Melaksanakan Program Belajar Mengajar


A. Arti Interaksi Belajar Mengajar

Mengajar dewasa ini tidak hanya diartikan sebagai wujud kegiatan yang dilakukan oleh guru di muka kelas, tetapi juga kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum mengajar seperti pembuatan persiapan mengajar dan kegiatan yang dilakukan oleh guru setelah proses mengajar seperti mengadakan evaluasi. Dengan demikian mengajar merupakan suatu proses dimulai dari persiapan, pelaksanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Disamping itu pengertian mengajar bukan hanya berwujud proses kegiatan mengajar tetapi juga proses kegiatan belajar. Dengan demikian di dalam setiap mengajar selalu terdapat dua proses kegiatan itu :

1. Proses kegiatan dari siswa yang berwujut proses kegiatan belajar

2. Proses kegiatan dari guru berwujut proses kegiatan mengajar.

Di dalam proses mengajar, terjadi interaksi belajar mengajar, guru menyampaikan bahan pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku yang berorientasi kepada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan menggunakan metode dan media tertentu untuk memudahkan siswa di dalam menerima dan memahami apa yang disampaikan oleh guru. Selanjutnya melakukan evaluasi untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa telah memahami bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Di dalam proses belajar siswa  melakukan aktivitas fisik dan psychologis . Aktivitas fisik seperti mendengar, melihat, membaca, dan menulis bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru dalam situasi pengajaran tertentu. Aktivitas psychologis seperti mengingat, memahami, mengemukakan pendapat, menganalisis, menyimpulkan dan menilai.

B. Komponen Komponen dalam Interaksi Belajar Mengajar

Berdasarkan uraian di atas, maka apabila  kita analisa bahwa dalam setiap proses interaksi belajar mengajar terdapat komponen-komponen sebagai berikut : a) Tujuan yang jelas akan dicapai; b) Bahan yang menjadi isi interaksi; c) Pelajar atau siswa yang aktif mengalami; d) Guru yang melaksanakan; e) Metode yang digunakan unutk mencapai tujuan; f) Situasi yang subur, yang memungkinkan proses interaksi berlangsung dengan baik; g) Penilaian terhadap keberhasilan interaksi belajar mengajar.

Komponen komponen tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, tanpa menimbulkan kepincangan dalam interaksi belajar mengajar. Misalnya saja proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan tanpa tujuan, tanpa guru atau pelajar. Untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien diperlukan metode-metode dan sarana mengajar yang tepat. Agar proses belajar dapat berlangsung secara baik, diperlukan situasi mengajar yang baik pula dan selain dari pada itu diperlukan pula penilaian untuk mengetahui sejauh mana tujuan diharapkan telah tercapai. Dengan kata lain untuk melaksanakan proses interaksi belajar mengajar kita harus memahami : 1) Tujuan ( guna menjawab materi yang mana ); 2) Bahan ( dengan materi yang mana ); 3) Pelajar atau siswa ( ditujukan kepada siapa ); 4) Guru ( diselenggarakan oleh siapa ); 5) Metode ( bagaimana caranya ); 6) Situasi ( dalam keadaan bagaimana ); 7) Evaluasi ( bagaimana hasilnya )

C. Komunikasi Guru – Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar

Interkasi belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa yang dilakukan secara sadar, sistimatis dan terencana. Interaksi belajar mengajar dilakukan secara sadar  artinya bahwa proses komunikasi itu dilakukan dengan sengaja yaitu dengan melakukan aktivitas :

1.  Merumuskan tujuan pembelajaranyang akan dicapai dalam proses mengajar

2. Menyiapkan bahan pelajaran yang disampaikan sesuai dengan tuntutan kurikulum

3.   Memilih metode yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran

4. Memilih media pengajaran yang sesuai dengan bahan pelajaran yang  disampaikan

5. Menyusun evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar

Agar aktivitas itu dapat dilaksanakan secara efektif, selanjutnya disusun dalam program satuan pelajaran yang akan menjadi acuan guru di dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Interaksi belajar mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistimatis artinya kegiatan itu dilakukan menurut urutan langkah langkah tertentu dimulai dari persiapan, penyampaian bahan pelajaran, pelaksanaan dan diakhiri dengan penutupan pelajaran. Urutan langkah-langkah dalam mengajar itu, juga disusun dalam program satuan pengajaran.

Pada umumnya penyajian bahan pelajaran dalam suatu proses interaksi belajar mengajar menempuh tiga fase  yaitu :

  1. Fase pendahuluan (  a warming up phase )
  2. Fase menghasilkan ( a phase of  full out – put )
  3. Fase penurunan  ( a slowing – down Phase )

Fase pertama, yaitu fase pendahuluan dimaksudkan untuk penyusunan mental set yang favourable  guna penyajian bahan pelajaran. Dalam penyusunan mental set ini pelaksanaannya dengan mengadakan rekapitulasi bahan pelajaran yang disajikan untuk menyambut bahan pelajaran yang baru yaitu dengan menjelaskan tujuan penyajian bahan dan sebagainya.Sedangkan waktu yang digunakan pada phase ini tidak berlangsung lama.

Fase Kedua, yaitu fase menghasilkan yaitu siswa-siswa mulai mengkonsentrasikan perhatiannya. Pada fase ini bahan pelajaran baru merupakan kesatuan bahan pelajaran yang diajarkan atau disajikan. Dalam fase ini metode mengajar digunakan. Konsentrasi perhatian siswa-siswa tetap, tetapi menunjukan konsentrasi perhatian yang mantap. Adakalanya perhatian siswa mengendor, kemudian menjadi tegang. Dapat pula dikatakan perhatian siswa berfluktuasi sesuai dengan bahan yang disajikan dengan metode mengajar yang digunakan. Ini disebabkan karena kebosanan, kelelahan dan sebagainya. Dalam keadaan demikian perhatian tidak dalam keadaan semula.

Fase ketiga, yaitu fase penurunan konsentrasi perhatian berlangsung perlahan-lahan. Ini berarti bahwa penyajian bahan pelajaran dengan menggunakan suatu metode mengajar secara berangsur-angsur perlu diakhiri. Pada akhir suatu penyajian bahan pelajaran pada umumnya konsentrasi perhatian siswa sudah mulai menurun. Menurunnya konsentrasi siswa disebabkan kelelahan mental. Menurut Thorndike, tokoh psikologi dari Amerika, mengemukakan bahwa ada dua sebab terjadinya kelelahan mental yaitu :

  1. Substructie yaitu berkurangnya energi
  2. Additie yaitu bertambahnya reaksi instinktif  yang dierimanya.

Pada waktu siswa mengadakan konsentrasi terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru, banyak reaksi instinktif yang ditahan. Misalnya ingin berdiri, ingin bercakap-cakap, ingin berjalan dan sebagainya.Ini tidak semua dilaksanakan karena mengadakan perhatian. Makin lama dalam mengadakan konsentrasi, perhatian bertambah, makin kuat reaksi instinktif yang direm menyebabkan enerji berkurang dam akhirnya menimbulkan kelelahan mental.

Mengajar merupakan kegiatan terprogram. Ini berarti dalam menyampaikan bahan pelajaran, guru menyusun rencana pengajaran yang disesuaikan dengan jam mengajar per minggu dan target waktu yang dibutuhkan unutk menyelesaikan keseluruhan bahan pelajaran. Sehubungan dengan itu ada dua program pengajaran yaitu program satuan pelajaran, program semester.

Program satuan pelajaran yaitu program pengajaran yang disusun oleh guru pada waktu akan tampil mengajar di kelas. Program semester yaitu program pengajaran yang disusun oleh guru untuk jangka waktu enam bulan yang berisikan jumlah frekwensi pertemuan guru siswa dan pokok bahasan pelajaran yang harus diselesaikan.

D. Fungsi dan Peranan Guru dalam Kelas

Menurut teori Construktivism yang dikembangkan oleh Von Glasserfeld, pembentukan pengetahuan seseorang dilakukan sendiri oleh orang itu dan bukan oleh guru, sehingga para guru hanya bisa mendorong para siswa agar aktif dalam pembelajaran untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Dorongan para guru sangat memicu dan memacu para siswa aktif dan giat belajar.

Fungsi guru dalam kelas bukan mengajari namun kehadiran guru membuat siswa belajar sehingga fungsi guru di kelas sekurang kurangnya mecakup empat fungsi yang harus difahami oleh guru  yaitu :

1. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kereatif menciptakan berbagai kiat dan model penyampaian materi pembelajaran, membuat suasana pembelajaran menjadi menarik.

2. Mmbangkitkan motivasi para siswa agar lebih aktif dan giat dalam belajar.

3. Mengatur dan memberikan kemudahan dalam pembelajaran dan siswa yang aktif sebagai pelaku belajar.

4. Memimpin pembelajaran,  di samping memimpin juga sebagai tempat betanya dari para siswa.

Guru dengan melakukan fungsi seperti ini akan medorong siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa tersebut akan meningkatkan mutu pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Siswa diajak dan ditekankan kepada learning how to learn. Pemahaman ini akan sangat mendorong para siswa terus mencari ilmu pengetahuan sehingga dapat terbentuk long life learning.

Dalam Standar Nasional Pendidikan ( SNP ) pasal 28 dikemukakan bahwa pendidik sebagai agen pembelajaran harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi, sehat jasmani dan rohanai, serta memiliki kemampuan untuk menwujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya dalam penjelasan dikemukakan bahwa“ yang dimaksud pendidik sebagai agen pembelajaran adalah peran pendidik antara lain sebagai fasiliator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik “.

Sebagai fasilitator  maka tugas guru tidak hanya memyampaikan informasi kepada siswa, tetapi juga bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh siswa, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Untuk kepentingan tersebut perlu dikondisikan lingkungan belajar yang kondusif dan menantang rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung secara egfektif.

Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki tujuh sikap sebagai berikut :

1. Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya atau kurang terbuka.

2. Dapat  lebih mendengarkan siswa terutama entang aspirasi dan perasaannya.

3. Mau dan mampu menerima ide siswa yang inovatif, dan kreatif, bahkan yang sulit sekalipun.

4.  Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan siswa seperti  halnya terhadap bahan pelajaran.

5. Dapat menerima balikan baik yang sifatnya positif maupun negative dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif gterhadap diri dan perilakunya.

6. Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat siswa selama proses pembelajaran  dan

7. Menghargai siswa meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya.

Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran,karena siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Guru sebagai motivator, maka fungsi guru adalah memberikan surport kepada siswa-siswa agar belajar dengan sungguh-sungguh demi masa depannya. Guru memberikan  penguat baik yang bersifat positif ( Positive Reinforcement ) maupun yang bersifat negatif ( Negative Reinforcement ). Penguat positif berupa pemberian pujian dan hadiah terhadap siswa.  Siswa yang berprestasi baik diberikan hadiah sebagai penghargaan atas usahanya. Sedangkan siswa yang berprilaku baik diberikan pujian, sehingga dengan demikian pada diri siswa tertanam nilai prilaku untuk berbuat baik. Penguat negative berupa hukuman ( Punishment ) ataupun pembatalan terhadap sesuatu yang telah diberikan ( Ekstention ). Bilamana siswa melakukan prilaku-prilaku yang menyimpang dalam belajar  seperti menyontek, tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, maka guru perlu memberikan hukuman agar prilaku seperti itu tidak diulangi lagi.Sedangkan pembatalan adalah penarikan kembali suatu penghargaan atau keputusan yang telah diberikan kepada siswa karena mengetahui apa yang dilakukan oleh siswa tersebut ternyata tidak benar. Sebagai contoh misalnya membatalkan hasil ujian yang telah diumumkan karena mengetahui bahwa ternyata siswa bekerja sama dalam menjawab soal ujian tersebut.

Sebagai pemicu, guru harus mampu melipatgandakan potensi siswa dan mengembangkannya sesuai dengan aspirasi dan cita-cita mereka di masa yang akan datang. Hal ini sangat penting karena guru sangat berperan dalam membantu perkembangan siswa untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.

Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki siswa tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan  siswa secara individual karena antara satu siswa dengan siswa yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Sehingga dalam memberikan bantuan memerlukan penanganan yang berbeda.

Dalam mengembangkan potensi dan kemampuan siswa dalam kegiatan belajar mengajar melalui penyampaian meteri pembelajaran, guru harus mampu menyampaikan  materi pelajaran secara jelas dan dapat difahami oleh siswa. Untuk itu terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran sebagai berikut :

1. Membuat ilustrasi : pada dasarnya ilustrasi menguhungkan sesuatu yang sedang dipelajari siswa dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman kepada metreka.

2. Mendifinisikan : meletakan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana, dengan menggunakan latihan dan pengalaman serta pengertian yang dimiliki siswa.

3. Menganalisa : membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian

4. Mensentisis : mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti, hubungan bagian yang satu dengan yang lain nampak jelas, dan setiap maslah itu tetap berhubungan dengan kseluruhan yang lebih besar.

5.  Bertanya : mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan tajam agar pa yang dipelajari menjadi lebih jelas.

6. Merespon : mereaksi dan menanggapi pertanyaan siswa. Pembelajaran akan lebih efektif, jika guru dapat merespon setiap pertanyaan siswa.

7  Mendengarkan : memahami siswa, dan berusaha menyederhanakan setiap masalah, serta membuat  kesulitan nampak jelas baik bagi guru mayupun siswa.

8. Menciptakan kepercayaan : siswa akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.

9.  Memberikan pandangan yang bervariasi : melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang dan melihat masalah dalam kobinasi yang bervariasi.

10. Menyediakan media untuk mengkaji materi standar : memberikan pengalaman yang bervariasi melalui media pembelajaran dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi standar.

11. Menyesuaikan metode pembelajaran : menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa serta mengubungkan materi baru dengan sesuatu yang telah dipelajari.

12. Memberikan nada perasaan : membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan hidup melalui antusias dan semangat.

Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi siswa, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan dan ide-ide baru.

Sebagai pemberi inspirasi, guru dapat memerankan diri sebagai pembawa cerita. Dengan cerita-cerita yang menarik diharapkan dapat membangkitkan berbagai inspirasii siswa.

Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan innstrumen pengukur. Dengan cerita manusia bisa  mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain yang bisa disesuaikan dengan kehidupan mereka, belajar untuk menghargai kehidupan sendiri setelah membandingkan dengan apa yang telah mereka baca tentang kehidupan manusia di masa lalu.Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.

Sebagai pendengar siswa dapat mengidentifikasi watak-watak pelaku yang ada dalam cerita, dapat secara obyektif menganalisa, menilai manusia, kejadian-kjadian dan pikiran-pikiran. Siswa dapat menjadikan tokoh-tokoh dalam cerita sebagai idiola yang menjadi pendorong baginya untuk mengejarnya mimpi-mimpinya,untuk mengapai cita-citanya.       

E. Memonitor proses belajar siswa

Agar proses belajar siswa dapat berjalan dengan baik dan lancar,maka guru arus mampu memonitor pelaksanaan kegiatan belajar siswa baik di sekolah maun di rumah. Dampak dari kegiatan  diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat.  Sehubungan dengan itu,  maka peranan  guru di sekolah adalah sebagai supervisor dan evaluator dalam  proses belajar siswa di sekolah.

Guru sebagai supervisor maka fungsi guru adalah mengontrol prilaku-prilaku siswa agar tidak menyimpang dari aturan aturan dalam belajar atau sekolah. Bilamana prilaku siswa menyimpang dari aturan-aturan sekolah maka siswa tersebut perlu diberikan nasehat-nasehat dan arahan-arahan agar tidak melakukan hal seperti itu lagi. Sebagai contoh misalnya siswa sering tidak masuk sekolah,tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, maka siswa tersebut perlu dipanggil dan ditanyakan sebab-sebabnya selanjutnya diarahkan agar tidak melakukan perbuatan seperti itu lagi, sehingga dengan demikian siswa diharapkan kembali pada proses pembelajar yang benar.

Guru sebagai evaluator, maka fungsi guru adalah menilai perkembangan hasil belajar siswa. Guru karena tanggung jawabnya berkewajiban untuk  mengetahui perkembangan belajar  siswa melalui proses penilaian, sehingga siswa yang belum berhasil, perlu dibantu dan dicari  cara-cara yang tepat dalam mengatasi kesulitan belajarnya sehingga hasil belajar mereka meningkat. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa bisa berasal dari kemampuan akademiknya seperti lamban dalam menangkap pelajaran, dan bisa juga berasal dari cara-cara mengajar guru yang kurang profesional. Hasil belajar siswa rendah mungkin disebabkan strategi dan metode mengajar guru yang kurang tepat. Guru dalam mengajar tidak memberikan contoh-contoh yang kongrit  yang mudah difahami oleh siswa misalnya contoh yang berasal dari kehidupan siswa sehari-hari. Guru mengajar tidak menggunakan alat peraga atau media yang tidak sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.  Guru tidak memberikan latihan atau pekerjaan rumah kepada siswa baik dalam bentuk tugas individual maupun tugas kelompok untuk mendorong siswa belajar mendalami materi pelajaran  yang sudah disampaikan oleh guru di kelas.

Guru bisa mengevaluasi ketidak berhasilan siswa dalam belajar melalui kegagalannya dalam menerapkan startegi dan metode mengajar dikelas melalui proses indentifikasi masalah yang dirasakan oleh guru melalui refleksi diri sepanjang proses pembelajaran yang dilakukannya di kelas.Berdasarkan evaluasi diri ini guru dapat memperbaiki  program pembelajaran yang dirancangnya dan menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas. Guru dapat melakukan evaluasi kembali apakah program pembelajaran yang sudah diperbaikinya dan dilaksanakannya di kelas itu telah berhasil, melalui hasil evaluasinya terhadap kemajuan belajar siswa.

Bilamana guru mampu menjalankan fungsinya, sebagaimana diuraikan di atas, maka dapatlah diharapkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di sekolah akan mampu menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi,  educated dan bermoral.

Tulisan ini dipublikasikan di Publikasi. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s