengan yang sudah bekerja. Tentu hasil belajarnya lebih baik yang belum bekerja, karena lebih banyak punya waktu untuk belajar dan lebih terkonsentrasi dalam belajar. Latar belakang pendidikan juga dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang. Penidikan yang diterima sebelumnya akan mempengaruhi hasil belajar seseorang. Orang yang melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan pendidikan yang diterima sebelumnya, akan lebih mudah menerima dan memahami apa yang dismapaikan oleh guru atau dosen karena telah mempunyai dasar pengetahuan tentang apa yang dipelajarinya.Tidak demikian halnya dengan orang yang tidak mempunyai dasar pengetahuan tentang pendidikan yang diikutinya. Mereka harus lebih banyak belajar untuk dapat memahami pelajaran-pelajaran atau perkuliahan-perkuliahan yang disampaikan guru atau dosen.
Selain itu jenis kelamin juga dapat mempengaruhi hasil belajar.sesorang. Jenis kelamin merupakan faktor pembawaan yang dibawa seseorang sejak ia dilahirkan. Jenis kelamin mempengaruhi sifat atau karekter sesorang. Karekter laki-laki umumnya tegas, rasional, cekatan dan ulet pantang menyerah. Karekter wanita lembut, emosional, lamban dan mudah menyerah.Namun demikian laki-laki punya sifat ceroboh, tidak sabar, dan kurang cermat. Berbeda dengan wanita yang punya sifat teliti, sabar dan cermat dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Karekter dan sifat-sifat ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi cara-cara belajar dan hasil belajar mahasiswa atau mahasiwi.
Sementara itu konstruksi sosial dari seksualitas, mengacu pada proses ketika ide-ide, prilaku dan kondisi seksual dintrepretasikan dan dipelajari, setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan mengembangkan kapasitas seksualnya menurut aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat dan kebudayaannya. Ada larangan dan keharusan yang telah ditetapkan dalam masyaraat yang mempengaruhi prilaku mereka.(Anna Marie Wattie, 1996:184). Secara kemampuan akademis tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, hanya faktor biologislah yang membedakan antara pria dan wanita, dimana secara kodrati wanita melahirkan dan menyusui anak. Semua peran yang dilakuan oleh laki-laki mampu juga dilakukan oleh wanita.
Latar belakang pendidikan sebelumnya dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang. Sebab kualitas pembelajara yang diterima oleh sesorang dari suatu pendididkan akan menjadi dasar bagi seseorang untuk dapat mengikuti dengan baik pendidikan lanjutannya. Apa yang telah diketahui seseorang akan berfungsi sebagai filter yang akan membantu mereka dalam menentukan dan menaruh perhatian pada suatu informasi atau materi pelajaran yang disajikan (Rudiana, 2012:34). Oleh sebab itu pengalaman belalajar yang lalu berpengaruh terhadap keberhasilan belajar yang dilakukan pada saat sekarang ini. Kualitas pembelajaran yang kurang efektif yang diterima siswa sebelumnya menjadi salah satu faktor penghambat kegagalan siswa dalam megikuti pelajaran pada studi lanjutannya.
Seorang mahasiswa atau mahasiswi akan dapat belajar di suatu perguruan tinggi dengan baik, jika ia telah mendapatkan pendidikan ang baik pula pada saat menempuh pendidikan di sekolah menengah. Karena belajar adalah merupakan upaya menghubungkan pengetahuan yang telah kita memiliki dengan pengetahuan baru, respon yang berakal menyebabkan munculnya pemahaman, muncul insight yang menunjukan bahwa proses pembelajaran itu behasil. Jika sesuatu itu tidak memiliki relevansi atau bertentangan dengan kumpulan pengetahuan yang dimiliki seeorang , maka ia jarang sekali bisa bermakna. Hal menjadi sebab mengapa seseorang sangat sulit untuk memahami sesuatu pesoalan yang dipelajarinya.
Pendidikan pada Sekolah Menengah Negeri pada umumnya lebih baik dibandingkan dengan pendidikan di Sekolah Menenah Swasta. Sekolah Menengah Negeri sumber daya pendidikannya lebih terjamin seperti kualifikasi tenaga pengajar, fasilitas belajar dan pendanaan karena umumnya mendapat bantuan dari pemerintah Tidak demikian halnya dengan Sekolah Menengah Swasta sumber daya pendidikan umumnya jauh dari standar. Biaya pendidikan ditanggung oleh orang tua siswa yang pengelolaan dilakuan oleh suatu badan pengelola yang disebut yayasan. Dana pengelolaan dari orang tua siswa ini tidaklah cukup untuk dapat meningkatkan kiualitas pendidikan, karena penarikan dana yag terlalu mahal tidak sesuai dengan kemampuan orang tua menyebabkan sekolah tidak diminati oleh masyarakat. Data yang dilansir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Moh Nuh mengenai hasil Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/MA, menunjukkan sekolah-sekolah negeri masih lebih hebat dibanding sekolah swasta (http:rapendik.com/program/impag/1273 sekolah negeri-lebih hebat, diakses, jum’at, 5 september 2013)
Jenis pekerjaan orang tua berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Hal ini disebabkan karena jenis pekerjaan berkaitan erat dengan pendapatan, tingkat pendidikan, dan waktu orang tua dalam memperhatikan pendidikan anak-anak mereka. Hasil penelitin menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis pekerjaan dengan kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah. Besarnya koefisen hubungan antara kedua variabel itu 0,90 sangat tinggi. Berdasar analisis tabulasi silang, diketahui bahwa orang tua mempunai jenis pekerjaan terampil, kepeduliannya terhadap pendidikan anak di sekolah lebih baik dibadingkan dengan orang tua yang bekerja pada jenis pekerjaan semi terampil. Orang tua yang bekerja pada jenis pekerjaan semi terampil labih baik kepeduliannya terhadap pendididiakn anaknya dibandingkan dengan orang tuan yang bekerja pada jenis pendidikan tidak terampil.(Zuldafrial, 2002: 69). Penelitian lainnya menunjukan bahwa teradapat hubungan positif antara jenis pekerjaan orang tua dengan prestasi belajar siswa di sekolah ( Zuldafrial, 2004:156)
Orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri mempunyai pengahsilan tetap yang dibawa pulang setiap bulan, Tingkat pendidikan umumnya cukup tinggi dan mempunyai waktu yang cukup untuk memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sedangkan orang tua yang bekerja sebagai karyawan swasta umumnya penghasilan tidak tetap, waktu bekerja tidak tetap dan tingkat pendidikanm bervariasi.
Oleh karena itu secara hipotesis dapat dikatakan bahwa hasil belajar mahasiwa atau mahasiswi yang latar belakang pekerjaan orang tuanya sebagai pegawai negeri tentu lebih baik diandingkan dengan mahasiswa atau mahasiswa yang latar belakang perkejaan orang tuanya sebagai karyawan swasta. Karena orang tua yang pekerjaannya sebagai pegawai negeri lebih dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya dalam belajar dalam bentuk perhatian atau kepedulian tehadap pendidikannya anak-anaknya dalam bentuk kongkritnya dapat memngontrol aktivitas belajar anaknya dan relatif mampu memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode ex post facto dengan disain factorial 2x2x2. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terdiri dari : a) Jenis kelamin b) Latar beelakang Pendidikan dan c) Pekerjaan Oang Tua. Variabel terikat adalah hasil belajar. Sedangkan variabel kontrol adalah: a) Tahun perkuliahan akademik 2012-2013 b) Hasil belajar semester dua.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi sejarah dengan karekteristiknya: a) Mahasiwa semester genap tahun akademik 2012-2013; b) Mahasiswa semester II; c) Mahasiswa kelas pagi; d) Mahasiswa yang terherigistrasi dan mengikuti ujian semester.
Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu ingin mencari pengaruh heteregonitas berupa jenis kelamin, latar belakang pendidikan dan pekerjaan orang tua terhadap hasil belajar mahasiwa-mahasiswi program studi sejarah dengan cara membandingkan maka populasi penelitian dikelompokan menjadi 4 kelompok yaitu: a) kelompok mahasiswa, latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri ; b) Kelompok mahasiswa, latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Swastai dan pekerjaan orang tua Karawan Swasta; c) Kelompok mahasiswi latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri dan d) Kelompok Mahasiswi latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Swasta dan pekerjaan orang tua Karayawan Swasta.Jumlah populasi secara keseluruhan 137 orang.
Penelitian ini penelitian sampel dan teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling dimana jumlah sampel ditarik secara proporsional berdasarkan jumlah kelompok pupulasi penelitian dengan cara diundi.Penentuan besar ukuran sampel ditentukan berdasarkan empat hal yang perlu dipertimbangkan:
a. Derajat keseragaman dari populasi. Makin seragam populasi itu, makin kecil populasi yang dapat diambil.
b. Presisi yang dikehendaki dari penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin besar jumlah sampel yang harus diambil. Jadi sampel yang besar cenderung memberikan penduga yang lebih mendekati nilai keseluruhan.
c. Rencana analisis. Adakalanya besarnya sampel sudah mencukupi sesuai dengan presisi yang dikehendaki, tetapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan analisis, maka jumlah sampel tersebut kurang mencukupi.
d. Tenaga, biaya, dan waktu. Bila menginginkan presisi yang tinggi, maka jumlah sampel harus besar. Tetapi apabila tenaga, biaya dan waktu terbatas, maka tidaklah mungkin untuk mengambil sampel yang besar dan ini berarti presisinya akan menurun. (Masri dan Sofian Effendi, 1989: 150).
Berdasarkan pertimbangan di atas besarnya ukuran sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebesar 30 orang mahasiswa atau mahasiswi untuk masing-masing kelompok, sehingga jumlah sampel seluruhnya adalah 120 orang.
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik studi dokementer, dimana peneliti mengumpulkan data-data dokumen yang berkaitan dengan indentitas mahasiswa, latar belakang pendidikannya, pekerjaan orang tua dan prestasi belajar mahasiswa atau mahasiswi semester genap pada program studi sejarah pada STKIP-PGRI Pontianak tahun akademik 2012-2013.
Karena penelitian ini bermaksud membandingkan tentang suatu kelompok dengan kelompok lain tentang sesuatu hal, dalam hal ini adalah antara kelompok menurut jenis kelamin, antara kelompok menurut latar belakang pendidikan dan antara kelompok ,menurut status pekerjaan orang tua, maka teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa varian tiga jalan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Perbedaan hasil belajar antara siswa pria dan wanita
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar pada Mahasiswa adalah 3,18 dan kelompok wanita adalah 3,16. Ini berarti bahwa kelompok Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih tinggi atau lebih baik dari kelompok Mahasiswi.
b. Perbedaan hasil belajar berdasarkan asal SLTA
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri 3,15 dan kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang bersalal dari SLTA swasta 3,18. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta.
c. Perbandingan hasil belajar berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri 3,44 dan kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuannya Pegawai Swasta 3,16. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta.
d. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin dan Asal Sekolah
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Negeri 3,25 dan kelompok mahasiswi 3,14. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Negeri lebih baik hasil belajarnya dari pada kelompok mahasiswi. Skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Swasta 3,14 dan kelompok mahasiswi 3,19. Ini berarti bahwa kelompok mahasisw yang berasal dari SLTA Swasta lebih rendah hasil belajarnya dari pada kelompok mahasiswi.

e. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin dan Pekerjaan Orang Tua
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri 3,22 dan kelompok mahasiswi 3,20. Ini berarti bahwa tidak perbedaan hasil belajar antara kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri.
Sedangkan indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta 3,17 dan kelompok mahasiswi 3,13. Ini berarti hasil belajar mahasiswa putra lebih baik dari mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tunya sebagai Pegawai Swasta.
f. Perbedaan hasil belajar berdasarkan asal sekolah dan pekerjaan orang tua
Rata-rata indek prestasi kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri 3.28 dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,11. Ini berarti hasil belajar mahasiswa dan mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya pegawai negeri lebih baik dari yang orang tuanya pegawai swasta.
Sedangkan rata-rata indek prestasi kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri 3.14 dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,19. Ini berarti hasil belajar mahasiswa dan mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya pegawai negeri lebih rendah dari yang orang tuanya pegawai swasta.
g. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua Pegawai negeri 3,31. Sedangkan rata-rata hasil belajar kelompok mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri 3,25. Ini berarti hasil belajar mahasiswa lebih dari pada kelompok mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri.
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,31 dan kelompok mahasiswi 3.03. Ini berarti hasil belajar mahasiswa lebih baik dari mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai swasta.
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dari SLTA swasta , pekerjaan orang tua pegawai swasta 3.15 dan untuk kelompok mahasiswi indek prestasi 3,23. Ini berarti mahasiswa yang berasal dari SLTA swasta pekerjaan orang tua pegawai swasta lebih rendah hasil belajarnya dari mahasiswi
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa berasal dari SLTA swasta pekerjaan orang tua pegawai negeri 3,14 dan kelompok mahasiswi 3,15. Ini berarti tidak ada perbedaan hasil belajar antara mahasiswa dan mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapap simpulkan hasil penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah sebagai brikut:
1. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara siswa Mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih tinggi atau lebih baik dari kelompok Mahasiswi.
2. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri dan mahasiswa dan mahasiwi yang berasal dari SLTA swasta. Kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta.
3. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri dan mahasiswa dan mahasiwi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta.
4. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan asal sekolah
5. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan maahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan pekerjaan orang tua
6. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar berdasarkan interaksi asal sekolah dan pekerjaan orang tua.
7. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua.
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA
Anna Marie attie (1996), “ Gender Hak Reproduksi, dan Pelayanan Keluarga Barencana” dalam Agus Dwiyanto, Faturrochman, Marcelinus Molo, Irwan Abdullah, (Ed): Penduduk dan Pembangunan. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada.
Depdikbud, (1983) Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus, Petunjuk Pelaksanaan Sistem Kridit Semester Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Dirjen Dikti.
Emzir, (2007), Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Fudyartanta, (1971), Inti Sari Psikologi Perkembangan I. Yogyakarta: Warawydiarni
Gay.R, (1981), Educational Research: Competencies For Analysis & Application. (Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.

Habeyb, (1979), Kamus Populer. Jakarta : Centera
Hadari Nawawi, (1987), Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Kartini Kartono, (1980), Metode Research. Bandung: Alumni
Masrun dan Sri Mulyani Martaniah, (1976), Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, ( 1989), Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES
Rudiana, (2012), Karekter Guru Menyenangkan Berbasis Ramah Otak. Bandung: Smaile’s Indonesia Institute(SII) Publishing
Siswaatmadja, (1979), Didaktik Kurikulum. Pontianak: FIP-UNTAN
Sutrisno Hadi, (1979), Metodologi research I. Yogyakarta; Fakultas Psikologi UGM
STKIP-PGRI Pontianak (2009) Pedoman Operasional Tahun Akademik 2009.2010 Tentang Akademik, Kemahasiwaaan, Penulisan Skripsi& Makalah.
WJS Poerwadarminta, (1976), Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka
Winarno Surachmad, (Tanpa Tahun), Metode Research (Pengantar Penyelidikan Ilmiah)
Zahara Idris, (1981), Dasar-dasar Pependidikan. Padang: Angkasa Raya
Zuldafrial, (2004), “ Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Kualitas Proses Belajar- Mengajar Siswa di Sekolah, Studi Kasus di Desa Sunga Itik, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Pontianak “, Edukasi Jurnal Pendidikan, Vol.2 No.2 Oktober, STKIP-PGRI Pontianak.
_______, ( 2002), “ Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua dengan dengan Kepedulian Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Sekolah (Studi Kasus Kecamatan Sukadana) “, Wawasan Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Vol.10 No. 3 Oktober
_______, (2011), Startegi Belajar- Mengajar. Pontianak: STAIN Pontianak Press

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

A. Pergulatan Manusia dalam Keanekaragaman Budaya
Semenjak awal, dunia telah melakukan penelusuran hakikat asal usul dari manusia, seperti mengungkap kotak hitam misteri yang tak pernah ditemukan kunci pembukanya. Pemecahan seluk beluk sejarah manusia telah menyita waktu dan pemikiran yang menimbulkan penafsiran bermacam-macam. Masing-masing pemikir atau asumsi umum silih berganti mengajak masyarakat menjadi penganut perspektif tersebut. Diantaranya adalah tiga asumsi besar yang hadir pada masyarakat awam sebelum jaman pencerahan. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya makhluk manusia memang diciptakan beraneka macam atau poligenesis; dan menganggap bahwa orang-orang di Eropa yang berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan kuat. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimilikinya juga paling sempurna dan paling tinggi. Kedua adalah yang meyakini bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis; yaitu dari satu makhluk induk dan bahwa semua makhluk manusia di dunia ini merupakan keturunan Adam. Sebagian dari mereka yang punya pandangan ini berpendapat bahwa keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya, dari tinggi sampai rendah; sebagai akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa abadi yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam. Ketiga, berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan tidak mengalami proses degenerasi. Akan tetapi apabila pada masa kini terdapat perbedaan, lebih disebabkan oleh tingkat kemajuan mereka yang berbeda. Makhluk manusia yang mereka jumpai di Afrika, Asia dan Oceanea merupakan keturunan Nabi Adam yang nenek moyang mereka ‘lebih rendah’ dibandingkan dengan nenek moyang orang-orang Eropa.
Kebangkitan kembali terhadap studi kesusastraan dan ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Klasik yang terjadi pada abad XVI di Eropa atau yang dikenal dengan Renaissance; menimbulkan rasionalisme yang pada akhirnya menyebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa itu, yaitu sampai abad XVIII, Eropa mengalami zaman Aufklarung atau ‘Pencerahan’. Berbagai bidang kajian banyak dilakukan, termasuk upaya untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi. Beraneka macam kajian anatomi komparatif yang dilakukan, lebih ditekankan atas dasar keanekaragaman ciri-ciri fisik manusia. Selain itu,ada sebagai para ahli filsafat sosial di masa Aufklarung, mulai mengkaji berbagai bentuk-bentuk masyarakat dan tingkah laku makhluk manusia. Berbagai gejala dan tingkah laku manusia,dicoba untuk dipahami dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah alam. Untuk itu metodologi ilmu eksakta, khususnya biologi,kerapkali dicoba untuk diterapkan untuk mengkaji perilaku manusia. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kekaguman mereka terhadap kemajuan ilmu alam dan ilmu pasti yang terjadi pada zaman itu. Beraneka ragam gejala perilaku makhluk manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dianalisis secara induktif dengan mencari unsur-unsur persamaan yang ada; kemudian diupayakan dirumuskannya sebagai kaidah-kaidah sosial. Cara berpikir rasional yang akhirnya berkembang menjadi aliran positivism sangat mewarnai para cendekiawan pada zaman Aufklarung. Mereka percaya bahwa berbagai kaidah tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengatur dan merubah suatu masyarakat. Agaknya, pola pikir para cendekiawan masa Aufklarung yang memandang masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan,yang mana bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara satu dengan lainnya sebagai suatu sistem yang bulat; sampai sekarang ini masih tetap relevan dalam antropologi, terutama yang mengacu pada metode pendekatan holistik. Wujud dari keanekaragaman masyarakat manusia itu di samping disebabkan oleh akibat dari sejarah mereka masing-masing; juga karena pengaruh lingkungan alam dan struktur internalnya.Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan,tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan harus dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri (relativisme kebudayaan). Atas dasar itu, ia mengajukan konsep pemikirannya bahwa pada dasarnya kebudayaan umat manusia adalah berkembang melalui suatu tingkat-tingkat evolusi tertentu. Kebudayaan yang dimiliki orang Eropa merupakan contoh dari tahap akhir suatu proses evolusi tersebut. Sejak pertama kalinya, makhluk yang bercirikan manusia muncul di muka bumi sekitar satu juta tahun yang lalu, yaitu dengan ditemukannya fosil dari makhluk Pithecanthropus Erectus, sampai dengan sekarang ini, telah terjadi berbagai perubahan kebudayaan yang dimilikinya; sementara itu proses evolusi organik makhluk manusia tidak secepat perkembangan kebudayaannya.Oleh karenanya kebudayaan menunjukkan satu sifat khasnya yakni superorganik. Apabila proses evolusi kebudayaan dibandingkan dengan proses evolusi fisik dari makhluk manusia, sampai pada suatu kurun waktu tertentu masih berjalan sejajar.Akan tetapi pada suatu tahap perkembangan tertentu, diduga proses perubahan kebudayaan berjalan amat cepat sekali seolah-olah meninggalkan proses evolusi organiknya.
Selain disebabkan oleh mekanisme lain seperti munculnya penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi; perubahan suatu lingkungan akan dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan. Selama perjalanan waktu yang lama,dengan akal yang dimilikinya, makhluk manusia semakin memiliki kemampuan menyempurnakan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kali mereka berupaya menyempurnakan dirinya, maka akan menyebabkan perubahan kebudayaannya. Suatu perubahan kebudayaan dapat berasal dari luar lingkungan pendukung kebudayaan tersebut. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan perubahan dan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan terjadinya pertumbuhan; sementara itu tidak tertutup kemungkinan hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru. Dalam rangka studi akulturasi, para ahli antropologi telah lama mencoba untuk memahami terjadinya perbedaan derajat perubahan perkembangan suatu kebudayaan.
Sementara itu dalam sejarah perkembangan kebudayaan umat manusia, Childe (1998) berpendapat bahwa ada tiga jenis revolusi terpenting dalam sejarah perkembangan kebudayaan makhluk manusia. Perubahan kebudayaan yang demikian pesat atau lebih dikenal dengan Revolusi Kebudayaan Pertama, terjadi tatkala makhluk manusia yang termasuk Homo Sapiens pada sekitar 80.000 tahun yang lalu, mereka masih hidup dari berburu dan meramu. Kepandaian bercocok tanam baru muncul sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu di sekitar daerah pertemuan Sungai Tigris dan Eufrat atau di Lembah Mesopotamia. Setelah ia mengenal sistem pemukiman kota, artinya ia mulai juga bertempat tinggal di kota-kota pada enam ribu tahun yang lalu di Pulau Kreta Yunani, terjadilah suatu Revolusi Kebudayaan kedua; dan setelah itu perkembangan kebudayaan manusia semakin pesat. Akhirnya pada abad XVII di Inggris, terjadi Revolusi Industri, dan oleh Gordon Childe dianggap sebagai Revolusi Kebudayaan ketiga. Setelah Revolusi Industri, makhluk manusia mengenal teknik memproduksi barang secara massal karena tenaga manusia mulai digantikan dengan mesin-mesin yang ditemukan. Sejak itulah, kebudayaan umat manusia semakin tumbuh dengan pesat seolah-olah melepaskan dirinya dari proses evolusi organik atau evolusi biologis makhluk manusia.Menurut Morgan, 1877 (dalam Poerwanto, 2000) menyatakan bahwa tingkat kemajuan masyarakat manusia dapat dibagi ke dalam tiga periode evolusi, yaitu periode masyarakat berburu atau periode liar (savage), periode beternak (barbarism) dan periode pertanian yang berkembang ke arah peradaban atau civilitation .Dalam konteks tersebut, para cendekiawan di masa Aufklarung selalu menempatkan bangsa-bangsa di luar Eropa sebagai contoh orang yang tingkat perkembangan kebudayaannya berada pada tahap awal.
Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada anak-cucu mereka; melainkan dapat pula secara horisontal yaitu manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya.Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi berikutnya oleh individu lain. Berbagai gagasannya dapat dikomunikasikannya kepada orang lain karena ia mampu mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambang-lambang vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya, dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan.Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus, ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa ke masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai akibatnya di berbagai tempat dan waktu yang berlainan, dimungkinkan adanya unsur-unsur persamaan di samping perbedaan-perbedaan. Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat dipandang ketinggalan zaman (anakronistik), dan di luar tempatnya dipandang asing atau janggal.

B. Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dalam kehidupannya bermasyarakat yang dijadikan miliknya, berupa sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. (Koentjaraningrat, 1996: 72). Lingkungan atau alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Dalam konteks hidupnya demi membentuk ketahanan hasil buah budi tersebut manusia melanjutkan dalam suatu tatanan simbol yang memberi arah bagi kehidupan. Sistem simbol ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat pendukung dalam berpikir maupun bertindak. Proses selanjutnya yang terjadi adalah hubungan transformatif dan penguatan sistem simbol agar dapat diteruskan kepada anggota berikutnya. Selain itu selama kehidupan berjalan unsur-unsur kebudayaan selalu berubah menyesuaikan perkembangan jaman. Dalam hal ini sistem symbol dengan sendirinya melakukan reaksi untuk mengintegrasikan perubahan atas unsur kebudayaan. Agen yang berfungsi sebagai transmitor produk budaya kepada anggota (khususnya generasi muda) adalah pendidikan. Hal ini mengingat pendidikan itu tiada lain adalah wahana pembelajaran segala bentuk kemampuan bagi sang pembelajar agar menjadi manusia dewasa.Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justeru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki. Afinitas mengenai pendidikan dan kebudayaan dapat kita cermati dalam ciri khas manusia sebagai makhluk simbolik. Hanya manusialah yang mengenal dan memanfaatkan symbol-simbol di dalam kelanjutan kehidupannya. Simbol-simbol itu dapat kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Mengingat kebudayaan dilestarikan dan dikembangkan melalui simbol-simbol maka semua tingkah laku manusia terdiri dari, dan tergantung pada simbol-simbol tersebut. Sebaliknya kebudayaan bisa lestari apabila memiliki daya kerja yang kuat dalam memberikan arahan para pendukungnya. Oleh karena itu kebudayaan diturunkan kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggota-anggotanya.Uraian tentang pendidikan dan kebudayaan akan diterangkan dalam urutan pembahasan dibawah ini.
1. Kepribadian dalam Proses Kebudayaan
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi,menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta didik. Kurikulum kebanyakan berpusat pada bidang studi yang tersusun secara logis dan sistimatis yang tidak nyata hubungannya dengan kehidupan sehari-sehari anak didik. Apa yang dipelajari anak didik tampaknya hanya memenuhi kepentingan sekolah untuk ujian, bukan untuk membantu totalitas anak didik agar hidup lebih efektif dalam masyarakat. Pelaku pendidikan di Indonesia hanya memikirkan bagaimana mencapai standar kelulusan saja, bukan bagaimana pendidikan yang dilakukan dapat mengembangkan potensi unggul anak didik, efektif dan bermakna. Tidak peduli bagaimana proses pembelajaran dilakukan, lebih spesifiknya nilai yang diperoleh siswa, yang terpenting adalah memenuhi nilai di atas standar saja. Potensi yang dibawa peserta didik sejak lahir berupa keunggulan individu tidak dapat tumbuh dan berkembang, disebabkan pendidikan yang hanya menekankan ketercapaian hasil belajar berdasarkan standar kognitif yang ditunjukan dengan nilai skor kelulusan yang telah ditentukan. (Nasution, 1999: 148; Zuldafrial,2013: 53).
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut : a). Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.b) Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku tertentu. c) Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment” terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan sistem nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu. d) Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui proses belajar.
Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak betapa peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia, maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian juga akan tampak dengan jelas. Terutama bagi para pakar aliran behaviorisme, melihat adanya suatu rangsangan kebudayaan terhadap pengembangan kepribadian manusia. Pada dasarnya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian tersebut sebagaimana dikutip Tilaar (1999) dapat dilukiskan sebagai berikut a). Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti antara pribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika Tentunya dinamika tersebut bukanlah suatu dinamika yang otomatis tetapi yang muncul dari aktor dan manipulator dari interaksi tersebut ialah manusia; b).Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangan untuk mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong tetapi dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya;.c).Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting ialah imajinasi. Imajinasi seseorang akan dapat diperolehnya secara langsung dari lingkungan kebudayaannya. Manusia tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya. Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing seorang diri dari nol di dalam perkembangan kepribadiannya. Bayangkan bagaimana kehidupan kebudayaan manusia apabila setiap kali harus dimulai dari nol;.d).Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup dalam masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Tentunya manusia itu dapat saja menentang tujuan hidup yang ada dalam masyarakatnya, namun demikian itu berarti seseorang akan melawan arus di dalam perkembangan hidupnya. Paling efisien adalah dia secara harmonis mencari keseimbangan antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam masyarakatnya; e) Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu yang dekat maupun tujuan dalam waktu yang panjang. Baik waktu yang dekat maupun tujuan dalam jangka waktu yang panjang, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup di dalam suatu masyarakat; f.) Berkaitan dengan keberadaan tujuan di dalam pengembangan kepribadian manusia, dapatlah disimpulkan bahwa proses belajar adalah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan.Learning is a goal teaching behavior; g).Dalam psikoanalisis juga dikemukakan mengenai peranan super-ego dalam perkembangan kepribadian. Super-ego tersebut tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal. Seperti yang telah diuraikan, dunia masa depan yang ideal merupakan kemampuan imajinasi yang dikondisikan serta diarahkan oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalam suatu masarakat; h). Kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia. Bersama-sama dengan ego, beserta ide, keduanya merupakan energi yang ada di dalam diri pribadi seseorang. Energi tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang ada serta dorongan super-ego diarahkan oleh nilai-nilai budaya. Pengembangan id, ego, dan super-ego dari kepribadian seseorang berarti mencari keseimbangan antara energi di dalam diri pribadi dengan pola-pola kebudayaan yang ada.
2. Penerusan Kebudayaan
Satu proses yang dikenal luas tentang kebudayaan adalah transmisi kebudayaan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan proses pendidikan tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan. Mengenai masalah ini marilah kita cermati lebih jauh oleh karena seperti yang telah dijelaskan, kepribadian bukanlah semata-mata hasil tempaan dari kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya.Dengan demikian ,kebudayaan bukanlah sesuatu entity yang statis tetapi sesuatu yangt terus-menerus berubah. Untuk membuktikan hal tersebut marilah kita lihat variabel-variabel transmisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Fortes dalam Koentjoroningrat (1991). Di dalam transmisi tersebut kita lihat tiga unsur utama yaitu, (1) unsur-unsur yang ditransmisi, (2) proses transmisi, dan (3) cara transmisi
Unsur-unsur kebudayaan manakah yang ditransmisi? Pertama-tama tentunya unsur-unsur tesebut ialah nilai-nilai budaya, adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi atau pergaulan para anggota di dalam masyarakat tersebut. Selain itu, berbagai sikap serta peranan yang diperlukan di dalam dunia pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk proses fisiologi, refleks dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu dalam penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata-makanan untuk dapat bertahan hidup.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tama tentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat lokal. Hal yang diimitasi adalah unsur-unsur yang telah dikemukakan di atas. Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebut harus diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri. Seorang bayi, seorang pemuda, seorang dewasa, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam mengidentifikasi unsur-unsur budaya tersebut. Selanjutnya nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tersebut haruslah disosialisasi artinya harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan yang semakin lama semakin meluas. Nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang harus mendapatkan pengakuan lingkungan sekitarnya. Artinya perilaku-perilaku tersebut harus mendapatkan pengakuan sosial yang berarti bahwa perilaku-perilaku yang dimiliki tersebut adalah yang sesuai atau yang seimbang dengan nilai-nilai yang ada di dalam lingkungannya.
Rangkaian transmisi berangkat dari imitasi, identifikasi, dan sosialisasi, berkaitan dengan bagaimana cara mentransimisikannya. Ada dua bentuk yaitu peran-serta dan bimbingan. Cara transmisi dengan peran-serta antara lain dapat berwujud ikutserta di dalam kegiatan sehari-hari di dalam lingkungan masyarakat. Bentuk bimbingan melalui pranata-pranata tradisional seperti inisiasi, upacara-upacara yang berkaitan dengan tingkat umur, sekolah, agama, dan sekolah formal yang sekuler. Demikianlah proses transmisi kebudayaan sebagai proses pendidikan yang dikemukakan oleh Fortes. Proses tersebut terjadi di dalam suatu masyarakat sederhana yang relatif tertutup dari pengaruh dunia luar. Di dalam dunia terbuka dewasa ini dengan kemajuan teknologi komunikasi, proses transmisi kebudayaan yang sederhana tersebut tentunya telah berubah. Data dan informasi dengan mudah dapat diperoleh sehingga peranan lingkungan bukan lagi lingkungan sosial yang terbatas tetapi lingkungan yang mondial. Dengan demikian proses transmisi kebudayaan di dalam masyarakat modern akan menghadapi tantangan-tantangan yang berat. Di sinilah letak peranan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat memilih nilai-nilai dari berbagai lingkungan. Dalam hal ini kita berbicara mengenai keberadaan kebudayaan dunia yang meminta suatu proses pendidikan yang lain yaitu kepribadian yang kokoh yang tetap berakar kepada budaya lokal. Hanya dengan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat memberikan sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.

C. Pendidikan dan Proses Pembudayaan
Seperti yang telah kita bicarakan mengenai transmisi kebudayaan, nilai-nilai kebudayaan bukanlah hanya sekadar dipindahkan dari satu bejana ke bejana berikut yaitu kepada generasi mudanya,tetapi dalam proses interaksi antara pribadi dengan kebudayaan betapa pribadi merupakan agen yang kreatif dan bukan pasif. Di dalam proses pembudayaan terdapat pengertian seperti inovasi dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi, fokus, krisis, dan prediksi masa depan serta banyak lagi terminology lainnya. Beberapa proses tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penemuan atau Invensi
Dua konsep tersebut merupakan proses terpenting dalam pertumbuhan dan kebudayaan. Hal itu mengingat tanpa penemuan-penemuan yang baru dan tanpa invensi suatu budaya akan mati. Biasanya pengertian kedua terminologi ini dibedakan. Suatu penemuan berarti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum dikenal tetapi telah tersedia di alam sekitar atau di alam semesta ini. Misalnya di dalam sejarah perkembangan umat manusia terjadi penemuan-penemuan dunia baru sehingga pemukiman manusia menjadi lebih luas dan berarti pula semakin luasnya penyebaran kebudayaan. Selain itu, di dalam penemuan dunia baru akan terjadi difusi atau proses lainnya mengenai pertemuan kebudayaan-kebudayaan tersebut. Istilah invensi lebih terkenal di dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan invensi maka umat manusia dapat menemukan hal-hal yang dapat mengubah kebudayaan.
Penemuan dan invensi berkaitan dengan inovasi. Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energy dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Jadi inovasi adalah pembaruan unsur teknologi dan ekonomi dari kebudayaan. Suatu proses inovasi biasanya merupakan suatu proses sosial melalui tahap discovery dan invention. Discovery adalah penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik suatu alat atau gagasan barudari seorang atau sejumlah individu. Discovery baru menjadi invention apabila suatu penemuan baru telah diakui, diterima, dan diterapkan oleh masyarakat.(Koentjaraningrat, 1996: 161)
Dengan penemuan-penemuan melalui ilmu pengetahuan maka lahirlah kebudayaan industri yang telah menyebabkan suatu revolusi kebudayaan terutama di negara-negara barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat telah membuka horizon baru di dalam kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat secara eksponensial sehingga apa yang ditemukan hari ini mungkin besok telah usang. Lihat saja misalnya revolusi computer yang dapat berkembang setiap saat dan bagaimana peranan komputer di dalam kehidupan manusia modern. Kita hidup di abad digital yang serba cepat dan serba terukur. Semua hal ini merupakan suatu revolusi di dalam kehidupan dan kebudayaan manusia. Melalui invensi manusia menemukan berbagai jenis obat-obatan yang mempengaruhi kesehatan dan umur manusia. Akan tetapi juga melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia menemukan alat-alat pemusnah massal yang dapat menghancurkan kebudayaan global.Invensi teknologi terutama teknologi komunikasi mengubah secara total kebudayaan dunia. Abad 21 disebut sebagai millennium teknologi yang akan mempersatukan manusia dan mungkin pula budayanya. Hal ini mengandung bahaya dengan masafikasi kebudayaan manusia. Masafikasi kebudayaan dapat berupa komersialisasi kebudayaan dan konsumenisme yang berarti pendangkalan kebudayaan. Selain itu, pendangkalan kebudayaan akan berakibat dalam pembentukan kepribadian manusia. Seperti kita lihat, manusia menjadi manusia melalui kebudayaannya. Memanusia berarti membudaya,. Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya proses memanusia dalam kebudayaan global. Hal ini berarti manusia akan kehilangan identitasnya dan kepribadiannya akan berbentuk kepribadian kodian. Dewasa ini kita mulai mengenal kebudayaan global yang secara sinis disebut kebudayaan Coca-Cola dan kebudayaan McDonald. Begitu besarnya pengaruh komunikasi global sehingga muncul di dalam berbusana misalnya celana jins Levi Strauss serta komoditi-komoditi lokal lainnya. Sangat mengkhawatirkan justru kebudayaan global tersebut sangat peka diterima oleh generasi muda. Hal ini berarti bahaya sedang mengancam nilai-nilai budaya etnis yang merupakan dasar pengembangan kebudayaan global. Di pihak lain teknologi komunikasi memungkinkan rekayasa kehidupan manusia modern. Rekayasa tersebut dimungkinkan oleh budaya dan kemampuan akal manusia yang terlihat dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian kebudayaan teknologi telah merupakan suatu syarat mutlak dalam pengembangan kebudayaan modern. Teknologi telah menghasilkan penemuan-penemuan baru dan penemuan-penemuan baru ini akan terus menerus berkembang. Bukan suatu hal yang tidak mungkin bahwa wajah kehidupan teknologi yang tidak atau belum dapat kita gambarkan dewasa ini Apakah kehidupan kebudayaan pada milenium ketiga merupakan kebudayaan robotic ataukah kebudayaan yang akan lebih mementingkan harkat dan budaya manusia tidak ada seorang pun yang akan dapat memastikannya.Sudah tentu penemuan-penemuan baru dan invensi-invensi melalui ilmu pengetahuan akan semakin intens kerana interaksi dengan bermacam-macam budaya akan bermacam-macam manusia yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dengan demikian,penemuan-penemuan dan invensi baru tidak lagi merupakan monopoli dari suatu bangsa atau suatu kebudayaan tetapi lebih menjadi milik dunia. Kebudayan dunia yang akan muncul pada milenium ketiga dengan demikian perlu diarahkan dengan nilai nilai moral yang telah terpelihara di dalam kebudayaan umat manusia karena kalau tidak dapat saja manusia itu menujuk kepada kehancurannya sendiri dengan alat-alat pemusnah massal yang diciptakannya.
b. Difusi
Difusi kebudayaan berarti pembauran dan atau penyebaran budaya-budaya tertentu antara masyarakat yang lebih maju kepada masyarakat yang lebih tradisional. Pada dasarnya setiap masyarakat setiap jaman selalu mengalami difusi. Hanya saja proses difusi pada jaman yang lalu lebih bersifat perlahan-lahan.Namun hal itu berbeda dengan sekarang dimana abad komunikasi mampu menyajikan beragam informasi yang serba cepat dan intens, maka difusi kebudayaan akan berjalan dengan sangat cepat.Bagaimanapun juga didalam masyarakat sederhana sekalipun proses difusi kebudayaan dari barat tetap menyebar. Hal itu dapat dibuktikan melalui pengamatan Margaret Mead dalam Tilaar (1999) yang meneliti masyarakat di kepulauan pasifik. Beberapa waktu setelah pengamatan Mead terhadap masyarakat tersebut telah terjadi perubahan masyarakat yang cukup berarti. Apa yang ditemukan oleh Margaret Mead dari suatu masyarakat yang tertutup dan statis ketika beliau kembali telah menemukan suatu masyarakat yang terbuka yang telah mengadopsi usnur-unsur budaya Barat. Lihat saja misalnya apa yang terjadi di negara kita, bagaimana pengaruh Kebangkitan Nasional terhadap kehidupan suku-suku bangsa kita. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 telah melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan/atau bahasa nasional yang notabene berasal dari bahasa Melayu dari puak Melayu yang hidup di pesisir Sumatera. Pengaruh bahasa Indonesia terhadap kebudayaan di Nusantara sangat besar sampai-sampai banyak anak-anak sekarang terutama di kota-kota besar yang tidak lagi mengenal bahasa lokalnya atau bahasa ibu. Kita memerlukan suatu kebijakan pendidikan untuk memelihara bahasa ibu dari anak-anak kita.
c. Akulturasi
Salah satu bentuk difusi kebudayaan ialah akulturasi. Dalam proses ini terjadi pembaruan budaya antar kelompok atau di dalam kelompok yang besar. Dewasa ini misalnya unsur-unsur budaya Jawa telah masuk di dalam budaya sistem pemerintahan di daerah. Nama-nama petugas negara di daerah telah mengadopsi nama-nama pemimpin di dalam kebudayaan Jawa seperti bupati, camat, lurah, dan unsur-unsur tersebut telah disosialisasi dan diterima oleh masyarakat luas. Begitu pula terjadi akulturasi unsur-unsur budaya antar sub-etnis di Nusantara ini. Proses akulturasi tersebut lebih dipercepat dengan adanya sistem pendidikan yang tersentralisasi dan mempunyai kurikulum yang uniform.
d. Asimilasi
Proses asimilasi dalam kebudayaan terjadi terutama antar etnis dengan subbudaya masing-masing. Kita lihat misalnya unsur etnis yang berada di Nusantara kita ini dengan subbudaya masing-masing. Selama perjalanan hidup negara kita telah terjadi asimilasi unsur-unsur budaya tersebut. Biasanya proses asimilasi dikaitkan dengan adanya sejenis pembauran antar-etnis masih sangat terbatas dan kadang-kadang dianggap tabu. Namun dewasa ini proses asimilasi itu banyak sulit dihilangkan. Apalagi hal-hal yang membatasi proses prejudis, perbedaan agama dan kepercayaan dapat menghalangi suatu proses asimilasi yang cepat. Di dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai kebijakan yang mempercepat proses tersebut, ada yang terjadi secara alamiah ada pula yang tidak alamiah. Biasanya proses asimilasi kebudayaan yang terjadi di dalam perkawinan akan lebih cepat dan lebih alamiah sifatnya.
e. Inovasi
Inovasi mengandalkan adanya pribadi yang kreatif. Dalam setiap kebudayaan terdapat pribadi-pribadi yang inovatif. Dalam masyarakat yang sederhana yang relatif masih tertutup dari pengaruh kebudayaan luar, inovasi berjalan dengan lambat.Dalam masyarakat yang terbuka kemungkinan untuk inovasi menjadi terbuka karena didorong oleh kondisi budaya yang memungkinkan. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat modern pribadi yang inovatif merupakan syarat mutlak bagi perkembangan kebudayaan. Inovasi merupakan dasar dari lahirnya suatu masyarakat dan budaya modern di dalam dunia yang terbuka dewasa ini. Inovasi kebudayaan di dalam bidang teknologi dewasa ini begitu cepat dan begitu tersebar luas sehingga merupakan motor dari lahirnya suatu masyarakat dunia yang bersatu. Di dalam kebudayaan modern pada abad teknologi dan informasi dalam millennium ketiga, kemampuan untuk inovasi merupakan ciri dari manusia yang dapat survive dan dapat bersaing. Persaingan di dalam dunia modern telah merupakan suatu tuntutan oleh karena kita tidak mengenal lagi batas-batas negara. Perdagangan bebas, dunia yang terbuka tanpa-batas, teknologi komunikasi yang menyatukan, kehidupan cyber yang menisbikan waktu dan ruang, menuntut manusia-manusia inovatif. Dengan sendirinya wajah kebudayaan dunia masa depan akan lain sifatnya. Betapa besar peranan inovasi di dalam dunia modern, menuntut peran dan fungsi pendidikan yang luar biasa untuk melahirkan manusia-manusia yang inovatif. Dengan kata lain,pendidikan yang tidak inovatif, yang mematikan reativitas generasi muda, berarti tidak memungkinkan suatu bangsa untuk bersaing dan hidup di dalam masyarakat modern yang akan datang.Dengan demikian, pendidikan akan menempati peranan sentral di dalam lahirnya suatu kebudayaan dunia yang baru.
f. Fokus
Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam kebudayaan ke arah kompleksitas dan variasi dalam lembaga-lembaga serta menekankan pada aspek-aspek tertentu. Artinya berbagai kebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti dalam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Proses pembudayaan yang memberikan fokus kepada teknologi misalnya akan memberikan tempat kepada pengembangan teknologi kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang. Tidak jarang terjadi dengan adanya fokus terhadap teknologi maka nilai-nilai budaya yang lain tersingkirkan atau terabaikan. Hal ini tentu merupakan suatu bahaya yang dapat mengancam kelanjutan hidup suatu kebudayaan. Dalam dunia pendidikan hal ini sudah terjadi seperti di Indonesia. Dunia barat yang telah lama memberikan fokus kepada kemampuan akal, menekankan kepada pembentukan intelektualisme di dalam sistem pendidikannya.Dengan demikian aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti nilai-nilai moral, lembaga-lembaga budaya primer seperti keluarga, cenderung mulai diabaikan.Ikatan dalam lembaga keluarga mulai longgar, peraturan-peraturan seks mulai dilanggar dengan adanya kebebasan seks dan kebebasan pergaulan. Sistem pendidikannya dengan demikian telah terpisahkan atau teralienasi dari totalitas kebudayaan.Tentu saja kita dapat memberikan fokus tertentu kepada pengembangan ilmu pengetahuan asal saja dengan fokus tersebut tidak mengabaikan kepada terbentuknya manusia yang utuh seperti yang telah diuraikan di muka. Kebudayaan yang hanya memberikan fokus kepada teknologi akan menghasilkan menusia-manusia robot yang tidak seimbang, yang bukan tidak mungkin berbahaya bagi kelangsungan hidup kebudayaan tersebut. Dalam proses pembudayaan melalui fokus itu kita lihat betapa besar peranan pendidikan. Pendidikan dapat memainkan peranan penting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat mendasar tersebut tetapi juga yang dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
g. Krisis
Konsep tersebut merupakan konsekuensi akibat proses akulturasi kebudayaan. Suatu contoh yang jelas timbulnya krisis di dalam proses westernisasi terhadap kehidupan budaya-budaya Timur. Sejalan dengan maraknya kolonialisme ialah masuknya unsur-unsur budaya Barat memasuki dunia ketiga. Terjadilah proses akulturasi yang kadang-kadang menyebabkan hancurnya kebudayaan lokal. Timbul krisis yang menjurus kepada hancurnya sendi-sendi kehidupan orisinil. Lihat saja kepada krisis moral yang terjadi pada generasi muda yang diakibatkan oleh masuknya nilai-nilai budaya Barat yang belum serasi dengan kehidupan budaya yang ada. Keluarga mengalami krisis, peranan orang tua dan pemimpin mengalami krisis. Krisis kebudayaan tersebut akan lebih cepat dan intens di dalam era komunikasi yang pesat. Krisis dapat menyebabkan dis-organisasi sosial misalnya dalam gerakan reformasi total kehidupan. Bangsa Indonesia dewasa ini di dalam memasuki era reformasi menghadapi suatu era yang kritis karena masyarakat mengalami krisis kebudayaan.Apabila gerakan reformasi tidak diarahkan sebagai suatu gerakan moral maka gerakan tersebut akan kehilangan arah. Gerakan reformasi akan menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi dan berbagai jenis krisis lainnya. Oleh sebab itu, gerakan reformasi total dewasa ini perlu diarahkan dan dibimbing oleh nilai-nilai moral yang hidup di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam kaitan ini peranan pendidikan sangat menentukan karena pendidikan didasarkan kepada nilai-nilai moral bangsa dalam jangka panjang akan memantapkan arah jalannya reformasi tersebut.Dalam jangka panjang pendidikan akan menentukan pencapaian tujuan dari reformasi itu sendiri.
h. Visi Masa Depan
Suatu hal yang baru dalam proses pembudayaan dewasa ini ialah peranan visi masa depan. Terutama dalam dunia global tanpa-batas dewasa ini diperlukan suatu visi ke arah mana masyarakat dan bangsa kita akan menuju. Tanpa visi yang jelas yaitu visi yang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam kebudayaan bangsa (Indonesia), akan sulit untuk menentukan arah perkembangan masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global. Mengadopsi budaya global tanpa dasar kehilangan identitasnya. Di sinilah letak peranan pendidikan nasional untuk meletakkan dasar-dasar yang kuat dari nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat Indonesia yang akan dijadikan pondasi untuk membentuk budaya masa depan yang lebih jelas dan terarah.

D. Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985) institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan memelihara warisan budaya suatu masyarakat.Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari kehadirannya. Gejala ketimpangan budaya atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat, pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.Dalam proses perubahan sosial, modifikasi yang terjadi seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendi-sendi yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga munculnya kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.
Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak, dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan.
Adapun fungsi pendidikan dalam mempersiapkan masyarakat mengadakan perubahan sosial yaitu: (1) melakukan reprodukasi budaya; (2) difusi budaya; (3) mengembangkan anlisis kultur terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisonal; (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional; (5) melakukan perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan (Abdullah Idi dan Safarina, 2013: 77). Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya atau moderenisasi pendidikan mengajarkan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan baru seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, dimana nilai-nilai itu semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dari nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah-sekolah sejak proses moderenisasi dari perubahan sosial dengan menggunakan cara berfikir ilmiah, cara analisis dan pertimbangan rasional serta dengan kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berfikir obyektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.
Lembaga pendidikan itu disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya. Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial tertentu yang kemudian diambil sekolah berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah tersebut menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial berkesinambungan.
Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara jeli Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di mana para siswa seolah-olah terobsesi pada angka prestasi, padahal tujuan pendidikan bukan itu. Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan perubahan pendidikan tidak pernah terlepas dari konsep modernisasi.Sebagai sebuah proses masyarakat dunia, modernisasi merupakan gejala universal yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan guna memahami konteks sosial dan pendidikan. Dari sinilah dapat ditarik ruang interpretasi mengenai perspektif perubahan sosial dan perubahan pendidikan. Kata atau istilah modernisasi mempunyai banyak definisi. Meskipun bagitu, namun tetap ada satu kepastian bahwa pengembangan aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran modernisasi. Produk modernisasi sebagaimana terlihat pada masyarakat modern, ditandai oleh kehidupan industrialistis dengan struktur pekerjaan serta ruang sosial yang kompleks, termasuk di dalamnya munculnya diferensiasi sosial yang semakin tajam. Dalam menjelaskan tingkat modernisasi suatu masyarakat selain berpatokan pada kekuatan-kekuatan materil baik itu ruang lingkup ekonomi maupun aplikasi teknologinya, ada banyak ahli lain yang mengedepankan pada atribut strukturalnya. Semisal Parson, Einsantand, Smelser, Buckley dan Marsh. Sebagaimana dituangkan dalam Faisal dan Yasik (1985) pendapat mereka lebih condong menempatkan diferensiasi sosial sebagai titik tolak analisisnya. Menurut mereka paling tidak ada dua alasan, kenapa titik pangkal diferensiasi sosial begitu pentingnya untuk memahami modernisasi. a) Diferensiasi merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilalui oleh sistem sosial dalam mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di lingkungannya, dan b) Kemampuan untuk melakukan diferensiasi merupakan sebuah indikator positif mengenai kemampuan suatu sistem dalam menyesuaikan diri sesuai dengan proses-proses perubahan yang terjadi. Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan dunia pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi, kiranya perlu berangkat dari konsep deferensiasi. Dengan berkembangnya diferensiasi sosial, secara perlahan-lahan akan mengubah fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan sejalur dengan kecenderungan sosial tersebut. Perkembangan tersebut ditandai dengan adanya spesialisasi peran serta merebaknya organisasi di dalam sistem pendidikan, sehingga secara internal menumbuhkan diferensiasi struktural dalam tubuh pendidikan. Proses yang mempengaruhi tubuh pendidikan ini dapat digambarkan dalam pengamatan komparatif antara masyarakat modern dengan masyarakat primitif. Pada masyarakat tradisional proses pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lain yang kesemuanya diperankan oleh institusi keluarga. Sedangkan pada masyarakat modern proses pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh institusi di luar keluarga.Meskipun terdapat perbedaan karakter pendidikan yang cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat tersebut. Namun pada dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan antar kedua tipologi masyarakat tersebut. Baik pendidikan pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern, keduanya sama-sama bertanggung jawab untuk mentransmisikan sekaligus mentransformasikan perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi penerusnya. Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang proses sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran baru. Letak perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam fungsi pendidikan menjadi semakin besar dan kompleks. Menurut Faisal dan Yasik (1985) alur perkembangan diferensiasi pendidikan dapat diterangkan dalam beberapa poin sebagai berikut. a) Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal tulisan. Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan pendidikan secara informal yang berfungsi untuk memberikan bekal keterampilan-keterampilan mata pencaharian dan memperkenalkan pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai serta norma masyarakat setempat. Pada tingkatan ini, peran sebagai siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuran-ukuran askriptif. Anak-anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor usia mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi orang tua yang memiliki derajat karisma serta kewibawaan untuk mendidik kaum-kaum muda. Spesifikasi peran para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin (yang wanita mengajarkan memasak sementara para laki-laki mengajarkan berburu). b) Pada tingkatan yang lebih maju, sebagian proses sosialisasi teridentifikasi keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada semua pemuda di masyarakat tentu saja dengan bimbingan para orang tua yang berpengalaman atau berkeahlian. Kurikulum pendidikan bukan semata-mata kumpulan dari latihan memperoleh ketrampilan-ketrampilan namun juga ditekankan soal-soal metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan sebagai guru, tampaknya sudah mulai mempertimbangkan bakat dan pengalaman “berguru” yang pernah diperoleh. Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang memiliki “spesialisasi khusus” seperti halnya spesialisasi-spesialisasi sekarang ini, namun para “siswa” bisa belajar banyak mengenai nilai-nilai kehidupan sebab guru dipandang sebagai sumber segala macam pengetahuan.c) Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri,maka meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluarga atau kelompok meningkat menjadi semakin kuat dalam segi kekuasaan maupun kekuatan ekonominya dibandingkan warga masyarakat yang lain. Mereka yang telah menempati posisi kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi “siswa”,terletak pada latar belakang kelas atau kterurunan seseorang. Sedangkan seleksi para “guru”, di samping disyaratkan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga diperhitungkan faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman dengan memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti, hukum, teologi, kesenian serta bahasa. Guru masih berperan sebagai figur yang menguasai segala hal daripada sebagai spesialis dari suatu cabang pelajaran tertentu. d) Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan dengan masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks.
Sejalan dengan arus industrialisasi dan kecenderungan diferensiasi sosial, maka spesialisasi peranan menjadi ciri istimewa masyarakat pada tingkatan keempat ini. Di sini pendidikan sudah berjenjang-jenjang begitu rupa, dan kualifikasi para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian yang beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapat beban-beban baru, yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat luas, sebagai media seleksi sosial serta berperan pula sebagai lapangan pekerjaan. Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama decade-dekade terakhir memicu beberapa perubahan dalam tubuh formasi pendidikan. Hal itu terjadi sebagai akibat dari mendesaknya permintaan masyarakat akan tersedianya tenaga-tenaga spesialis yang akan menopang bergulirnya roda kehidupan masyarakat yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal. Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat menjadi institusi yang mempunyai “kedudukan penting” terutama dalam menopang perubahan sosial ekonomi (baik perubahan yang direncanakan maupun tidak), lalu pendidikan berkembang menjadi “jembatan” prestise dan status, selain juga tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal, baik intra maupun antar generasi.

Daftar Pustaka

Abdullah Idi dan Safarina (2013) Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Koentjaraningrat (1996) Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta

Nasution S. (1999) Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Zuldafrial (2013) Guru dalam Perspektif Undang-Undang No 14 Tahun 2005. Pontianak: STAIN Pontianak PRESS

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tranportasi, Komunikasi, Mobilitas dan Perubahan Struktur Ekonomi Masyarakat

Perubahan sosial budaya dalam suatu masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan sarana dan prasarana teransportasi dan komunikasi melalui dinamika mobilitas penduduk antar wlayah kota-desa, desa-kota dan kota-kota.
A. Perkembangan Transportasi dan Komunikasi
Perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi telah dapat mengubah sistem transportasi dan komunikasi dalam kehidupan manusia. Banyak kemudahan yang dinikmati, bahkan seakan-akan menyebabkan dunia semakin sempit, semakin kecil, mengapa demikian?
Marilah kita telusuri usaha-usaha manusia di bidang transportasi dan komunikasi sebelum dan sesudah perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Pra sebelum perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, trasportasi darat dilakukan dengan berjalan kaki, berkuda, kreta kuda, atau unta untuk di padang pasir. Di laut transportasi menggunakan kapal layar, sedangkan melalui udara belum dikenal. Cara tersebut di atas memakan waktu lama, karena kecepatannya relatif rendah, sehingga jarak 100 km terasa sangat jauh.
Pasca setelah perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, orang dapat membuat sarana dan prasarana transportasi maupun komunikasi. Untuk transportasi di darat, misalnya sepeda motor, mobil, bis, truk, kreta api, jembantan dengan kekuatan tertentu sesuai dengan kebutuhan kendaraan yang boleh melewatinya. Untuk transportasi melalui laut, telah dapat dibuat kapal laut dengan bobot yang bermacm-macam sesuai dengan kebutuhan dengan ukuran tertent. Bahkan telah dapat pula dibuat kapal laut yang bertenaga nuklir. Tansportasi lewat udara, dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, telah dapat diciptakan industri pesawat terbang dengan kecepatan lebih besar dari kecepatan suara. Pesawat yang menggunakan teknologi tinggi, misalnya cocorde 602 (pesawat terbang transportasi supersonik) yang mempunyai kecepatan 1.400 mil perjam. Dengan pesawat concorde 602 jarak London-New York dapat ditempuh dengan waktu lebih kurang tiga setengah jam. Dapat anda bayangkan dua buah kota yang terletak di dua benua yang dipisahi oleh samudra seakan-akan hanya terletak pada jarak yang pendek saja karena dapat ditempuh dalam waktu yang relative pendek.
Demikian pula kalau kita tinjau alat komunikasi sebelum perkembangn ilmu pengetahuan alam dan teknologi, zaman dahulu baru megenal alat komunikasi misalnya bunyi kentongan untuk mengumpulkan penduduk kampong di suatu tempat, dengan bunyi beduk yang bertalu-talu untuk mengkomunikasikan ibadah shalat telah tiba, dimana jangkauannya sangat terbatas.Untuk mengirim surat orang menggunakan kendaraan kuda, burung merpati dan lain-lain dimana cara semuanya itu dilakukan secara alami. Pasca hasil perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi alat komunikasi yang digunakan lebih masju seperti radio, televisi, tape recorder, teleks, radar, handphone, satelit komunikasi dan lain-lain. Alat-alat tersebut diatur dengan teknologi tertentu supaya tidak saling mengganggu. Misalnnya penggunaan satelit komunikasi diadakan perjanjian oleh Negara-negara pemakai, disebut dalam Populer Science (1982) ada 92 negara pemakai dengan 110 stasiun dimana penggunaannya diatur oleh Internasional Telecomunication Statelit Consortium yang disingkat dengan Intelsat. Radio merupakan alat komunikasi satu arah dimana para pendengar memperoleh kemudahan dalam menerima informasi. Pesawat televisi dapat sebagai alat komunikasi searah atau dua arah bila telah diatur dengan peralatan tertentu. Di Negara yang mempunyai televisi yang dilengkapi peralatan sehingga dapat digunakan untuk komunikasi dua arah, seorang guru besar yang berada di suatu universitas dapat memberi kuliah kepada beberapa universitas yang memerlukan.Mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut dapat berkomunikasi langsung bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan.
Handphone banyak menarik minat, terutama bagi kaum muda, merupakan alat komunikasi yang sangat praktis, dapat dibawa kemana-mana dengan jangkauan terbatas, orang-orang dengan mudah dapat mengadakan komunikasi dengan kalangan tertentu yang mempunyai alat serupa.
Radar merupakan alat untuk berbagai bidang antara lain pada bidang transportasi dan komunikasi, misalnya pada lapangan terbang untuk mengatur pemberangkatan, kedatangan, dan petunjuk dimana suatu kapal terbang berada, demikan pula untuk kapal laut maupun mobil.Jadi sebagai control lalu lintas laut. darat dan udara.
Dalam abad ke-20 ini orang telah berhasil menciptakan pesawat ualng-alik dari bumi ke angkasa luar, maka pada awal abad ke-21 nanti mungkin manusia akan dapat naik kendaraan untuk bertamasya ke pelanet-pelanet atau satelit yang dekat dengan bumi, bahkan bila perlu hijrah ke sana.

B. Mobilitas Penduduk
1. Arti Mobilitas Penduduk
Secara etimologis arti penduduk dapat dijelaskan dari makna katanya yaitu “ mobilitas “ dan Penduduk “. Mobilitas adalah (a) kesiap siagaan untuk bergerak; (b) gerakan berpindah-pindah; (c) gerak perubahan yg terjadi di antara warga masyarakat, baik secara fisik maupun secara sosial. Penduduk adalah orang atau orang-orang yg mendiami suatu tempat (kampung, negeri, pulau, dsb). Jadi mobilitas penduduk dapat diartikan pergerak seseorang atau sekelompok oang dari suatu suatu tempat ke tempat lain.
Mobilitas penduduk secara difinitif diartikan sebagai semua gerakan penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu. Batas wilayah pada umumnya dipergunakan batas administrasi misalnya propinsi, kabupaten, keluruhan atau pedukuhan. (Mantra, 1991). Pengertian tersebut dapat diperluas sampai pada batas negara yang lebih dikenal dengan istilah mobilitas internasional.
2. Macam Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu mobilitas permanen dan mobilitas non permanen. Mobilitas permanaen adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tujuan untuk menetap. Sedang mobilitas non permannen adalah gerakan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan tidak ada niatan untuk menetap di daerah tujuan.
Mobilitas non permanen dapat dibagi menjadi bermacam-macam bentuk, misalnya mobilitas ulang-alik atau sirkuler, periodik, musiman dan jangka panjang. Mobilitas sirkuler dapat terjadi antara desa dengan desa, desa dengan kota, kota dengan desa, kota dengan kota, bahkan antara negara dengan negara yang dikenal dengan sebutan mobilitas internasional yang dilakukan oleh warga negara-negara maju seperti negara-negara Eropa Barat.
Perbedaan mobilitas permanen dan non permanen terletak pada ada atau tidaknya niat untuk bertempat tinggal di daerah tujuan. Apabila seseorang yang pindah ke daerah lain tetapi sejak semula sudah bermaksud kembali kedaerah asal, maka perpindahan tersebut dapat dianggap sebagai mobiltas serkuler bukan migrasi. Contoh yang baik dalam hal ini adalah mobilitas non permanen (merantau) dari orang minang (Sumatra Barat). Apabila dari sejak semula sudah tidak ada niat untuk menentap di daerah tujuan, walaupun bertempat tinggal di daerah tujuan dalam jangka waktu lama, orang yang melaksanakan mobilitas tersebut pasati juga akan pulang ke daerah asalnya.
Pada dasarnya, manusia melakukan mobilitas dengan tujuan yaitu untuk meningkatkan kualitas hidupnya, mulai dengan kebutuhan pangan sampai dengan kebutuhan sekunder lainnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa seseorang akan melakukan mobilitas dengan tujuan untuk memperoleh pekerjaan atau pendapatan. Dengan demikian daerah tujuan mobilitas penduduk merupakan daerah dimana terdapat peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, atau peningkatan pendapatan. Sehingga kesempatan kerja yang tersedia di suatu daerah merupakan salah satu faktor pendorong adanya mobilitas penduduk.
Selanjutnya jika kebutuhan dasar telah dapat dipenuhi, maka bobilitas dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan sekunder, termasuk wisata, bahkan mungkin sampai pada tingkat foya-foya. Hal terakhir ini dinyatakan sebagai suatu keadaan dimana berlaku kosumsi massal atau berlebihan. Dengan memperhatikan perbedaan tujuan individu atau kelompok melakukan mobilitas, maka dapat dibedakan bentuk-bentuk mobilitas penduduk sebagai berikut:
a. Mobilitas tradisional, dimana penduduk melakukan mobilitas atas dasar untuk memenuhi kebutuhan primer, terutama pangan. Aktivitas mobilitas tradisional merupakan arus desa ke kota, yang termasuk dalam pengertian urbanisasi.
b. Mobilitas pra modern, yang merupakan transisi dari mobilitas tradisional menuju mobilitas modern. Dalam hal ini penduduk mulai melakukan mobilitas dengan tujuan yang lebih luas bukan hanya sekedar untuk cukup pangan. Aktivitas mobilitas dari desa ke kota meningkat, disertai dengan mobilitas antar kota dan juga mobiltas dari kota ke luar kota (pedesaan). Sehingga terjadi juga apa yang disebut urbanisasi modern. Penduduk melakukan mobilitas atau migrasi dengan tujuan yang lebih luas, termasuk kesenangan dan kenyamanan.
c. Mobilitas modern, di mana mobilitas penduduk telah melampau batas-batas negara, dengan berbagai macam tujuan baik kegiatan perdagangan maupun berwisata.
d. Mobilitas canggih atau super modern, dimana mobilitas dilakukan telah melampaui pengertian berwisata secara wajar yang dapat dimasukan dalam kategori berfoya foya dengan konsumsi yang berlebih-lebihan (Aris Ananta,1993).
Bentuk mobilitas penduduk di atas dapat difahami berkaitan dengan keberhasilan dalam aktivitas ekonomi individu yang bersangkutan, yang meliputi dua komponen yaitu kesempatan kerja (produktivitas) dan pendapatan (atau dana).

C. Transportasi, Komunikasi dan Perubahan Struktur Ekonomi Masyarakat
Perubahan sosial adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan budaya suatu masyarakat hasil dari suatu proses pembelajaran. Perubahan sosial mengandung makna dalam suatu masyarakat terjadi suatu proses pembaharuan, pencerahan, perbaikan dan kemajuan dari keadaan sebelumnya. Konsep perubahan tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut: dari masyarakat tradisional menuju masyarakat moderen, komunitas kecil menjadi komunitas besar, msyarakat terbelakang menjadi masyarakat maju, masyarakat irasional menjadi masyarakat rasional, masyarakat miskin menjadi masyarakat sejahtera.
Salah satu indikasi yang dapat menunjukan telah terjadinya suatu perubahan sosial dalam masyarakat adalah semakin meningkatnya intensitas mobilitas sirkuler dalam suatu masyarakat akibat terjadinya perbaikan sarana tranportasi dan komunikasi dalam suatu masyarakat. Kehidupan masyarakat mulai bergeser dari masyarakat, tradisional, terbelakang, dan irasional menjadi masyarakat modern, maju dan rasional. Hal ini dimungkinkan karena masuknya berbagai informasi dan budaya dari luar yang menyebabkan terjadinya pencerahan dalam kehidupan masyarakat. Informasi dan budaya luar yang diterima itu mendorong warga atau kelompok warga masyarakat untuk segera melakukan perubahan dalam kehidupan sosialnya. Proses perubahan itu melalui dua arah yaitu pengaruh dari luar dan dorongan dari dalam masyarakat itu sendiri untuk berubah.
Semakin meningkatnya mobilitas sekuler antar penduduk desa-kota, kota desa, menyebabkan terjadinya prubahan struktur ekonomi masyarakat pedesaan yang ditunjukan dengan bergesernya lapangan pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor jasa dan industri. Tumbuhnya lapangan kerja baru di sektor jasa seperti transportasi, perhotelan, restoran, listrik, gas dan air, bangunan, perdangangan dan home industri. Kualitas hidup masyarakat semakin baik dengan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Daftar Pustaka

Aris Ananta (1993) Ciri Demografis Kualitas Penduduk dan Pembangunan Ekonomi Jakarta: Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Mawardi dan Nur Hidayati, (2007), Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar IAD-ISD-IBD Untuk UIN, STAIN, PTAIS. Bandung: CV Pustaka Setia

Ida Bagus Mantra (1991), Pengantar Demografi : Yogyakarta: Nur Cahaya
Zuldafrial (2010), Demografi, Kesehataan Reproduksi dan Kebijakan Kependudukan. Pontianak: STAIN Press

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tugas Guru dalam Menilai dan Mengevaluasi

A. Arti Menilai dan mengevaluasi
Apa itu penilaian dan evaluasi ? Kedua kata ini tidak bisa dipisahkan, bilamana ada penilaian, maka harus ada evaluasi. Sebaliknya tidak ada evaluasi, bilamana tidak ada penilaian.Untuk dapat mengadakan penilaian, kita mengadakan pengukuran terlebih dahulu.
Sebagai contoh untuk menentukan mana pensil yang lebih panjang, kita ukur dulu kedua pensil itu dengan menggunakan penggaris. Setelah mengentahui berapa panjang masing-masing pensil itu, kita mengadakan penilaian dengan melihat bandingan panjang antara kedua pensil tersebut. Selanjutnya dapatlah kita mengatakan Ini pensil panjang dan ini pensil pendek.Maka pensil yang panjang itulah yang kita ambil.Ukuran ini bersifat kualitatif.
Contoh lain untuk menentukan mana jeruk yang manis, kita menggunakan ukuran “ besar, kuning dan halus kulitnya”. Ukuran ini bersifat kualitatif, berdasarkan pengalaman. Setelah membandingkan jeruk jeruk yang kita pilih dengan ukuranya tersebut, maka kita akan memilih jeriuk yang besar, kuning dan halus kulitnya sedangkan jeruk yang kecil, hijau dan kasar kulitnya tidak kita ambil karena berdasarkan pengalaman masam rasanya.
Dengan demikian kita mengenal dua macam ukuran, yaitu ukuran yang terstandar (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak terstandar, ukuran perkiraan berdasarkan hasil pengalaman (jeruk manis adalah yang kuning, besar dan halus kulitnya).
Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi.yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat melakukan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kegiatan mengukur dan menilai.
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, digunakan untuk menilai pencapaiam kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran.(P.P RI Nomor: 19 Tahun 2005). Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelengraan pendidikan, yang meliputi kinerja pendidikan, sekurang-kurangnya meliputi : 1) Tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan 2) Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler 3) Hasil belajar peserta didik 4) Realisasi anggaran .(P.P RI Nomor: 19 Tahun 2005)
Penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar adalah kegiatan untuk menentukan mutu proses dan hasil berlajar dalam suatu satuan pendidikan melalui proses pengumpulan dan pengolahan informasi berkaitan dengan proses dan hasil belajar siswa dengan menggunakan alat pengukuran berupa tes dan non tes.

B. Prinsip-Prinsip Penilaian dan Evaluasi Proses dan Hasil Belajar
Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. (Prayitno dan Erman Amti ,1999). Prinsip adalah merupakan dasar, asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar seseorang berpikir atau bertindak (Zuldafrial,2009). Prinsip berarti dasar, asas atau kebenaran yang merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang dijadikan pegangan bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan ataupun perbuatan. Perbuatan yang dilakuan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu akan dapat menghasilkan tujuan yang diinginkan secara efektif dan efisien. Efektif artinya tepat sasaran dan efisein artinya dengan waktu, tenaga dan biaya yang ringan.
Adapun prinsip-prinsip penilaian secara umum adalah sebagai berikut:
1. Valid. Penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, tepat dan sahih.Sebagai contoh apabila dalam pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan eksprimen maka kegiatan melakukan percobaan harus menjadi salah satu obyek yang dinilai.Ketika merencanakan penilaian guru memerlukan jaminan bahwa semua kegiatan telah berorientasi pada usaha untuk menyediakan informasi yang relevan dengan kompetensi dan indikator pencapaian hasilbelajar.
2. Mendidik. Penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan yang memotivasi bagi siswa yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil.
3. Berorientasi pada kompetensi. Penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
4. Adil dan obyektif. Penilaian harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa yang tidak berkaitan dengan pencapaian hasil belajar. Objektivitas penilaian bergantung dan dipengharuhi oleh faktor-faktor pelaksana, kriteria untuk skoring dan pembuatan keputusan pencapaian hasil belajar.Suatu tugas harus adil dan objektif untuk laki-laki dan petrempuan, siswa dengan latar belakang budaya yang berbeda, menggunakan bahasa yang dapat difahami serta mempeunyai kriteria yang jelas dalam membuat keputusan atau menerapkan angka atau nilai.
5. Terbuka. Kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehinga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi fighak-fihak yang berkepentingan.
6. Berkesinambungan. Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, teratur, terus menerus, dan berkesinambungan unutk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. Hasil penilaian perlu dianalisis dan ditindaklanjuti. Penilaian hendaknya merupakan bagian yang integral dari proses pembelajaran.
7. Menyeluruh. Penilain terhadap hasil belajar siswa harus dilaksanakan menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif serta berdasarkan pada berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi aspek pengetahuan, sikap atau nilai,dan keterampilan, serta materi secara representatif sehingga hasilnya dapat dintegrasikan dengan baik.
8. Bermakna. Penilaian hendaknya mudah difahami dan bisa ditindak lanjuti oleh fihak-fihak yang berkepentingan. Hasil penilaian mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang men gandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat, dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang ditetgapkan.
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan, penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2. Obyektif, berarti penilaian berdasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilaian.
3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi dan gender.
4. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh fihak yang bersangkutan.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Sistimatis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langklah-langkah baku.
8. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9. Akuntabel, berarti, penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

C. Aspek-Aspek Proses dan Hasil Belajar yang Dinilai
1. Evaluasi Proses Pembelajaran
Untuk menilai dan mengevaluasi sesuatu hal diperlukan suatu ukuran atau kriteria sebagai standar penilaian. Adapun standar penilaian proses pembelajaran berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggrakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Setiap satuan pendidikan harus melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Banyak faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yang dapat dijadikan sasaran penilaian untuk mnentukan efektif tidaknyha proses pembelajaran yang berlangsung antara lain : 1) Kurikulu/materi; 2) Strategi dan metode pembelajaran; 3) Sarana pendidikan/media/sumber belajar; 4) Sistem administrasi; 5) Aktivitas belajar siswa dan 6) Lingkungan belajar siswa..

1) Kurikulum/materi
Kurikuluam atau materi pelajaran berkaitan dengan karektersitiknya yaitu mudah-sukarnya materi pelajaran di akses, mudah sukarnya materi pelajaran dipelajari atau diajarkan oleh guru, luas sempitnya materi pelajaran yang diajarkan.
Standar kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai oleh guru dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum atau silabus mata pelajaran memerlukan sejumlah materi atau pokok bahasan yang akan disampaikan kepada siswa. Bilamana materi pelajaran ini sulit didapat baik oleh guru itu sendiri sebagai pengajar yang memerlukan persiapan dan perencanaan dalam mengajar dan siswa itu sendiri sebagai pelajar, maka hal ini akan menjadi faktor kendala yang dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. Belajar tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi siswa juga dituntut untuk mendalami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru baik secara mandiri maupun secara kelompok.Oleh karena itu materi pelajaran dapat diakses oleh siswa baik di perpustakaan maupun melalui E-Learning.
2). Strategi dan metode mengajar guru
Strategi dan metode mengajar adalah pendekatan dan cara yang dipilih oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pemilihan strategi dan metode mengajar oleh guru memerlukan banyak pertimbangan antara lain: tujuan pembelajaran, siswa, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, media/sumber belajar dan evaluasi belajar. Walaupun guru dalam memilih strategi dan metode mengajar dengan mempertimbangkan komponen-komponen seperti tersebut di atas, namun dalam pelaksanaannya sangat ditentukan oleh kompetensi guru .
Aplikasi kompetensi guru seperti kemampuan pedagogik, kemampuan kepribadian, kemampuan sosial dan kemampuan profesional sangat menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran sisw. Kemampuan pedagogik pada dasarnya dalah kemampuan guru dalam melaksanakan strategi dan metode mengajar yang dipilih belumlah cukup namun masih diperlukan kemampuan lain seperti kemampuan kepribadian berupa sikap disiplin, tegas, adil, berwibawa. Kemampuan sosial dapat menghargai siswa, dapat membangun kepercayaan siswa, dapat memahami siswa. Kemampuan profesional, memahami kurikulum/silabus mata pelajaran dan menguasai materi mata pelajaran yang diampu dan mampu mengembangkannya.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa proses pembelajaran bukanlah situasi pembelajaran yang sederhana, tapi merupakan suatu situasi yang kompleks, banyak faktor-faktor yang terlibat.Banyak faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran.

3) Sarana pendidikan/media/sumber belajar
Sarana adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sarana dapat berupa media dan atau sumber belajar. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh oleh guru sebaai alat dalam menyampaikan materi palajaran. Media dapat berupa buku teks, OHP, LCD, perpustakaan atau E.Learning. Sedangkan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai objek kajian dalam proses pembelajaran. Sumber belajar yang dirancang dan ada pula yang tidak dirancang. Sumber belajar yang dirancang seperti buku teks, LKS, modul dan buku ajar. Sedang kan sumber belajar yang tidak dirancang adalah ligkungan sosial dan lingkungan fisik yang ada di sekitar siswa.
Ketersediaan sarana/media/ sumber belajar akan sangat membantu terlaksananya proses pembelajaran yang mendidik. Siswa akan dapat dengan mudah mempelajari dan memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru baik secara terbimbing maupun secara mandiri.

4) Sistem administrasi
Sistem adminsitrasi dimaksudkan adalah penyusunan jadwal belajar oleh sekolah, program tahunana, program semester dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ) yang disusun oleh guru.
Penyusunan jadwal pelajaran, mata pelajaran sangat menentukan kefektifan proses pembelajaran oleh guru. Ada mata pelajaran-mata pelajaran tertetu yang cocok dijawalkan pada pagi hari dan tidak cocok pada siang hari. Sebagai contoh misalnya mata pelajaran IPA dan Olah raga.
Program tahunan, semester dan RPP disusun agar proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung secara efisien, efektif dan terarah pada tujuam pembelajaran yang ingin dicapai. Program ini disusun berdasarkan silabus mata pelajaran.
Pelaksanaan proses pembelajaran mengacu pada RPP yang telah disusun oleh guru berdasarkan silabus mata pelajaran. Prakteknya di sekolah, tidak semuan guru dalam menyusun RPP sesuai dengan tuntutan silabus. Tidak semua guru dalam memilih strategi dan metode mengajar sesuai dengan tuntutan kegiatan belajar mengajar dan indikator yang terdapat di dalam silabus mata pelajaran. Ini akan berpengaruh terhadap pencapaian indikator dan kompetensi dasar yang diinginkan terbentuk pada siswa sebagai hasil belajar.

5) Aktivitas belajar siswa
Belajar akan berhasil bila diikuti oleh aktivitas belajar yang intensif. Aktivitas belajar dapat berupa aktivitas fisik maupun aktivitas mental. Aktivitas fisik seperti mencatat, menggambar,meringkas, mengetik, menyusun, memperhatikan, mengerjakan tugas dan lain-lain. Aktivitats mental seperti mengingat, menjelaskan, mengaplikasikan, menghubung-hubungkan, menguraikan dan menilai. Pada dasarnya kedua aktivitas ini hanya dapat dipisahkan secara teoritis, namun dalam prakteknya berjalan secara simultan dan sinergis.

2. Evaluasi Hasil Belajar
a. Arti Belajar
Belajar pada dasarnya adalah merupakan suatu proses mental karena orang yang belajar perlu memikir, menganalisa, mengingat, dan mengambil kesimpulan dari apa yang dipelajari. Sehubungan dengan itu terdapat bermacam-macam pendapat tentang apa yang dimaksud dengan belajar. Dibawah ini akan diketengahkan beberapa pendapat tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa aliran psikologi.
1). Menurut aliran psikologi koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi. Menurut pendapat ini orang belajar karena menghadapi masalah yang harus dipecahkan.Masalah itu merupakan perangsang atau stimulus terhadap individu. Kemudian individu itu mengadakan reaksi terhadap rangsangan itu dan bilamana reaksi itu berhasil, maka terjadilah hubungan perangsang dan reaksi dan terjadilah peristiwa belajar.
2). Belajar menurut aliran fungsionalisme adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi atau situasi situasi yang terdapat di sekitar kita. Dalam pengertian menyesuaikan diri itu termasuk mendapatkan kecekatan kecekatan dan sikap yang baru.
3). Aliran behaviorisme dan psicho-reflexologi menganggap belajar sebagai usaha untuk membentuk reflex-reflex baru. Bagi aliran ini belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan gerakan reflek dan dengan adanya conditioning. Rentetan gerakan-gerakan reflek itu dapat menimbulkan reflek reflek buatan.
4). Menurut aliran psikologi asosiasi, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru. Peristiwa dipandang sebagai masalah yang harus dipecahkan berdasarkan tanggapan-tanggapan yang telah ada. Orang mendapatkan hubungan antara tanggapan tanggapan itu dan hubungan antara tanggapan tanggapan dengan obyek yang dipecahkan.
5). Para ahli psikologi pikir dan psikologi gestalt mengatakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses yang aktif, yang dimaksud dengan aktif disini bukan hanya aktivitas yang tampak seperti gerakan gerakan anggota anggota badan tetapi juga aktivitas aktivitas mental seperti persepsi berpikir, mengingat ingat dan sebagainya.
6). Psikologi dalam dan Klinis mengemukakan belajar adalah suatu usaha untuk mengatasi ketegangan-ketegangan psichis. Bila orang ingin mencapai tujuan dan ternyata mendapatkan rintangan, maka hal itu bisa menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu baru bisa berkurang bila rintangan itu di atasi, dan usaha mengatasi rintangan itulah yang dinamakan belajar.
Dari uraian di atas, menunjukan bahwa adanya pendapat yang bermacam macam mengenai apa yang dimaksud dengan belajar. Namun demikian disamping adanya perbedaan perbedaan mengenai prumusan tentang arti belajar tersebut, tetapi kalau kita kaji dan analisa secara dalam maka terdapat kesamaan kesamaan mengenai aspek aspek yang terdapat dalam proses kegiatan belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh J.L. Mursell sebagai berikut :
It has revealed a number or specipic or emphasis in the general orientation more define 1) Learning is assentially purposive. It is meaningful in the sense that it matters to the learner. 2) The basic process of learning is one of exploration and discovery, not of routine repetition. 3) The out come or result achieved by learning is always the emergence of insight or under standing or intelegible respond. 4) That result is not tied to the situation in which it was achieved, burt can be used also in other situation.
Sesuai dengan pendapat J.L. Mursell, maka aspek aspek yang terdapat dalam kegiatan proses belajar adalah :
1). Bahwa belajar itu bertujuan. Adanya tujuan itu akan nyata apabi;a murid dihadapkan masalah. Ia bertujuan memecahkan masalah itu. Ia terlibat dalam pemecahan masalah itu.
2). Bahwa belajar itu prosesnya berlangsung dengan penyelidikan dan penemuan, bukan berlangsung secara ripititif. Seorang yang belajar perlu dihadapkan pada sesuatu masalah. Untuk dapat memecahkan masalah itu perlu adanya penyelidikan dan penemuan pemecahannya.
3). Bahwa hasil belajar adalah munculnya pemahaman, munculnya pengertian, munculnya respond yang berakal.
4). Bahwa hasil belajar itu tidak hanya terikat pada situasi munculnya pemahaman saja, tetapi dapat digunakan pada situasi lain.
Dengan demikian seseorang dikatakan belajar, apabila menghadapi masalah yang harus dipecahkan. Untuk memecahkan masalah tersebut tentu saja diperlukan cara atau jalan untuk memecahkannya dengan mencari keterangan-keterangan atau data yang diperlukan. Kemudian keterangan ataupun data-data yang sudah dikumpulkan tersebut dihubungkan dengan masalah yang dihadapi sehingga apabila terdapat kesesuaian akan muncul pemahaman dan dengan dengan demikian masalahpun akan terpecahkan. Bilamana telah sampai pada tingkat pemahaman ini, maka seseorang yang belajar akan dapat memecahkan masalah ini dalam situasi yang bagaimanapun dan dimanapun. Peristiwa ini dalam belajar dikenal dengan istilah transfer of learning atau tarnfer of training. Dengan munculnya pemahaman maka sesuatu yang dipelajari pada sesuatu situasi akan dapat diterapkan pada situasi yang lain. Dengan demikian tidak ada perbedaan yang nyata antara pengertian tranfer of learning dengan application (pengeterapan). Apabila tidak terjadi transfer dalam belajar berarti belajarnya gagal. Kegagalan dalam transfer disebabkan dalam belajar hanya mentitik beratkan kepada belajar secara memorisasi, secara ripitatif, bukan secara insight (pemahaman).
Sehubungan dengan itu ada sementara pendapat yang membedakan adanya dua macam proses kegiatan belajar yaitu connection formaing dan rationall learning. Proses belajar connection forming adalah proses belajar yang dilaksanakan oleh mereka yang lemah berfikir (feeble minded human) yaitu dengan menghafal fakta-fakta. Sedangkan belajar rationall learning adalah belajar yang dilakukan dengan jalan pemahaman.
Berdasarkan urian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila terjadi perubahan dalam tingkah laku (respond). Dengan demikian apabila tidak terjadi perubahan dalam respond tidak ada perbuatan belajar. Perbuatan-perbuatan (tingkah laku) di mana ada prubahan dalam respond adakalanya perbuatan yang menuju kemunduran dan adakalanya menuju ke perkembangan. Dalam hal ini perbuatan belajar berwujud adanya perubahan dalam respod yang menuju ke proses perkembangan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Pinsent ” Learning is process of development and we can define it as a process of developmen which result in the modifications of respond “ .
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses perubahan. Perubahan-perubahan itu tidak hanya perubahan lahir tetapi juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang nampak tetapi juga perubahan –perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan- perubahan itu buka perubahan yang negatif tetapi perubahan yang positif yaitu perubahan yang menuju ke arah kemajuan atau ke arah pebaikan.
Untuk mengetahui ada tidaknya perubahan pada peserta didik sebagai hasil dari suatu proses belajar yang dilakukan oleh guru di sekolah, maka perlu adanya evaluasi hasil belajar.

b. Domain Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar di sekolah meliputi tiga domain yaitu domain cognitive, affective dan psychomotor. Domain cognitive adalah kemampuan dalam berfikir, domain affective adalah kemampuan dalam bersikap dan domain psychomotor adalah kemampuan motorik.
Bentuk prilaku yang diukur berdasarkan tingkat kemampuan domain masing-masing sesuai dengan ranah tujuan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Bloom sebagai berikut:
1). Cognitive Domain yaitu: a) Pengetahuan, aspek ini mengacu pada kemampuan mengenal/mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada hal-hal yang sukar. Pada umumnya unsur pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang perlu diingat seperti : batasan, peristilahan, pasal, hukum, dalil, rumus, nama orang, nama tempat, dan lain lain; b) Pemahaman, aspek ini mengacu pada kemampuan memahami makna materi yang dipelajari. Pada umumnya unsur pemahaman ini menyangkut kemampuan menangkap makna suatu konsep, yang ditandai antara lain dengan kemampuan menjelaskan arti suatu konsep dengan kata-kata sendiri. Pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yakni penerjemahkan (misalnya dalam lambang ke arti), penafsiran, dan ekstrapolasi (menyimpulkan dari sesuatu yang telah diketahui): c).Penerapan, aspek ini mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan pengetahuan yang sudah dimiliki pada situasi yang baru, yang menyangkut penggunaan aturan, prinsip, dan sebagainya, dalam memecahkan persoalan tertentu. Jadi dalam aplikasi harus ada konsep, teori, hukum, rumus, kemudian diterapkan atau digunakan dalam memecahkan suatu persoalan; d). Analisis, aspek ini mengacu pada kemampuan mengkaji atau menguraikan sesuatu ke dalam komponen-komponen atau bagian-bagian yang lebih sepesifik, serta mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lain, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih difahami. Kemampuan ini merupakan akumulasi atau kumpulan pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi; e). Sintesis, aspek ini mengacu pada kemampuan memadukan berbagai konsep atau komponen, sehinga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sentisis adalah lawan dari analisis.; f).Evaluasi, aspek ini mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan atau penilaian terhadap gejala/peristiwa berdasarkan norma-norma atau patokan-patokan tertentu. Hasil belajar dalam tingkatan ini merupakan hasil belajar yang tertinggi dalam domain kognitif, sehingga memerlukan semua tipe hasil belajar tingkatan sebelumnya (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentisis ).
2). Affective Domain yaitu: a). Kemauan menerima/Penerimaan, aspek ini mengacu pada kesediaan menerima dan menaruh perhatian terhadap nilai tertentu, seperti kesediaan menerima nilai-nilai disiplin yang berlaku di sekolah; b) Kemampuan menanggapi/Pemberian respond, aspek ini mengacu pada kecenderungan memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu, menunjukan kesediaan dan kerelaan untuk merespond, serta merasakan kepuasan dalam merespons, seperti misalnya mulai berbuat sesuai dengan tata tertib disiplin yang telah diterimanya.; c). Berkeyakinan/Penghargaan, aspek ini mengacu pada kecenderungan menerima suatu norma tertentu, menghargai suatu norma, serta mengikat diri pada suatu norma. Siswa, misalnya, telah memperlihatkan prilaku disiplin yang menetap dari waktu ke waktu.; d). Penerapan karya/Pengorganisasian, aspek ini mengacu pada proses membentuk suatu konsep tentang suatu nilai serta menyusun suatu sistem nilai dalam dirinya. Pada taraf ini seseorang mulai memilih nilai-nilai yang ia sukai, misalnya tentang norma-norma disiplin tersebut, dan menolak nilai-nilai yang lain.; e).Ketekunan/ketelitian /Karakterisasi, Aspek ini mengacu pada proses mewujudkan nilai-nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak, di mana norma itu tercermin dalam pribadinya. Dalam taraf ini prilaku disiplin, misalnya betul-betul telah menyatu dalam dirinya. Aspek ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam domain afektif.
3). Psikomotor Domain yaitu: a) Persepsi, aspek ini mengacu pada penggunaan alat dria untuk memperoleh kesadaran akan suatu objek/gerakan dan mengalihkannya ke dalam kegiatan/perbuatan. Dalam bermain bulu tangkis, misalnya siswa menggunakan indera penglihatan, pendengaran, dan sentuhan untuk dapat menyadari unsur-unsur fisik dari permainan tersebut. Aspek ini merupakan tingkatan yang paling rendah dalam domain psikomotor; b) Kesiapan ( set ), aspek ini mengacu pada kesiapan memberikan respon secara mental, fisik maupun perasaan untuk suatu kegiatan. Kesiapan fisik dan mental pada saat seseorang mengambil ancang-acang sebelum melakukan pukulan service pada permainan bulu tangkis, misalnya, merupakan contoh dari aspek kesiapan ( set) ini. Aspek ini berada satu tingkat di atas persepsi; c) Respons terbimbing, aspek ini mengacu pada pemberian respons sesuai dengan contoh perilaku/gerakan-gerakan yang diperlihatkan /didemonstrasikan sebelumnya. Siswa yang mempraktekan pukulan-pukulan service dengan cara tertentu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diperlihatkan oleh gurunya, merupakan sal;ah satu contoh dari respons terbimbing. Aspek ini berada satu tingkat di atas kesiapan/set; d) Mekanisme, aspek ini mengacu pada keadaan dimana respons fisik yang dipelajari telah menjadi kebiasaan. Siswa yang selalu melakukan pukulan service dengan cara-cara tertentu sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya, merupakan contoh dari aspek mekanisme. Aspek ini berada satu tingkat di atas respons tetrbimbing; e) Respons yang kompleks, aspek ini mengacu pada pemberian respons ataun penampilan perilaku/gerakan yang cukup rumit dengan terampil dan efisien. Siswa yang dapat bermain bulu tangkis dengan pukulan-pukulan service yang akurat, tanpa membuat kesalahan selama permainan, merupakan contoh respons yang kompleks. Aspek ini berada satu tingkat di atas mekanisme; f). Adaptasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menyesuaikan respons atau perilaku/gerakan dengan situasi baru. Sebagai contoh, setelah menguasai cara-cara bermain bulu tangkis dengan lawan-lawan tertentu, siswa dapat menerapkan/menggunakan keterampilan yang telah dikuasainya dalam menghadapi lawan-lawan yang lain.Aspek ini berada satu tingkat di atas respons yang kompleks; 7). Originasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menampilkan dalam arti menciptakan perilaku/gerakan yang baru. Setelah cukup lama belajar dan berlatih bulu tangkis, siswa dapat menciptakan cara melakukan pukulan service yang unik, berbeda dari yang lain. Aspek ini menduduki tingkatan yang paling tinggi dalam domain psikomotor.
Penilaian aspek cognitive dalam bentuk tes yaitu tes lisan dan tes tertulis atau tes hasil belajar. Penilaian afektif penilaian dalam bentuk tes sikap, minat, motivasi, nilai dan moral. Penilaian psikomotorik penilaian dalam bentuk unjuk kerja atau perbuatan.
Materi bahan ajar mata pelajaran yang dinilai berkaitan denga aspek cognitive, affective dan psikomotor domain adalah fakta, konsep, teori, prinsip, prosedur yang berkaitan dengan materi ajar yang telah disampaikan sesuai dengan standar kompetensi dasar, kompetensi dasar dan indikator yang telah dirumuskan dalam silabus maata pelajaran.

3. Prosedur Penilaian dan Evaluasi Proses dan Hasil Belajar
Berdasarkan arti kata prosedur adalah saluran, proses,strategi, langkah dan garis haluan. Secara konsepsual prosedur diartikan sebagai tahapan kegiatan untuk menyelesaikan suatu akativitas. Prosedur adalah metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu masalah. Prosedur adalah rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap. Prosedur juga dapat diartikan sebagai serangkaian dari tahapan-tahapan atau urutan-urutan dari langkah-langkah yang saling terkait dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Menurut pendapat pakar prosedur adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya yang berkaitan dengan melaksanakan dan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi. Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang.
Berdasarkan pendapat di atas maka prosedur dapat diatikan sebagai tata cara kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan berupa langkah-langkah yang dilakukan secara berurutan dan terpola.
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dengan demikian penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu.( Sudjana, 2005 ). Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa.Hasil belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku setelah melalui proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah (PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 63 Ayat 1) . Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut:
a). Menentukan Kriteria Ketuntasan Minilal (KKM) setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
b). Mengkoordinasikan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
c). Menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik.
d). Menentukan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik.
e). Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
f). Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah.
g). Menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
h). Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan.
i). Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.
j). Menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria: 1). Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; 2).Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; 3). Lulus ujian sekolah/madrasah; 4). Lulus Ujian Nasional.
k. Menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara Ujian Nasional.
l. Menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan pendidikan penyelenggara Ujian Nasional .
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitik beratkan sasaran penilaian pada tingkat efektifitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar. Penilaian proses belajar berkaitan dengan paradigma bahwa dalam kegiatan belajar kegiatan utama terletak pada siswa, siswa yang secara dominan berkegiatan belajar mandiri dan guru hanya melakukan pembimbingan. Dalam konteks ini guru harus memantau berbagai kesukaran siswa dalam proses belajar tersebut setiap pertemuan. Sedangkan untuk mengukur hasil belajar dilakukan ulangan harian, tengah semester, dan akhir semester.
Prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar adalah tata cara kerja yang dilakukan oleh guru untuk melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa berupa langkah-langkah yang dilakukan secara berurutan dan terpola sebagai berikut:
a. Mengkaji Materi Pembelajaran
Tahap pertama yang harus dilakukan guru sebagai penilai adalah mempelajari dan mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar. Kajian materi ini dapat dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan secara komprehensif dari beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang diharapkan.
b. Memilih Teknik Penilaian
Tahap kedua memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu penilaian melalui tes dan non tes. Sekolah biasanya para guru banyak menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan keakuratan perlu dipertimbangkan proporsi kemampuan yang diukur, tingkat kesukaran dan daya beda setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih mudah dibandingkan dengan non tes
c. Perumusan Kisi – Kisi
Tahap ketiga merumuskan dan membuat matrik kisi-kisi sesuai dengan teknik penilaian yang telah ditentukan. Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai informasi dan ruang lingkup dari materi pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk menulis soal atau matriks soal menjadi tes. Pembuatan kisi-kisi memiliki tujuan untuk menentukan ruang lingkup dalam menulis soal agar menghasilkan perangkat tes yang sesuai dengan indikator.
Kisi kisi dibuat berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai serta bentuk tes yang akan diberikan kepada peserta didik. Tes dapat berbentuk tes objektif benar-salah, pilihan ganda atau tes uraian serta non tes berupa penilaian afektif dan psikomotorik.
Kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes. Dengan adanya kisi-kisi penulisan soal menjadi terarah, komprehensif dan representatif. Dengan pedoman kepada kisi-kisi penyusunan soal menjadi lebih mudah dan dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes.
Syarat penyusunan kisi-kisi adalah: 1). Dapat mewakili isi silabus atau kurikulum; 2). Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami; 3). Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya sesuai bentuk soal yang ditetapkan; 4). Sesuai dengan indikator.
Komponen kisi-kisi: 1). Komponen Identitas; 2). Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan; 3). Mata pelajaran; 4). Tahun ajaran; 5) Jumlah soal; 6). Bentuk soal; 7). Standar Kompetensi; 8). Kompetensi Dasar; 9). Indikator
Dalam pembuatan kisi-kisi harus mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang mengacu kepada teori Bloom sebagai berikut:
1). Cakupan yang diukur dalam ranah kognitif adalah: a). Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode; b). Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan; c). Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur; d). Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan; e). Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan; f). Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan.
2). Cakupan kemampuan yang diukur dalam ranah afektif adalah: a). Menerima (A1), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian; b). Merespon (A2), meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan; c). Menghargai (A3), meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai; d).Mengorganisasi (A4),meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai; e). Karakteristik suatu nilai (A5), meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya
3). Cakupan kemampuan yang diukur dalam ranah psikomotorik adalah: a) gerak refleks; b) gerak dasar fundamen; c) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinas; d) keterampilan fisik; e) gerakan terampil; f) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
d. Penulisan Butir Soal
Tahap keempat, menulis dan membuat butir-butir soal yang sesuai dengan kisi-kisi dan bentuk soal yang telah ditentukan. Bila menggunakan teknik non tes, maka diperlukan untuk membuat pedoman pengisian instrumen. Misalnya untuk observasi atau wawancara.
e. Penimbangan/Reviewe
Dalam tahap ini, butir soal dan atau pedoman yang telah disusun, ditimbang secara rasional (analisis rasional oleh); dibaca, ditelaah dan dikaji kembali butir-butir soal dan atau pedoman yang dibuat telah memenuhi persyaratan.
f. Perbaikan
Pedoman diperbaiki sesuai dengan hasil penimbangan, bagian-bagian mana yang perlu dikurangi atau ditambah kalimat atau kata-katanya perbaikan inipun biasanya didasarkan kepada pemikiran peserta didik untuk memahami isi dari kalimat yang diberikan, hal ini mengandung arti bahwa kalimat yang disusun hendaknya mudah di pahami oleh para peserta didik .
g. Uji-coba dan Penggandaan.
Uji-coba terhadap tes/soal yang dibuat adalah untuk menentukan apakah butir soal yang dibuat telah memenuhi kriteria yang dituntut, sudahkah mempunyai tingkat ketetapan, ketepatan, tingkat kesukaran dan daya pembeda yang memadai. Untuk bentuk tes kriterianya dituntut adalah tingkat ketepatan (validitas) dan ketetapan (reliabilitas) sehingga diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang baku (standar)
h. Diuji (diteskan)
Setelah diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang memenuhi persyaratan sudah barang tentu perangkat alat ini diorganisasikan, disusun berdasarkan pada bentuk-bentuk atau model-model soal bagi perangkat tes, dan untuk perangkat non tes.Setelah perangkat tes maupun non tes digandakan kemudian siap untuk diujikan.
i. Pemberian Skor
Lembar jawaban peserta didik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomer induk peserta didik untuk memudahkan dalam memasukkan skor peserta didik. Kemudian dilakukan pemberian skor sesuai dengan kunci jawaban, sehingga diperoleh skor setiap peserta didik. Untuk bentuk soal objektif diberi skor 1 jika benar dan 0 jika salah, sedangkan skor bentuk essay bergantung kepada tingkat kesulitan soal. Berdasarkan hasil tes akan diketahui skor masing-masing peserta atau skor siswa.
j. Putusan.
Setelah pengolahan data skor hasil tes sampai pada menafsirkan, guru/skolah atau team penilai ujian memperoleh putusan akhir dari kegiatan penilaian. Putusan yang diambil diharapkan obyektif sesuai dengan aturan atau kriteria yang telah ditentukan. Putusan tersebut tuntas-tidak tuntas, naik kelas-tidak naik kelas dan lulus-tidak lulus.

DAFTAR BACAAN

Anonim. (1977). Ki Hajar Dewantara, Bagian I- Pendidikan, Bagian II-Kebudayaan. Yogyakarta : Majelis Persatuan Taman Siswa.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.Jakarta : Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta : Mendiknas

Suharsimi Arikunto. (1993). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Zuldafrial. (2009). Strategi dan Pendekatan Pengelolaan Kelas. Pontianak: Pustaka Abuya

————–( 2011). Keterampilan Komunikasi Pendidikan. Pontianak: STAIN Press Pontianak
————–(2013), Perencanaan Pengajaran Geografi, Pontianak: STAIN Press Pontianak

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

A. Masyarakat
1. Arti Masyarakat
Menurut Smith, Stanley dan Shores dalam Elly M. Setiadi dan Usman Kolip (2013: 7) mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. Mengacu pada definisi tersebut, ada dua hal yang terkandung di dalamnya yaitu: (a) Masyarakat itu kelompok yang terorganisasi; dan (b) Masyarakat merupakan kelompok yang berfikir tentang dirinya sendiri yang berbeda dengan kelompok orang lain. Berdasarkan definisi tersebut, maka orang yang berjalan bersama-sama atau duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah masyarakat. Kelompok yang tidak berfikir tentang kelompoknya sebagai suatu kelompok bukanlah masyarakat. Znaniecki mendefinisikan masyarakat sebagai suatu system yang meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama perode waktu tertentu dari suatu generasi. Sedangkan Paul B. Horton dan C. Hunt mendefinisi masyarakat adalah kumpulan manusia yang secara relatif dapat hidup secara berkelompok dalam jangka waktu yang lama, mereka relatif mandiri, punya wilayah tersendiri untuk ditinggali, kebudayaan mereka sama dan selalu beraktivitas dalam kelompok.
Berdasarkan pendapat diatas masyarakat diartikan sebagai kumpulan orang yang hidup bersama secara terorganisir dalam suatu wilayah dalam jangka waktu yang lama mempunyai kebudayaan yang relatif sama.
Kehidupan kolektif dalam suatu masyarakat memiliki ciri khas sebagai berikut: (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub-kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; (2) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif karena adanya pembagain kerja tadi; (3) kerjasama antar idivividu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi ; (4) komunikasi antar individu yang diperlukan antar warga kolektif dan para individu dari luar.
2. Unsur-Unsur Masyarakat
Adanya berbagai wujud kesatuan kolektif manusia menyebabkan bahwa kita memerlukan istilah-istilah yang berbeda untuk tiap kesatuan itu. Selain istilah “ masyarakat “ yang lazim dipakai, ada istilah-stilah khusus untuk menyebutkan kesatuan-kesatuan khusus dalam masyarakat yaitu “ kategori sosial “, “ golongan sosial “, “ komunitas “, “ Kelompok, dan “ perkumpulan “.
Masyarakat seperti telah disebutkan di atas, istilah yang dalam bahasa Inggris disebut society berasal dari bahasa latin socius yang berarti kawan. Ini paling lazim dipakai dalam tuisan-tulisan ilmiah maupun dalam bahasa sehari-hari untuk menyebutkan kesatuan hidup manusia. “ Masyarakat “ sendiri berasal dari akar kata Arab syaraka, yang artinya “ ikut serta, berperan serta “.
Apa yang disebut masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi. Suatu kesatuan masyarakat dapat memiliki sarana darn prasarana yang memungkinkan para warganya untuk berinteraksi. Suatu negara moderen adalah contoh dari suatu kesatuan manusia yang memiliki berbagai jenis sarana dan prasarana seperti misalnya suatu jaringan komunikasi berupa jaringan jalan-jalan raya, kereta api, perhubungan udara, media elektronika, media cetak, dan lain-lain. Sehingga para warga negaranya dapat berinteraksi secara intensif. Warga suatu negara dengan wilayah yang kecil tentu memiliki potensi untuk berinteraksi secara lebih itensif daripada negara dari suatu negara yang sangat luas, terutama apabila negara tersebut terdiri dari banyak pulau yang terpencar seperti halnya negara kita.
Perlu kiranya diperhatikan bahwa tidak semua kesatuan manusia yang saling berinteraksi merupakan masyarakat, sebab suatu masyaraat harus memiliki suatu ikatan khusus. Orang-orang berkerumun mengelilingi seorang tukang jual jamu di pasar umumnya tidak disebut masyarakat, karena walaupun mereka ada kalanya berinteraksi secara terbatas, mereka tidak memiliki ikatan lain kecuali perhatian terhadap penjual jamu itu. Demikian pula orang orang yang menonton pertandingan sepak bola atau orang orang dalam jumlah besar yang dapat kita jumpai di mana-mana tidak dapat disebut masyarakat. Untuk kumpulan orang itu kita pakai istilah “ kerumunan “.
Ikatan yang menyebabkan suatu kesatuan manusia menjadi suatu masyarakat adalah pola tingkah laku yang menyangkut semua asek kehidupan dalam batas kesatuan tersebut, yang sifatnya khas, mantap, dan berkesinambungan, sehingga menjadi adat istiadat. Warga suatu asrama pelajar, para mahasiswa suatu akademi kedinansan atau suatu sekolah tidak daat disebut masyarakat karena walaupun kesatuan manusia yang terdiri dari murid guru, pegawai, serta para karyawan lainnya terikat serta diatur tingkah lakunya oleh berbagai norma dan aturan sekolah, sistem norma itu hanya meliputi beberapa sektor kehidupan yang terbatas, sementara sebagai kesatuan manusia asrama, atau sekolah hanya bersifat sementara (tidak berkesinambungan)
Selain ikatan adat istiadat khas yang meliputi sektor kehidupan serta kontinyuitas waktu, warga sutu masyarakat juga harus memiliki suatu ciri lain, yaitu rasa identitas bahwa mereka merupakan suatu kesatuan khusus yang berbeda dari kesatuan-kesatuan manusia lainnya. Ciri ini memang dimiliki oleh penghuni suatu asrama atau murid di suatau sekolah, tetapi tidak hanya sistem norma yang menyeluruh dan tidak hanya kontinyuitas menyebabkan bahwa mereka tidak disebut masyarakat. Sebaliknya suatu negara, kota, atau desa memiliki keempat ciri itu yaitu (1) interaksi antar warga; (2). Adat istiadat, norma,norma, hukum serta auran-aturan yang mengatur semua pola tingkah laku warga; (3.) Kontinuitas dalam waktu;.(4) rasa identitas yang kuat yang mengikat suatu warga. Itulah sebabnya suatu negara, kota, atau desa dapat kita sebut masyarakat misalnya masyarakat Indonesia, masyarakat Filipina, masyarakat Belanda, Msyarakat desa Trunyan dan sebagainya.
Memperhatikan keempat ciri di atas, maka masyarakat dapat diartikan sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Guru besar sosiologi Universitas Gajah Mada M.M. Djojodigoeno membedakan antara konsep masyarakat dalam arti luas dan masyarakat dalam arti sempit. Berdasarkan konsep Djojodigoeno itu masyarakat Indonesia adalah masyarakat dalam arti luas dan masyarakat desa atau kota tertentu, maupun masyarakat warga kelompok kekerabatan dadia, marga atau suku adalah masyarakat dalam arti sempit. Sementara itu Ferdinand Tonnies dalam J.Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2007) membagi masyarakat atas dua tipe yaitu: pertama, geminschaft (hubungan primer) bentuk kehidupan bersama yang anggotanya mempunyai hubungan batin murni yang sifatnya alamiah dan kekal. Dasar hubungannya adalah rasa cinta dan persatuan batin yang nyata dan organis. Ditemukan dalam kehidupan masyarakat desa, keluarga dan kerabat. Kedua, gessellschaft (hubungan sekunder), merupakan bentuk kehidupan bersama yang anggotanya mempunyai hubungan sifat pamrih dan dalam jangka waktu pendek, bersifat mekanis. Ditemukan dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik.
Suatu masyarakat tidak dapat difahami tanpa mengetahui sumber-sumber kekuasaan di dalamnya (Abdullah Idi dan Safarina, 2013: 63).Setiap masyarakat memiliki tokoh atau kelompok berkuasa dalam mengambil keputusan dan mlaksanakannya berdasarkan otoritas yang ada padanya. Kekuasaan digunakan untuk mengendalikan orang agar diperoleh ketertiban dan pengawasan atas tindakan orang. Tentu saja kekuasaan itu dapat digunakan baik untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Jika kekuasaan itu jatuh pada orang yang tidak bertanggung jawab tentu sangat merugikan masyarakat. Suatu kekuasaan itu dapat dipegang oleh pemerintah, bank, industri, pengsaha, universitas, keluarga kaya, golongan agama, ketua adat dan lain sebagainya.Dalam masyarakat minang (Bukit Tinggi dan Padang umumnya) kekuasaan dipegang oleh para ulama, meskipun dalam prakteknya pemerintah (umara) yang menjalankan roda pemerintahan. Masyarakat Batak dominan dikendalikan oleh para pemangku adat. Pemberian hukuman terhadap pelanggaran kebiasaan turun temurun oleh pemangku adat lebih disegani daripada aparat setempat.
3. Satuan-Satuan Sosial dalam Masyarakat
Komuniti dan Komunitas. Keduanya adalah wujud-wujud satuan-satuan sosial dalam masyarakat yang kongkrit yang memilikki ikatan berdasarkan suatu sistem adat-istiadat yang sifatnya kontinyu dan berdasarkan rasa identitas bersama yang dimiliki serta terikat oleh suatu lokasi yang nyata dan kesadaran wilayah yang kongkrit.
Kesatuan wilayah, kesatuan adat-istiadat, rasa identitas komunitas dan loyalitas terhadap komunitas sendiri merupakan ciri-ciri komunitas, dan pangkal dari perasaan patriotisme, nasionalisme dan lain-lain umumnya menyangkut negara. Memang suatu negara adalah wujud dari suatu komunitas yang paling besar. Selain Negara, kesatuan-kesatuan sosial, seperti kota, desa, RW, atau RT juga cocok dengan definisi kita mengenai komunitas yaitu suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah yang nyata dan berinteraksi secara kontinyu sesuai dengan suatu sistem adat-istiadat dan terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.
Di atas kesatuan hidup manusia di suatu negara, kota atau desa, juga kita sebut masyarakat. Dengan demikian apakah konsep masyarakat sama dengan konsep komunitas ? Keduanya memang tumpang tindih, tetapi masyarakat adalah istilah umum bagi suatu kesatuan hidup manusia karena itu sifatnya lebih luas, yang bersifat mantap dan terikat oleh satuan adat-istiadat serta rasa identitas bersama, sedangkan komunintas bersifat khusus, karena adanya ikatan lokasi dan kesadaran wilayah.
Beberapa ahli antropologi Indonesia membedakan antara komuniti dengan komunitas. Komuniti tumbuh mulai dari kehidupan berkelompok para nenek moyang pendirinya yang kemudian berkembang menjadi makin besar secara kontinyu selama beberaa generasi. Komunitas adalah kehidupan-kehidupan berkelompok yang dengan sengaja dibentuk karena berbagai alasan yang baik yang dipaksakan maupun yang tidak, dan kemudian berkembang menjadi mantap dan besar selama beberaa generasi.
Dengan demikian suatu Banjar yang merupakan desa yang tradisonal di Bali sejak beberapa generasi merupakan komuniti, dan desa trasmigrasi atau kompleks perumahan di kota yang dibangun oleh suatu perusahaan pengembang adalah komunitas.
Kategori Sosial. Masyarakat sebagai kolektif manusia yang sangat umum sifatnya, mengandung kesatuan-kesatuan sosial yang sifatnya lebih khusus, tetapi belum tentu memiliki syarat-syarat pengikat yang sama dengan masyarakat. Kesatuan sosial yang tidak memiliki syarat-syarat pengikat itu sehingga mirip dengan kerumunan adalah kategori sosial yang tidak memilikki sifat-sifat suatu masyarakat.
Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terjadi karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri obyektif yang dapat dikenakan pada para warga atau anggotanya. Ciri-ciri obyektif itu biasanya dikenakan oleh fihak luar dan yang sering tidak disadari oleh yang bersangkutan sendiri, untuk suatu maksud tertentu. Misalnya dalam hukum suatu negara ditentukan bahwa ada kategori warga yang berumur di atas 18 tahun dan kategori warga yag berumur dibawah 18 tahun untuk membedakan warga negara yang mempunyai hak pilih dalam pemiliham umum dan yang tidak. Ada pula kategori orang yang memiliki mobil dan kategori yang tidak memilikinya untuk menentukan siapa yang harus membayar sumbangan wajib dan siapa yang tidak. Demikian pula ada beragam penggolongan berdasarkan ciri-ciri obyektif untuk berbagai maksud yang berbeda, misalnya kategori pegawai negeri untuk menentukan banyaknya hadiah lebaran yang harus disediakan, atau kategori dibawah anak umur 17 tahun untuk larangan menonton film orang dewasa dan sebagainya.
Selain ciri obyektif yang dikenakan fihak luar biasanya tidak ada unsur lain yang mengikat suatu kategori sosial. Kategoi sosial anak dibawah umur 17 tahun misalnya biasanya tidak terikat oleh suatu orientasi sosial dan tidak memiliki potensi yang dapat mengembangkan suatu interaksi diantara mereka, tidak memiliki identitas karena penggolongan itu dilakukan fihak luar dengan batasan yag umumnya tidak mereka sadari sendiri, tidak terikat kesatuan adat maupun sistem nilai atau norma tidak mempunyai lokasi, tidak terorganisasi dan tidak memunyai pimpinan.
Golongan Sosial. Berbeda dengan kategori sosial dalam buku-buku pelajaran antropologi atau sosiologi dalam bahsa asing konsep golongan sosial jarang dipisahkan dari konsep kategori sosial dan bersama-sama disebut dengan istilah social category dan memang dianggap sebagai satu konsep. Namun kita sebaiknya memisahkan antara kedua konsep itu karena kategori sosial dan golongan sosial memiliki unsur-unsur perbedaan yang jelas.
Suatu golongan sosial juga merupakan kesatuan manusia yang memiliki ciri tertentu yang bahkan sering dikenakan oleh fihak luar kepada mereka. Walaupun kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respons terhadap penilaian fihak luar terhadap mereka, atau karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, norma, atau adat istiadat tertentu.
Dalam masyarakat Indonesia misalnya ada konsep golongan pemuda. Golongan sosial ini terdiri dari orang-orang yang oleh fihak luar disatukan karena mereka semua memiliki satu ciri yaitu usia mereka muda. Namun selain ciri obyektif itu golongan sosial ini digambarkan oleh umum sebagai golongan orang-orang yang penuh idealisme, belum terikat kewajiban-kewwajiban hidup yang membebani mereka, sehingga mereka masih sanggup mengabdi dan berkorban bagi masyarkat, masih penuh semangat dan vitalitas, memiliki kekuatan serta kreativitas untuk melakukan pembaharauan dan sebagainya. Gambaran umum atau stereotip yang baik tentang golongan pemuda dalam masyarakat Indonesia itu tejadi dan berkembang karena pernah ada peristiwa-peristiwa yang sangat menentukan dalam sejarah terjadi negara kita seperti kongres pemuda dalam tahun 1928 dan revolusi fisik yang terjadi antara tahun 1945 dan 1949 walaupun belum tentu semua orang yang memenuhi syarat untuk disebut pemuda memiliki ciri-ciri ideal tersebut. Karena terpengaruh oleh gambaran umum itu, dalam hati sanubari mereka timbul suatu perasaan identitas golongan sehingga banyak orang muda bergabung dengan orang-orang muda yang sebaya dan berusaha penuh semangat dan vitalitas untuk melakukan tindakan-tindakan yang mendemontrasikan kesanggupan mereka untuk berkorban bagi masyarakatnya terutama orag-orang miskin dan lemah, orang-orang yang tertindas dan didiskriminasikan dan lain-lain
Suatu golongan sosial yang terpandang dalam masyarakat belum tentu terandang dalam masyarakat lain. Golongan pemuda yang dalam masyarakat Indosnesia terpandang belum tentu terpandang dalam masyarakat-masyarakat di luar Indonesia, seperti misalnya di negara-negara Skandivia. Golongan petani yang dalam negara-negara yang berdasarkan pertanian dianggap terpandang, sama sekali tidak terpandang dalam masyarakat yang berdasarkan industri atau perdagangan, dimana golongan usahawan adalah yang dianggap terpandang. Golongan-golongan sosial yang terbentuk karena profesi yang sama biasanya terikat oleh persamaan ciri obyektif maupun oleh dua unsur pengikat lainnya yaitu sistem norma dan identitas sosial misalnya para dokter terikat oleh etika kedokteran, sehingga setiap dokter dalam suatu masyarakat memiliki kesadaran akan golongannya dan memiliki suatu identita sosial. Para guru terikat oleh norma-norma guru dan karena itu semua guru memiliki identitas golongannya; para pengemudi terikat oleh norma-norma pengemudi dan aturan lalu lintas sehingga mereka pun memiliki identitas golongan.
Kelompok dan Perkumpulan. Abdullah Idi (2013: 117) mengemukakan definisi kelompok menurut beberapa pakar antara lain seperti yang diungkapkan joseph S.Roucek, kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat difahami para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan. Mayor Polak mengatakan bahwa kelompok sosial adalah suatu group yaitu sejumlah orang yang ada hubungan antara satu dengan yang lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur. Wila Huki menuturkan bahwa kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinterakasi atau saling berkomuniasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kelompok (group) menurut perspektif sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling berinterakasi dan terjadi hubungan timbal balik dimana mereka merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. Kelompok sosial dapat dikelasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat tergantung pada sudut pandang ahli yang bersangkutan
Durkheim dalam (Kamanto Sunarto,2004: 137) membedakan antara kelompok yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organik. Solidaritas mekanik merupakan ciri yang menandai masyarakat yang masih sederhana, sedangkan solidaritas organis merupakan bentuk solidaritas yang sangat kompleks yang telah kenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh kesaling tergantungan antara bagian. Cooley memperkenalkan konsep kelompok primer sebagai lawannya sejumlah ahli sosiologi menciptkan kelompok sekunder. Suatu kelasifikasi lain yaitu pembedaan antara kelompok dalam dan kelompok luar, didasarkan pemikiran sumer. Summer mengemukakan bahwa di kalangan antara anggota kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan dan kedamaian. Sedangkan interaksi antara kelompok dalam dan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang dan perampokan.
Satuan kelompok juga memenuhi syarat sebagai suatu masyarakat karena memiliki sistem interaksi antar anggotanya, adat istiadat, dan sistem norma yang mengatur interaksi, adanya kesinambungan, dan adanya rasa identitas yang mempesatukan semua anggota. Namun disamping keempat ciri itu kelompok juga mempunyai ciri tambahan yaitu organisasi dan sistem kepemimpinan. Suatu kelompok juga selalu tampil sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari individu-individu yang berkumpul pada waktu tertentu saja.
Kedua ciri khas itu sebenarnya juga dimiliki oleh kesatuan manusia terbesar yaitu negara. Walaupun demikin kita tidak mengatakan kelompok Indonesia apabila yang kita maksudkan adalah negara Republik Indonesia, karena kelompok selalu kecil daripada negara. Kota dan desa yang memiliki organisasi dan sistem kepemimpinan juga tidak dapat disebut kelompok. Apabila kita mendengar tentang kelompok cibodas misalnya maka istilah kelompok itu hanya menandakan lokasi saja, sehingga ada persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram, karena lokasinya di yoyakarta. Sebaliknya ada kelompok-kelompok yang tidak mempunyai lokasi tertentu misalnya suatu kelompok kekerabatan, sehingga warga Tarigan tidak hanya terdapat di Kaban jahe di tanah karo saja, tetapi juga di berbagai kota dan daerah lain di Indonesia. Dengan demikian unsur lokasi sebagai syarat terjadinya komuniti atau komunitas bukan unsur mutlak.

B. Kebudayaan
1. Arti Kebudayaan
Secara etimologis kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Kata asing culture yang berasal dari kata latin colere yaitu “ mengolah”, “ mengerjakan” dan terutama berhubungan dengan pengolahan tanah atau bertani, memiliki makna yang sama dengan kebudayaan yang kemudian berkembang menjadi “ segala daya upaya serta tidakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam”. Secara definitif, menurut antropologi kebudayaan diartikan sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Berkaitan dengan kebudayaan kita mengenal pula istilah “peradaban “ yang dalam bahasa Inggris disebut civilization dan dipakai untuk menyebut bagian-bagaian serta unsur-unsur dari kebudayaan yang sifatnya halus, maju, dan indah seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun serta pergaulan, kepandaian menulis, organisasi bernegara dan lain-lain. Istilah peradaban sering juga dipakai untuk menyebutkan suatu kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan serta masyarakat kota yang maju dan kompleks.

2. Empat Wujud Kebudayaan
Para pakar sosiolog maupun antropolog membedakan wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari gagasan-gagasan serta konsep-konsep dan wujudnya sebagai rangkaian tindakan serta aktivitas manusia yang berpola. J.J. Honingmann membuat perbedaan atas tiga gejala kebudayan yaitu idea, activities dan artifacts atau benda-benda fisik.
Koentjaraningrat membedakan kebudayaan dalam empat wujud kebudayaan yaitu: artifacts atau benda-benda fisik, sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola, sistem gagasan dan sistem gagasan yang ideologis. Benda-benda fisik seperti bangunan-bangunan megah atara lain: Candi Brobudur, benda-benda bergerak seperti kapal tangki, komputer, piring, gelas kancing baju dan lain-lain. Sistem tingkah laku dan tindakan yang berpola misalnya menari, berbicara, tingkah laku dalam melakukan suatu pekerjaan dan lain-lain. Kebudayaan dalam wujud ini masih bersifat kongrit, dapat difoto dan dapat difilm. Semua gerak-gerik yang dilakukan dari saat ke saat dan dari hari ke hari, dari masa ke masa, merupakan pola-pola tingkah laku yang dilakukan berdasarkan sistem. Karena itu pola-pola tingkah laku manusia disebut sistem sosial. Wujud gagasan dari kebudayaan dan tempatnya adalah dalam kepala tiap-tiap individu warga kebudayaan yang bersangkutan yang dibawanya ke manapun ia pergi. Kebudayaan dalam wujud ini bersifat abstrak tak data difoto dan difilm dan hanya dapaa diketahui dan difahami oleh warga kebudayaan lain setelah ia mempelajari dengan mendalam baik melalui wawancara yang intensif atau dengan membaca. Kebudayaan dalam wujud gagasan juga berpola dan berdasarkan sistem-sistem tertentu yang disebut “sistem budaya “. Sistem gagasan yang ideologis adalah gagasan-gagasan yang telah dipelajari oleh para warga suatu kebudayaan sejak usia dini dan karena itu sangat sukar diubah. Istilah untuk menyebut unsur-unsur kebudayaan yang merupakan inti dari semua unsur yang lain itu adalah “ nilai-nilai budaya “.yang menentukan sifat, dan corak pikiran, serta tingkah laku manusia suatu kebudayaan. Gagasan inilah yang akhirnya menghasilkan berbagai benda yang diciptakan manusia berdasarkan nilai-nilai, pikiran dan tingkah lakunya.

3. Unsur- Unsur Kebudayaan
Dalam menganalisa suatu kebudayaan, seorang ahli antropologi membagi seluruh kebudayaan yang terintergrasi itu ke dalam unsur-unsur besar yang disebut “ unsur-unsur kebudayaan universal.“ Unsur-unsur kebudayaan universal yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuah buah yang disebut sebagai inti pokok dari setiap kebudayaan yaitu: (1) bahasa; (2) Sistem pengetahuan; (3) Organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) Sistem pencaharian hidup; (6) Sistem relegi; (7) kesenian.
Tiap unsur kebudayaan universal terdapat dalan tiga wujud kebudayaan terurai berupa sistem budaya, sistem sosial dan unsur-unsur kebudaaan fisiknya. Sistem ekonomi misalnya data berupa konsep, rencana, kebijakan, adat sitiadat yang ada hubunganya dengan ekonomi, tetapi juga berupa tindakan-tindakan dan interaksi berpola antara produsen, tengkulak, pedagang, ahli transpor, dan pengecer dengan para konsumen, atau berbagai unsurnya seperti peralatan, komoditi dan benda-benda ekonomi. Serupa dengan hal-hal tersebut di atas sistem relegi dapat mempunyai wujud sebagai sistem keyakinan, dan gagasan-gagasan tentang tuhan, dewa-dewa, ruh-ruh halus, neraka, surga dan lain-lain, tetapi juga sebagai berbagai bentuk upacara baik yang musiman maupun yang kadang kala, maupun berupa benda- benda suci relegius. Kesenian pun dapat berwujud berbagai gagasan, ciptaan, pikiran, dongeng atau syair yang indah, tetapi juga dapat berwujud sebagai berbagai tindakan interaksi berpola antara sesama seniman pencipta, penyelenggara, sponsor kesenian, pendengar, penonton, mauun para peminat hasil kesenian, disamping wujudnya berupa benda-benda indah candi, kain tenun yang indah dan lain-lain.

4. Pendekatan Kebudayaan
Untuk mempelajari suatu kebudayaan seorang ahli antropologi biasanya memulai dengan pendekatan holistik yaitu mengamati kebudayaan yang bersangkutan secara keseluruhan. Baru kemudian ditentukan bagian-bagian dari kebudayaan itu, yaitu misalnya sistem kekerabatan, bagian-bagian khusus dari sistem kekerabatan misalnya perkawinan, keluarga inti, rumah tangga dan lain-lain, dan akhirnya rincian dari unsur perkawinan ke dalam bagian-bagian yang lebih khusus, yaitu adat melamar, uacara pernikahan, penyerahan mas kawin dan lain-lain.
Berlawanan dengan pendekatan di atas yang biasanya digunakan oleh para ahli sosiologi adalah untuk menentukan pranata yang ada dalam suatu masyarakat, dalam hal ini masyarakat tidak dipandang sebagai suatu keseluruhan yang kemudian dipilah-pilah ke dalam pranata-pranata, tetapi dimulai dari suatu pranata yang telah ditentukan untuk diteliti, misalnya seni pertunjukan srimulat dengan cara menganalisis organisasinya, latar belakang sosial serta pendidikan pemainnya, gagasan-gagasan yang melatar belakangi inti cerita dan seterusnya.
Dengan berpegang kepada keempat wujud kebudayaan seperti yang telah diuraikan di atas dan dengan menggunakan metode seperti yang disarakan oleh Koentjaraningrat yang mengadopsi metode yang digunakan R. Linton, maka suatu kebudayaan dapat dipelajari dengan mengunakan kerangka pembagian ke dalam empat tahap yaitu: pada tahap pertama setiap sistem budaya dapat dibagi ke dalam “ adat istiadat “, setiap sistem sosial dapat dibagi ke dalam “ aktivitas sosial “ dan setiap himpunan unsur kebudayaan fisk dapat dibagi ke dalam “ benda-benda kebudayaan “ yang masing-masing disebut dengan nama benda-benda tersebut.
Pada tahap ke dua, setiap adat sebaiknya dibagi ke dalam “ kompleks budaya “ dan begitu pula setiap aktivitas sosial lebih lanjut dibagai ke dalam “ kompleks sosial” sedangkan benda-benda kebudayaan tentu tidak berubah.
Pada tahap ketiga, disarankan agar tiap-tiap kompleks budaya dibagi-bagi menjadi “ tema-tema budaya “, tiap-tiap kompleks sosial lebih lanjut diuraikan menjadi berbagai jenis “pola sosial “ dan seperti pada tahap kedua benda kebudayaan tidak mengalami perubahan seperti juga ada tahap berikutnya.
Pada tahap ke empat, setiap tema budaya dapat dirinci lagi ke dalam “ gagasan “ dan setiap pola sosial ke dalam “ tindakan ”.
Sebagai contohnya misalnya dibawah ini digambarkan rincian dari “ sistem mata pencaharian “ ke dalam unsur unsur dan sub-sub unsurnya. Unsur kebudayaan ini dapat dirinci ke dalam sub-sub unsur sebagai berikut: perburuan, perladangan, perkebunan, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, kerajinan, industri pertambangan, industri jasa, industri manufaktur dan lain-lain. Wujud dari tiap bagian tersebut adalah adatnya, sementara wujud sistem sosialnya adalah aktivitas sosialnya, dan wujud fisiknya adalah berbagai benda kebudayaan berupa peralatan yang digunakan. Organisasi sosial pun dapat dirinci sampai ada sub-sub unsurnya yaitu sistem kekerabatan, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem pimpinan, sistem politik dan lain-lain.
Irigasi, pengelolaan dan penggarapan tanah, teknologi menanam, penibunan hasil pertanian, pemerosesan serta pengawaetan hasil pertanian dan lain-lain merupakan contoh dari rincian “ adat “ dan “ aktivitas sosial” ke dalam beberapa kompleks budaya dan kompleks sosial. Demikian juga perkawinan, tolong menolong antar kerabat, sistem istilah kekerabatan dan lain-lain merupakan rincian dari sistem kekerabatan. Setiap unsur tersebut tentu memiliki peralatan peralatannya masing-masing yang secara kongkrit terdiri dari benda-benda kebudayaan.
Kompleks budaya dan kompleks sosial, dapat dirinci lagi ke dalam tema budaya dan pola sosial, sehingga “ perkawinan “ dapat dirinci ke dalam “ melamar, “ uacara perkawinan”, “ mas Kawin, “ harta bawaan mempelai wanita,“ “ adat menetap sesudah menikah, “. “ poligami, “ polyandry, “ perceraian “ dan lain-lain.
Tahap rincian terakhir adalah rincian dari tema budaya dan pola sosial ke dalam “ gagasan “ dan “ tindakan “ sehingga “ mas kawin” dapat dirinci lebih jauh menjadi unsur-unsur seperti misalnya bagian dari harta mas kawin berupa tanah, ternak, benda-benda adat, benda-benda pelambang, perhiasan, uang, dan lain-lain, uacara penyerahan mas kawin, uacara pertukaran harta antara pria dan wanita dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat (1996) Pengantar Antropologi I. Jakarta: T Rineka Cipta
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip (2013) Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Kencana Prenadameda Group

J.Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2007) Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada

Abdullah Idi dan Safarina (2013) Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Kamanto Sunarto (2004) Pengantar Sosiologi, Edsi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Dipublikasi di Publikasi | Tinggalkan komentar

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER PKLH

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER
Mata Kuliah : PKLH
SKS : 2 SKS
Prog./Smt : PKn/III/A/B/C/Pagi/Sore
Dosen : Drs.Zuldafrial M.Si
============================================================
Soal-Soal :
1. Apa itu demografi, jelaskan ?
2. Apa saja yang dipelajari dalam demografi. Sebutkan dan jelaskan ?
3. Apa perbedaan demografi dengan studi kependudukan ?
4. Sebutkan 3 sumber data demografi dan jelaskan apa fungsi data tersebut?
5. Sebutkan dan jelaskan 5 teori kependudukan ?
6. Apa itu transisi demografi, sebutkan dan jelaskan tahap-tahap transisidemografi?
7. Sebutkan 3 tahap perkembangan peradaban manusia dan jelaskan hubungannya dengan perkembangan penduduk dunia?
8. Sebutkan dan jelaskan 3 tipe struktur penduduk dan mana yang baik menurut saudara, beri alasannya?
9. Menurut Mosley dan Chen, kelangsungan hidup individu sangat ditentukan oleh faktor sosial ekonomi melalui 5 variabel antara. Sebutkan dan jelaskan ?
10. Menurut DR. David dan Blake, tingkat fertilitas penduduk dipengaruhi oleh faktor sosial budaya melalui 11 variabel antara yang dikelasifikasikan dalam 3 faktor, sebutkan dan jelaskan ?
11. Jelaskan pengertian mobilitas penduduk ?
12. Sebutkan dan jelaskan dua bentuk mobilitas?
13. Jelaskan pengertian migran dan bukan migran?
14. Menurut Everet Lee, mobilitas penduduk dipengaruhi oleh 4 faktor, Sebutkan danjelaskan ?
15. Jelaskan pengertian angkatan kerja?
16. Jelaskan pengertian penduduk usia kerja?
17. Sebutkan dan jelaskan tiga sektor lapangan kerja?
18. Sebutkan dan jelaskan macam-macam lapangan kerja?
19. Jelaskan pengertian kesehatan reproduksi?
20. Sebutkan 7 kelompok wanita usia reproduksi?
21. Sebutkan dan jelaskan 6 faktor yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi?
22. Jelaskan pengertian kebijakan kependudukan ?
23. Sebutkan dan jelaskan dua jenis kebijakan penduduk yang berkaiatan dengan pertumbuhan penduduk?
24. Kebijakan kependudukan di Indonesia dikenal dengan anti natalis, apa maksudnya dan jelaskan mengapa Indonesia menganut kebijakan ini ?
25. Beri contoh kebijakan penduduk yang berkaitan dengan fertilitas, mortalitas dan mobilitas ?
Catatan : – Hanya dijawab 5 dari 20 soal yang ditawarkan
– Pilih soal yang paling mudah
– Mahasiswa nomor absen ganjil menjawab soal nomor ganjil
– Mahaiswa nomor absen genap menjawab soal nomor genap
– Mahasiswa yang menjawab tidak sesuai dengan ketentuan
di atas jawaban tidak dinilai.
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERAN GURU SEBAGAI AGEN PEMBELAJARAN

Peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk untuk meningkatkan mutu pendidikan. Peran guru sebagai agen pembelajaran dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatkan kualitas pembelajaran antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik (Pasal 4 UU No 14/2005)

A. Mutu Pendidikan dan Kualitas Pembelajaran
1. Arti Mutu Pendidikan
Mutu adalah suatu terminology subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karekteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kepuasan. Pelanggan bisa mereka yang lansung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk atau hasil dan jasa tersebut.
Mutu adalah sifat dari benda atau jasa. Setiap orang selalu mengharapkan bahkan menuntut mutu dari orang lain. Sebaliknya orang lain juga selalu mengharapkan dan menuntut mutu dari kita. Ini artinya mutu bukanlah sesuatu yang baru, karena mutu adalah naluri manusia. Benda dan jasa sebagai produk dituntut mutunya, sehingga orang lain yang menggunakan puas karenanya. Dengan demikian mutu adalah paduan dari sifat-sifat dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelangganan, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
Benda atau jasa sebagai hasil kegiatan manusia yang secara sadar dilakukannya disebut mutu kinerja. Kinerja itulah dituntut mutunya, sehingga muncul istilah “ mutu kinerja manusia”. Suatu kinerja disebut bermutu jika dapat memenuhi atau melampaui kebutuhan dan harapan pelanggannya.
Dalam pembicaraan tentang mutu terdapat unsur-unsur yang terkait seperti: produk dan jasa, penghasil produk/jasa, pelanggan, kebutuhan dan harapan, produk/jasa yang bermutu dan kepuasan.Produk dan jasa adalah hasil yang diproduksi karena ada yang memerlukan. Orang atau institusi yang membuat produk atau jasa disebut penghasil produk/jasa. Sedangkan orang yang memerlukan produk/jasa itu disebut pelanggan. Adapun kebutuhan dan harapan adalah cerminan dari apa yang diharapkan atau dibutuhkan oleh pelanggan dari fihak penghasil produk/jasa. Adapun produk/jasa yang disebut bermutu bila dapat memenuhi atau bahkan melebihi dari sekedar kebutuhan dan harapan pelanggan/penggunannya, yang ditendai dengan kepuasan.
Ciri-ciri mutu sebagai bentuk pelayanan pelanggan, ditandai dengan: 1) ketepatan waktu pelayanan, 2) akuarasi pelayanan, 3) kesopanan dan keramahan (unsur menyenangkan pelanggan), 4) bertanggung jawab atas segala keluhan (Complain), 5) kelengkapan pelayanan, 6) kemudahan mendapatkan pelayanan, 7) variasi layanan, 8) pelayanan pribadi, 9) kenyamanan, 10) ketersediaan atribut pendukung.
Setiap produk/jasa yang bermutu memberikan pelayanan tepat waktu seperti yang disepakati dengan pelanggan. Kemoloran atau tertundanya waktu dari yang telah disepakati menjadi cacat mutu karena cedera janji.
Akurasi pelayanan atau ketepatan produk/jasa seperti yang diminta atau dipesan oleh pelanggan juga merupakan salah satu dari ciri mutu pelayanan. Kesalahan atau kemelencengan dari apa yang dipesan menyebabkan produk itu tidak bermanfaat bahkan mendatangkan kerugian bagi pelanggan. Untuk itu menjadi penting melakukan proses pendefinisian kebutuhan pelanggan sebelum proses produksi/ layanan dilakukan.
Setiap pelayanan bermutu harus menyenangkan pelanggan, sehingga kesopanan, dan keramah tamahan dalam berkomunikasi dengan pelanggan menjadi unsur penting untuk menjaga mutu. Ungkapan sehari hari dalam dunia bisnis “ pembeli adalah raja” maksudnya adalah berusaha menyenangkan pembeli agar kembali lagi untuk membeli di kesempatan lain.
Setiap penghasil produk/jasa harus berani bertanggung-jawab atas segala yang telah diperbuatnya. Ia harus bertanggung-jawab atas risiko yang diakibatkan oleh pekerjaan itu. Semua yang menjadi keluhan pelanggan harus dipertanggung-jawabkan, jika produk tidak sesuai dengan yang dipesan/dibutuhkan sesuai janji kesepakatan bersama sebelumnya, maka ia harus bertanggung jawab untuk menggantinya.
Sebagai penghasil produk/jasa harus selengkap mungkin menyediakan sarana dan kemampuan yang diperlukan oleh pelanggan. Ini artinya bahwa penghasil produk/jasa harus profesional dan kompeten dengan bidangnya. Selain itu sebagai penghasil produk/jasa haruslah memberikan kemudahan kepada pelanggan untuk mendapatkan produk/jasa tersebut, baik yang berhubungan dengan waktu, tempat, atau kemudahan menjangkaunya.
Bentuk pelayanan hendaknya juga bervariasi, sehingga banyak pilihan bagi pelanggan. Inovasi haruslah digalakan sehingga banyak temuan untuk menunjang variasi layanan tersebut.
Sedapat mungkin pelayanan yang bersifat pribadi lebih ditonjolkan, sehingga tidak terkesan kaku, fleksibel dan terkesan ada penanganan khusus bagi pelanggan. Kenyamanan pelayanan harus pula diciptakan, misalnya berhubungan dengan lokasi/ruang, fasilitas pelayanan yang memadai seperti petunjuk-petunjuk yang mudah dikenali oleh pelanggan, dan ketersediaan informasi yang dibutuhkan oleh pelanggan.
Peranan atribut pendukung seperti lingkungan yang nyaman, kebersihan yang standar, ruang ber AC, ruang tunggu dan lain-lain yang bersifat penunjang sangat diperlukan bagi suksesnya pelayanan bermutu. Oleh karena itu perlu diperhatikan. Konsep mutu sebenarnya selain bersifat obsulut juga brsifat relatif dari pelanggannya. Mutu yang bersifat produk menunjuk pada suatu produk/jasa yang standar tertentu, dipatok dengan ukuran tertentu oleh suatu lembaga yang memiliki otonomi untuk itu. Mutu suatu produk/jasa yang bersifat relatif tergantung pada konsumennya/pelanggannya bagaimana mereka menetapkan standar kebutuhan dan harapannya.
Mengapa produk/jasa harus bermutu? Dalam persaingan bebas kita seharusnya berorientasi pada kebutuhan dan harapan konsumen atau pelanggan(customer). Jika produk/layanan hasil kinerja kita tidak bermutu,maka customers akan meninggalkan kita, karena ada alternatif lain yang bisa dipilih oleh mereka. Jika penghasil/produk jasa ingin tetap berlangsung usahanya (dipakai oleh customer), maka ia harus menjaga mutu bahkan meningkatkan mutu produk/jasa layanannya seiring dengan tuntutan kebutuhan dan harapa customer.
Adapun sifat-sifat pokok mutu jasa adalah mengandung unsur-unsur: (1) Kepercayaan (reliability), (2) ketejaminan (assurance), (3) penampilan (tangibility), (4) perhatian ( emphaty), dan (5) ketanggapan (responsiveness).
Keprcayaan dapat dihasilkan dari sikap dan tindakan seperti: jujur, tepat waktu pelayanan, terjaminnya rasa aman dengan produk/jasa yang dipergunakan/diperoleh, dan ketersediaan produk/jasa saat dibutuhkan pelanggan.
Keterjaminan mutu jasa dapat ditimbulkan oleh kondisi misalnya penghasil produk/jasa memang kompeten dalam bidangnya, obyektif dalam pelayanannya, tampil dengan percaya diri dan meyakini pelanggannya.
Penampilan adalah sosok dari produk/jasa dan hasil karyanya. Misalnya bersih, sehat, teratur dan rapi, enak dipandang, serasi, berpakaian rapi dan harmonis, dan buatannya baik. Empati adalah berusaha merasakan apa yang dialami pelanggan (“seandainya saya dia”). Cara berempati dapat dinyatakan dengan penuh perhatian terhadap pelanggan, melayani dengan ramah dan memuaskan, memahami keinginan pelanggan, berkomunikasi dengan baik dan benar, dan bersikap penuh simpati.
Adapun ketanggapan adalah ungkapan cepat tanggap dan perhatian terhadap keluhan pelanggan. Ungkapan tersebut dapat dinyatakan dengan cepat memberi respon pada permintaan pelanggan dan cepat memperhatikan dan mengatasi keluhan pelanggan.
Mutu pendidikan pada dasarnya adalah produk/jasa yang dihasilkan dari kinerja tenaga kependidikan yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yang utamanya yaitu kepada mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut.
Para pelanggan layanan pendidikan dapat terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat kelompok. Mereka adalah pertama yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer (primary eksternal customers). Mereka inilah yang lansung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customer). Pelanggan lainnya yang ketiga, bersifat tersier adalah lapangan kerja, bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna out pendidikan (tertiary external customers). Selain itu yang ke empat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari intern lembaga, mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga admininistrasi. Serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan mamajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan mereka akan diuntungkan, baik kebanggaan maupun financial.
2. Kualitas Pembelajaran
Belajar secara sederhana dapat diartikan sebagai “ usaha untuk mendapatkan atau menambah pengetahuan”. Konsep atau definisi ini dalam praktek banyak dianut di sekolah-sekolah konvensional. Para guru berusaha memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan siswa giat untuk mengumpulkan atau menerimanya. Dalam kasus demikian guru berperan sebagai pengajar. Interaksi belajar-mengajar berpusat pada guru. Sedangkan siswa berusaha untuk memiliki atau menguasai pengetahuan yang disampaikan guru dengan cara memahami dan mengingatnya. Kedudukan siswa dapat diumpamakan sebagai tong kosong yang harus diisi oleh guru dengan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya.
Secara pesikologis belajar diartikan perubahan tingkah laku. Perubahan itu akibat pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik berbentuk kecerdasan dalam bertindak, keterampilan dalam melakukan sesuatu, sikap dalam menyesuaiakan diri sebagai hasil dari pengalaman belajar. Perubahan itu selalu bersifat positif dan selalu menununjukan kemajuan.
Sedangkan dewasa ini, belajar diartikan sebagai usaha untuk membentuk kompetensi siswa melalui pengalaman belajar yang dirancang guru dengan pokok bahasan sebagai materinya. Kompetensi yang dituntut adalah kompetensi kognitif, kemampuan berpikir, sedangkan kompetensi lainnya kurang diperhatikan seperti kemauan, perasaan, sikap, keterampilan hidup dan bakat peserta didik. Siswa tidak lagi dianggap sebagai tong kosong yang harus diisi oleh guru, tetapi harus mencari dan mengumpulkan sendiri pengetahuan yang dipelajari berdasarkan skenario yang sudah dirancang oleh guru. Fungsi guru tidak lagi sebaga pengajar, tetapi sebagai agen pembelajaran yaitu mendorong, memacu, memfasilitasi, memberi inspirasi dan merekayasa pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh peserta didik.
Kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kinerja guru sebagai agen pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar kepada siswa secara otonom dan bertanggung jawab. Hasil belajar sangat ditentukan oleh perbuatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya secara mandiri dan bertanggung jawab berdasarkan racangan belajar yang disusun oleh guru. Pembelajaran tidak bergantung kepada guru, tetapi lebih ditentukan oleh motivasi, kemauan, kesadaran, kerajinan dan keuletan peserta didik didalam menggali dan mengembangkan potensi dirinya melalui perbuatan belajar dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia.

B. Peran Guru Sebagai Agen Pembelajaran
1. Fasilatator
Tugas guru tidak hanya memyampaikan informasi kepada siswa, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik,agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Untuk kepentingan tersebut perlu dikondisikan lingkungan belajar yang kondusif dan menantang rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung secara efektif.
Menciptakan pembelajaran yang kondusif, inspiratif, menantang dan menyenangkan, tentu saja bukanlah hal yang mudah, karena menuntut strategi dan keterampilan guru.dalam menata dan melaksanakan pembelajaran di dalam kelas ataupun di luar kelas. Adapun faktor-faktor lingkungan belajar yang perlu dikondisikan guru agar terciptakan pembelajaran yang efektif antara lain:
a.Penataan Lingkungan Fisik Kelas
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran (winzer, dalam siti Julaeha: 1995). Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak dhiarapkan melalui penataan tempat duduk,perabot,pajangan, dan barang -barang lainnya yang ada didalam kelas. Selain itu, penataan kelas ini harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas ini diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannnya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif. Menurut Louisell (dalam Siti Julaeha:1992), ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut:
1).Keluasan pandangan (visibility)
Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas adalah keleluasaan pandangan (visibility). Artinya, penempatan atau penataan barang -barang dikelas tidak menganggu pandangan siswa dan guru, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung. Siswa dapat melihat kegiatan pembelajaran dari tempat duduk mereka. Misalnya, siswa tidak duduk terlalu jauh dari papan tulis, tidak terganggu oleh sinar matahari yang menyilaukan mata siswa, tidak terhalang pandangannya pada saat guru menggunakan alat bantu. Tempat duduk siswa yang akan menghadap pada pintu masuk jendela akan mengganggu konsentrasi belajar siswa apabila ada sesuatu melintas dihadapan mereka. Disamping itu guru juga harus memandang siswa setiap saat menyajikan materi.
2).Mudah dicapai (accessibility)
Kesulitan siswa dalam menjangkau barang-barang yang diperlukan dalam pembelajaran, tentu akan sering membutuhkan guru dan itu hal yang merepotkan. Supaya hal tersebut tidak terjadi maka letakkan barang -barang yang dibutuhkan oleh siswa pada tempat yang mudah dijangkau. Ruangan hendaknya diatur dengan baik, sehingga lalu lintas kegiatan belajar tidak terganggu. Jarak tempat duduk harus cukup untuk dilalui siswa sehingga siswa dapat dengan mudah bergerak dan tidak mengganggu siswa lainnya yang sedang bekerja.
3).Keluwesan (flexibility)
Barang -barang yang ada dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan Guru. Pembelajaran melalui diskusi kelompok menuntut tatanan ruangan kelas yang berbeda dengan pembelajaran melalui demonstrasi.
4).Kenyamanan
Kenyamanan ruangan kelas akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktivitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan adalah suhu di dalam ruangan apakah lembab atau panas, pencahayaan apakah terlalu gelap atau sangat terang (silau), kegaduhan diluar ruangan kelas. Hal hal tersebut diatas harus diminimalisir sedemikian rupa sehingga situasi didalam kelas terasa nyaman untuk melakukan kegiatan pembelajaran.
5).Keindahan
Prinsip keindahan berkenaan dengan usaha guru menata ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran. Selain itu ruangan kelas yang menyenangkan dapat meningkatkan pengembangan nilai keindahan pada diri siswa karena siswa melihat langsung model/contoh yang dilakukan guru dalam menata kelas.

b.Penataan Lingkungan Psiko-sosial kelas.
Iklim psiko-sosial kelas berkenaan dengan hubungan sosial pribadi antara guru dan siswa serta antar siswa. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa serta antar siswa akan dapat menciptakan iklim psiko-sosial kelas yang sehat, dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Terciptanya iklim psiko-sosial kelas yang kondusif, sangat ditentuan oleh karekteristik guru dan dan hubungan sosial antara peserta didik.
1).Karakteristik guru
Berikut ini beberapa karakteristik yang harus dimiliki guru demi terciptanya iklim psiko-sosial kelas yang efektif bagi kelangsungan proses pembelajaran.
a). Disukai oleh siswanya
Sehubungan dengan itu di bawah ini akan dikemukakan sepuluh sifat guru yang disukai dan tidak disukai oleh siswa sebagai hasil dari suatu penyelidikan terhadap siswa-siswa Sekolah Menengah Atas sebagai berikut :
Guru yang paling disukai siswa adalah :
1) Suka membantu dalam pekerjaan sekolah, menerangkan pelajaran dan tugas dengan jelas serta mendalam dan menggunakan contoh contoh sewaktu mengajar
2) Riang, gembira, mempunyai perasaan humor, dan suka menerima lelucon atas dirinya.
3) Bersikap sahabat, merasa seorang anggota dalam kelompok kelas
4) Ada perhatian pada siswa dan memahami siswa.
5) Berusaha agar pekerjaan sekolah menarik, membangkitkan keinginan bekerja
6) Tegas, sanggup menguasai kelas, membangkitkan rasa hormat pada siswa.
7) Tak pilih kasih, tidak mempunyai anak kesayangan
8) Tidak suka mengomel, mencela, mengejek, menyindir.
9) Betul-betul mengajarkan sesuatu kepada siswa yang berharga bagi mereka
10) Mempunyai pribadi yang menyenangkan
Guru yang paling tidak disukai siswa-siswa karena :
1) Terlampau sering marah, tak pernah senyum, sering mencela, mengancam
2) Tak suka membantu siswa melakukan pekerjaan sekolah, tak jelas menerangkan pelajaran dan tugas, tidak membuat persiapan.
3) Pilih kasih, menekan siswa-siswa tertentu
4) Tinggi hati, sombong tak mengenal siswa
5) Tak keruan, kejam, tak toleran, kasar, terlapau keras, menyuramkan kehidupan siswa
6) Tak adil memberikan angka dalam ulangan dan ujian
7) Tak menjaga perasaan siswa, membentak bentak siswa dihadapan temannya sekelas, siswa-siswa takut, merasa tak aman
8) Tidak menaruh perhatian kepada siswa dan  tidak memahami siswa
9) memberi tugas dan pekerjaan rumah yang tak sepantasnya
10) Tak sanggup menjaga disiplin di dalam kelas, tidak dapat mengontrol kelas dan tidak menimbulkan rasa hormat untuk dirinya.
Sifat-sifat guru seperti berpakaian indah dan menarik, mempunyai suara merdu, atau wajah yang cantik kurang dihiraukan siswa-siswa.

b).Memiliki persepsi yang realist tentang dirinya dan siswanya.
Guru yang memiliki pandangan tidak realistik terhadap kemampuan siswanya dan dirinya dapat menghambat efektifitas kegiatan pembelajaran. Guru yang memandang terlalu rendah kemampuan siswanya akan mengembangkan kegiatan pembelajaran yang membosankan. Sementara itu, guru yang memandang kemampuan siswanya terlalu tinggi akan mengembangkan kegiatan pembelajaran yang melampaui kemampuan siswa. Siswa akan mengalami frustasi selama mengikuti pembelajaran. Apabila guru memiliki pandangan yang realistik terhadap kemampuan siswa guru akan mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang siswa untuk belajar. Siswa akan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh semangat.
c). Akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa
Untuk mengembangkan hubungan yang baik antara guru-siswa, guru perlu menyediakan waktu untuk mengenal siswa lebih banyak. Melalui bincang-bincang dengan siswa, guru akan mengetahui banyak informasi tentang keluarga siswa, kegiatan siswa di luar sekolah, hobi mereka, dan lain sebagainya. Namun, perlu diingat bahwa hubungan yang terlalu dekat antara guru denga siswa perlu dihindari agar siswa tetap menghormati dan menghargai guru sebagai orang tua.
d).Bersikap positif terhadap pertanyaan/respon siswa
Sikap positif guru terhadap pertanyaan siswa akan muncul apabila guru memang menguasai materi yang sedang dibahas. Oleh karena itu , anda harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.
e).Sabar, teguh dan tegas
Sebagai guru, kita dituntut untuk sabar. Kadang-kadang siswa selalu ingin menguji kesabaran kita. Menghadapi siswa yang memang cukup lambat dalam menangkap atau memahami sesuatu, guru dituntut untuk sabar. Apabila kita tidak sabar, siswa akan merasa ketakutan untuk mengajukan masalah yang dihadapi. Ketakutan siswa pada guru ini akan menghambat keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.Selain itu guru harus teguh dan tegas dalam memegang aturan. Apabila siswa dituntut untuk selalu memperhatikan pertanyaan atau taggapan siswa lain, guru harus selalu memperingatkan siswa lain yang melakukan diskusi berdua pada saat seorang siswa berbicara
2).Hubungan sosial Antar peserta didik
Hubungan social yang kurang baik antar peserta didik dapat mengganggu lancarnya kegiatan pembelajaran. Guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih mengenal teman-temannya sehingga mereka akan merasa sebagai satu kesatuan. Apabila peserta didik tidak dapat bekerja sama dengan peserta didik lain dalam kelompok, tujuan dilaksanakannya belajar kelompok atau kerja kelompok tidak akan berhasil Dalam kegiatan kelompok, peserta didik harus belajar menerima pendapat/ide peserta didik lain dan mendorong siswa lain untuk mengemukakan pendapatnya. Agar kegiatan kelompok dapat berhasil dengan baik guru harus memperhatikan hal-hal berikut:
a).Perilaku yang diharapkan
Pernyataan tentang perilaku yang diharapkan ditampilkan siswa dalam kegiatan kelompok harus dinyatakkan dengan jelas, pasti, dan realistik.
b).Fungsi kepemimpinan
Fungssi kepemimpinan mengacu pada upaya untuk memperlancar tercapainya tujuan kegiatan kelompok. Guru hendaknya menciptakan kegiatan kelompok yang tidak didominasi oleh seorang atau beberapa orang siswa agar memberikan kesempatan kepada semua siswa.
c).Pola persahabatan siswa
Kegiatan kelompok akan berhasil dengan baik apabila hubungan interpersonal antar siswa cukup baik.
Suatu penelitian yang pernah dilakukan, membuktikan bahwa hubungan sosial di antara siswa-siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar di sekolah (Maswardi M Amin, 1981). Dalam penelitian itu dikemukakan hasil-hasilnya sebagai berikut :
1) Hubungan manusiawi di kalangan murid-murid di kelas/sekolah merupakan faktor yang ikut berpengaruh terhadap kegiatan dan prestasi belajarnya, disamping faktor-faktor yang lain seperti tingkat intelegensia, cara mengajar- belajar, kondisi phisik murid dan lain lain.
2) Hubungan manusiawi yang efektif berupa persahabatan antara murid yang saling menyenangi di kelas/sekolah merupakan penguat hubungan sosial yang bersifat positif dalam kegiatan belajarnya.
3) Hubungan manusiawi yang tidak efektif berupa keharusan sebangku/sekelas dengan murid lain yang tidak disenangi merupakan penguat hubungan sosial yang bersifat negatif dalam kegiatan belajarnya.
4) Persahabatan yang akrab sebagai penguat hubungan sosial yang bersifat positif, mendorong timbulnya kerjasama atau persaingan yang efektif sebagai respon yang bersifat positif dalam kegiatan belajar di kelas/sekolah.
Penelitian lain (Zuldafrial, 1998) menyimpulkan bahwa siswa yang paling disenangi temannya dalam belajar dan siswa yang berteman akrab dengan siswa yang paling disenangi teman sekelasnya dalam belajar menunjukan hasil belajar yang baik dan siswa yang paling tidak disenangi oleh temannya dalam belajar dan siswa yang berteman akrab dengan siswa yang paling tidak disenangi oleh teman sekelasnya dalam belajar menunjukan hasil belajar yang rendah. Hal ini dapat dimaklumi karena siswa yang disenangi temannya dalam belajar mempunyai sifat-sifat yang baik, sedangkan siswa yang tidak disenangi temannya mempunyai sifat-sifat yang buruk. Temuan penelitian mengidentifikasi terdapat dua puluh satu sifat-sifat siswa maupun siswi yang disenangai dan tidak disenangi temannya dalam belajar.

Sifat-Sifat yang baik:  dapat diajak kompromi, tidak cerewet, mau mengalah, selalu hadir tepat waktunya, mau membantu dalam belajar,belajar serius. tidak pemarah, tidak suka mengganggu, bertanggung jawab, sedikit bergurau,cocok, tidak membeda-bedakan teman, tidak suka bawel, selalu terbuka, Periang, tidak suka berkelahi, setia kawan, mengerti akan diri teman, mau mengeluarkan pendapat, jujur, dapat bergaul dengan sopan Sifat-Sifat yang buruk: sukar diajak kompromi, cerewet, mau menang sendiri, suka tidak hadir, tidak mau bekerja, belajar suka main-main, suka marah, suka mengganggu, tidak bertanggung jawab, suka ketawa, banyak tingkah, sombong, suka megatai teman, judes, suka bicara, suka memukul, memeras kawan, menghina teman, keras kepala, masin, suka ribut

d).Norma/aturan
Norma/aturan ini diperlukan sebagai pedoman anggota kelompok tentang apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana tindakan mereka terhadap anggota lain dan guru harus berusaha membantu mereka merumuskan aturan dan menerapkannya.
e).Kemampuan berkomunikasi
Kemampuan berkomunikasi mengacu pada kemampuan verbal dan non verbal dalam menyampaikan ide kepada orang lain dan menangkap ide dari orang lain. Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan perasaan dan pikiran mereka secara bebas dan dapat dipahami oleh siswa lain.
c. .Mengorkestrasi Lingkungan yang Mendukung Dikelas
1) .Lingkungan sekeliling
Sebuah gambar lebih berarti daripada seribu kata. Jika Anda menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, akan terjadi hal yang menakjubkan. Bukan hanya mengawali proses belajar dengan cara merangsang modalitas visual, alat peraga juga secara harfiah menyalakan jalur syaraf seperti kembang api di malam lebaran. Beribu-ribu asosiasi tiba-tiba diluncurkan ke dalam kesadaran. Kaitan ini menyediakan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru. Memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrasi belajar yang mendukung. Di bawah ini beberapa ide yang dapat igunakan untuk menyerap informasi melalui kemitraan otak-mata:
a.poster Ikon
Ciptakan ikon atau simbol untuk setiap konsep utama yang diajarkan dan gambarkan di atas selembar kertas berukuran 25 X 40 cm atau lebih besar. Pajang poster-poster ikon tersebut di depan kelas di atas pandangan mata, memberikan gambaran keseluruhan, tinjauan global dari bahan pelajaran. Untuk melihat”konsep-konsep tersamar” ini pelajar harus mendongak. Ini akan membantu penciptaan, penyimpanan, dan pencarian informasi secara visual. Pasang poster di tempat tersebut sampai unit pelajaran yang bersangkutan selesai. Lalu, pindahkan kebagian dinding yang lain, agar tempatnya dapat digunakan untuk poster-poster unit berikutnya. Ikon-ikon unit sebelumnya yang tetap dipajang akan menjadi pengingat sadar dan tidak sadar untuk pelajaran, bantulah dengan cara memasang posternya, supaya mereka dapat mengakses memori visual mereka setiap kali mereka melihatnya. Setelah belajar kita menjadi terbiasa dengan konsep-konsep pokok dalam bentuk gambar, mintalah mereka untuk membuat poster untuk unit-unit mendatang. Kita dapat mengambil selangkah lebih jauh dan menggunakan poster ikon untuk mengintip “acara yang akan datang”. Tempatkan poster ikon unit selanjutnya pada dinding sebelah kanan, tempat untuk bahan -bahan pelajaran yang akan datang. Jika materi ditampakkan dengan cara demikian, minat siswa akan terpicu:”Tentang apa ya kira-kira poster yang itu?”
b.Poster Afirmasi
Buatlah (atau lebih baik mintalah siswa membuat) poster motivasi afirmasi dengan pesan-pesan seperti, “Aku mampu mempelajarinya!”dan “Aku menjadi semakin pintar dengan setiap tantangan baru.” Tempatkan poster-poster itu di dinding samping setinggi mata orang duduk. Perhatikan bahwa poster ini setinggi telinga. Pada saat siswa memandang sekeliling ruangan, poster-poster tersebut “mengucapkan” afirmasi seperti dialog internal, sehingga menguatkan keyakinan tentang belajar dan tentang isi yang diajarkan.
c.Gunakan Warna
Bayangkan sebuah apel dalam benak kita. Pejamkan mata kita jika perlu. Apakah kita melihat apel itu hitam dan putih atau berwarna? Hampir semua orang melihat apel berwarna, mengapa? Karena otak berpikir dalam warna. Gunakan warna untuk memperkuat pengajaran kita dan belajar siswa! Gunakan warna hijau, biru, ungu dan merah untuk kata-kata penting, jingga dan kuning untuk menggaris bawahi, serta hitam dan putih untuk kata-kata penghubung seperti “dan”, “sebuah”, “dari”, dan lain-lain.
2) .Alat bantu
Alat bantu adalah benda yang dapat mewakili suatu gagasan. Contoh alat bantu antara lain:
a).Boneka untuk mewakili tokoh dalam karya sastra.
b).Bola lampu plastik yang besar untuk menandakan dimulainya sesi brainstorming,atau menyoroti “ide cemerlang”.
c).Panah untuk secara visual menunjukkan “poin” yang dimaksudkan.
d).Kacamata besar untuk menunjukkan pengambilan perspektif berbeda.
e).Topi Sherlock Holmes untuk menandakan pemikiran deduktif.
Alat bantu tidak hanya membantu pembelajaran visual, tetapi dapat pula membantu modalitas kinestetik. Siswa yang sangat kinestetik dapat memegang alat bantu, dan mendapatkan “rasa” yang lebih baik dari ide yang disampaikan.
3).Pengaturan bangku
Cara kita mengatur bangku memainkan peran penting dalam pengokestarsian belajar. Di sebagian besar ruang kelas, bangku siswa dapat disusun untuk mendukung tujuan belajar bagi pelajaran apa pun yang diberikan. Kita bebas menyuruh siswa mengatur ulang bangku mereka untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan. Untuk presentasi siswa, ajaran guru, pemutaran video, dan lain-lain, atur bangku sehingga siswa menghadap ke depan untuk membantu mereka tetap fokus ke depan. Yang ingin dicapai adalah fleksibilitas maka jelajahilah pilihan-pilihan ini:
a).Gunakan setengah lingkaran untuk diskusi kelompok besar yang dipimpin seorang fasilitator, yang menuliskan gagasan pada kertas tulis, whiteboard, atau papan tulis.
b).Rapatkan bangku ke dinding jika ingin memberi tugas perseorangan dan mengosongkan pusat ruangan untuk memberi petunjuk kepada sekelompok kecil atau mengadakan diskusi sekelompok besar sambil duduk dilantai.
c).Jika bisa, ganti bangku tradisional dengan meja dan kursi lipat agar lebih fleksibel. Susunan bangku yang tak dapat diubah-ubah menimbulkan sedikit tantangan. Tapi, meskipun bangkunya tetap tak berubah, pelajarnya tidak! Suruh mereka membalikkan badan untuk interaksi kelompok kecil, atau duduk di lantai di lorong-lorong antara bangku, atau dibelakang, samping, atau didepan ruangan.
4).Tumbuhan, aroma, hewan peliharaan, dan unsur organik lainnya
Selain mengajar dengan bangku yang dapat diubah-ubah, kita dapat menggubah lingkungan untuk memaksimalkan momen belajar siswa.
a).Tumbuhan. Biologi dan botani mengajarkan kita bahwa tumbuh-tumbuhan menyediakan oksigen dalam udara kita dan otak kita berkembang karena oksigen. Semakin banyak oksigen yang didapat, semakin baik fungsi otak. Gunakan defenbachias untuk memperkaya persediaan oksigen dalam kelas.
b).Aroma. Kaitan antara kelenjar pencium dan sistem saraf otonomi cukup kuat. Apa yang kita cium memicu respon seperti kecemasan, kelaparan, ketenangan, depresi, dan seksualitas. Sedikit penyemprotan aroma akan meningkatkan kewaspadaan mental: minat, kemangi, jeruk, kayu manis, dan rossemarrya. Sedangkan lavender, chamomile, jeruk, dan mawar memberikan ketenangan dan relaksasi.
c).Hewan peliharaan. Hewan peliharaan dapat menciptakan kesempatan untuk melatih tanggung jawab, gizi, kesehatan, dan perawatan.
5).Musik. Musik berpengaruh pada guru dan pelajar.
Sebagai guru kita dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik berpengaruh kuat pada lingkungan belajar. Penelitian menunjukkan bahwa belajar lebih mudah dan cepat jika pelajar berada dalam kondisi santai dan reseptif. Detak jantung orang dalam keadaan ini adalah 60 sampai 8 kali permenit. Kebanyakan musik barok sesuai dengan detak jantung manusia yang santai dalam kondisi belajar optimal (Schuster dan Gritton dalam de Porter,2000). Alat musik tiup dan biola mempunyai nada lebih ringan, yang menambahkan keringanan dan perhatian kepada suasana hati pelajar.
d.Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Lingkungan sebagai salah satu sumber belajar bisa dimanfaatkan oleh guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif. Peserta didik akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang disampaikan guru, bila dikaitkan dengan lingkungan kehidupan mereka. Berdasarkan pengalaman hidupnya peserta didikan dapat mengkontruksi pemahaman sendiri tentang materi yang dipelajarinya sesuai dengan konteks lingkungannya.

1). Pengertian Lingkungan
Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya serta makhluk hidup lainnya.Lingkungan itu terdiri dari unsur-unsur biotik, abiotik, dan budaya manusia. Jalinan hubungan antara manusia dengan lingkungannya tidak hanya ditentukan oleh jenis dan jumlah mahluk hidup dan benda mati, melainkan juga oleh budaya manusia itu sendiri. Lingkungan sebagai sumber belajar dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang ada disekitar atau disekeliling peserta didik (mahluk hidup, mahluk hiduplain, benda mati, dan budaya manusia) yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar dan pembelajaran secara lebih optimal.
2).Manfaat Lingkungan
Banyak sekali keuntungan yang dapat kita peroleh dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, diantaranya sebagai berikut ;
a).Lingkungan menyediakan berbagai hal yang dapat dipelajari siswa, memperkaya wawasannya, tidak terbatas oleh empat dinding kelas, dan kebenarannya lebih akurat.
b).Kegiatan belajar dimungkinkan akan lebih menarik, tidak membosankan, dan menumbuhkan antusiasme siswa untuk lebih giat belajar.
c).Belajar akan lebih bermakna (meaningful learning), sebab siswa dihadapkan dengan keadaan yang sebenarnya.
d).Aktivitas siswa akan lebih meningkat dengan memungkinkannya menggunakan berbagai cara, seperti proses mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan sesuatu, dan menguji fakta.
e).Dengan memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannnya, dapat dimungkinkan terjadinya pembentukan pribadi para siswa, seperti cinta akan lingkungan.

3).Jenis Lingkungan
Lingkungan yang dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah adalah semua jenis lingkungan yang sesuai dengan kompetensi/tujuan pembelajaran yang harus dicapai, serta bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik. Jenis lingkungan tersebut biasanya berupa lingkungan social maupun lingkungan alam atau lingkungan fisik. Lingkungan social sangat tepat digunakan untuk memperlajari ilmu-ilmu social dan kemanusiaan. Lingkungan social ini berkenaan dengan interaksi siswa dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya dalam hal-hal berikut ini :
a).Mempelajari organisasi-organisasi social yang ada di masyarakat sekitar sekolah (Karang Taruna, Pepabri).
b).Mengenal adat-istiadat, kebiasaan, dan mata pencaharian masyarakat sekitar.
c).Mempelajari kebudayaan termasuk keseniaan yang ada disekitar sekolah.
d).Mempelajari struktur pemerintahan setempat (RT, RW, Desa/kelurahan, Kecamatan).
e).Mengenal kehidupan beragama dan system nilai yang dianut penduduk sekitar.
Dalam menggunakan lingkungan social sebagai sumber belajar dalam pembelajaran, sebaiknya dimulai dari lingkungan yang terkecil atau paling dekat dengan siswa, seperti lingkungan keluarga, lingkungan RT, lingkungan RW, lingkungan Desa/kelurahan, lingkungan kecamatan. Pendekatan semacam ini di sebut Expanding Community Appoach.
Jenis lingkungan lain yang kaya akan informasi yaitu lingkungan alam. Lingkungan alam adalah segala sesuatu yang sifatnya alamiah, seperti sumber daya alam (air, tanah, hutan, batu-atuan), tumbuh-tumbuhan (flora), hewan (fauna), sungai, iklim, suhu udara, dan sebagainya. Gejala-gejala alam itu sifatnya relative tetap, tidak seperti lingkungan social yang sering terjadi perubahan. Oleh karena itu, sebenarnya akan lebih mudah dipelajari oleh siswa. Ia dapat mengamati dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi termasuk proses terjadinya gejala alam.Dengan mempelajari alam ini diharapkan siswa dapat lebih memahami bahan ajar, lebih dari itu dapat menumbuhkan kesadaran, cinta alam, mungkin juga turut berpartisipasi untuk menaggulangi hal tersebut, misalnya dengan menjaga dan memelihara lingkungan. Dalam mata pelajaran pengetahuan alam (sains), siswa diminta mempelajari lingkungan alam di sekitar tempat tinggalnya atau di sekitar sekolah, mereka diminta mencatat dan mempelajari gejala-gejala alam misalnya suhu udara, jenis tumbuhan, jenis hewan, baik secara individual maupun kelompok melalui kegiatan mengamati, bertanya kepada ahli, membuktikan sendiri atau mencobanya. Siswa tentu akan memperoleh sesuatu yang sangat berharga dari kegiatan belajarnya itu yang mungkin tidak akan ditemukan dari pengalaman belajar di sekolah sehari-hari.Kegiatan belajar mengajar yang menggunakan lingkungan ini biasa dilaksanakan pada saat jam belajar terjadwal atau diluar jam belajar terjadwal atau dapat juga dilaksanankan pada waktu khusus, misalnya pada pertengahan atau akhir semester. Agar penggunaan lingkungan ini efektif perlu disesuaikan dengan tuntutan kurukulum pada masing-masing mata pelajaran yang ada, dan lingkungan ini dijadikan sebagai salah satu media atau sumber belajar. Dengan begitu maka lingkungan ini dapat berfungsi untuk memperkaya bahan ajar, memperjelas konsep dan prinsip yan g dipelajari dan bisa dijadikan sebagai laboraturium belajar siswa.
4) .Teknik Mengunakan Lingkungan
Pada dasarnya terdapat dua teknik pemanfaatan lingkungan yaitu membawa kelas kedalam lingkungan yang akan dipelajari (out of class) atau membawa lingkungan itu kedalam kelas. Teknik yang dapat anda lakukan dengan menggunakan beberapa cara yaitu:
a).Melakukan kegiatan karya wisata atau fieldrip yaitu mengunjungi lingkungan yang dijadikan objek studi tertentu sebagai bagian integral dari pelaksanaan kurikulum. Misalnya mengunjungi candi Borobudur di kota Magelang atau Gunung Tangkuban Perahu di kota Bandung. Namun bisa juga di tempat-tempat yang ada di sekitar sekolah, seperti halaman sekolah, kebun sekolah, organisasi kemasyarakatan di dekat sekolah, sawah,kolam ikan.
b).Melakukan kegiatan perkemahan (school camping). Dengan kegiatan ini para siswa dapat lebih menghayati bagaimana keadaan alam, seperti suhu udara, iklim, suasana atau mengenal masyarakat dimana kegiatan itu dilaksanakan. Kegiatan berkemah dialam terbuka, sangat cocok untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam, ekologi, dan biologi. Siswa dituntut untuk merekam apa yang ia rasakan, apa yang ia lihat, dan apa yang dikerjakan selama berkemah. Hasilnya, kemudian dibawa kesekolah untuk dipelajari dan didiskusikan.
c).Melakukan kegiatan survey, yaitu, mengunjungi objek tertentu yang relevan dengan tujuan pembelajaran, misalnya untuk mempelajari kebiasaan dan adat istiadat di suatu daerah, sensus ekonomi penduduk. Kegiatan belajar yang bias dilakukan oleh siswa diantaranya melalui wawancara dengan pihak-pihak yang dianggap perlu, melakukan pengamatan atau mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan. Hasil dari kegiatan tersebut, kemudian oleh siswa dilaporkan di kelas untuk dikaji bersama.
d).Para siswa melakukan praktik kerja pada tempat-tempat pekerjaan yang ada disekitar lingkungan sekolah. Jenis-jenis pekerjaan dipilih yang sesuai dan terjangkau oleh anak usia sekolah dasar, misalnya membuat ayaman, beternak ikan, dan berjualan. Praktik kerja ini dilakukan apabila anda menginginkan siswa memperoleh keterampilan atau percakapan praktis yang bermanfaat bagi dirinya apabila setelah menamatkan pendidikan disekolah tidak bisa melanjutkan studi kesekolah yang lebih tinggi. Kegiatan ini biasa dilakukan diluar jam pelajaran sebagai penunjang, biasanya dalam pelaksanaan kurikulum muatan local di bidang keterampilan.
e).Melakukan suatu proyek pelayanan kepada masyarakat (Sosial Service). Misalnya membantu dalam hal kebersihan lingkungan, kerja bakti pembuatan jalan desa atau gang, dan sebagainya. Manfaatnya bagi siswa dapat menumbuhkan rasa perduli akan lingkungan sekitar, mereka akan memiliki pengalaman yang berharga, dapat turut membantu memecahkan masalah yang dihadapi lingkungannya. Sedangkan bagi masyarakat kegiatan ini tentu saja memiliki manfaat sebab hasil kerja siswa akan turut memperbaiki keadaan yang menjadi garapan masyarakat sendiri.
5).Prosedur PemanfaatanLingkungan
Ada 3 langkah yang bisa anda tempuh untuk menggunakan lingkungan ini, yaitu :
a).Perencanaan.
(1). Tentukan kompetensi/tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Tujuan ini dirumuskan secara spesifik dan operasional untuk memudah kan dalam penilaian hasil belajar. Contoh tujuan yang ingin dicapai agar siswa dapat menjelaskan proses kerja dapri suatu pembangkit tenaga listrik sederhana agar siswa dapt mengidentifikasi jenis tumbuhan yang ada dilingkungannya, agar siswa dapat menjelaskan struktur pemerintahan tingkat desa/kelurahan dan sebagainya.
(2). Tentukan objek yang akan dipelajari atau dikunjungi. Perhatikan oleh anda keterkaitanya dengan kompetensi/tujuan pembelajaran dan kemudahan-kemudahan dalam menggunakan lingkungan, seperti jaraknya tidak terlalu jauh, tidak memerlukan waktu yang terlalu lama, biayanya murah, keamanannya terjamin, dan tersedianya sumber belajar yang bias dipelajari.
(3). Rumuskan cara belajar atau bentuk kegiatan yang harus dilakukan siswa selama mempelajari lingkungan, seperti mencatat apa yang terjadi, mengamati suatu proses, melakukan awancara, membuat sketsa, dan lain sebagainya. Selain itu, ada baiknya apabila para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-5 orang) dan setiap kelompok diberi tugas khusus. Hal ini akan menumbuhkan kerjasama dalam kelompok serta dapat memperluas wawasan mereka karena setiap kelompok nantinya akan melaporkan hasil pekerjaanya di kelas.
(4). Siapkan hal-hal yang sifatnya teknis, seperti tata tertib kegiatan yang harus dipatuhi siswa, perizinan untuk mengadakan kegiatan, kelengkapan yang harus dibawa, dan instrument yang akan digunakan.
b) .Pelaksanaan
Langkah pelaksanaan yaitu melakukan berbagai kegiatan belajar ditempat tujuan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Apabila kegiatan yang dilakukan itu adalah karya wisata atau survey ke objek tertentu, kegiatan biasanya diawali dengan penjelasan para petugas mengenai objek yang di kunjungi. Dalam hal ini para siswa bias mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencatat informasi yang dianggap penting atau sesuai dengan instrument yang telahdisiapkan.
c).Tindak lanjut (followup)
Langkah ini bisa berupa kegiatan belajar didalam kelas untuk mendiskusikan hasil-hasil yang telah diperoleh dari lingkungannya. Setiap kelompok diminta untuk melaporkan hasilnya di depan kelas, kelompok lainya mendengarkan dan memberikan tanggapan seperlunya. Pada akhirnya, anda sebagai guru diminta untuk dapat memberikan penjelasan dan pada pembahasan akhir dikaitkan dengan tujuan pembelajaran. Anda juga dapat memberikan penilaian terhadap kegiatan-kegiatan dan hasil yang telah dicapai masing-masing siswa.
Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki tujuh sikap sebagai berikut :
a).Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya atau kurang terbuka.
b).Dapat lebih mendengarkan siswa terutama tentang aspirasi dan perasaannya.
c). Mau dan mampu menerima ide siswa yang inovatif, dan kreatif, bahkan yang sulit sekalipun.
d).Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan siswa seperti halnya terhadap bahan pelajaran.
e).Dapat menerima balikan baik yang sifatnya positif maupun negatif dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya.
f).Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat siswa selama proses pembelajaran dan
g).Menghargai siswa meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.
Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang harus difahami guru, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajar.
a).Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut. Pemahaman akan fungsi media sangat diperlukan, Belum tentu suatu media cocok digunakan untuk mengajarkan semua bahan pelajaran. Setiap media memilki karekteristik yang berbeda.
b).Guru perlu memiliki keterampilan dalam merancang suatu media. Kemampuan merancang media merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru profesional. Dengan perancangan media yang dianggap cocok akan memudahkan proses pembelajaran, sehingga pada gilirannya tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal.
c).Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. Perkembangan teknologi imformasi menuntut setiap guru untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Berbagai perkembangan teknologi informasi memungkinkan setiap guru dapat menggunakan berbagai pilihan media yang dianggap cocok.
d).Sebagai fasilitator guru dituntut agar memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa. Hal ini sangat penting, kemampuan berkomunikasi secara efektif dapat memudahkan siswa menangkap pesan sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.

2. Motivator
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Sebagai motivator, maka fungsi guru adalah memberikan surport kepada siswa-siswi agar belajar dengan sungguh-sungguh demi masa depannya. Guru memberikan penguat baik yang bersifat positif (Positive Reinforcement) maupun yang bersifat negatif (Negative Reinforcement). Penguat positif berupa pemberian pujian dan hadiah kepada siswa-siswi. Siswa-siswi yang berprestasi baik diberikan hadiah sebagai penghargaan atas usahanya. Sedangkan siswa-siswi yang berprilaku baik diberikan pujian, sehingga dengan demikian pada diri siswa-siswi tertanam nilai prilaku untuk berbuat baik. Penguat negative berupa hukuman (Punishment) ataupun pembatalan terhadap sesuatu yang telah diberikan (Ekkstention). Bilamana siswa-siswi melakukan prilaku-prilaku yang menyimpang dalam belajar seperti menyontek, tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, maka guru perlu memberikan hukuman agar prilaku seperti itu tidak diulangi lagi.Sedangkan pembatalan adalah penarikan kembali suatu penghargaan atau keputusan yang telah diberikan kepada siswa-siswi karena mengetahui apa yang dilakukan oleh siswa tersebut ternyata tidak benar. Sebagai contoh misalnya membatalkan hasil ujian yang telah diumumkan karena mengetahui bahwa ternyata siswa bekerja sama dalam menjawab soal ujian tersebut. Hakekat dari motivasi yang diberikan oleh guru adalah pada dasarnya membangun harga diri dan kepercayaan siswa-siswi dalam melakukan perbuatan belajar.
Sebagai motivator, guru harus mampu menerapakan prinsip-prinsip motivasi belajar sebagai berikut:
1. Kebermaknaan. Siswa akan termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajar dirasakan bermakna bagi dirinya. Kebermaknaan lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan dan atat nilai siswa.
2. Pengetahuan dan Keterampilan Prasyarat.
Siswa akan dapat belajar dengan baik, jika ia telah menguasai semua prasyarat baik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Oleh karena itu siswa akan menggunakan pengetahuan awalnya untuk menafsirkan informasi dan pengalamannya. Penafsiran itu akan membangun pemahaman yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal itu. Dengan demikian guru perlu memahami pengetahuan awal siswa untuk dikaitkan dengan bahan yang akan dipelajarinya. Sehingga membuat belajar menjadi lebih mudah dan bermakna.
3. Model. Siswa akan menguasai keterampilan baru dengan baik, jika guru memberi contoh dan model untuk dilihat dan ditiru.
4. Komunikasi terbuka. Siswa akan termotivasi untuk belajar, jika penyampaian dilakukan secara terstruktur sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa sehingga pesan pembelajaran dapat dievaluasi dengan tepat.
5. Keaslian dan tugas yang menantang. Siswa akan termotivasi untuk belajar,  jika mereka disediakan materi, kegiatan baru atau gagasan murni/asli (novelty) dan berbeda. Kebaruan atau keaslian gagasan akan menambah konsentrasi siswa pada pelajaran. Hal ini berpengaruh pada pencapaian hasil belajar. Konsentrasi juga dapat bertambah bila siswa menghadapi tugas yang menantang dan sedikit melebihi kemampuannya. Sebaliknya bila tugas terlalu jauh dari kemampuan, akan terjadi kecemasan, dan bila tugas kurang dari kemampuan akan terjadi kebosanan.
6. Latihan yang tepat dan aktif. Siswa akan dapat menguasai materi pembelajaran dengan efektif jika kegiatan belajar mengajar memberikan kegiatan latihan yang sesuai dengan kemampuan siswa dan siswa dapat berperan aktif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
7. Penilaian tugas. Siswa akan memperoleh pencapaian belajar yang efektif, jika tugas dibagi dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang dengan frekwensi pengulanagn yang tinggi.
8. Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan. Siswa akan belajar dan terus belajar, jika kondisi pembelajaran dibuat menyenangkan, nyaman jauh dari prilaku yang menyakitkan perasaan siswa. Belajar melibatkan perasaan. Suasana belajar yang menyenangkan sangat diperlukan karena otak tidak akan berkerja optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan.Perasaan senang biasanya akan muncul, bila belajar diwujudkan dalam bentuk permainan khususnya pada pendidikan usia din. Selanjutnya bermain dapat diekmangkan menjadi eksprimental yang lebih tinggi.
9. Keragaman pendekatan. Siswa akan belajar, jika mereka diberi kesempatan untuk memilih dan menggunakan berbagai pendekatan dan strategi belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berorientasi pada buku teks tetapi juga dapat dikemas dalam berbagai kegiatan praktis seperti proyek, simulasi, drama dan atau penelitian/pengujian.
10. Mengembangkan beragam kemampuan. Siswa akan belajar secara optimal, jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matimatis, bahsa, musik, kinesti, dan kemampuan interpersonal. Tiap siswa memiliki lebih dari satu kecerdasan yang meliputi kecerdasan : musik, gerak badan (kinestetik), logika-matimatika, bahasa ruang, intra pribadi, dan antar pribadi. Sekolah perlu menyediakan berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan kecerdasan itu berkembang, sehingga anak dengan berbagai kecerdasan yang berbeda dapat terlayani secara optimal.
11. Melibatkan sebanyak mungkin indera. Siswa akan memnguasai hasil belajar dengan optimal jika dalam belajarsiswa dimungkinkan menggunakan sebanyak mungkin indera unutk berinteraksi dengan isi pembelajaran
12. Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar. Siswa ajkan lebih menguasai materi pembelajaran jika penngalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga siswa mempunyai kesempatan unutk membuat suatu refleksi penghayatan, mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang dia pelajari. Penglaman belajar hendaknya juga menyediakan proporsi yang seimbang antara pemberian informasi dan penyajian terapannya. Memikirkan ulang ( refleksi ) apa yang sedang dipikirkan atau apa yang sedang dikerjakan merupakan kegiatan penting dalam memantapkan pemahaman. Proses berpikir ulangini kan terjadi bila pemahaman yang dihasilkan dikomunikasikan dan ditanggapi dalam wujud diskusi (interaksi ). Refleksi dapat juga terjadi bila guru sering mengajukan pertanyaan seperti ” Mengapa kamu berpendapat seperti itu ? ”. ”Apakah pendapatmu tepat bila…?”. Mengingat belajar adalah proses membangun pemahaman oleh siswa, maka mereka perlu diberi waktu yang memadai untuk melakukan proses itu. Artinya berikan waktu yang cukup untuk berpikir ketika siswa menghadapai masalah. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar artinya memberi kesempatan untuk membangun sendiri gagasannya.

3. Pemacu
Sebagai pemicu, guru harus mampu melipatgandakan potensi siswa dan mengembangkannya sesuai dengan aspirasi dan cita-cita mereka di masa yang akan datang. Hal ini sangat penting karena guru sangat berperan dalam membantu perkembangan siswa-siswi untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki siswa-siswi tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan siswa-siswi secara individual karena antara satu siswa-siswi dengan siswa-siswi yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Sehingga dalam memberikan bantuan memerlukan penanganan yang berbeda.
Dalam mengembangkan potensi dan kemampuan siswa-siswi dalam kegiatan belajar mengajar melalui penyampaian meteri pembelajaran, guru harus mampu menyampaikan materi pelajaran secara jelas dan dapat difahami oleh siswa-siswi. Untuk itu terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran sebagai berikut :
a). Membuat ilustrasi : pada dasarnya ilustrasi menghubungkan sesuatu yang sedang dipelajari siswa dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman kepada mereka.
b). Mendifinisikan: meletakan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana, dengan menggunakan latihan dan pengalaman serta pengertian yang dimiliki siswa-siswi.
c). Menganalisa: membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian
d). Mensentisis: mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti, hubungan bagian yang satu dengan yang lain nampak jelas, dan setiap maslah itu tetap berhubungan dengan kseluruhan yang lebih besar.
e). Bertanya: mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan tajam agar pa yang dipelajari menjadi lebih jelas.
f) Merespon: mereaksi dan menanggapi pertanyaan siswa-siswi. Pembelajaran akan lebih efektif, jika guru dapat merespon setiap pertanyaan siswa-siswi.
g) Mendengarkan: memahami siswa-siswi, dan berusaha menyederhanakan setiap masalah, serta membuat kesulitan nampak jelas baik bagi guru maupun siswa-siswi.
h). Menciptakan kepercayaan: siswa-siswi akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.
i). Memberikan pandangan yang bervariasi: melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang dan melihat masalah dalam kobinasi yang bervariasi.
j). Menyediakan media untuk mengkaji materi standar: memberikan pengalaman yang bervariasi melalui media pembelajaran dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi standar.
k).Menyesuaikan metode pembelajaran: menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa serta mengubungkan materi baru dengan sesuatu yang telah dipelajari.
l). Memberikan nada perasaan: membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan hidup melalui antusias dan semangat.

4. Pemberi inspirasi
Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi siswa, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan dan ide-ide baru.
Sebagai pemberi inspirasi, guru dapat memerankan diri sebagai pembawa cerita. Dengan cerita-cerita yang menarik diharapkan dapat membangkitkan berbagai inspirasii siswa. Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan innstrumen pengukur. Dengan cerita manusia bisa mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka, belajar untuk menghargai kehidupan sendiri setelah membandingkan dengan apa yang telah mereka baca tentang kehidupan manusia di masa lalu.Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
Sebagai pendengar siswa dapat mengidentifikasi watak-watak pelaku yang ada dalam cerita, dapat secara obyektif menganalisa, menilai manusia, kejadian-kjadian dan pikiran-pikiran. Siswa dapat menjadikan tokoh-tokoh dalam cerita sebagai idiola yang menjadi pendorong baginya untuk mengejarnya mimpi-mimpinya,untuk mengapai cita-citanya.

5. Perekayasa Pembelajaran
Berhasil tidaknya proses interaksi belajar-mengajar yang dilakukan oleh guru dalam kelas, sangat tergantung bagaimana guru merekayasa konteks pembelajaran sesuai dengan tuntutan silabus mata pelajaran dan kemampuan mengaplikasikannya dalam proses belajar-mengajar. Strategi dan metode mengajar yang dirancang oleh guru mungkin tepat dengan tuntutan silabus, namun mungkin saja tidak sesuai dengan kemampuan siswa-siswi di kelas, sehingga proses pembelajaran yang diakukan oleh guru tidak sepenuhnya berhasil. Atau mungkin saja sebaliknya strategi dan metode mengajar yang dirancang oleh guru sesuai dengan kemampuan siswa-siswi di kelas, dalam prakteknya, guru tidak mampu mengaplikasikannya dengan efektif.
Oleh karena itu dalam prakteknya guru hendaknya selalu memonitor dan mengevaluasi proses pembelajaran yang dilakukannya dan selalu memodifikasinya bilamana dalam aplikasinya masih banyak terdapat kelemahan-kelemahannya sehingga proses pembelajaran yang dilakukan guru selalu dinamis dan konteksual dengan perkembangan siswa-siswi di kelas.
Bilamana guru mampu menjalankan perannya, sebagaimana diuraikan di atas, maka dapatlah diharapkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di sekolah akan mampu menghasilkan siswa-siswi yang berprestasi, educated dan bermoral.

DAFTAR PUSTAKA

Wina Sanjaya (2008), Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktek Pengembangan KurikulumTingkat satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Nurfuadi (2012), Profesionalisme Guru. Purwokerto: STAIN Press

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Zuldafrial ( 2011) Strategi Belajar Mengajar. Potianak: STAIN Pontianak Press

Dipublikasi di Publikasi | Tinggalkan komentar