Pembelajaran Portofolio


A. Teori Belajar yang Mendasari Pembelajaran Berbasis Portofolio

Dasar dari pengembangan model pembelajaran berbasis portofolio adalah teori belajar konstruksionisme, yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa siswa membentuk atau membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungannya.

Prinsip yang paling umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme, bahwa dalam merancang pembelajaran adalah  siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah ( kelas ).  Penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran adalah menempatan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran. Sebagai contoh issue atau masalah yang muncul digunakan sebagai dasar pembahasan, diskusi dan investigasi kegiatan di dalam atau di luar kelas. Dengan mengadakan diskusi atau mendengar pendapat orang lain seseorang membentuk pengetahuan atau mengubah pengetahuan sebelumnya yang telah dimilikinya. Seseorang dapat mengkonstruksi dan merekonstruksi pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya.

Melalui proses pembelajaran seperti ini, pengetahuan dapat diterima dan tersimpan dengan baik, karena pengetahuan tersebut masuk otak setelah melalui proses masuk akal. Yang tidak masuk akan dikesampingkan. Karena tersimpan secara mendalam meski pernah lupa, pengetahuan tersebut mudah untuk dipelajari kembali, Lagi pula karena materi tersebut dipahami dengan baik, maka materi tersebut sewaktu-waktu dapat digunakan dalam situasi baru  yang berlainan dari situasi proses pembelajaran.

Pembelajaran berbasis portofolio memungkinkan siswa untuk :

1. Berlatih memadukan antara konsep yang diperoleh dari penjelasan guru atau dari buku/bacaan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Siswa diberi kesempatan untuk mencarti infromasi di luar kelas, baik informasi yang sifatnya benda/bacaan, penglihatan ( obyek langsung, TV/radio/internet ) maupun orang/pakar/tokoh.

3. Membuat alternatif untuk mengatasi topik/objek yang dibahas

4. Membuat suatu keputusan ( sesuai kemampuannya ) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di masyarakat

.5. Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dam mencegah timbulnya masalah yang berkaitan denghan topik yang dibahas.

Pembelajaran berbasis portofolio seperti di atas, memberikan keragaman sumber belajar  dan dapat mengembangkan berbagai keterampilan belajar siswa serta dapat mengembangkan kemampuan belajar yang meliputi kemampuan cognitive, affective dan psycho motor siswa.

B. Pengertian Portopolio

Portopolio berasalal dari bahsa Inggris “ portfolio “ yang artinya dokumen atau surat-surat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio di sini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio. Biasanya portofolio merupakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisikan karya terpilih dari satu kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperaif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji.

Setiap portopolio harus memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa  dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang paling penting untuk ditampilkan.Tampilan portofolio berupa tampilan visual dan audio yang disusun secara sistimatis, melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan  “ integrated learning experiences “ atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami siswa dalam kelas sebagau suatu kesatuan.

Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekpresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok.Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar sehingga memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam pekerjaannya/tugas-tugasnya.

C. Strategi dan Metode Pembelajaran Portofolio

Strategi pembelajaran portofolio mencakup langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat

2.Memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas

3. Mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji

4. Membuat portofolio kelas

5. Menyajikan portofolio/dengan pendapat ( Show case )

6. Melakukan refleksi pengalaman belajar

Di dalam setiap langkah, siswa belajar mandiri dan kelompok kecil dengan fasilitas dari guru dan menggunakan ragam sumber belajar di sekolah maupun di luar sekolah.

Sumber belajar atau informasi dapat diperoleh dari :

1. Manusia( pakar, tokoh agama,tokoh masyarakat, dan lain-lain )

2. Kantor penerbitan surat kabar, bahan tertulis

3. Bahan terekam

4. Bahan tersiar ( TV, radio )

5. Alam sekitar

6. Situs sejarah, artifak dan lain-lain.

Disitulah berbagai keterampilan belajar siswa dikembangkan seperti membaca, mendengar pendapat orang lain, bertanya mencatat, menjelaskan, memilih, menimbang, mengkaji, merancang, menyepakati, merumuskan, memilih pimpinan, membagi tugas, berargumentasi dan lain-lain.

Berbagai metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran portofolio, seperti metode inquiri, diskusi, pemecahan masalah, E-Learning, teknik clarifikasi nilai atau VCT ( value Clarification Tehnique ), bermain peran. Strategi pembelajaran ini dapat dilakukan denga berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan daya kreativitas guru.

1. Metode Inkuiri

Metode ini memiliki keunggulan terutama unutk mengembangkan kemampouan berpikir maupun pengetahuan, sikap dan nila pada peserta didik dibandingkan dengan metode konvensional. Bruner menyebutkan model pembelajaran inkuiri dengan isgtilah discovery learning.Menurutnya cara belajar terbaik adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan kesimpulan. Mengajar sesuatu tidak perlu menunggu sampai anak mencapai tahap perkembangan tertentu. Mengatur bahan pelajaran yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya, dapat meningkatkan pewrkembangan kognitif siswa. Materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar samnpa Perguruan Tinggi disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitifmereka.

Apa yang diekmukakan Bruner sesuai dengan pembelajaran inquiri yang memperkenalkan konsep-konsep unutk siswa secara induktif. Be;lajar dengan memggunakan pendekatan induktif mencakup proses berpikir dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum, dimulai dengan upaya guru memperkenalkan sejumah contoh konsep yang sepesifik. Dengan demikian pembelajaran inquiri dapat dianggap sebagai suatu latiham  dalam memperoleh pengartahuan. Siswa diberi pertanyaan untuk mengembangkan  kesimpulan berdasarkan pertimbangan bukti-bukti yang telah dimilikinya.

Prosedur penggunaan model ini dapat dilakukan guru secara sederhana yaitu dengan memberilan sejumlah pertanyaan atau pernyataan kepada siswa. Selanjutnya siswa ditiugasi untuk menjawab dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Dalam mennjawab pertanyaan ataupun pernyataan tersebiut siswa perlu mengadakan suatu pencarian sebagai bukti bahwa jawaban yang mereka berikan adalah benar. Bukti-bukti itulah yang akan dijadikan sebagai porto folio yang berisi kumpulan dokumen berupa data yang diperoleh siswa dari berbagai sumber belajarbaik dari buku atau media cetak, elektronik maupun bersumber dari manusia

2. Metode E- Learning

E Learning ( Electronic Learning) yaitu kegiatan pembelajaran melalui perangkat elektronik computer yang tersambung ke enternet, dimana peserta didik berupaya unutk memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Pesrta didik dapat mencari dan menemukan informasi yang diperlukan dari sdemikian banyak sumber informasi  dengan cara efektif dan efisien.

Dengan strategi ini dimaksudakan unutk mengubah paradigma pendidikan dari perolehan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang konstan setelah selesai mengikuti pendidikan menjadi paradigm pengetahuan dan keterampilan yang selalu dapat diperbaharui dalam waktu singkat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemajuan sains dan teknologi, membanjirinya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, masuknya budaya asing dan infrormasi lainnya yang ada dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Yang dituntut dalam pelajaran ini bukan hanya konsep yang dipelajari dalam kelas tetapi diperlukan adanya pengembangan dari konsep yang dapat diperoleh peserta didik melalui alat electronic yaitu internet. Dengan bahan-bahan yang telah diperoleh, siswa dapat lebih banyak mendapatkan berbagai informasi yang berkaiatan dengan konsep yang dipelajari, mengembangkannya dari berbagai sudut pandang, dan akhirnya dapat membangun penbetahuannya dengan lebih sempurna.

Penerapan metode ini antara lain dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa unutk mencari informasi yang berkaitan dengan kompetensi dasar/topic yang sedang dipelajari/dibahas dan selanjutnya siswa mempersentaikan hasil pencarian tersebut di kelas. Kumpulan informasi yang ditemukan siswa itulah portofolio.

3. Metode VCT ( Value Clarification Tehnique )

VCT ( Value Clarification Tehnique ) merupakan tehnik atau cara mengungkapkan nilai. Nilai-nilai dimaksud adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu pokok bahasan, cerita, nyanyian/lagu, peristiwa/kejadian, tempat, perbuatan atau prilaku dan sebagainya.

Model ini dapat dilakukan guru dengan cara :

a.Siswa diberi tugas untuk mencari sesuatu yang dapat dianalisa, seperti cerita, hasil reportasi/liputan, mengamati secara akurat/seksama atas suatu kejadian, cerita tidak selesai dan harus diselesaikan, selanjutnya menganalisa nilai-nilai tersebut. Hasil analisa dikumpulkan sehingga menjadi portofolio.

b. Guru menyiapkan daftar baik-buruk, daftar tingkat urutan, daftar skal perioritas, daftar gejala kontinum ( yang terus menerus ), daftar penilaian diri sendiri dan daftar membaca perkiraan orang lain gterhadap kita.Siswa diminta untuk menjawab dalam kertas-kertas yang akhirnya dikumpulkan oleh guru sebagai portofolio siswa.

Portofolio sebagai model pembelajaran terbagi dalam dua bagian yakni :

a. Portofolio tayangan ( tampilan )

Portofolio tayangan pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi ( bujur sangkar ) berjajar dan dapat berdiri sendir tanpa penyangga. Namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain seperti : segi tiga sama sisi, lingkaran, oval dan sebagainya sesuai daya kreativitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif.Portofolio tayangan berukuran kurang lebih 100 Cm untuk bujur sangkar dan bnetuk lainnya menyesuaikan; terbuat dari kardus/papan/gabus/steroform atau bahan lainnya. Perlu diperhatikan dalam memilih bahan hendaknya memperhitungkan kekuatan/keawetannya sehingga tidak mudah rusak.

b. Portofolio dokumentasi

Portofolio dokumentasi berisi kumpulan bahan-bahan terpilih yang dapat diperoleh siswa dari literature/buku, kliping dari Koran/majalah, hasil wawancara dari berbagai sumber, Radio/TV, foto, gambar, grafik, petikan dari sejumlah publikasi pemerintah/swasta, kebijakan dari pemerintah, observasi lapangan dan lain-lain.Pada pronsipnya portofolio dokumentasi merupakan bukti telah dilaksanakan penelitian.

Kumpulan bahan-bahan tersebut dikemas dalam map ordner atau sejenisnya yang disusun secara sistimatis mengikuti langkah-langkah /urutan portofolio tayangan, yaitu map ordner 1 berisi penjelasan masalah,map ordner 2 berisi kebijakan-kebijakan alternative untuk mengatasi masalah, map ordner 3 berisi satu kebijakan alternatif unutk mengatasi masalah, map ordner 4 berisi rencana tindakan yang akan dilakukan oleh kelompok berdasarkan kedepakatan kelas.

Manfaat dari Portofolio dokumentasi selain sebagai bukti telah melaksanakan penelitian, juga dimaksudkan unutk mendukung dan melengkapi portofolio tayangan, karena tak semua bahan dapat dituangkan pada portofolio tayangan.

Portofolio tayanagn dan dokumentasi ini, disajikan dalan simulasi/dengar pendapat ( public hearning )dalam acara “ Show case “ ( gelar kemampuan atau gelas kasus ) di dalam kelas dengan bimbingan guru yang bersangkutan. Setelah acara “ Show case “ yangh dilaksanakan dalam kelas, dengan bimbingan guru diadakan kegiatan “refleksi “ yang bertujuan untuk secarfa individu dan bersama-sama merenungkan dan mengendapkan dampak perjalanan panjang proses belajar bagi perkembangan pribasi siswa sebagai warganegara.

Tulisan ini dipublikasikan di Publikasi. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s