Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pengelolaan Kleas


 

Hal-hal penting sekali yang perlu dibicarakan dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas adalah kepemimpinan guru/wali kelas, disiplin kelas dan moral kelas. Hal-hal tersebut menentukan sekali dalam usaha untuk menciptakan dan mempertahankan serta mengembangkan situasi dan kondisi kelas yang efektif dan produktif bagi berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan diuraikan satu persatu mengenai hal-hal tersebut.

A.     Kepemimpinan Guru/Wali Kelas

Sebelum menguraikan bagaimana kepemimpinan guru/wali kelas dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas, perlu terlebih dahulu dijelaskan mengenai pengertian kepemimpinan tersebut.

Menurut Moekijat, yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan orang-orang agar mengikutinya. Sondang S.P. Siagian memberikan definisi tentang kepemimpinan tersebut adalah seni kemampuan mempengaruhi prilaku manusia dan kemampuan mengendalikan orang-orang dalam organisasi agar prilaku mereka sesuai dengan prilaku yang diinginkan pemimpin organisasi.

Selanjutnya Drs. Sarwoto mengatakan sukses tidaknya seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinan tidak ditentukan oleh tingkat keterampilan tehnis (Tehnical Skill) yang dimilikinya akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (Managerial Skil).

Berkenaan guru/wali kelas dalam usahanya untuk mengelola kelas, maka kepemimpinan kelas tersebut dapat diartikan sebagai kemampuan guru/wali kelas dalam mempengaruhi atau mengendalikan kelas agar tercipta suasana kelas yang tertib kreatif dan produktif bagi berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas.

Dalam usaha untuk mengendalikan kelas tersebut maka bermacam-macam cara dapat dilakukan oleh guru/wali kelas tersebut. ada yang dengan cara keras. Murid yang tidak mematuhi kehendak guru/wali kelas diberi hukuman atau sanksi. Segala sesuatunya ditentukan oleh guru/wali kelas. Murid-murid melaksanakannya tanpa membantah.Adayang dengan cara lunak. Segala sesuatunya diserahkan kepada kemauan atau kehendak murid dan ada pula dengan cara demokratis artinya segala sesuatu yang menyangkut kelas sebelum diputuskan dirundingkan terlebih dahulu dengan murid dan keputusan adalah kesepakatan bersama antara guru dan murid.

Cara-cara yang dilakukan tersebut menggambarkan tentang tipe-tipe kepemimpinan yang dilakukan oleh guru/wali kelas tersebut.

1. Kepemimpinan Guru/Wali Kelas yang bertipe Otoriter

Guru/wali kelas yang kepemimpinannya bertipe otoriter ini di dalam melaksanakan kepemimpinannya bersikap keras. Segala sesuatunya ditentukan oleg guru/wali kelas tanpa berkompromi dengan murid. Murid-murid harus mematuhi segala sesuatu yang ditetapkan oleh guru/ wali kelas. Apabila murid-murid tidak melaksanakan ketentuan yang telah digariskan oleh guru/wali kelas maka akan diberikan sanksi berupa hukuman. Kepenurutan atau kepatuhan murid bukan karena kesadaran mereka, tetapi takut terhadap sanksi yang diberikan oleh guru/wali kelas. Secara lahiriah memang murid-murid kelihatan menurut, tetapi secara batiniah mereka terasa tertekan. Akibatnya guru dibenci oleh anak.

2. Kepemimpinan Guru/Wali Kleas yang bertipe Laizzes Faire

Kepemimpinan guru/wali kelas yang bertipe Laizzes Faire, di dalam melaksanakan kepemimpinannya bersifat lunak. Segala sesuatunya diserahkan kepada murid-murid. Guru/wali kelas hanya mengikuti kemauan atau kehendak murid-muridnya. Keputusan yang diambil guru/wali kelas pada dasarnya adalah bukan keputusannya melainkan sebagai hasil kesepakatan antara guru/wali kelas dengan murid. Karena guru/wali kelas bersikap lunak dan menyerahkan segala sesuatunya kepada murid, maka guru/wali kelas kadang-kadang dijadikan alat oleh murid-murid untuk memenuhi keinginannya. Guru/wali kelas dianggap oleh murid-muridnya sebagai guru/wali kelas yang tidak berwibawa.

3. Kepemimpinan Guru/Wali Kelas yang bertipe Paterlistik

Kepemimpinan guru/wali kelas yang bertipe Paterlistrik, di dalam melaksanakan kepemimpinannya selalu bersikap melindungi atau menolong murid-muridnya. Dalam segala hal murid selalu dibantu. Guru/wali kelas selalu menganggap murid-muridnya tidak mampu dalam menyelesaikan permasalahannya. Akibatnya inisiatif dan kreatifitas murid-murid tidak berkembang. Murid-murid tidak pernah diserahkan tanggung jawab sepenuhnya dalam melaksanakan  tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Murid-murid tidak diberikan kesempatan  untuk mengembangkan dirinya. Guru/wali kelas selalu dianggap dirinya orang yang superior.

4. Kepemimpinan Guru/Wali Kelas yang bertipe Demokratis

Kepemimpinan guru/wali kelas yang bertipe Demokratis, di dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya selalu didasarkan atas musyawarah. Segala sesuatunya ditentukan antara guru/wali kelas dengan murid. Murid-murid selalu diikutsertakan dalam sesuatu hal yang berkaitan dengan kelas. Murid-murid diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengemukakan ide, pendapat dan saran. Guru/wali kelas selalu memperhatikan dan mendengarkan segala sesuatu yang dikemukakan oleh murid-murid untuk kemudian diputuskan sebagai hasil keputusan bersama.

Kepatuhan murid-murid terhadap apa yang telah digariskan oleh guru/wali kelas bukan karena terpaksa tetapi atas kemauan atau kesadaran sendiri karena merasa ikut bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut sebagai keputusan bersama.

Di antara tipe-tipe kepemimpinan guru/wali kelas yang dikemukakan tersebut, maka tipe kepemimpinan yang banyak dikembangkan adalah tipe kepemimpinan yang demokratis. Tipe kepemimpinan ini lebih bersifat manusiawi karena baik guru/wali kelas maupun murid-murid dipandang sebagai orang yang masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya. Oleh karena itu murid-murid dibimbing dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif, berkreatif dan mengemukakan pendapat.

B. Disiplin Kelas

Berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas dengan suasana yang harmonis dimana guru dapat menyampaikan bahan pelajaran dengan baik dan murid dapat belajar atau mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru dengan baik pula tergantung sekali kepada disiplin kelas. Kelas yang tidak berdisiplin sudah tentu kegiatan belajar mengajarnya pun akan menjadi kacau dan tidak menentu pula. Guru sering tidak masuk mengajar, murid-murid sering datang terlambat. Tugas-tugas seperti piket kelas tidak dilaksanakan sehingga kelas menjadi kotor dan sebagainya.

Dalam rangka untuk menciptakan suasana kelas yang efektif bagi berlangsungnya proses belajar mengajar, maka disiplin kelas perlu ditegakkan baik oleh guru maupun murid-murid.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan dijelaskan satu persatu mengenai hal-hal seperti berikut:

1. Pengertian Disiplin Kelas

Untuk memahami tentang konsep disiplin kelas, perlu kiranya diketengahkan beberapa pendapat tentang disiplin tersebut.

Menurut The Liang Gie yang dimaksud dengan disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergantung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.  Hadari Nawawi mengatakan disiplin adalah usaha untuk membina secara terus menerus kesadaran dalam bekerja atau belajar dengan baik dalam arti setiap orang menjalankan fungsinya secara efektif.

Berdasarkan pendapat diatas maka disiplin kelas dapat diartikan sebagai “Suatu keadaan tertib di mana guru dan murid-murid mematuhi peraturan kelas sehingga mereka dapat menjalankan fungsi masing-masing secara efektif dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar didalam kelas.

Dengan demikian suatu kelas dikatakan berdisiplin apabila suasana belajar berlangsung dalam keadaan tertib dan teratur, baik pada waktu sebelum mengajar dimulai, sedang berlangsung, maupun setelah pelajaran selesai.

Disiplin dikelas yang baik adalah disiplin yang timbul dari kemauan murid-murid sendiri bukan karena paksaan disebabkan oleh sanksi yang diberikan apabila peraturan tidak dipatuhi. Oleh karena itu diperlukan usaha secara terus menerus untuk membina kesadaran murid-murid akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar atau siswa. Namun dalam prakteknya kadang-kadang tidak jarang, seorang guru/wali kelas terpaksa memaksakan peraturan atau ketentuan yang berlaku terhadap murid-muridnya, walaupun sebenarnya cara ini kurang baik. Hal ini dilakukan karena sering terjadi  pelanggaran yang dilakukan oleh murid baik sengaja maupun tidak sengaja. Sehingga dengan demikian guru/wali kelas perlu memaksakan kepatuhan dan ketaatan kepada murid-murid berupa pemberian hukuman kepada murid yang tidak mematuhi peraturan tersebut untuk membuat mereka sadar.

Disiplin yang berasal dari kesadaran murid-murid sendiri lebih baik jika dibandingkan dengan disiplin yang berdasarkan paksaan karena takut terhadap sanksi yang akan diberikan bila ketentuan dilanggar. Disiplin karena kesadaran sendiri sifatnya lebih langgeng sedangkan disiplin yang timbul karena paksaan sifatnya semu. Murid-murid hanya mau mematuhi peraturan atau tata tertib kelas apabila guru/wali kelas ada. Tetapi apabila guru/wali kelas pergi maka mereka tidak lagi mematuhi tata tertib tersebut. Suasana disiplin ini sangat tergantung sekali terhadap tipe kepemimpinan yang dilaksanakan oleh guru/wali kelas tersebut.

2. Jenis- Jenis Disiplin Kelas

Berdasarkan uraian diatas maka disiplin kelas dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut.

a. Disiplin yang timbul atas kesadaran kelas sendiri (murid-murid dalam kelas)

Murid-murid dalam kelas tertib dan teratur dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru bukan karena takut terhadap sanksi yang akan diberikan, tetapi karena kesadaran dan kemauan sendiri.

Disiplin kelas yang demikian akan membawa kelas menjadi dinamis dan produktif. Disiplin kelas yang dinamis hanya dimungkinkan oleh kepemimpinan guru yang demokratis. Karena peraturan atau ketentuan digariskan untuk menjaga ketertiban kelas merupakan keputusan bersama antara guru/wali kelas dan murid-murid. Oleh karena itu baik guru maupun murid terdorong dan merasa ikut bertanggung jawab untuk melaksanakan ketentuan tersebut dengan rasa ikhlas dan senang hati tanpa merasa terpaksa.

b. Disiplin yang timbul karena paksaan dari guru/wali kelas

Suatu keadaan tertib dan teratur di dalam kelas pada saat berlangsungnya kegiatan belajar, bukanlah karena kesadaran atau kemauan murid-murid, tetapi karena takut terhadap sanksi yang diberikan oleh guru/wali kelas. Disiplin kelas bersifat semu, kelas hanya tertib apabila guru/wali kelas berada di dalam kelas.

Disiplin kelas yang demikian hanya dimungkinkan oleh tipe kepemimpinan guru/wali kelas yang bersifat otoriter. Murid-murid diharuskan untuk mematuhi peraturan kelas dan diancam akan diberikan hukuman yang berat apabila tidak dipatuhi atau dilanggar. Peraturan yang digariskan adalah peraturan yang di buat oleh guru/wali kelas sendiri. Tidak peduli apakah sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan murid-murid, merugikan atau menguntungkan murid-murid. Murid-murid dipaksa untuk mematuhinya, akibatnya murid-murid merasa tertekan, takut dan cemas.

3. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Disiplin Kelas

Dalam setiap organisasi kerja, baik besar maupun kecil dalam usaha untuk mewujudkan disiplin terhadap personalnya, selalu dipengaruhi berbagai faktor. Demikian halnya dengan kelas sebagai suatu organisasi kecil dibidang pendidikan dalam usaha untuk menegakkan disiplin terhadap guru-guru dan murid-murid. Disiplin guru dan murid sangat penting sekali artinya, sebab tanpa kedisiplinan guru dan murid, maka aktivitas belajar mengajar tidak efektif dan tentu saja akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan  pendidikan, khususnya tujuan instruksional. Agar disiplin kelas dapat dipelihara dan ditingkatkan, maka guru/wali kelas hendaknya harus mengetahui dan memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kelas.

Sehubungan dengan itu Siti Meichati mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kelas yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Kesehatan

Kesehatan seseorang pada umumnya mempunyai pengaruh besar terhadap disiplin kerja. Orang-orang yang sering sakit sudah barang tentu tidak dapat menegakkan disiplin kerja.

Demikian pula halnya dengan guru-guru dan murid-murid yang sering sakit-sakitan tidak dapat menegakkan disiplin. Sebagai contoh misalnya berdasarkan ketentuan, seorang guru bidang studi bahasa Indonesia harus dapat menyelesaikan materi pelajaran dalam waktu satu semester. Tetapi karena sering tidak masuk kelas karena sakit, maka guru tersebut tidak dapat menyampaikan materi pelajaran mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan program mengajar yang telah disusunnya dalam satu semester. Demikian pula halnya dengan murid-murid yang seharus sudah menerima seluruh materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, karena sakit sering tidak masuk sehingga ketinggalan pelajaran.

b. Faktor Perorangan

Yang dimaksudkan faktor perorangan adalah sikap seseorang terhadap suatu peraturan. Walaupun sudah mengetahui tentang ketentuan atau peraturan yang sudah ada masih juga dilanggar, atau bersikap acuh tak acuh terhadap ketentuan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari murid-murid yang tidak mau mengindahkan peraturan digariskan baik oleh guru/wali kelas maupun oleh sekolah. Sebagai contoh misalnya hari Senin murid-murid diharuskan untuk ikut apel bendera dan memakai pakaian seragam sekolah. Tetapi peraturan tersebut masih juga dilanggar murid, walaupun ia sudah mengetahuinuya. Ia tidak ikut apel dan bahkan tidak memakai pakaian seragam dengan disengaja.

c.Faktor Sosial

Yang dimaksudkan dengan faktor sosial di sini adalah faktor manusia, sebagai makhluk sosial.

Sebagai makhluk sosial maka manusia mempunyai kecendrungan-kecendrungan sebagai berikut :

1). Manusia didalam kelompoknya selalu ingin didikutsertakan.

2)Manusia didalam kelompoknya ingin diperhatikan.

3)Manusia didalam kelompoknya selalu ingin berhasil dan dihargai kelompoknya.

4). Manusia didalam kelompoknya memerlukan penghargaan dan perasaan diperlukan    oleh orang lain.

5). Manusia didalam kelompoknya memerlukan sesuatu yang dapat membebaskan diri dari keterikatan waktu dan ruang.

Dalam usaha untuk meningkatkan disiplin kerja dalam suatu organisasi, maka kecendrungan-kecendrungan ini harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh seorang pemimpin organisasi.

Murid-murid atau siswa-siswa sebagai manusia, makhluk sosial tidak terlepas dari kecendrungan-kecendrungan tersebut. Oleh karena itu seorang guru/wali kelas dalam usaha untuk menciptakan, memelihara dan meningkatkan disiplin kelas harus memperhatikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh seorang guru/wali kelas dalam mengambil suatu keputusan yang menyangkut kepentingan kelas, tanpa berunding dengan murid-murid, mengakibatkan keputusan-keputusan tersebut tidak dilaksanakan atau dipatuhi oleh murid-muridnya.

d.Faktor Lingkungan

Lingkungan kerja yang baik dan sehat dapat meningkatkan gairah kerja dan semangat kerja personil yang ada dalam suatu organisasi. Hal ini membawa pengaruh pula pada peningkatan disiplin kerja personil. Demikian pula lingkungan kerja yang kurang baik akan menurunkan semangat kerja dan gairah kerja suatu organisasi yang pada akhirnya juga akan menurunkan disiplin kerja.

Kelas yang lingkungan kerjanya sehat dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara murid dengan murid, guru dengan murid dan guru dengan guru akan meningkatkan disiplin belajar mengajar dikelas.

Selain itu lingkungan fisik yang baik, juga dapat meningkatkan disiplin kelas. Lingkungan fisik yang baik misalnya fasilitas kelas yang teratur dan tersusun rapi serta cukup. Kekurangan fasilitas untuk belajar dapat menimbulkan kemalasan yang pada akhirnya mempengaruhi disiplin kelas. Sebagai contoh misalnya seorang guru diserahi tugas untuk mengajar bidang studi biologi. Ternyata buku wajib untuk mengajarkan ilmu tersebut tidak ada, sedangkan guru tersebut hanya diberikan GBPP (Garis Besar Program Pengajaran) untuk bidang studi tersebut. Akibatnya guru tersebut selalu mencari bahan-bahan pelajaran tersebut sesuai dengan GBPP dari buku-buku lain yang materinya dipandang relevan dengan GBPP tersebut. Apabila guru tersebut kewalahan mencari bahan-bahan pelajaran tersebut, maka sudah barang tentu dia tidak akan masuk mengajar karena materi yang akan disampaikan tidak ada. Kalaupun guru tersebut mengajar, maka materi yang akan disampaikan kepada anak menyimpang dari ketentuan yang sudah digariskan dalam GBPP untuk bidang studi biologi tersebut.

4. Strategi Guru/Wali Kelas untuk menciptakan Disiplin Kelas

Telah diuraikan di atas bahwa disiplin kelas ini sangat penting sekali artinya dalam usaha untuk menciptakan tata tertib kelas agar proses belajar dapat berlangsung secara efektif. Kelas yang tidak berdisiplin sudah barang tentu aktivitas belajarnya tidak akan berlangsung secara efektif dan ketentuan yang telah digariskan tidak akan terlaksana. Kedisiplinan kelas tidaklah terjadi secara sendirinya, tetapi memerlukan usaha-usaha dari guru/wali kelas untuk menegakkannya.Adabeberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru/wali kelas untuk menegakkan disiplin kelas kepada murid.

a. Mendisiplinkan diri sendiri

Disiplin kelas dapat ditegakkan oleh guru/wali kelas dengan jalan memberikan contoh kepada muridnya dengan mendisiplinkan diri terlebih dahulu. Jadi sebelum guru/wali kelas menuntut kepada murid-muridnya untuk berdisiplin, maka terlebih dahulu guru/wali kelas mendisiplinkan dirinya terlebih dahulu sehingga dengan demikian murid-murid akan terdorong untuk berbuat yang sama. Apabila guru/wali kelasnya sendiri tidak disiplin, maka sangatlah mustahil untuk menyuruh anak-anak berdisiplin pula, sebab guru/wali kelasnya sendiri tidak disiplin.

Disiplin tersebut dapat dicontohkan oleh guru/wali kelas dengan mematuhi semua ketentuan kelas/sekolah. Misalnya menepati waktu belajar (memulai pelajaran tepat pada waktunya, istirahat tepat pada waktunya, selesai pelajaran pada waktunya dan sebagainya).

Apabila guru sendiri tidak mampu menegakkan disiplin sendiri maka ia tidak akan dihormati, disegani dan disenangi oleh murid-muridnya. Sehingga dengan demikian dia akan menjadi guru yang berwibawa.

b. Menumbuhkan kesadaran dalam diri murid-murid itu sendiri akan pentingnya makna atau arti dari pada disiplin itu sendiri

Cara lain yang dapat dilakukan oleh guru/wali kelas untuk menegakkan disiplin kepada murid-murid adalah dengan jalan menumbuhkan kesadaran murid-murid akan pentingnya disiplin itu sendiri buat mereka. Cara ini dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan berupa nasehat, petunjuk-petunjuk sehingga mereka benar-benar menyadari mengapa peraturan atau ketentuan tersebut harus dipatuhi demi untuk kepentingan mereka. Bimbingan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1)Bimbingan secara individual

2)Bimbingan secara kelompok

Bimbingan secara individual adalah bimbingan berupa nasehat-nasehat, petunjuk-petunjuk yang diberikan guru/wali kelas secara perorangan kepada murid yang melanggar ketentuan atau peraturan yang telah ditentukan.

Sedangkan bimbingan secara kelompok adalah bimbingan yang diberikan oleh guru/wali kelas berupa nasehat-nasehat, petunjuk-petunjuk terhadap sekelompok murid yang tidak mematuhi peraturan atau ketentuan kelas atau sekolah. Bimbingan kelompok ini hanya diberikan apabila terdapat sejumlah murid yang melanggar peraturan atau ketentuan yang sama. Misalnya saja terdapat sejumlah murid yang pulang sebelum pelajaran usai. Bagi anak-anak ini bimbingan yang tepat diberikan dalam usaha untuk menyadarkan mereka adalah bimbingan kelompok.

c. Mewujudkan kerjasama yang baik dalam suatu kelas

Disiplin kelas dapat pula diwujudkan dengan jalan saling menjalin kerjasama yang baik antara guru/wali kelas dengan murid-murid dalam kelas. Guru/wali kelas harus berusaha untuk membina saling pengertian dengan murid-muridnya akan tugas dan fungsi masing-masing, sehingga masing-masing pihak akan menjalankan perannya sesuai dengan posisi masing-masing dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama. Masing-masing pihak harus menyadari pentingnya peranan yang satu terhadap yang lain. Suksesnya pihak yang satu tergantung pada peran serta pihak yang lain.

Apabila kerjasama ini dapat dibina dengan sebaik-baiknya, maka dengan sendirinya disiplin kerja akan dapat ditegakkan.

d.Dalam mewujudkan disiplin kelas, setiap murid diperlakukan secara adil

Dalam usaha untuk menciptakan disiplin kelas sudah barang tentu kadang-kadang terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh murid-murid. Si murid yang melanggar kadang-kadang diberikan sanksi berupa hukuman atas pelanggaran tersebut. Apabila sanksi hendak diberikan, maka sanksi tersebut harus konsekwen artinya tidak membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Jangan anak yang satu diberikan sanksi yang lebih berat jika dibandingkan dengan anak yang lainnya, padahal pelanggaran yang dilakukan adalah sama.

C.Moral Kelas

Salah satu faktor yang juga berpengaruh didalam pengelolaan kelas adalah moral murid-murid di dalam belajar. Kelas yang moral belajarnya tinggi akan membawa pengaruh terhadap aktivitas murid-murid dan kelas akan menjadi produktif, sedangkan kelas yang moral belajarnya rendah akan mengakibatkan kelas menjadi tidak produktif dan kegiatan belajar dikelas tidak bersemangat. Kelas kelihatannya lesu dan akan membawa kecendrungan terhadap kurangnya disiplin murid-murid.

Sehubungan dengan itu dibawah ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan moral kelas tersebut.

1. Pengertian Moral Kelas

Menurut DR. Made Pidarta moral kelas adalah suatu keadaan dimana anggota-anggota kelas mengalami kepuasan yang bersumber dari situasi sekolah secara keseluruhan dan keadaan dimana anggota-anggota kelas bekerjasama dengan antusias dan serta melahirkan perasaan bersahabat.

Pendapat diatas menggambarkan bahwa tinggi rendahnya moral kelas dapat dilihat dari kepuasan yang dialami murid-murid yang disebabkan situasi dan kondisi secara keseluruhan. Dengan demikian situasi dan kondisi sekolah yang baik akan meningkatkan moral kelas dan demikian pula sebaliknya, situasi dan kondisi sekolah yang kurang baik akan menurunkan moral kelas. Selain dari pada itu tinggi rendahnya moral kelas dapat pula dilihat dari pada tidakadnya kerjasama serta perasaan bersahabat antara murid-murid dalam kelas. Tidak adanya kerjasama serta perasaan bersahabat dikalangan murid-murid dalam kelas dapat dilihat tidak adanya kesediaan saling bantu membantu antara murid dalam kegiatan belajar. Murid-murid yang satu selalu berusaha untuk menjatuhkan murid yang lain. Dengan kata lain tidak adanya persaingan yang sehat diantara murid-murid, tidak adanya perasaan kebersamaan dalam belajar.

Sehubungan dengan itu tentang moral, Alexander Leighten mengatakan “Morale is the capacity of group of people to pull together persistently and consistently in persuit of a common purpose”.

Moral diartikan sebagai suatu kemampuan atau kekuatan sekelompok orang untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dengan demikian tinggi rendahnya moral dapat ditunjukkan dari kerjasama yang dilakukan oleh anggota-angota kelompok dalam melaksanakan tugasnya masing-masing dalam usaha untuk mencapai tujuan bersama.

Bertolak dari pendapat diatas, maka moral kelas dapat diartikan sebagai suatu keadaan di dalam kelas yang menggambarkan adanya hubungan interpersonal yang harmonis dikalangan murid-murid yang ditunjukkan dengan adanya gejala-gejala berupa adanya kesediaan untuk saling membantu atau bekerjasama, loyalitas diantara murid-murid serta semangat kebersamaan dalam usaha belajar didalam maupun diluar kelas atau sekolah.

Dengan demikian keberhasilan murid-murid didalam belajar sangat dipengaruhi oleh moral kelas. Semakin tinggi moral kelas, maka semakin tinggi kecendrungan murid-murid untuk berhasil didalam belajar dan demikian pula sebaliknya, semakin rendah moral kelas, maka semakin rendah pula kecendrungan bagi murid-murid untuk berhasil belajar.

Berdasarkan asumsi diatas maka dituntut usaha guru/wali kelas untuk membangun, memelihara dan meningkatkan moral kelas.

2. Kondisi-Kondisi yang Mempengaruhi Moral Kerlas

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa keberhasilan murid-murid dalam belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh moral kelas. Oleh karena itu untuk membangun, memelihara dan meningkatkan moral belajar murid-murid, maka seorang guru/wali kelas harus mengetahui dan memahami kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi moral kelas. Kondisi-kondisi tersebut perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan sehingga dengan demikian akan meningkatkan moral belajar murid-murid dalam kelas. Kondisi-kondisi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kesatuan kelas

Kesatuan kelas adalah merupakan salah satu aspek yang dapat meningkatkan moral kelas. Oleh karena itu seorang guru/wali kelas harus menjaga, memelihara dan meningkatkan perasaan kebersamaan dikalangan murid-murid tersebut. Adanya perasaan saling bermusuhan, saling tidak menyenangi diantara murid-murid akan menurunkan moral belajar kelas.

Perasaan kurang bersahabat diantara murid-murid dapat terjadi bilamana guru dalam mengajar menggunakan metode yang menekankan kompetisi/persaingan diantara murid-murid. Ini akan menimbulkan kondisi negatif, dimana diantara murid-murid timbul perasaan kurang bersahabat dan mementingkan diri sendiri dalam belajar. Sehingga merusak rasa kebanggaan terhadap kelas. Masing-masing murid belajar hanya untuk keberhasilannya sendiri. Murid yang pandai enggan membantu murid yang kurang. Murid yang cukup fasilitas belajarnya tidak akan menolong murid yang kurang fasilitas belajarnya karena takut tersaingi.

b.Interaksi kelompok

Interaksi murid-murid didalam belajar juga dapat mempengaruhi moral belajar. Tidak adanya kerjasama antara murid-murid dalam belajar biasanya disebabkan karena murid-murid yang satu tidak menyenangi murid-murid yang lain. Akibatnya menurunkan aktivitas belajar murid-murid. Sebagai contoh misalnya seorang guru/wali kelas membantu kelompok-kelompok semaunya saja tanpa pertimbangan-pertimbangan tertentu guna kelancaran murid-murid, interaksi yang kurang baik dan kerjasama yang kurang sempurna diantara murid-murid. Selain itu juga murid-murid kurang puas terhadap tindakan guru yang demikian, sehingga tugas-tugas yang dibagikan tidak dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

c. Tujuan anggota yang bersifat biasa

Bilamana murid-murid belajar, hanya bertujuan untuk kepentingan sendiri, ini akan mengakibatkan menurunnya moral kelas. Karena situasi yang demikian menimbulkan kurangnya rasa kebersamaan dikalangan murid-murid, rasa saling membantu sehingga dengan demikian kelas akan menjadi kurang efektif dan produktif. Oleh karena itu guru/wali kelas harus mengatasi situasi yang demikian dengan cara membentuk kelompok-kelompok belajar sehingga rasa persahabatan dan kebersamaan serta kesetiakawanan dikalangan murid-murid dapat dipupuk dan dipelihara dalam rangka untuk mencapai keberhasilan bersama dikalangan murid dalam belajar.

d.Kelompok tidak membuat tujuan sendiri-sendiri

Seseorang mau bekerja, apabila mengetahui menfaat dan tujuannya. Demikian pula halnya dengan murid-murid. Bilamana murid-murid dalam belajar dikelompok-kelompokkan, maka tujuan dan tugas masing-masing kelompok harus dijelaskan dalam hubungannya dengan tujuan pendidikan. Sehingga dengan demikian anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif dalam menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain murid-murid akan bekerja dengan baik selalu, bila hal itu berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka.

e. Pengaruh lingkungan

Lingkungan sekolah atau kelas yang baik akan mempengaruhi moral kelas atau belajar murid-murid. Lingkungan yang baik tersebut berupa situasi dan kondisi sekolah misalnya lengkapnya sarana dan prasarana belajar, tenaga guru maupun tenaga administratif. Sedangkan lingkungan sekolah yang kurang baik akan menurunkan moral belajar murid-murid.

2. Strategi Guru /Wali Kelas Untuk Meningkatkan Moral Belajar Kelas

Berdasarkan kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi moral kelas sebagaimana yang diuraikan diatas, maka cara-cara yang dapat dilakukan oleh guru/wali kelas meningkatkan moral belajar murid-murid dikelas antara lain sebagai berikut:

a. Pembinaan Hubungan Manusiawi (Human Relations) di Kelas

Pembinaan hubungan manusiawi dalam kelas antara guru dengan murid sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan moral kelas dalam belajar. Dengan pembinaan hubungan yang manusiawi ini akan tumbuh sikap saling pengertian dan saling menghargai antara murid dan murid dan antara guru dan murid, sehingga masing-masing pihak akan dapat melaksanakan fungsinya masing-masing dalam proses belajar mengajar.

Dengan terjalinnya sikap saling pengertian akan tanggung jawab dan fungsi masing-masing ini akan meningkatkan moral belajar murid-murid dan disamping itu pula guru akan merasa puas pula dalam melaksanakan tugasnya, sehingga dengan demikian akan meningkatkan prestasi belajar murid-murid.

Menurut SP. Siagian yang dimaksud dengan Human Relations adalah keseluruhan hubungan baik yang formil maupun yang informil yang perlu diciptakan dan dibina dalam suatu organisasi sedemikian rupa sehingga terciptanya suatu team work yang intim dan harmonis dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

Dari pendapat diatas jelas bahwa yang terkandung dalam pengertian Human Relations adalah:

1)Human Relations dalam suatu organisasi adalah merupakan kegiatan pembinaan hubungan antara personal-personal dalam kegiatan organisasi tersebut baik secara formal maupun informal.

2)Pembinaan hubungan tersebut dimaksudkan untuk membina saling pengertian antara personal-personal dalam suatu organisasi, rasa solidaritas dan tangung jawab bersama sehingga dengan demikian diharapkan akan tercipta kerjasama yang baik dalam melaksanakan tugas masing-masing didalam suatu organisasi, dalam rangka mencapai tujuan organisasi tersebut.

Berkenaan dengan kelas sebagai suatu organisasi yang merupakan sub-sistem daripada organisasi sekolah maka human relations tersebut dapat diartikan sebagai segenap kegiatan yang dilakukan oleh guru/wali kelas dalam membina hubungan yang harmonis dengan murid-murid secara formal maupun informal dengan maksud agar masing-masing pihak dapat melaksanakan fungsi masing-masing dalam kegiatan proses belajar mengajar didalam kelas.

Berdasarkan pengertian diatas, maka kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan lancar apabila hubungan manusiawi antara guru dengan maupun murid dengan murid terbina dengan baik. Tanpa adanya hubungan manusiawi diantara mereka proses belajar mengajar tidak akan dapat berlangsung sesuai dengan harapan masing-masing. Sebagai contoh apabila misalnya murid-murid tidak menyenangi guru-gurunya, maka hasil belajar murid-murid akan menurun karena murid enggan belajar disebabkan tidak senang kepada gurunya. Demikian pula sebaliknya apabila guru tidak senang kepada muridnya karena sikap murid-murid yang tidak menghargai gurunya, sehinga guru tersebut enggan untuk mengajar karena sikap murid-murid tersebut.

b. Mengkoordinasikan, Mengintegrasikan dan Mensinkronisasikan Tujuan Masing-Masing Murid dalam Belajar

Murid-murid yang aktif belajar hanya untuk kepentingannya sendiri dalam arti tidak mau belajar bersama-sama dengan temannya karena merasa dirinya pandai atau enggan belajar bersama-sama, maka hal ini perlu diiliminir oleh guru/wali kelas sebab hal ini akan menimbulkan hubungan interpersonal  yang kurang baik dikalangan murid-murid dalam kelas. Oleh karena itu guru/wali kelas harus memperbaiki kondisi seperti ini dengan jalan mengkoordinasikan, mengintegrasikan dan mensinkronisasikan tujuan masing-masing murid tersebut kedalam tujuan kelompok. Usaha ini dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan kepada murid-murid bahwa keberhasilan mereka dalam belajar akan lebih baik dicapai dengan belajar bersama jika dibandingkan belajar sendiri-sendiri. Guru harus mengusahakan untuk membentuk suatu kelompok belajar dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi murid-murid, sehingga kelompok tersebut benar-benar efektif dan produktif. Dengan demikian murid-murid akan belajar dengan saling bantu membantu untuk keberhasilan bersama. Selain dari pada itu juga akan terbina sikap saling harga menghargai dikalangan murid-murid terhadap teman-temannya.

c. Melengkapi Sarana dan Prasarana Pendidikan

Untuk lebih mendorong minat dan semangat murid-murid untuk giat belajar, maka sarana dan prasarana pendidikan perlu dilengkapi. Misalnya saja ruang perpustakaan, ruang laboratorium dan lain-lain. Hal ini sangat penting sekali artinya untuk memotivasikan murid-murid untuk lebih giat belajar, berinisiatif dan kreatif. Sebab apa yang mereka inginkan dalam kaitannya untuk kepentingan belajar dapat mereka pelajari dan penuhi. Sebagai contoh misalnya untuk memperjelas pemahaman mereka tentang materi/bahan pelajaran yang akan dijelaskan oleh guru, mereka dapat mencari dan membaca buku-buku yang ada diperpustakaan yang berhubungan dengan apa yang disampaikan atau dijelaskan oleh guru tersebut.

Demikianlah antara lain beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh guru/wali kelas dalam rangka untuk meningkatkan moral belajar murid-murid di dalam kelas.

Tulisan ini dipublikasikan di Publikasi. Tandai permalink.

3 Balasan ke Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pengelolaan Kleas

  1. widiagroup berkata:

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://joinkerjaonline.blogspot.com/

  2. nindi nida berkata:

    ini sumbernya dari buku mana ? (daftar pustaka)
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s