PENYUSUNAN BAHAN PEMBELAJARAN

A. Pentingnya Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran merupakan komponen penting yang harus dipersiapkan guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Kelengkapan bahan pembelajaran akan membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Lebih dari itu, bahan pembelajaran merupakan komponen yang sangat menentukan bagi tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran.
Bahan pembelajaran yang lengkap dan disusun secara sistematis dapat menciptakan proses belajar dan pembelajaran yang efektif dan efisien. Kualitas bahan pembelajaran juga merupakan salah satu faktor penentu bagi proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu bahan ajar merupakan suatu unsur yang sangat penting yang harus mendapat perhatian guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran di dalam kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai.
Guru sebagai pelaksana pendidikan atau proses belajar dan pembelajaran dituntut untuk mampu membuat bahan pembelajaran yang berkualitas. Bahan pembelajaran berkualitas dimaksud adalah bahan pembelajaran dapat menjawab permasalahan serta memenuhi kebutuhan siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu, bahan pembelajaran hendaknya dapat memberikan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap yang harus dipelajari siswa untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Mempersiapkan dan membuat bahan pembelajaran tentu saja bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahan pembelajaran tersebut merupakan ramuan yang menentukan kompetensi yang akan dicapai dan dimiliki peserta didik di akhir kegiatan atau setelah berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran.

B. Perbedaan Bahan Pembelajaran dengan Buku Teks
Secara umum dapat dilihat adanya perbedaan yang jelas antara bahan pembelajaran dan buku teks ditinjau dari penggunaan maupun tujuan penyusunannya. Bahan pembelajaran merupakan materi atau sumber informasi yang dirancang dan disusun secara sistematis untuk dipergunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran, sementara buku teks adalah sumber informasi yang disusun dengan urutan atau struktur berdasar bidang ilmu tertentu.
Gintings (2008) mengemukakan perbedaan antara bahan pembelajaran dengan buku teks dilihat dari beberapa aspek yaitu tujuan pembelajara, isi, tingkat pendalaman materi, bentuk, macam atau jenis, pembuat dan lingkup penggunaan sebagaimana manadijelaskan berikut ini.
1. Tujuan pembelajaran yang terkandung dalam bahan pelajaran sepesifik sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Sedangkan pada buku teks bersifat umum sesuai dengan asumsi penulis.
2. Isi bahan pembelajaran merupakan rangkuman atau cuplikan dari buku tesk atau prosedur kegiatan yang terkait. Sedangkan buku teks dapat merujuk sepenuhnya kepada kurikulum dan dapat pula merujuk kepada sistimatika ilmiah suatu topik bahasan.
3. Tingkat kedlaman materi bahan pembelajaran disesuaikan dengan kondisi kelas dan atau berdasarkan tes awal. Sedangkan buku teks disesuaikan dengan tuntutan perkembangan ilmiah.
4. Bentuk bahan pembelajaran berupa cuplikan, ringkasan, materi, prosedur. Sedangakan buku teks himpunan materi lengkap.
5. Macam atau jenis bahan pembelajaran berupa lembar teori atau hand out, modul, lembar praktek atau job sheet, tape recorder, CD pembelajaran. Sedangkan bukuteks berupa buku, majalah, dan diktat.
6. Pembuat bahan pembelajaran guru/dosen yang akan menyampaikan materi. Sedangkan buku teks penulis profesional yang bekerja sama dengan penerbit.
Menurut Pannin dan Purwanto (2001) bahan ajar berbeda dengan buku teks. Perbedaan antara bahan ajar dengan buku teks tidak hanya terletak pada format, tata letak dan perwajahannya, tetapi juga pada orientasi dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya. Buku teks biasanya ditulis dengan orientasi pada struktur dan urutan berdasarkan bidang ilmu (content oriented), sedangkan bahan pembelajaran ditulis dan dirancang untuk dipergunakan oleh dosen atau guru dalam proses belajar dan pembelajaran (teaching oriented). Sangat jarang buku teks dipergunakan secara mandiri dalam proses belajar dan pembelajaran karena memang tidak dirancang untuk itu, namun demikian buku teks dapat dipergunakan sebagai sumber untuk menyusun bahan pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan buku teks dalam proses belajar dan pembelajaran memerlukan dosen atau guru yang berfungsi sebagai penterjemah yang menyampaikan isi atau sebagian isi buku tersebut kepada peserta didik.
Berikut ini dikemukakan pula perbedaan antara bahan pembelajaran dengan buku teks secara terperinci.
1. Bahan ajar menimbulkan minat baca. Buku teks mengasumsikan minat dari pembaca.
2. Bahan ajar ditulis dan dirancang untuk peserta didik. Buku teks ditulis untuk pembaca.
3. Bahan ajar dikemas untuk proses instruksional. Buku teks dirancang untuk dipasarkan secara luas.
4. Bahan ajar menjelaskan tujuan instruksional. Buku teks belum tentu menjelaskan tujuan instruksional.
5. Bahan ajar disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel. Buku teks disusun secara linier.
6. Bahan ajar, struktur berdasarkan kebutuhan peserta didik dan kompetensi akhir yang akan dicapai. Buku teks struktur berdasarkan logika bidang ilmu.
7. Bahan ajar mengakomodasi kesulitan peserta didik. Buku teks tidak mengantisipasi kesukaran belajar peserta didik.
8. Bahan ajar memberi rangkuman. Buku teks belum tentu memberi rangkuman.
9. Bahan ajar gaya penulisan komunikatif dan semi formal. Buku teks gaya penulisan naratif tetapi tidak komunikatif.
10.Bahan ajar kepadatan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Buku teks sangat padat,
11.Bahan ajar mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta didik, Buku teks tidak memiliki mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pembaca,
12,Bahan ajar memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berlatih, Buku teks belum tentu memberikan latihan,
13,Bahan ajar menjelaskan cara mempelajari bahan ajar. Buku teks tidak selalu ada penjelasan cara mempelajari.

C. Prinsip-Prinsip Pemilihan Bahan Pembelajaran
Keterampilan memilih bahan pembelajaran yang tepat merupakan kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh setiap guru atau dosen. Pemilihan bahan pembelajaran yang tepat merupakan masalah penting dalam proses belajar dan pembelajaran dalam rangka membantu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Materi atau bahan pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Untuk mencapai maksud tersebut, guru atau dosen hendaklah mempehatikan prinsip-prinsip dan kriteria pemilihan bahan pembelajaran yang baik dan tepat.
Beberpa prinsip yang mesti diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran yaitu; prinsip relevansi, prinsip konsistensi, dan prinsip kecukupan.
a. Prinsip Relevansi
Bahan pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dan ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalnya, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
b. Prinsip Konsistensi
Bahan pembelajaran hendaknya bersifat konsisten atau ajeg terhadap kompetensi yang hendak dicapai. Jika kompetensi dasar yang hendak dicapai empat macam, maka bahan pembelajaran yang hendak disajikan harus meliputi empat macam bahan yang sesuai untuk mencapai empat kompetensi dasar dimaksud. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
c. Prinsip Kecukupan
Bahan pembelajaran yang diajarkan hendaknya cukup memadai atau memiliki kelayakan dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan. Bahan pembelajaran tidak boleh terlalu sedikit sehingga kurang membantu peserta didik untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan tidak boleh pula terlalu banyak sehingga membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
D. Kriteria Pemilihan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Oleh karena itu, pemilihan bahan pembelajarn hendaklah sejalan dengan ukuran-ukuran atau kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum mata pelajaran yang bersangkutan. Kriteria pemilihan bahan pembelajaran akan dikembangkan dalam system instuksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar dan pembelajaran. Pemilihan bahan pembelajaran tersebut hendaknya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini.
a. Sesuai dengan tujuan pembelajaran
Bahan pembelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional khusus atau tujuan-tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut hendaknya sejalan dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
b. Menjabarkan tujuan pembelajaran
Perincian bahan pembelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap tujuan pembelajaran telah dirumuskan secara spesifik, dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan yang erat antara spesifikasi tujuan dan spesifikasi bahan pembelajaran.
c. Relevan dengan kebutuhan peserta didik
Kebutuhan peserta didik yang pokok adalah berkembang berdasarkan potensi yang dimilikinya. Oleh sebab itu bahan pembelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh terkait dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap.
d. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Peserta didik dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu hidup mandiri. Dalam hal ini, bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang berguna dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakatnya.
e. Mempertimbangkan norma yang berlaku
Bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya mempertimbangkan norma-norma yang berlaku. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari bahan pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan diri peserta didik sebagai manusia yang memiliki etika dan moral sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.
f. Tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik serta logis
Setiap bahan pembelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya dan terpusat pada satu topik masalah tertentu. Bahan pembelajaran disusun secara berurutan dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologis peserta didik. Dengan cara ini diharapkan isi bahan pembelajaran tersebut akan lebih mudah diserap oleh peserta didik dan tujuan pembelajaran dapat dapat tercapai.
g. Bersumber dari buku sumber yang baku, keahlian guru, masyarakat dan fenomena alam.
Keempat faktor ini perlu diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran. Buku sumber yang baku dimaksud adalah yang disusun oleh para ahli dalam bidang pendidikan dan disusun berdasarkan GBPP yang berlaku. Kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang diharapkan, setidaknya keberadaan buku tersebut akan sangat membantu bagi penyusunan bahan pembelajaran. Keahlian guru dalam menyusun bahan pembelajaran tentu sangatlah penting, karena sumber utama dari proses belajar dan pembelajaran adalah guru itu sendiri. Guru dapat menyimak semua hal yang dianggapnya perlu utuk disajikan kepada peserta didik berdasarkan ukuran pribadianya. Masyarakat juga merupakan sumber yang luas, sedangkan fenomena alam merupakan sumber bahan pembelajaran yang paling besar.
E. Prosedur Penyusunan Bahan Pembelajaran
Sebagaimana telah dikemukan pada bagian terdahulu, bahan pembelajaran merupakan komponen penting yang harus disusun dan dipersiapkan guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Bahan pembelajaran tersebut merupakan ramuan yang menentukan kompetensi yang akan dicapai dan dimiliki peserta didik di akhir kegiatan atau setelah berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran. Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan pembelajaran sebagaiman dijelaskan berikut ini.
1. Memahami Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, Silabus, Program Semester, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun bahan pembelajaran adalah memahami standar isi (Permen 22/2006) berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan (Permen 23/2006) juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika menyusun bahan pembelajaran, dokumen-dokumen tersebut perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi.
2. Mengidentifikasi Jenis Bahan Pembelajaran Berdasarkan Pemahaman terhadap Poin
Mengidentifikasi jenis materi pembelajaran dilakukan agar penyusun bahan pembelajaran mengenal dengan tepat jenis-jenis materi pembelajaran yang akan disajikan. Jenis materi pelajaran secara umum disajikan oleh para guru terdiri : (a) fakta adalah segala yang berwujud kenyataan dan kebenaran meliputi nama-nama obyek, peristiwa, lambang, nama tempat, nama orang dan lain sebagainya. Contoh mulut, paru-paru; (b) konsep adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran meliputi definisi, pengertiam, ciri khusus, hakekat, inti/isi dan sebagainya. Contoh hutan hujan tropis di indonesia sebagai sumber plasma nutfah, usaha-usaha pelestarian keanekaragaman hayati indonesia secara in-situ dan ex-situ dsb; (c) prinsip adalah berupa hal-hal pokok dan memiliki posisi terpenting meliputi dalil, rumus, paradigma, teori serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh hukum handy-weinberg; (d) prosedur merupakan langkah-langkah sistimatis atau berurutan dalam melakukan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh langkah-langkah dalam menggunakan metode ilmiah yaitu merumuskan masalah, observasi, hipotesis, melakukan eksprimen dan menarik kesimpulan; (e) sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap contoh pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan yaitu pengertian liungkungan komponen ekosistem lingkungan hidup sebagai sumberdaya pembangunan berkelanjutan
3. Melakuan Pemetaan Materi
Hasil identifikasi dipetakan dan diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan standar kompetensi lulusan (SKL). Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus.
4. Menetapkan Bentuk Penyajian
Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisi kompleksitas struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Adapun yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan pembelajaran sederhana.
5. Menyusun Struktur (Kerangka) Penyajian
Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan pembelajaran menyusun struktur atau kerangka penyajian sesuai dengan bentuk penyajian yang dipilih. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Struktur atau kerangka penyajian disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta indikator yang ingin dicapai sesuai dengan rumusan pada silabus mata pelajaran atau bidang studi..
6. Membaca Buku Sumber
Membaca buku sumber diperlukan untuk menentukan materi yang diisikan pada kerangka struktur penyajian. Buku sumber dapat dicari diperpustakaan atau toko-toko buku. Bahan materi ajar dapat pula dicari melalui internet. Penyusun bahan ajar harus mampu menseleksi dan merekayasa kembali materi yang dipilih sesuai dengan pemahaman sendiri dan menyajikan kembali dalam gaya bahasa sendiri. Kegiatan pengisian dilakukan setelah penyusunan Struktur Penyajian.
7. Membuat Draft Bahan Pembelajaran
Kegiatan membuat draf (termasuk membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya. Pengisian atau penulisan materi dalam kerangka struktur penyajian tidak harus berurutan dari bab pendahuluan sampai bab akhir. Tapi dimulai darimana saja pada kerangka struktur penyajian sesuai dengan materi sajian yang telah dikumpulkan.
8. Merevisi (Menyunting) Bahan Pembelajaran
Meneliti ulang draf yang telah jadi seraya melakukan perbaikan (revisi) jika diperlukan. Materi sajian yang dianggap masih perlu dikembangkan dan memerlukan tambahan uraian atau penjelasan dari beberapa buku sumber perlu diberi tanda semisal penebalan dengan warna merah umpamanya. Urutan alenia atau paragraf tulisan jika dinilai tidak logis dapat dipertukarkan letak atau tempatnya.

9. Mengujicobakan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yang sudah disusun sesuai dengan struktur kerangka penyajian itu, selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui tingkat kelayakannya sebagai bahan pembelajaran.Uji kelayakan materi ajar ini dimaksudkan untuk mengvaluasi apakah dapat difahami dan sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan peserta didik. Apabila materinya dinilai sulit, contohnya kurang relevan, uraiannya masih perlu ditambahkan, maka materi sajiannya selanjutnya masih perlu direvisi atau disesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian diujicobakan kembali, jika dianggap sudah layak dan dapat diterima oleh pesrta didik, maka selanjutnya dilakukan rivisi ulang dan finalisasi
10. Merevisi dan Menulis Akhir (Finalisasi)
Melakukan perbaikan terhadap materi draf yang telah diujicobakan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian melakukan kegiatan penulisan akhir (finalisasi). Selanjutnya setelah prosedur sebagaimana tersebut telah dilakukan, maka bahan ajar berupa buku teks, modul, diktat, atau bahan ajar sederhana dapat dipergunakan secara konsisten atau berkelanjutan untuk pembelajarkan peserta didik.
Ealuasi
1. Jelaskan pentingnya bahan pembelajaran ?
2. Jelaskan perbedaan bahan pembelajaran dengan buku teks ?
3. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip pemilihan bahan pembelajaran ?
4. Sebutkan dan jelasakn kriteria pemilihan bahan pembelajaran ?
5. Sebutkan dan menjelaskan prosedur penyusunan bahan pembelajaran ?

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen Dikdasmenum, 2004, Pedoman Umum Pemilihan dan Pemanfaatan bahan Ajar, Jakarta: Depdiknas.

Gintings, Abdorrakhman, 2008, Essensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Humaniora.

Pannin, Paulina dan Purwanto, 2001, Penulisan Bahan Ajar, Jakarta: Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Ditjen Dikti Diknas.

Prastowo, Andi, 2011, Panduan Kreaftif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Jogjakarta: Diva Press.
Satori, Djam’an, dkk, 2007, Profesi Keguruan, Jakarta: Universitas Terbuka.
TEKNIK PENYUSUNAN BAHAN AJAR
http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/02/pengertian – bahan – ajar – materi pembelajaran.
http://dianramadani150393.blogspot.com/2012/12/pemilihan-materipelajaran.html

Dipublikasi di Publikasi | Meninggalkan komentar

MERENCANAKAN DAN MENULIS BUKU TEKS

A. Definisi Perencanaan Penulisan Buku Teks
Secara difinisi, perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Beberapa difinisi perencanaa antara lain :
1. Proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistimatis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Perhitungan dan penetuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka
mencapai tujuan tertentu. Siapa yang melakukan? Dimana? Bagaimana cara melakukannya ?
3. Sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang menyangkut hal-hal yang akan dikerjakan di masa datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Proses penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang, yang diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu.
5. Kegiatan yang meliputi : a) Pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi, 2) Penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapau tujuan.
6. Proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif ( pilihan) mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya yang dilakukan secara sistimatis dan berkesinambungan.
Banyak sekali definisi perencanaan yang dikemukakan para pakar, tetapai pada dasarnya perencanaan memiliki kata kunci “ penentukan aktivitas yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan“. Kata kunci ini mengindikasikan bahwa perencanaan merupakan suatu kegiatan merancang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien dengan mempertimbangkan stategi, metode, alat, sarana, biaya, waku dan sumber daya manusia.
Perencanaan penulisan buku teks merupakan suatu kegiatan merancang berbagai kegiatan dalam rangka untuk menyusun bahan ajar dalam suatu buku ajar sesuai dengan tujuan dalam ;proses pembelajaran yang telah ditentukan. Dalam konteks pendidikan berbasis kompetensi, maka tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah kompetensi yang harus dimiliki siswa yang telah dirumus dalam silabus mata pelajaran.Sehingga kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dijalani siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan bahan ajar sebagai isi pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan itu melalui scenario pengalamanp belajar yang disusun oleh guru dalam program pembelajaran.

B. Fungsi Perencanaan Penulisan Buku Teks
Pada hakekatnya bila suatu kegiatan direncanakan terlebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya untuk menyusun suatu buku teks sebagai bahan ajar diperlukan perencanakan. Seorang guru dituntut mampu menyusun bahan ajar dalam melaksanakan pembelajaran di kelas guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kemampauan guru menyusun bahan pembelajaran, akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa di kelas..
Kemampuan guru dalam menyusun bahan pembelajaran merupakan salah satu tuntutan tugas profesional guru disamping kemampuannya di dalam mengelola program pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, melaksanakan pelatihan dan pembimbingan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sebagaimana yang dikehendaki di dalam Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2 dan undang undang Guru dan dosen nonmor 14 tahun 2005 pasal 20 tentang hak dan kewajiban guru.
Perencanaan penulisan bahan ajar ini berfungsi : pertama, menentukan kompetensi yang akan dihasilkan dari proses pembelajaran yang akan dilakukan. Penentukan kompetensi ini merupakan hal yang paling penting dalam keberhasilan peroses pembelajaran. Penentuan kompetensi yang salah akan berakibat fatal pada : a) tidak dapat dicapainya standar kompetensi sesuai dengan tuntutan kurikulum mata pelajaran 2) tidak sesuainya dengan kebutuhan dan harapan stakeholder 3) tidak dapat dikembangkannya kompetensi secara berkelanjutan karena pencapaian kompetensi yang satu merupakan prasyarat untuk mencapai kompetensi berikutnya dan 4) terjadi pemborosan sumber daya karena kompetensi yang dirumuskan tidak sesuai dengan tuntuan kebutuhan dan bila dilaksanakan menjadi pekerjaan yang tidak bermanfat.
Kedua, menentukan pokok bahasan/sub pokok bahasan serta sumber belajar yang diperlukan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Pokok bahasan/sub pokok bahasan serta sumber belajar yang menjadi isi dalam suatu proses pembelajaran harus mendukung pencapaian kompetensi sebagai hasil belajar siswa yang meliputi ranah kognitif kemampun berfikir, ranah affective kemampuan dalam bersikap dan ranah psychomotor kemampuan motorik berkaitan dengan mata pelajaran.
Ketiga, menentukan kegiatan belajar mengajar yang harus dilaksanakan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Pengalaman belajar yang dilalui oleh siswa melalui proses kegiatan belajar mengajar haruslah mendukung terbentuknya kompetensi yang diharapkan kepada siswa. Oleh karena itu pemilihan isi bahan ajar oleh guru dalam program pembelajaran harus mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang sudah dirancang dalam rangka mencapai kompetensi dasar yang sudah dirumuskan dalam silabus atau kurikulum mata pelajaran.
Keempat, menentukan alat evaluasi untuk menilai ketercapaian kompetensi yang telah dirumuskan. Proses belajar mengajar adalah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan. Tujuan dari pembelajaran adalah terbentuknya kompetensi pada masing-masing siswa sesuai dengan jenjang, jenis pendidikan dan program pendidikan yang ditempuh siswa melalui pengalaman belajar di sekolah dengan kurikulum sebagai alat atau sarananya. Oleh karena itu pada setiap akhir dari suatu proses pembelajaran perlu adanya evaluasi yang diberikan guru kepada siswa untuk mengukur ketercapaian hasil belajar siswa. Alat evaluasi yang disusun guru haruslah sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi bahan ajar dalam pembelajaran. Alat evaluasi tersebut dapat berupa tes lisan, tes tertulis atau tes dalam bentuk perbuatan.
Dengan demikian jelas bahwa perencanaan penyusun buku teks bagi guru sangat penting sekali dalam menunjang keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya profesionalnya sehari-hari di sekolah.

C. Manfaat Perencanaan Penulisan Buku Teks
Perencanaan penyusunan bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi guru antara laian : Pertama, memberikan kejelasan materi apa yang harus disajikan dalam pencapaian kompetensi peserta didik dalam suatu mata pelajaran. Kondisi ini mengidentifikasikan bahwa perencanaan penyusunan buku teks yang baik akan memudahkan pelaksanaannya dalam menghimpun dan menyajikan bahan ajar sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Kedua, Meningkatkan efesiensi dalam proses pelaksanaanya. Adanya perencanaan akan memberikan gambaran tentang kebutuhan bahan belajar yang diperlukan dalam menyelesaikan buku teks sesuai dengan kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran. Dengan diketahuinya berbagai bahan ajar yang diperlukan, maka guru dapat menghimpun dan meyajikan bahan ajar dari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Selain itu dengan adanya perencanaan ini, kegiatan yang dilakukan menjadi terarah dan effisien
Ketiga, Memudahkan dalam proses pelaksanaannya. Adanya perencanaan dapat memudahkan dalam proses penulisan buku teks. Produk suatu perencanaan penulisan buku teks adalah terbentuknya kerangka tulisan yang telah disusun sesuai dengan kompetensi yang dituntut dalam kurikulum. Memperhatikan kerangka tulisan tersebut, guru dapat memulai tulisan dari mana saja sepanjang bahan ajar yang diperlukan untuk penulisan tersebut sudah tersedia. Jadi penulisan tidak harus dari awal bab, bisa pertengahan atau akhir bab,tergantung dari tersedia tidakn nya bahan ajar yang akan disajikan sesuai dengan kerangka tulisan buku teks tersebut.

D. Menyusun Kerangka Tulisan Buku Teks
Langkah langkah dalam menyusun suatu kerangka tulis untuk buku teks antara lain.
1. Menelaah kurikulum atau silabus mata pelajaran/mata kuliah
Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang berisikan kompetensi yang diharapkan dari suatu lulusan satuan pendidikan sesuai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan tingkat dan jenjang satuan pendidikan.Satuan pendidikan terdiri dari satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan tinggi. Satuan pendidikan dasar terdairi program pendidikan Sekolah Dasar/MI, Sekolah Menengah Pertama/MTs dan Sekolah Menengah Atas/MA. Satuan Pendidikan Tinggi terdiri dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Akademi.
Kompetensi lulusan yang dinginkan untuk setiap jenjang dan satuan pendidikan berbeda karena perbedaaan kadar kualitas kompetensi yang diharapkan. Kompetensi yang ingin dicapai mencakup Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan, Standar Kompetesni mata pelajaran/bidang studi, Kompetensi Dasar dan indikator keberhasilan dalam belajar. Kompetensi itu mencakup kemamapuan cognitive, affective dan psychomotor. Kompetensi-kompetensi itu di susun dalam suatu kurikulum/silabuas mata pelajaran sesuai dengan tujuan kurikuler mata pelajaran/mata kuliah yang ingin dicapai, dengan menawarkan topik/tema atau pokok bahasan yang dijadikan bahan kajian/bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar yang diinginkan, alokasi waktu untuk setiap Standar Kompetesi, Kompetresi Dasar, indikator, Evaluasi kompetensi hasil belajar dan Sumber belajar yag dijadikan referensi.
2. Menyusun kerangka tulisan Buku Teks berdasarkan kompetensi dan bahan kajian yang terdapat dalam silabus mata pelajaran sesuai dengan tingkatkan kelas/semseter.
Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) indikator keberhasilan belajar, topik,tema/bahan kajian yang terdapat dalam silabus mata pelajaran, menjadi isi kurikulum dalam mencapai kompetensi lulusan melalui pengalaman belajar yang dirancang oleh guru sesuai dengan waktu dan konteks pembelajaran. Penulisan kerangka tulisan buku teks mengacu pada SK, KD, indikator hasil belajar dan topik,tema/bahan kajian yang terdapat dalam silabus tersebut. Judul BAB dapat menagacu kepada Standar Kompetensi, uraian isi BAB mengacu pada KD dan indikator hasil belajar.
3. Menulis Kerangka Isi Buku Teks
Secara umum, sistimatika kerangka isi buku teks pelajaran terdiri dari:
a. Bagian Pendahuluan
1). Kata Pengantar
2). Daftar Isi
3). Penjelasan tujuan buku pelajaran
4). Petunjuk penggunaan buku
5). Petunjuk pengerjaan soal latihan

b. Bagian Isi
1). Judul bab atau topik bahasan,
menngacu kepada Standar Kompetensi dan pokok bahasan yang terdapat di dalam silabus mata pelajaran atau bidang studi
2). Uraian singkat pokok bahasan,
diskripsi singkat tentang pokok bahasan yang akan disajikan
3). Penjelasan tujuan bab,
capaian hasil pembelajaran yang diharapkan tercapai, setelah proses pembelajaran selesai disampaikan kerpada peserta didik oleh guru berupa penguasaan Standar Kompetensi materi pembelajaran.dalam bentuk perubahan kemampuan siswa baik dari segi cognitrive, affective maupun psychomotor.
4). Uraian isi pembelajaran,
penjelasan sajian materi pelajaran berupa fakta, istilah, konsep, teori, prinsip, prosedur, proses, peristiwqa, kasus disertai dengan contoh, gambar, garfik, bagan, skema, sesuai dengan Standar Kompetensi Dasar dan indikator hasil belajar yang dirumuskan dalam siabus mata pelajaran atau bidang studi berdasarkan cognive domain, affective domain atau psychomotor domain.
5). Ringkasan isi bab,
rangkuman materi pelajaran yang disajikan dalam setiap bab per bab untuk memudahkan peserta didik memahami materi pelajaran yang telah disajikan.
6). Soal latihan,
soal soal yang diberikan baik berupa tes tertulis, unjuk kerja maupun dalam bentuk tugas baik individu mapun kelompok yang mengacu kepada indikator capaian hasil belajaran yang diharapkan.
7). Kunci jawaban soal latihan,
jawaban terhadap soal-soal yang diberikan, agar memudah kan guru dalam mengoreksi jawaban poeserta didik terhadap soal soal ujian yang diberikan.
c. Bagian Penunjang
1). Daftar pustaka,
buku-buku referensi yang digunakan dalam mengembangkan materi pelajaran yang disajikan dalam Buku Teks
2). Lampiran-lampiran

E. Menulis Buku Teks
Jika kerangka tulisan buku teks sudah siap, maka penulis mulai menulis dengan mengembangkan isi kerangka tulisan buku teks tersebut. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Mencari dan mengumpulkan materi ajar yang akan ditulis dalam kerangka tulisan buku teks tersebut dengan membaca berbagai buku referensi yang isinya relevan dengan materi ajar yang akan disajikan.
2. Menelaah dan menseleksi isi buku tersebut dan mengambil materinya
untuk diekembangkan dalam tulisan buku teks.
3. Menulis materi tersebut dalam kerangka tulisan buku teks dalam bentuk uraian dan contoh sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator hasil belajar yang ingin dicapai.
4. Membuat rangkuman pada akhir tulisan dalam setiap bab yang telah diselesaikan sesuai dengan sistimatika uraian pada sub-sub judul bab.
5. Menysun alat evaluasi sesuai dengan indikator capaian hasil beajar yang diinginkan dalam bentuk soal tes tertulis maupun tugas dan unjuk kerja.
6. Menulisa daftar pustaka yang berisikan buku-buku sumber yang dijadikan acuan atau rujukan dalam penyajian materi pelajaran.
7. Membaca dan menelaah kembali isi bab perbab jika keseluruhan tulisan
sudah diselesaikan, untuk dilakukan revisi maupun pengembangan uraian yang menurut penulis masih perlu dikembangkan.
8. Meminta validasi isi tulisan kepada pakar atau orang-orang yang dianggap kompeten.
9. Mengusulkan kepada penerbit untuk dipublikasikan secara luas
10. Penerbit memintakan nomor ISBN buku yang akan diterbitkan
11. Penerbit menyampaikan draf tulisan untuk dikoreksi oleh penulis
12 Penerbit memperbaiki dan mengedit tulisan dan menyampaikan kembali kepada penulis untuk diperiksa ulang
13. Jika menurut penulis draf tulisan tersebut sudah sempurna, maka penerbit
segera menerbitkan dan menggandakan buku teks tersebut untuk dipublikasikan secara luas

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Republik Indonesia (2003). Undang Undang Republik Indonesia Nomo 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Sekretaris Negara Republik Indonesia
Menteri Pendidikan Nasional (2002). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Jakarta : Mendiknas
—————————– (2007) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta : Mendiknas
Hadari Nawawi (1985). Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung
Depdiknas, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (2004). Standar Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependdikan
Zuldafrial. (2009). Profesi Keguruan. Pontianak : STAIN Pontianak Press

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bahan Ajar dan Buku Sumber Bahan Ajar

A. Bahan Ajar
1. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan materi penting bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tanpa bahan ajar, tampaknya guru akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pada prinsipnya, guru harus selalu menyiapkan bahan ajar dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Pada umumnya, sumber bahan ajar telah tersedia di perpustakaan atau diberbagai toko buku. Sumber bahan ajar yang dikemas dalam bentuk buku teks pelajaran ditulis oleh para pakar dan praktisi dari latar mata pelajaran atau bidang studi. Menulis sumber bahan ajar seperti buku teks tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus mengikuti kaidah penulisan bahan ajar yang standar. Oleh karena itu, tidak semua guru mengetahui dan memahami bagaimana menulis atau menyusun buku tesk sebagai sumber bahan ajar yang baik.
Menurut Kamaruddin (1999:1), bahan ajar bukan sekadar alat bagi guru untuk mengajar siswa. Namun, yang lebih penting ialah buku sebagai sumber yang digunakan siswa agar ia belajar. Bahan ajar pada umumnya dikemas ke dalam buku ajar atau buku teks. Buku teks hendaknya terpaut dengan kurikulum yang dioperasikan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap.
Terdapat beberapa rumusan tentang pengertian bahan pembelajaran, antara lain dikemukakan oleh Gintings (2008: 152) yaitu, bahan pembelajaran adalah rangkuman materi yang diberikan dan diajarkan kepada siswa dalam bentuk bahan tercetak atau dalam bentuk lain yang tersimpan dalam file elektronik baik verbal maupun tertulis. Bahan pembelajaran ini sebaiknya disampaikan atau dibagikan terlebih dahulu kepada peserta didik sebelum proses belajar dan pembelajaran dilaksanakan. agar siswa memiliki pemahaman awal tentang materi pembelajaran yang akan dibahas. Hal ini baik untuk dilakukan karena dengan mempelajarinya lebih dulu diharapkan peserta didik dapat berpartisipasi aktif selama berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran.
Pengertian lain tentang bahan pembelajaran dikemukakan oleh Pannin (2001), ia menyebutkan bahwa bahan ajar sebagai bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Prastowo (2011) menyatakan pemahaman bahan ajar sebagai segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pengertian sebagaimana tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bahan pembelajaran merupakan susunan sistematis materi pembelajaran dari berbagai sumber bahan pembelajaran baik tertulis seperti buku pelajaran, modul, handout, LKS maupun yang tidak tertulis seperti maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif yang di pakai atau digunakan sebagai pedoman atau panduan oleh pendidik atau instruktur dalam proses belajar dan pembelajaran.
2. Fungsi dan Manfaat Bahan Pembelajaran
a. Fungsi BahanPembelajaran
Terdapat tiga fungsi utama bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan penyelenggaraan proses belajar dan pembelajaran. Tiga fungsi tersebut adalah:
1). Bahan ajar merupakan pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses belajar dan pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan/dilatihkan kepada siswa.
2). Bahan ajar merupakan pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan aktivitas dalam proses belajar dan pembelajaran, sekaligus merupakan substansi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3). Bahan ajar merupakan alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran. Sebagai alat evaluasi maka bahan ajar yang disampaikan harus sesuai dengan indikator dan kompetensi dasar yang ingin dicapai oleh guru. Indikator dan kompetensi dasar ini sudah dirumuskan dalam silabus mata pelajaran.
b. Manfaat Bahan Pembelajaran
Bahan ajar merupakan sarana, alat atau instrumen yang baik dan memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Manfaat dari bahan ajar itu adalah sebagai berikut:
1). Manfaat Bagi Guru
a) Memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa
b) Tidak bergantung pada buku teks yang terkadang sulit didapat
c) Memperkaya wawasan karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi
d) Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menyusun bahan ajar
e) Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dan peserta didik, karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya maupun kepada dirinya
f) Dapat dikumpulkan menjadi buku dan dapat diterbitkan (Depdiknas, 2004:1).
2) Manfaat Bagi Peserta Didik
a) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b) Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.
c) Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya
Gintings (2008) menyatakan bahwa manfaat utama dengan adanya bahan pembelajaran yang disusun bagi penyelenggaraan peoses belajar dan pembelajaran ialah:
1). Jika diberikan kepada peserta didik sebelum proses belajar dan pembelajaran berlangsung maka peserta didik dapat mempelajarinya terlebih dahulu sehingga peserta didik dapat:
a) Memiliki kemampuan awal (entry behaviour) yang memadai untuk mengikuti kegiatan belajar dan pembelajaran sehingga dapat mencapai keberhasilan belajar yang maksimal.
b) Berpartisipasi aktif dalam proses belajar dan pembelajaran , seperti, dalam diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan lain-lain.
2). Proses belajar dan pembelajaran di kelas berjalan dengan lebih efektif dan efisien karena waktu yang tersedia dapat digunakan sebanyak-banyaknya untuk kegiatan belajar dan pembelajaran yang intraktif seperti tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, dan lain-lain.
3). Mengembangkan kegiatan belajar mandiri dengan kecepatannya sendiri.
3. Macam-Macam Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yang digunakan perlu didesain secara khusus sehingga sesuai dengan karakteristik proses belajar dan pembelajaran. Pengembangan bahan ajar dapat dilakukan dengan cara; pertama, membuat atau menulis sendiri, ini merupakan pengembangan bahan ajar yang paling ideal; kedua, memodifikasi atau kompilasi, yaitu menggunakan bahan ajar yang telah ada namun dilakukan perubahan atau penambahan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran; ketiga, mengadaptasi yaitu menggunakan sebagian atau secara utuh dengan melengkapi panduan belajar dalam menggunakan bahan ajar yang telah ada.
Berdasarkan pada sudut pandang yang dipegunakan untuk melihat bahan pembelajaran yang dipegunakan dalam proses belajar dan pembelajaran maka bahan pembelajaran dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu; menurut karakteristik materinya dan menurut cara pengorganisasiannya (Satori, dkk., 2007: 2.40-2.43).
a. Macam-macam Bahan Pembelajaran menurut Karakteristik Materinya
Berdasarkan karakteristik materi atau isinya, bahan pembelajaran dapat digolongkan menjadi enam macam sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1). Bahan Pembelajaran Fakta
Bahan pembelajaran fakta adalah bahan pembelajaran yang isinya terdiri dari sejumlah fakta atau informasi yang secara umum diyakini kebenarannya. Misalnya, tahun-tahun sejarah atau peristiwa-peristiwa.
2) Bahan Pembelajaran Konsep
Bahan pembelajaran yang isinya berupa gagasan, ide, pendapat, teori, atau dalil. Konsep itu bersifat abstrak, namun akan menjadi nyata jika diwujudkan dalam bentuk benda atau perbuatan. Misalnya konsep tentang bilangan ganjil dan genap yang dlambangkan dalam bentuk angka 1, 3, 5 dan 2, 4, 6, dan seterusnya.
3) Bahan Pembelajaran Prinsip
Prinsip adalah tuntutan praktis bagi terselenggaranya perbuatan tertentu, seperti dalam proses belajar dan pembelajaran. Bahan pembelajaran prinsip merupakan bahan pembelajaran yang memberikan landasan bagi terwujudnya suatu perbuatan yang diharapkan sehingga setiap tindakan yang dilakukan dapat dikontrol dengan baik. Contoh; prinsip-prinsip proses belajar dan pembelajaran.
4). Bahan Pembelajaran Keterampilan
Bahan pembelajaran keterampilan terdiri dari keterampilan-keterampilan tertentu yang harus dikuasai terutama yang menyangkut keterampilan motorik, seperti keterampilan mengetik, memukul bola, lari cepat, bermain bola kaki, dan sebagainya. Bahan pembelajaran keterampilan ini banyak digunakan pada bidang pembelajaran kejuruan. Cara mempelajarinya pada umumnya dengan melaksanakan tugas-tugas dan latihan-latihan.
5). Bahan Pembelajaran Pemecahan Masalah
Bahan pembelajaran pemecahan masalah mengandung unsur permasalahan yang harus diselesaikan/dipecahkan oleh peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Misalnya, guru memberikan tugas kepada sekelompok siswa untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah dan bagaimana memanfaatkannya. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pemecahan masalah. Peserta didik diberi tugas untuk berpikir, berbuat, dan membuat kesimpulan.
6). Bahan Pembelajaran Proses
Bahan pembelajaran proses adalah bahan pembelajaran yang melukiskan proses terjadinya sesuatu, sperti proses terjadinya perubahan warna, proses terjadinya hujan, proses terjadinya pengendapan, dan lain-lain. Bahan pembelajaran proses mengacu pada pengamatan dan pengalaman. Cara mempelajarinya dengan praktik di laboratorium atau studi lapangan.
b. Macam-macam Bahan Pembelajaran menurut Cara Pengorganisasiannya
Macam-macam bahan pembelajaran ditinjau dari cara pengorganisasiannya dapat digolongkan menjadi empat macam sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1). Bahan Pembelajaran Mata pelajaran Linier
Karakteristik bahan pembelajaran mata pelajaran linier disusun secara berurutan dari yang mudah kepada yang sulit atau dari yang sederhana kepada yang kompleks. Peran sistematika dalam bahan pembelajaran ini sangat tinggi dan disampaikan secara berangsur-angsur sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Misalnya dalam pelajaran matematika, bahan pembelajaran disusun mulai dari himpunan benda-benda nyata, kemudian meningkat menjadi melambangkannya dalam bentuk lambang bilangan, dan seterusnya.
2). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Kumulatif
Bahan pembelajaran mata pelajaran ini tidak disusun dalam serangkaian tingkatan yang berseri seperti pada bahan pembelajaran mata pelajaran linier. Pendekatan metodologisnya adalah Child Centered, yaitu proses belajar dan pembelajaran seluruhnya berpusat pada kebutuhan, minat, dan perhatian peserta didik. Bahan pembelajaran mata pelajaran ini disampaikan dari keseluruhan menuju kepada bagian-bagian. Metoda pembelajaran unit sangat cocok dipergunakan untuk menyajikan bahan pembelajaran ini.
3). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Praktikal
Bahan pembelajaran ini dapat disajikan dengan pendekatan dan metode drill atau pelatihan, demonstrasi, tugas, dan presentasi. Peran metode demonstrasi dalam penyajian bahan pembelajaran mata pelajaran praktikal ini sangan besar. Pelajaran oleh raga dan kesehatan, kesenian, dan kejuruan banyak mengandung bahan pembelajaran praktikal.
4). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Eksperensial
Bahan pembelajaran mata pelajaran ini sangat erat kaitannya dengan bahan pembelajaran mata pelajaran praktikal, hanya saja di sini lebih menekankan pada unsur kreativitas. Dalam penyajian bahan pembelajaran mata pelajaran ini peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kegiatannya dalam bentuk kreativitas, tidak terlalu terikat oleh kebiasaan-kebiasaan tertentu. Bahan pembelajaran eksperensial tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan atau kejuruan saja, melainkan juga terdapat pada mata pelajaran IPA. Pendekatan dalam penyajian bahan pembelajaran ini bersifar child centered melalui prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
B. Buku Sumber Bahan Ajar
Buku sumber bahan ajar adalah sarana untuk mendukung penyampaian materi pembelajaran. Buku sumber bahan ajar dapat berbagai macam, seperti buku teks pelajaran, modul, diktat, atau karya terjemahan. Penulisan buku ajar merupakan komponen pengembangan profesionalisme guru sehingga guru diharapkan dapat menghasilkan buku, modul, atau diktat.
1. Buku Teks pelajaran
Buku teks pelajaran adalah sumber utama rujukan bahan ajar yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bila merujuk pada KTSP, maka buku teks pelajaran harus mengacu pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator yang telah ditetapkan sehingga membantu siswa untuk memahami materi yang disampaikan.

2. Diktat
Diktat adalah bahan ajar tertulis suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan oleh guru/dosen untuk mempermudah dalam menyampaikan materi mata pelajaran atau bidang studi dan mempermudah siswa memahaminya dalam proses pembelajaran. Diktat diartikan pula sebagai buku pelajaran yang disusun guru/dosen berupa stensilan atau foto copy (bukan cetakan). Diktat dapat dikembangkan menjadi buku teks atau buku ajar yang diterbitkan oleh suatu Penerbit dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam penulisan suatu karya ilmiah.

3. Buku Referensi
Buku refrensi adalah buku yang dijadikan sumber rujukan dalam penulisan suatu karya ilmiah seperti makalah, skripsi, Thesis atau Desertasi. Buku referensi disusun oleh pakar yang menguasai suatu bidang ilmu tertentu seperti ilmu pendidikan, ekonomi, politik. Penyusunan materi tulisannya berdasarkan tema dan substansi keilmuan yang terkandung dalam teman tersebut yang dikembangkan dalam tulisan merujuk pada buku-buku referensi yang relevan dengan tema yang menjadi bahan kajian tulisan.

4. Modul
Modul adalah materi pembelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis dan sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut. Modul juga berarti bahwa kegiatan proses pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa dengan bantuan yang minimal dari guru pembimbing (biasa juga disebut tutor), meliputi perencanaan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pembelajaran, bahan yang dibutuhkan, dan alat untuk penilai dalam mengukur keberhasilan siswa dalam penyelesaian mata pelajaran.
Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah menulis bahan ajar dan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran adalah sumber pembelajaran yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru mesti selektif dalam memilih buku yang layak dan berkualitas. Untuk memacu kreativitas guru, dimungkinkan pula untuk menulis buku teks pelajaran. Penulisan buku teks pelajaran harus mengacu pada rambu penilaian yang telah ditetapkan oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Agib, Zainal. 2004. Karya Tulis Ilmiah bagi Pengembangan Profesi Guru. Bandung: CV Yrama Widya.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Instrumen dan Deskripsi Penilaian Buku Teks Pelajaran bahasa Indonesia SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

Kamaruddin. 1999. “Beberapa Pertimbangan Penilaian Bahan Ajar Bahasa dan Sastra Indonesia” Makalah disajikan dalam Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis XXXVIII IKIP Ujung Pandang, 13-14 juli 1999, di Kampus Gunungsari Baru IKIP Ujung Pandang.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1993. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengaruh Heterogenitas Terhadap Hasil belajar Program Studi Sejarah STKIP-PGRI Pontianak

Oleh:
Drs.H.Zuldafrial M.Si
Buchari S.Pd, M.Pd

ABSTRAK
Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh heteregonitas Mahasiswa yang disebabkan oleh faktor pembawaan dan lingkungan terhadap hasil belajar Mahasiwa program studi sejarah STKIP-PGRI Pontianak. Metode penelitian ini metode ex post facto dengan disain factorial 2x2x2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah: (a) Jenis kelamin b) Latar beelakang Pendidikan dan (c) Pekerjaan Oang Tua. Variabel terikat adalah hasil belajar. Variabel kontrol adalah: (a) Tahun perkuliahan akademik 2012-2013 (b) Hasil belajar semester dua.
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapat disimpulkan hasil penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah sebagai brikut: (1). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih baik dari kelompok Mahasiswi.(2). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri dan mahasiswa – mahasiwi yang berasal dari SLTA swasta. Kelompok mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa- mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta. (3). Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa- mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri dan mahasiswa-mahasiwi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. kelompok mahasiswa-mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa-mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. (4). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa-mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan asal sekolah. (5). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa-maahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan pekerjaan orang tua (6). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar Mahasiswa-mahasiswi berdasarkan interaksi asal sekolah dan pekerjaan orang tua.(7). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa- mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua.

Kata Kunci: Heteregonitas, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Di dalam pendidikan formal berupa sekolah, hasil belajar itu dinyatakan dengan nilai. Nilai itu dikelsifikasikan sangat baik, baik, sedang dan kurang. Pengkelasifikasian hasil belajar itu untuk menunjukan tingkat penguasaan bahan yang telah dipelajari oleh siswa atau mahsiswa melalui suatu penilaian hasil belajar.
Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada peserta didik yang belajar mewarnai hasil belajar yang dicapai. Perbedaan-perbedaan atau keheterogenan dari pada peserta didik itu, pada dasarnya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitiu faktor yang terdapat di dalam diri peserta didik yang dibawanya sejak lahir. Faktor tersebut adalah faktor psikologis dan faktor fisiologis. Faktor psikologis umpamanya bakat, intelegensi, minat dan kemauan.Ini berbeda diantara peserta didik tersebut. Demikian pula dengan faktor fisiologis umpamanya jenis kelamin dan kemampuan panca indera.Ini juga dapat berbeda-beda diantara peserta didik.
Dalam kaitannya dengan panca indera, kita mengenal adanya tipe-tipe manusia diantaranya: ada diantaranya manusia yang bertipe visual yaitu mudah memahami sesuatu melalui penglihatan. Ada yang bertpe auditif, yaitu mudah memahami sesuatu melalui pendengaran. Ada pula yang betipe kinestik, yaitu mudah memahami sesuai dengan melakukan atau berbuat. Selain itu ada pula yang mudah memahami sesuatu melalui penglihatan dan pendengaran. Orang yang demikian disebut bertipe audio-visual.
Faktor eksternal yaitu faktor yang terdapat di luar diri peserta didik yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan diantaranya lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Lingkungan sosial umpamanya lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkunga sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Ini dapat berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain. Demikian pula halnya dengan lingkungan fisik. Umpamanya ada yang mempunyai fasilitas belajar yang lengkap dan ada yang tidak, ada yang mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dan ada pula yang tidak, katerena sibuk bekerja.
Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk melihat apakah heteregonitas peserta didik yang disebabkan oleh faktor pembawaan dan lingkungan memberikan pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar peserta didik STKIP-PGRI Pontianak ?
Dalam lembaga pendidikan formal berupa perguruan tinggi, pengetahuan, kepandaian, ataupun kecekatan-kecekatan yang dipelajari oleh mahasiswa di dapat melalui mata mata kuliah yang diajarkan sesuai dengan program studi di perguruan tinggi masing-masing. Mata mata kuliah itu diberikan dalam satu semester. Keberhasilan mahasiswa dalam menguasi pengetahuan, kepandaian itu dinyatakan dengan nilai atau indeks prestasi belajar setelah melalui suatu proses ujian. Jadi hasil belajar adalah pengetahaun, kepandaian atau kecakapan yang dicapai oleh mahsiswa setelah memepelajari suatu mata kuliah atau sejumlah mata kuliah yang ditunjukan dengan nilai atau indek prestasi yang diperoleh setelah melalu suatu ujian.
Penilaian akhir suatu mata kuliah harus memenuhi keempat komponen. Apabila tidak memenuhi salah satu komponen, maka mahasiswa yang besangkutan dinyatakan tidak lulusan mata kuliah tersebut. Skor akhir suatu mata kuliah merupakan hasil penggabungan dari kempat macam komponen itu, sebagai berikut:
a). Skor aktivitas kelas (kehadiran) (H), dengan bobot 10%
b). Skor tugas (T) dengan bobot 20%
c). Skor ujian tengah akhir semester (M), dengan bobot 30%; dan
d). Skor Ujian akhir semester (S), dengan bobot 40%
Keberhasilan studi mahasiswa perguruan tinggi dinyatakan dengan indek prestasi (IP). Indek ini dihitung setiap akhir semester dan berkisar dari skor 0,00 – 400. Ada dua macam indeks prestasi yaitu:
1) Indeks prestasi mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa selama semester yang baru berakhir disebut Indeks Prestasi Semester (IPS), dan;
2) Indeks Prestasi yang diperoleh beberpa semester yang telah ditempuh, atau disebut Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang diperoleh dengan memperhitungkan secara komulatif (keseluruhan) nilai kridit mata kuliah yang telah ditempuh samapi semester akhir.
Pengkelasifikasian tingkat kerhasilan mahasiswa dalam belajar berdasarkan indeks prestasi mahasiswa yang didapat setelah melalui suatu proses ujian menentukan jumlah sks yang dapat diambil untuk beban belajar semester berikut.
IP semester              Beban belajar                        Kategori

3,00 – 4,00               22 – 24 sks                             sangat baik
2,50 – 2,99                19 – 21 sks                             Baik
2,00 – 2,49                16 -18 sks                              Cukup Baik
1,50 – 1,99                 13 -15 sks                              Kurang
0,00 – 1,49               12 sks                                     Gagal/Tidak lulus

Keberhasilan seseorang dalam belajar umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat dikelsifikasikan menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Fakta dengan adanya dua realitas ini, yakni realitas individu yang mengandung faktor internal dan realitas lingkungan yang mengandung faktor eksternal, maka perlu kiranya diketengahkan teori perkembangan individu yaitu teori nativisme, teori empirisme dan teori konvergensi ( Fudyartanta, 1970: 57)
a. Teori Nativisme
Nativisme berasal dari kata “nativis“ yang artinya pembawaan. Teori ini berpendapat pembawaan atau nativius lah yang menentukan perkembangan individu. Individu yang pembawaanya baik maka perkembangannya akan baik pula.Jadi jika seseorang mempunyai intelegensi yang tinggi maka hasil belqajarnya juga akan tinggi.sebaliknay demikian pula, jika intelegensi seseorang rendah, maka hasil belajarnya juga akan rendah.

b. Teori Empirisme
Empirisme berasal dari kata “ empiris “ yang artinya pengalaman. Teori ini berpendapat bahwa perkembangan individuditentukan oleh pengalaman yang diperoleh individu. Karena pengalaman datangnya dari luar, maka faktor eksternallah yang menentukan perkembangan individu. Teori ini menekankan bahwa perkembangan individu diutentukan oleh pengaruh lingkungan. Jadi hasil belajar seseorang akan baik, jika lingkungannya baik dan hasil belajar sesorang menjadi kurang baik, jika lingkungannya tidak menunjang.
c. Teori Konvergensi
Teori ini merupakan perpaduan daripada teori nativisme dan teori empirisme. Teori ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan. BaIk faktor internal maupun eksternal kedua-duannya mempengaruhi dan memegang peranan penting dalam perkembangan individu. Hasil belajar yang dicapai seseorang adalah merupakan hasil kerja sama antara faktor internal dan eksternal.
Dari ketiga teori perkembangan individu itu, maka teori terakhirlah yang menjadi pegangan kita. Bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Oleh karemna itu hasil belajar yang dicapai oleh sesorang merupakan perpaduan dari kedua faktor ini.
Hasil belajar seseorang dapat pula dipengaruhi oleh fasilitas belajar, umur orang yang belajar, pekerjaan, latar beakang pendidikan dan jenis kelamin. Siswa atau mahasiswa yang mempunyai fasilitas belajar yang cukup dalam menunjang aktivitas belajarnya, tentu akan mendapat hasil belajar yang lebih baik jika dibandingkan dengan siswa atau mahasiswa yang belajarnya tidak ditunjang oleh fasilitas belajar yang memadai. Siswa atau mahasiswa yang masih muda, tentu hasil belajarnya akan lebih baik, jika dibandingkan dengan siswa atau mahasiswa yang sudah tua. Karena orang muda lebih cepat menangkap, lebih mudah mengingat, dan lebih cektan dalam belajar dibandingkan dengan yang sudah tua. Siswa atau mahasiswa yang belum bekerja dibandingkan dengan yang sudah bekerja. Tentu hasil belajarnya lebih baik yang belum bekerja, karena lebih banyak punya waktu untuk belajar dan lebih terkonsentrasi dalam belajar. Latar belakang pendidikan juga dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang. Penidikan yang diterima sebelumnya akan mempengaruhi hasil belajar seseorang. Orang yang melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan pendidikan yang diterima sebelumnya, akan lebih mudah menerima dan memahami apa yang dismapaikan oleh guru atau dosen karena telah mempunyai dasar pengetahuan tentang apa yang dipelajarinya.Tidak demikian halnya dengan orang yang tidak mempunyai dasar pengetahuan tentang pendidikan yang diikutinya. Mereka harus lebih banyak belajar untuk dapat memahami pelajaran-pelajaran atau perkuliahan-perkuliahan yang disampaikan guru atau dosen.
Selain itu jenis kelamin juga dapat mempengaruhi hasil belajar.sesorang. Jenis kelamin merupakan faktor pembawaan yang dibawa seseorang sejak ia dilahirkan. Jenis kelamin mempengaruhi sifat atau karekter sesorang. Karekter laki-laki umumnya tegas, rasional, cekatan dan ulet pantang menyerah. Karekter wanita lembut, emosional, lamban dan mudah menyerah.Namun demikian laki-laki punya sifat ceroboh, tidak sabar, dan kurang cermat. Berbeda dengan wanita yang punya sifat teliti, sabar dan cermat dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Karekter dan sifat-sifat ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi cara-cara belajar dan hasil belajar mahasiswa atau mahasiwi.
Sementara itu konstruksi sosial dari seksualitas, mengacu pada proses ketika ide-ide, prilaku dan kondisi seksual dintrepretasikan dan dipelajari, setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan mengembangkan kapasitas seksualnya menurut aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat dan kebudayaannya. Ada larangan dan keharusan yang telah ditetapkan dalam masyaraat yang mempengaruhi prilaku mereka.(Anna Marie Wattie, 1996:184). Secara kemampuan akademis tidak ada perbedaan antara pria dan wanita, hanya faktor biologislah yang membedakan antara pria dan wanita, dimana secara kodrati wanita melahirkan dan menyusui anak. Semua peran yang dilakuan oleh laki-laki mampu juga dilakukan oleh wanita.
Latar belakang pendidikan sebelumnya dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang. Sebab kualitas pembelajara yang diterima oleh sesorang dari suatu pendididkan akan menjadi dasar bagi seseorang untuk dapat mengikuti dengan baik pendidikan lanjutannya. Apa yang telah diketahui seseorang akan berfungsi sebagai filter yang akan membantu mereka dalam menentukan dan menaruh perhatian pada suatu informasi atau materi pelajaran yang disajikan (Rudiana, 2012:34). Oleh sebab itu pengalaman belalajar yang lalu berpengaruh terhadap keberhasilan belajar yang dilakukan pada saat sekarang ini. Kualitas pembelajaran yang kurang efektif yang diterima siswa sebelumnya menjadi salah satu faktor penghambat kegagalan siswa dalam megikuti pelajaran pada studi lanjutannya.
Seorang mahasiswa atau mahasiswi akan dapat belajar di suatu perguruan tinggi dengan baik, jika ia telah mendapatkan pendidikan ang baik pula pada saat menempuh pendidikan di sekolah menengah. Karena belajar adalah merupakan upaya menghubungkan pengetahuan yang telah kita memiliki dengan pengetahuan baru, respon yang berakal menyebabkan munculnya pemahaman, muncul insight yang menunjukan bahwa proses pembelajaran itu behasil. Jika sesuatu itu tidak memiliki relevansi atau bertentangan dengan kumpulan pengetahuan yang dimiliki seeorang , maka ia jarang sekali bisa bermakna. Hal menjadi sebab mengapa seseorang sangat sulit untuk memahami sesuatu pesoalan yang dipelajarinya.
Pendidikan pada Sekolah Menengah Negeri pada umumnya lebih baik dibandingkan dengan pendidikan di Sekolah Menenah Swasta. Sekolah Menengah Negeri sumber daya pendidikannya lebih terjamin seperti kualifikasi tenaga pengajar, fasilitas belajar dan pendanaan karena umumnya mendapat bantuan dari pemerintah Tidak demikian halnya dengan Sekolah Menengah Swasta sumber daya pendidikan umumnya jauh dari standar. Biaya pendidikan ditanggung oleh orang tua siswa yang pengelolaan dilakuan oleh suatu badan pengelola yang disebut yayasan. Dana pengelolaan dari orang tua siswa ini tidaklah cukup untuk dapat meningkatkan kiualitas pendidikan, karena penarikan dana yag terlalu mahal tidak sesuai dengan kemampuan orang tua menyebabkan sekolah tidak diminati oleh masyarakat. Data yang dilansir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Moh Nuh mengenai hasil Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA/MA, menunjukkan sekolah-sekolah negeri masih lebih hebat dibanding sekolah swasta (http:rapendik.com/program/impag/1273 sekolah negeri-lebih hebat, diakses, jum’at, 5 september 2013)
Jenis pekerjaan orang tua berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Hal ini disebabkan karena jenis pekerjaan berkaitan erat dengan pendapatan, tingkat pendidikan, dan waktu orang tua dalam memperhatikan pendidikan anak-anak mereka. Hasil penelitin menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis pekerjaan dengan kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah. Besarnya koefisen hubungan antara kedua variabel itu 0,90 sangat tinggi. Berdasar analisis tabulasi silang, diketahui bahwa orang tua mempunai jenis pekerjaan terampil, kepeduliannya terhadap pendidikan anak di sekolah lebih baik dibadingkan dengan orang tua yang bekerja pada jenis pekerjaan semi terampil. Orang tua yang bekerja pada jenis pekerjaan semi terampil labih baik kepeduliannya terhadap pendididiakn anaknya dibandingkan dengan orang tuan yang bekerja pada jenis pendidikan tidak terampil.(Zuldafrial, 2002: 69). Penelitian lainnya menunjukan bahwa teradapat hubungan positif antara jenis pekerjaan orang tua dengan prestasi belajar siswa di sekolah ( Zuldafrial, 2004:156)
Orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri mempunyai pengahsilan tetap yang dibawa pulang setiap bulan, Tingkat pendidikan umumnya cukup tinggi dan mempunyai waktu yang cukup untuk memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sedangkan orang tua yang bekerja sebagai karyawan swasta umumnya penghasilan tidak tetap, waktu bekerja tidak tetap dan tingkat pendidikanm bervariasi.
Oleh karena itu secara hipotesis dapat dikatakan bahwa hasil belajar mahasiwa atau mahasiswi yang latar belakang pekerjaan orang tuanya sebagai pegawai negeri tentu lebih baik diandingkan dengan mahasiswa atau mahasiswa yang latar belakang perkejaan orang tuanya sebagai karyawan swasta. Karena orang tua yang pekerjaannya sebagai pegawai negeri lebih dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya dalam belajar dalam bentuk perhatian atau kepedulian tehadap pendidikannya anak-anaknya dalam bentuk kongkritnya dapat memngontrol aktivitas belajar anaknya dan relatif mampu memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya.
METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode ex post facto dengan disain factorial 2x2x2. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terdiri dari : a) Jenis kelamin b) Latar beelakang Pendidikan dan c) Pekerjaan Oang Tua. Variabel terikat adalah hasil belajar. Sedangkan variabel kontrol adalah: a) Tahun perkuliahan akademik 2012-2013 b) Hasil belajar semester dua.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi sejarah dengan karekteristiknya: a) Mahasiwa semester genap tahun akademik 2012-2013; b) Mahasiswa semester II; c) Mahasiswa kelas pagi; d) Mahasiswa yang terherigistrasi dan mengikuti ujian semester.
Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu ingin mencari pengaruh heteregonitas berupa jenis kelamin, latar belakang pendidikan dan pekerjaan orang tua terhadap hasil belajar mahasiwa-mahasiswi program studi sejarah dengan cara membandingkan maka populasi penelitian dikelompokan menjadi 4 kelompok yaitu: a) kelompok mahasiswa, latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri ; b) Kelompok mahasiswa, latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Swastai dan pekerjaan orang tua Karawan Swasta; c) Kelompok mahasiswi latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri dan d) Kelompok Mahasiswi latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Swasta dan pekerjaan orang tua Karayawan Swasta.Jumlah populasi secara keseluruhan 137 orang.
Penelitian ini penelitian sampel dan teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling dimana jumlah sampel ditarik secara proporsional berdasarkan jumlah kelompok pupulasi penelitian dengan cara diundi.Penentuan besar ukuran sampel ditentukan berdasarkan empat hal yang perlu dipertimbangkan:
a. Derajat keseragaman dari populasi. Makin seragam populasi itu, makin kecil populasi yang dapat diambil.
b. Presisi yang dikehendaki dari penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki, makin besar jumlah sampel yang harus diambil. Jadi sampel yang besar cenderung memberikan penduga yang lebih mendekati nilai keseluruhan.
c. Rencana analisis. Adakalanya besarnya sampel sudah mencukupi sesuai dengan presisi yang dikehendaki, tetapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan analisis, maka jumlah sampel tersebut kurang mencukupi.
d. Tenaga, biaya, dan waktu. Bila menginginkan presisi yang tinggi, maka jumlah sampel harus besar. Tetapi apabila tenaga, biaya dan waktu terbatas, maka tidaklah mungkin untuk mengambil sampel yang besar dan ini berarti presisinya akan menurun. (Masri dan Sofian Effendi, 1989: 150).
Berdasarkan pertimbangan di atas besarnya ukuran sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebesar 30 orang mahasiswa atau mahasiswi untuk masing-masing kelompok, sehingga jumlah sampel seluruhnya adalah 120 orang.
Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik studi dokementer, dimana peneliti mengumpulkan data-data dokumen yang berkaitan dengan indentitas mahasiswa, latar belakang pendidikannya, pekerjaan orang tua dan prestasi belajar mahasiswa atau mahasiswi semester genap pada program studi sejarah pada STKIP-PGRI Pontianak tahun akademik 2012-2013.
Karena penelitian ini bermaksud membandingkan tentang suatu kelompok dengan kelompok lain tentang sesuatu hal, dalam hal ini adalah antara kelompok menurut jenis kelamin, antara kelompok menurut latar belakang pendidikan dan antara kelompok ,menurut status pekerjaan orang tua, maka teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa varian tiga jalan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Perbedaan hasil belajar antara siswa pria dan wanita
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar pada Mahasiswa adalah 3,18 dan kelompok wanita adalah 3,16. Ini berarti bahwa kelompok Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih tinggi atau lebih baik dari kelompok Mahasiswi.
b. Perbedaan hasil belajar berdasarkan asal SLTA
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri 3,15 dan kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang bersalal dari SLTA swasta 3,18. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta.
c. Perbandingan hasil belajar berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri 3,44 dan kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuannya Pegawai Swasta 3,16. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta.
d. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin dan Asal Sekolah
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Negeri 3,25 dan kelompok mahasiswi 3,14. Ini berarti bahwa kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Negeri lebih baik hasil belajarnya dari pada kelompok mahasiswi. Skor rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA Swasta 3,14 dan kelompok mahasiswi 3,19. Ini berarti bahwa kelompok mahasisw yang berasal dari SLTA Swasta lebih rendah hasil belajarnya dari pada kelompok mahasiswi.

e. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin dan Pekerjaan Orang Tua
Berdasarkan perbedaan skor rata-rata antara kedua kelompok yang dibandingkan itu menunjukan bahwa rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri 3,22 dan kelompok mahasiswi 3,20. Ini berarti bahwa tidak perbedaan hasil belajar antara kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri.
Sedangkan indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta 3,17 dan kelompok mahasiswi 3,13. Ini berarti hasil belajar mahasiswa putra lebih baik dari mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tunya sebagai Pegawai Swasta.
f. Perbedaan hasil belajar berdasarkan asal sekolah dan pekerjaan orang tua
Rata-rata indek prestasi kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri 3.28 dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,11. Ini berarti hasil belajar mahasiswa dan mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya pegawai negeri lebih baik dari yang orang tuanya pegawai swasta.
Sedangkan rata-rata indek prestasi kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri 3.14 dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,19. Ini berarti hasil belajar mahasiswa dan mahasiswa yang pekerjaan orang tuanya pegawai negeri lebih rendah dari yang orang tuanya pegawai swasta.
g. Perbedaan hasil belajar berdasarkan jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua Pegawai negeri 3,31. Sedangkan rata-rata hasil belajar kelompok mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri 3,25. Ini berarti hasil belajar mahasiswa lebih dari pada kelompok mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai negeri.
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai swasta 3,31 dan kelompok mahasiswi 3.03. Ini berarti hasil belajar mahasiswa lebih baik dari mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri dan pekerjaan orang tua pegawai swasta.
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa dari SLTA swasta , pekerjaan orang tua pegawai swasta 3.15 dan untuk kelompok mahasiswi indek prestasi 3,23. Ini berarti mahasiswa yang berasal dari SLTA swasta pekerjaan orang tua pegawai swasta lebih rendah hasil belajarnya dari mahasiswi
Rata-rata indek prestasi belajar kelompok mahasiswa berasal dari SLTA swasta pekerjaan orang tua pegawai negeri 3,14 dan kelompok mahasiswi 3,15. Ini berarti tidak ada perbedaan hasil belajar antara mahasiswa dan mahasiswi untuk kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta dan pekerjaan orang tuanya pegawai negeri.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dapap simpulkan hasil penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah sebagai brikut:
1. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara siswa Mahasiswa dan mahasiswi. Mahasiswa memiliki hasil belajar lebih tinggi atau lebih baik dari kelompok Mahasiswi.
2. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA Negeri dan mahasiswa dan mahasiwi yang berasal dari SLTA swasta. Kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA negeri hasil belajarnya lebih rendah dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari SLTA swasta.
3. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar antara Mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri dan mahasiswa dan mahasiwi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta. kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Negeri hasil belajarnya lebih tinggi dari hasil belajar kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang pekerjaan orang tuanya Pegawai Swasta.
4. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan asal sekolah
5. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan maahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin dan pekerjaan orang tua
6. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar berdasarkan interaksi asal sekolah dan pekerjaan orang tua.
7. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil belajar mahasiswa dan mahasiswi berdasarkan interaksi jenis kelamin, asal sekolah dan pekerjaan orang tua.
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA
Anna Marie attie (1996), “ Gender Hak Reproduksi, dan Pelayanan Keluarga Barencana” dalam Agus Dwiyanto, Faturrochman, Marcelinus Molo, Irwan Abdullah, (Ed): Penduduk dan Pembangunan. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada.
Depdikbud, (1983) Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus, Petunjuk Pelaksanaan Sistem Kridit Semester Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Dirjen Dikti.
Emzir, (2007), Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Fudyartanta, (1971), Inti Sari Psikologi Perkembangan I. Yogyakarta: Warawydiarni
Gay.R, (1981), Educational Research: Competencies For Analysis & Application. (Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company.

Habeyb, (1979), Kamus Populer. Jakarta : Centera
Hadari Nawawi, (1987), Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Kartini Kartono, (1980), Metode Research. Bandung: Alumni
Masrun dan Sri Mulyani Martaniah, (1976), Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, ( 1989), Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES
Rudiana, (2012), Karekter Guru Menyenangkan Berbasis Ramah Otak. Bandung: Smaile’s Indonesia Institute(SII) Publishing
Siswaatmadja, (1979), Didaktik Kurikulum. Pontianak: FIP-UNTAN
Sutrisno Hadi, (1979), Metodologi research I. Yogyakarta; Fakultas Psikologi UGM
STKIP-PGRI Pontianak (2009) Pedoman Operasional Tahun Akademik 2009.2010 Tentang Akademik, Kemahasiwaaan, Penulisan Skripsi& Makalah.
WJS Poerwadarminta, (1976), Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka
Winarno Surachmad, (Tanpa Tahun), Metode Research (Pengantar Penyelidikan Ilmiah)
Zahara Idris, (1981), Dasar-dasar Pependidikan. Padang: Angkasa Raya
Zuldafrial, (2004), “ Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Kualitas Proses Belajar- Mengajar Siswa di Sekolah, Studi Kasus di Desa Sunga Itik, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Pontianak “, Edukasi Jurnal Pendidikan, Vol.2 No.2 Oktober, STKIP-PGRI Pontianak.
_______, ( 2002), “ Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua dengan dengan Kepedulian Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Sekolah (Studi Kasus Kecamatan Sukadana) “, Wawasan Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Vol.10 No. 3 Oktober
_______, (2011), Startegi Belajar- Mengajar. Pontianak: STAIN Pontianak Press

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

A. Pergulatan Manusia dalam Keanekaragaman Budaya
Semenjak awal, dunia telah melakukan penelusuran hakikat asal usul dari manusia, seperti mengungkap kotak hitam misteri yang tak pernah ditemukan kunci pembukanya. Pemecahan seluk beluk sejarah manusia telah menyita waktu dan pemikiran yang menimbulkan penafsiran bermacam-macam. Masing-masing pemikir atau asumsi umum silih berganti mengajak masyarakat menjadi penganut perspektif tersebut. Diantaranya adalah tiga asumsi besar yang hadir pada masyarakat awam sebelum jaman pencerahan. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya makhluk manusia memang diciptakan beraneka macam atau poligenesis; dan menganggap bahwa orang-orang di Eropa yang berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik dan kuat. Oleh karena itu, kebudayaan yang dimilikinya juga paling sempurna dan paling tinggi. Kedua adalah yang meyakini bahwa sebenarnya makhluk manusia itu hanya pernah diciptakan sekali saja atau monogenesis; yaitu dari satu makhluk induk dan bahwa semua makhluk manusia di dunia ini merupakan keturunan Adam. Sebagian dari mereka yang punya pandangan ini berpendapat bahwa keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya, dari tinggi sampai rendah; sebagai akibat proses kemunduran yang disebabkan oleh dosa abadi yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam. Ketiga, berpendapat bahwa sebenarnya makhluk manusia dan kebudayaan tidak mengalami proses degenerasi. Akan tetapi apabila pada masa kini terdapat perbedaan, lebih disebabkan oleh tingkat kemajuan mereka yang berbeda. Makhluk manusia yang mereka jumpai di Afrika, Asia dan Oceanea merupakan keturunan Nabi Adam yang nenek moyang mereka ‘lebih rendah’ dibandingkan dengan nenek moyang orang-orang Eropa.
Kebangkitan kembali terhadap studi kesusastraan dan ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Klasik yang terjadi pada abad XVI di Eropa atau yang dikenal dengan Renaissance; menimbulkan rasionalisme yang pada akhirnya menyebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Pada masa itu, yaitu sampai abad XVIII, Eropa mengalami zaman Aufklarung atau ‘Pencerahan’. Berbagai bidang kajian banyak dilakukan, termasuk upaya untuk meneliti tentang keanekaragaman makhluk manusia dan kebudayaannya di berbagai tempat di muka bumi. Beraneka macam kajian anatomi komparatif yang dilakukan, lebih ditekankan atas dasar keanekaragaman ciri-ciri fisik manusia. Selain itu,ada sebagai para ahli filsafat sosial di masa Aufklarung, mulai mengkaji berbagai bentuk-bentuk masyarakat dan tingkah laku makhluk manusia. Berbagai gejala dan tingkah laku manusia,dicoba untuk dipahami dengan mendasarkan pada kaidah-kaidah alam. Untuk itu metodologi ilmu eksakta, khususnya biologi,kerapkali dicoba untuk diterapkan untuk mengkaji perilaku manusia. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kekaguman mereka terhadap kemajuan ilmu alam dan ilmu pasti yang terjadi pada zaman itu. Beraneka ragam gejala perilaku makhluk manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dianalisis secara induktif dengan mencari unsur-unsur persamaan yang ada; kemudian diupayakan dirumuskannya sebagai kaidah-kaidah sosial. Cara berpikir rasional yang akhirnya berkembang menjadi aliran positivism sangat mewarnai para cendekiawan pada zaman Aufklarung. Mereka percaya bahwa berbagai kaidah tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengatur dan merubah suatu masyarakat. Agaknya, pola pikir para cendekiawan masa Aufklarung yang memandang masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan,yang mana bagian-bagian dan unsur-unsurnya saling terkait antara satu dengan lainnya sebagai suatu sistem yang bulat; sampai sekarang ini masih tetap relevan dalam antropologi, terutama yang mengacu pada metode pendekatan holistik. Wujud dari keanekaragaman masyarakat manusia itu di samping disebabkan oleh akibat dari sejarah mereka masing-masing; juga karena pengaruh lingkungan alam dan struktur internalnya.Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan,tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan harus dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri (relativisme kebudayaan). Atas dasar itu, ia mengajukan konsep pemikirannya bahwa pada dasarnya kebudayaan umat manusia adalah berkembang melalui suatu tingkat-tingkat evolusi tertentu. Kebudayaan yang dimiliki orang Eropa merupakan contoh dari tahap akhir suatu proses evolusi tersebut. Sejak pertama kalinya, makhluk yang bercirikan manusia muncul di muka bumi sekitar satu juta tahun yang lalu, yaitu dengan ditemukannya fosil dari makhluk Pithecanthropus Erectus, sampai dengan sekarang ini, telah terjadi berbagai perubahan kebudayaan yang dimilikinya; sementara itu proses evolusi organik makhluk manusia tidak secepat perkembangan kebudayaannya.Oleh karenanya kebudayaan menunjukkan satu sifat khasnya yakni superorganik. Apabila proses evolusi kebudayaan dibandingkan dengan proses evolusi fisik dari makhluk manusia, sampai pada suatu kurun waktu tertentu masih berjalan sejajar.Akan tetapi pada suatu tahap perkembangan tertentu, diduga proses perubahan kebudayaan berjalan amat cepat sekali seolah-olah meninggalkan proses evolusi organiknya.
Selain disebabkan oleh mekanisme lain seperti munculnya penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi; perubahan suatu lingkungan akan dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan. Selama perjalanan waktu yang lama,dengan akal yang dimilikinya, makhluk manusia semakin memiliki kemampuan menyempurnakan kebudayaan yang dimilikinya. Setiap kali mereka berupaya menyempurnakan dirinya, maka akan menyebabkan perubahan kebudayaannya. Suatu perubahan kebudayaan dapat berasal dari luar lingkungan pendukung kebudayaan tersebut. Gerak kebudayaan yang telah menimbulkan perubahan dan perkembangan, akhirnya juga menyebabkan terjadinya pertumbuhan; sementara itu tidak tertutup kemungkinan hilangnya unsur-unsur kebudayaan lama sebagai akibat ditemukannya unsur-unsur kebudayaan baru. Dalam rangka studi akulturasi, para ahli antropologi telah lama mencoba untuk memahami terjadinya perbedaan derajat perubahan perkembangan suatu kebudayaan.
Sementara itu dalam sejarah perkembangan kebudayaan umat manusia, Childe (1998) berpendapat bahwa ada tiga jenis revolusi terpenting dalam sejarah perkembangan kebudayaan makhluk manusia. Perubahan kebudayaan yang demikian pesat atau lebih dikenal dengan Revolusi Kebudayaan Pertama, terjadi tatkala makhluk manusia yang termasuk Homo Sapiens pada sekitar 80.000 tahun yang lalu, mereka masih hidup dari berburu dan meramu. Kepandaian bercocok tanam baru muncul sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu di sekitar daerah pertemuan Sungai Tigris dan Eufrat atau di Lembah Mesopotamia. Setelah ia mengenal sistem pemukiman kota, artinya ia mulai juga bertempat tinggal di kota-kota pada enam ribu tahun yang lalu di Pulau Kreta Yunani, terjadilah suatu Revolusi Kebudayaan kedua; dan setelah itu perkembangan kebudayaan manusia semakin pesat. Akhirnya pada abad XVII di Inggris, terjadi Revolusi Industri, dan oleh Gordon Childe dianggap sebagai Revolusi Kebudayaan ketiga. Setelah Revolusi Industri, makhluk manusia mengenal teknik memproduksi barang secara massal karena tenaga manusia mulai digantikan dengan mesin-mesin yang ditemukan. Sejak itulah, kebudayaan umat manusia semakin tumbuh dengan pesat seolah-olah melepaskan dirinya dari proses evolusi organik atau evolusi biologis makhluk manusia.Menurut Morgan, 1877 (dalam Poerwanto, 2000) menyatakan bahwa tingkat kemajuan masyarakat manusia dapat dibagi ke dalam tiga periode evolusi, yaitu periode masyarakat berburu atau periode liar (savage), periode beternak (barbarism) dan periode pertanian yang berkembang ke arah peradaban atau civilitation .Dalam konteks tersebut, para cendekiawan di masa Aufklarung selalu menempatkan bangsa-bangsa di luar Eropa sebagai contoh orang yang tingkat perkembangan kebudayaannya berada pada tahap awal.
Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sementara itu pendukung kebudayaan adalah makhluk manusia itu sendiri. Sekalipun makhluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada anak-cucu mereka; melainkan dapat pula secara horisontal yaitu manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya.Berbagai pengalaman makhluk manusia dalam rangka kebudayaannya, diteruskan dan dikomunikasikan kepada generasi berikutnya oleh individu lain. Berbagai gagasannya dapat dikomunikasikannya kepada orang lain karena ia mampu mengembangkan gagasan-gagasannya itu dalam bentuk lambang-lambang vokal berupa bahasa, baik lisan maupun tertulis.Kebudayaan mengenal ruang dan tempat tumbuh kembangnya, dengan mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan.Manusia tidak berada pada dua tempat atau ruang sekaligus, ia hanya dapat pindah ke ruang lain pada masa lain. Pergerakan ini telah berakibat pada persebaran kebudayaan, dari masa ke masa, dan dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai akibatnya di berbagai tempat dan waktu yang berlainan, dimungkinkan adanya unsur-unsur persamaan di samping perbedaan-perbedaan. Oleh karena itu di luar masanya, suatu kebudayaan dapat dipandang ketinggalan zaman (anakronistik), dan di luar tempatnya dipandang asing atau janggal.

B. Pendidikan dalam Lingkup Kebudayaan
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dalam kehidupannya bermasyarakat yang dijadikan miliknya, berupa sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. (Koentjaraningrat, 1996: 72). Lingkungan atau alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Dalam konteks hidupnya demi membentuk ketahanan hasil buah budi tersebut manusia melanjutkan dalam suatu tatanan simbol yang memberi arah bagi kehidupan. Sistem simbol ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat pendukung dalam berpikir maupun bertindak. Proses selanjutnya yang terjadi adalah hubungan transformatif dan penguatan sistem simbol agar dapat diteruskan kepada anggota berikutnya. Selain itu selama kehidupan berjalan unsur-unsur kebudayaan selalu berubah menyesuaikan perkembangan jaman. Dalam hal ini sistem symbol dengan sendirinya melakukan reaksi untuk mengintegrasikan perubahan atas unsur kebudayaan. Agen yang berfungsi sebagai transmitor produk budaya kepada anggota (khususnya generasi muda) adalah pendidikan. Hal ini mengingat pendidikan itu tiada lain adalah wahana pembelajaran segala bentuk kemampuan bagi sang pembelajar agar menjadi manusia dewasa.Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justeru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki. Afinitas mengenai pendidikan dan kebudayaan dapat kita cermati dalam ciri khas manusia sebagai makhluk simbolik. Hanya manusialah yang mengenal dan memanfaatkan symbol-simbol di dalam kelanjutan kehidupannya. Simbol-simbol itu dapat kita lihat di dalam kebudayaan manusia. Mengingat kebudayaan dilestarikan dan dikembangkan melalui simbol-simbol maka semua tingkah laku manusia terdiri dari, dan tergantung pada simbol-simbol tersebut. Sebaliknya kebudayaan bisa lestari apabila memiliki daya kerja yang kuat dalam memberikan arahan para pendukungnya. Oleh karena itu kebudayaan diturunkan kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggota-anggotanya.Uraian tentang pendidikan dan kebudayaan akan diterangkan dalam urutan pembahasan dibawah ini.
1. Kepribadian dalam Proses Kebudayaan
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi,menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta didik. Kurikulum kebanyakan berpusat pada bidang studi yang tersusun secara logis dan sistimatis yang tidak nyata hubungannya dengan kehidupan sehari-sehari anak didik. Apa yang dipelajari anak didik tampaknya hanya memenuhi kepentingan sekolah untuk ujian, bukan untuk membantu totalitas anak didik agar hidup lebih efektif dalam masyarakat. Pelaku pendidikan di Indonesia hanya memikirkan bagaimana mencapai standar kelulusan saja, bukan bagaimana pendidikan yang dilakukan dapat mengembangkan potensi unggul anak didik, efektif dan bermakna. Tidak peduli bagaimana proses pembelajaran dilakukan, lebih spesifiknya nilai yang diperoleh siswa, yang terpenting adalah memenuhi nilai di atas standar saja. Potensi yang dibawa peserta didik sejak lahir berupa keunggulan individu tidak dapat tumbuh dan berkembang, disebabkan pendidikan yang hanya menekankan ketercapaian hasil belajar berdasarkan standar kognitif yang ditunjukan dengan nilai skor kelulusan yang telah ditentukan. (Nasution, 1999: 148; Zuldafrial,2013: 53).
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut : a). Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.b) Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku tertentu. c) Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment” terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan sistem nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu. d) Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui proses belajar.
Apabila analisis Gillin di atas kita cermati, tampak betapa peranan kebudayaan dalam pembentukan kepribadian manusia, maka pengaruh antropologi terhadap konsep pembentukan kepribadian juga akan tampak dengan jelas. Terutama bagi para pakar aliran behaviorisme, melihat adanya suatu rangsangan kebudayaan terhadap pengembangan kepribadian manusia. Pada dasarnya pengaruh kebudayaan terhadap pembentukan kepribadian tersebut sebagaimana dikutip Tilaar (1999) dapat dilukiskan sebagai berikut a). Kepribadian adalah suatu proses. Seperti yang telah kita lihat kebudayaan juga merupakan suatu proses. Hal ini berarti antara pribadi dan kebudayaan terdapat suatu dinamika Tentunya dinamika tersebut bukanlah suatu dinamika yang otomatis tetapi yang muncul dari aktor dan manipulator dari interaksi tersebut ialah manusia; b).Kepribadian mempunyai keterarahan dalam perkembangan untuk mencapai suatu misi tertentu. Keterarahan perkembangan tersebut tentunya tidak terjadi di dalam ruang kosong tetapi dalam suatu masyarakat manusia yang berbudaya;.c).Dalam perkembangan kepribadian salah satu faktor penting ialah imajinasi. Imajinasi seseorang akan dapat diperolehnya secara langsung dari lingkungan kebudayaannya. Manusia tanpa imajinasi tidak mungkin mengembangkan kepribadiannya. Hal ini berarti apabila seseorang hidup terasing seorang diri dari nol di dalam perkembangan kepribadiannya. Bayangkan bagaimana kehidupan kebudayaan manusia apabila setiap kali harus dimulai dari nol;.d).Kepribadian mengadopsi secara harmonis tujuan hidup dalam masyarakat agar ia dapat hidup dan berkembang. Tentunya manusia itu dapat saja menentang tujuan hidup yang ada dalam masyarakatnya, namun demikian itu berarti seseorang akan melawan arus di dalam perkembangan hidupnya. Paling efisien adalah dia secara harmonis mencari keseimbangan antara tujuan hidupnya dengan tujuan hidup dalam masyarakatnya; e) Di dalam pencapaian tujuan oleh pribadi yang sedang berkembang itu dapat dibedakan antara tujuan dalam waktu yang dekat maupun tujuan dalam waktu yang panjang. Baik waktu yang dekat maupun tujuan dalam jangka waktu yang panjang, sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup di dalam suatu masyarakat; f.) Berkaitan dengan keberadaan tujuan di dalam pengembangan kepribadian manusia, dapatlah disimpulkan bahwa proses belajar adalah proses yang ditujukan untuk mencapai tujuan.Learning is a goal teaching behavior; g).Dalam psikoanalisis juga dikemukakan mengenai peranan super-ego dalam perkembangan kepribadian. Super-ego tersebut tidak lain adalah dunia masa depan yang ideal. Seperti yang telah diuraikan, dunia masa depan yang ideal merupakan kemampuan imajinasi yang dikondisikan serta diarahkan oleh nilai-nilai budaya yang hidup di dalam suatu masarakat; h). Kepribadian juga ditentukan oleh bawah sadar manusia. Bersama-sama dengan ego, beserta ide, keduanya merupakan energi yang ada di dalam diri pribadi seseorang. Energi tersebut perlu dicarikan keseimbangan dengan kondisi yang ada serta dorongan super-ego diarahkan oleh nilai-nilai budaya. Pengembangan id, ego, dan super-ego dari kepribadian seseorang berarti mencari keseimbangan antara energi di dalam diri pribadi dengan pola-pola kebudayaan yang ada.
2. Penerusan Kebudayaan
Satu proses yang dikenal luas tentang kebudayaan adalah transmisi kebudayaan. Proses tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu ditransmisikan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Bahkan banyak ahli pendidikan yang merumuskan proses pendidikan tidak lebih dari proses transmisi kebudayaan. Mengenai masalah ini marilah kita cermati lebih jauh oleh karena seperti yang telah dijelaskan, kepribadian bukanlah semata-mata hasil tempaan dari kebudayaan. Manusia atau pribadi adalah aktor dan sekaligus manipulator kebudayaannya.Dengan demikian ,kebudayaan bukanlah sesuatu entity yang statis tetapi sesuatu yangt terus-menerus berubah. Untuk membuktikan hal tersebut marilah kita lihat variabel-variabel transmisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Fortes dalam Koentjoroningrat (1991). Di dalam transmisi tersebut kita lihat tiga unsur utama yaitu, (1) unsur-unsur yang ditransmisi, (2) proses transmisi, dan (3) cara transmisi
Unsur-unsur kebudayaan manakah yang ditransmisi? Pertama-tama tentunya unsur-unsur tesebut ialah nilai-nilai budaya, adat-istiadat masyarakat, pandangan mengenai hidup serta berbagai konsep hidup lainnya yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya berbagai kebiasaan sosial yang digunakan dalam interaksi atau pergaulan para anggota di dalam masyarakat tersebut. Selain itu, berbagai sikap serta peranan yang diperlukan di dalam dunia pergaulan dan akhirnya berbagai tingkah-laku lainnya termasuk proses fisiologi, refleks dan gerak atau reaksi-reaksi tertentu dalam penyesuaian fisik termasuk gizi dan tata-makanan untuk dapat bertahan hidup.
Proses transmisi meliputi proses-proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi. Imitasi adalah meniru tingkah laku dari sekitar. Pertama-tama tentunya imitasi di dalam lingkungan keluarga dan semakin lama semakin meluas terhadap masyarakat lokal. Hal yang diimitasi adalah unsur-unsur yang telah dikemukakan di atas. Transmisi unsur-unsur tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Seperti telah dikemukakan manusia adalah aktor dan manipulator dalam kebudayaannya. Oleh sebab itu, unsur-unsur tersebut harus diidentifikasi. Proses identifikasi itu berjalan sepanjang hayat sesuai dengan tingkat kemampuan manusia itu sendiri. Seorang bayi, seorang pemuda, seorang dewasa, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam mengidentifikasi unsur-unsur budaya tersebut. Selanjutnya nilai-nilai atau unsur-unsur budaya tersebut haruslah disosialisasi artinya harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan yang semakin lama semakin meluas. Nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang harus mendapatkan pengakuan lingkungan sekitarnya. Artinya perilaku-perilaku tersebut harus mendapatkan pengakuan sosial yang berarti bahwa perilaku-perilaku yang dimiliki tersebut adalah yang sesuai atau yang seimbang dengan nilai-nilai yang ada di dalam lingkungannya.
Rangkaian transmisi berangkat dari imitasi, identifikasi, dan sosialisasi, berkaitan dengan bagaimana cara mentransimisikannya. Ada dua bentuk yaitu peran-serta dan bimbingan. Cara transmisi dengan peran-serta antara lain dapat berwujud ikutserta di dalam kegiatan sehari-hari di dalam lingkungan masyarakat. Bentuk bimbingan melalui pranata-pranata tradisional seperti inisiasi, upacara-upacara yang berkaitan dengan tingkat umur, sekolah, agama, dan sekolah formal yang sekuler. Demikianlah proses transmisi kebudayaan sebagai proses pendidikan yang dikemukakan oleh Fortes. Proses tersebut terjadi di dalam suatu masyarakat sederhana yang relatif tertutup dari pengaruh dunia luar. Di dalam dunia terbuka dewasa ini dengan kemajuan teknologi komunikasi, proses transmisi kebudayaan yang sederhana tersebut tentunya telah berubah. Data dan informasi dengan mudah dapat diperoleh sehingga peranan lingkungan bukan lagi lingkungan sosial yang terbatas tetapi lingkungan yang mondial. Dengan demikian proses transmisi kebudayaan di dalam masyarakat modern akan menghadapi tantangan-tantangan yang berat. Di sinilah letak peranan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian yang kreatif dan dapat memilih nilai-nilai dari berbagai lingkungan. Dalam hal ini kita berbicara mengenai keberadaan kebudayaan dunia yang meminta suatu proses pendidikan yang lain yaitu kepribadian yang kokoh yang tetap berakar kepada budaya lokal. Hanya dengan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya lokal akan dapat memberikan sumbangan bagi terwujudnya nilai-nilai global.

C. Pendidikan dan Proses Pembudayaan
Seperti yang telah kita bicarakan mengenai transmisi kebudayaan, nilai-nilai kebudayaan bukanlah hanya sekadar dipindahkan dari satu bejana ke bejana berikut yaitu kepada generasi mudanya,tetapi dalam proses interaksi antara pribadi dengan kebudayaan betapa pribadi merupakan agen yang kreatif dan bukan pasif. Di dalam proses pembudayaan terdapat pengertian seperti inovasi dan penemuan, difusi kebudayaan, akulturasi, asimilasi, inovasi, fokus, krisis, dan prediksi masa depan serta banyak lagi terminology lainnya. Beberapa proses tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penemuan atau Invensi
Dua konsep tersebut merupakan proses terpenting dalam pertumbuhan dan kebudayaan. Hal itu mengingat tanpa penemuan-penemuan yang baru dan tanpa invensi suatu budaya akan mati. Biasanya pengertian kedua terminologi ini dibedakan. Suatu penemuan berarti menemukan sesuatu yang sebelumnya belum dikenal tetapi telah tersedia di alam sekitar atau di alam semesta ini. Misalnya di dalam sejarah perkembangan umat manusia terjadi penemuan-penemuan dunia baru sehingga pemukiman manusia menjadi lebih luas dan berarti pula semakin luasnya penyebaran kebudayaan. Selain itu, di dalam penemuan dunia baru akan terjadi difusi atau proses lainnya mengenai pertemuan kebudayaan-kebudayaan tersebut. Istilah invensi lebih terkenal di dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan invensi maka umat manusia dapat menemukan hal-hal yang dapat mengubah kebudayaan.
Penemuan dan invensi berkaitan dengan inovasi. Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energy dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Jadi inovasi adalah pembaruan unsur teknologi dan ekonomi dari kebudayaan. Suatu proses inovasi biasanya merupakan suatu proses sosial melalui tahap discovery dan invention. Discovery adalah penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik suatu alat atau gagasan barudari seorang atau sejumlah individu. Discovery baru menjadi invention apabila suatu penemuan baru telah diakui, diterima, dan diterapkan oleh masyarakat.(Koentjaraningrat, 1996: 161)
Dengan penemuan-penemuan melalui ilmu pengetahuan maka lahirlah kebudayaan industri yang telah menyebabkan suatu revolusi kebudayaan terutama di negara-negara barat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat telah membuka horizon baru di dalam kehidupan umat manusia. Ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat secara eksponensial sehingga apa yang ditemukan hari ini mungkin besok telah usang. Lihat saja misalnya revolusi computer yang dapat berkembang setiap saat dan bagaimana peranan komputer di dalam kehidupan manusia modern. Kita hidup di abad digital yang serba cepat dan serba terukur. Semua hal ini merupakan suatu revolusi di dalam kehidupan dan kebudayaan manusia. Melalui invensi manusia menemukan berbagai jenis obat-obatan yang mempengaruhi kesehatan dan umur manusia. Akan tetapi juga melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia menemukan alat-alat pemusnah massal yang dapat menghancurkan kebudayaan global.Invensi teknologi terutama teknologi komunikasi mengubah secara total kebudayaan dunia. Abad 21 disebut sebagai millennium teknologi yang akan mempersatukan manusia dan mungkin pula budayanya. Hal ini mengandung bahaya dengan masafikasi kebudayaan manusia. Masafikasi kebudayaan dapat berupa komersialisasi kebudayaan dan konsumenisme yang berarti pendangkalan kebudayaan. Selain itu, pendangkalan kebudayaan akan berakibat dalam pembentukan kepribadian manusia. Seperti kita lihat, manusia menjadi manusia melalui kebudayaannya. Memanusia berarti membudaya,. Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya proses memanusia dalam kebudayaan global. Hal ini berarti manusia akan kehilangan identitasnya dan kepribadiannya akan berbentuk kepribadian kodian. Dewasa ini kita mulai mengenal kebudayaan global yang secara sinis disebut kebudayaan Coca-Cola dan kebudayaan McDonald. Begitu besarnya pengaruh komunikasi global sehingga muncul di dalam berbusana misalnya celana jins Levi Strauss serta komoditi-komoditi lokal lainnya. Sangat mengkhawatirkan justru kebudayaan global tersebut sangat peka diterima oleh generasi muda. Hal ini berarti bahaya sedang mengancam nilai-nilai budaya etnis yang merupakan dasar pengembangan kebudayaan global. Di pihak lain teknologi komunikasi memungkinkan rekayasa kehidupan manusia modern. Rekayasa tersebut dimungkinkan oleh budaya dan kemampuan akal manusia yang terlihat dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian kebudayaan teknologi telah merupakan suatu syarat mutlak dalam pengembangan kebudayaan modern. Teknologi telah menghasilkan penemuan-penemuan baru dan penemuan-penemuan baru ini akan terus menerus berkembang. Bukan suatu hal yang tidak mungkin bahwa wajah kehidupan teknologi yang tidak atau belum dapat kita gambarkan dewasa ini Apakah kehidupan kebudayaan pada milenium ketiga merupakan kebudayaan robotic ataukah kebudayaan yang akan lebih mementingkan harkat dan budaya manusia tidak ada seorang pun yang akan dapat memastikannya.Sudah tentu penemuan-penemuan baru dan invensi-invensi melalui ilmu pengetahuan akan semakin intens kerana interaksi dengan bermacam-macam budaya akan bermacam-macam manusia yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dengan demikian,penemuan-penemuan dan invensi baru tidak lagi merupakan monopoli dari suatu bangsa atau suatu kebudayaan tetapi lebih menjadi milik dunia. Kebudayan dunia yang akan muncul pada milenium ketiga dengan demikian perlu diarahkan dengan nilai nilai moral yang telah terpelihara di dalam kebudayaan umat manusia karena kalau tidak dapat saja manusia itu menujuk kepada kehancurannya sendiri dengan alat-alat pemusnah massal yang diciptakannya.
b. Difusi
Difusi kebudayaan berarti pembauran dan atau penyebaran budaya-budaya tertentu antara masyarakat yang lebih maju kepada masyarakat yang lebih tradisional. Pada dasarnya setiap masyarakat setiap jaman selalu mengalami difusi. Hanya saja proses difusi pada jaman yang lalu lebih bersifat perlahan-lahan.Namun hal itu berbeda dengan sekarang dimana abad komunikasi mampu menyajikan beragam informasi yang serba cepat dan intens, maka difusi kebudayaan akan berjalan dengan sangat cepat.Bagaimanapun juga didalam masyarakat sederhana sekalipun proses difusi kebudayaan dari barat tetap menyebar. Hal itu dapat dibuktikan melalui pengamatan Margaret Mead dalam Tilaar (1999) yang meneliti masyarakat di kepulauan pasifik. Beberapa waktu setelah pengamatan Mead terhadap masyarakat tersebut telah terjadi perubahan masyarakat yang cukup berarti. Apa yang ditemukan oleh Margaret Mead dari suatu masyarakat yang tertutup dan statis ketika beliau kembali telah menemukan suatu masyarakat yang terbuka yang telah mengadopsi usnur-unsur budaya Barat. Lihat saja misalnya apa yang terjadi di negara kita, bagaimana pengaruh Kebangkitan Nasional terhadap kehidupan suku-suku bangsa kita. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 telah melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan dan/atau bahasa nasional yang notabene berasal dari bahasa Melayu dari puak Melayu yang hidup di pesisir Sumatera. Pengaruh bahasa Indonesia terhadap kebudayaan di Nusantara sangat besar sampai-sampai banyak anak-anak sekarang terutama di kota-kota besar yang tidak lagi mengenal bahasa lokalnya atau bahasa ibu. Kita memerlukan suatu kebijakan pendidikan untuk memelihara bahasa ibu dari anak-anak kita.
c. Akulturasi
Salah satu bentuk difusi kebudayaan ialah akulturasi. Dalam proses ini terjadi pembaruan budaya antar kelompok atau di dalam kelompok yang besar. Dewasa ini misalnya unsur-unsur budaya Jawa telah masuk di dalam budaya sistem pemerintahan di daerah. Nama-nama petugas negara di daerah telah mengadopsi nama-nama pemimpin di dalam kebudayaan Jawa seperti bupati, camat, lurah, dan unsur-unsur tersebut telah disosialisasi dan diterima oleh masyarakat luas. Begitu pula terjadi akulturasi unsur-unsur budaya antar sub-etnis di Nusantara ini. Proses akulturasi tersebut lebih dipercepat dengan adanya sistem pendidikan yang tersentralisasi dan mempunyai kurikulum yang uniform.
d. Asimilasi
Proses asimilasi dalam kebudayaan terjadi terutama antar etnis dengan subbudaya masing-masing. Kita lihat misalnya unsur etnis yang berada di Nusantara kita ini dengan subbudaya masing-masing. Selama perjalanan hidup negara kita telah terjadi asimilasi unsur-unsur budaya tersebut. Biasanya proses asimilasi dikaitkan dengan adanya sejenis pembauran antar-etnis masih sangat terbatas dan kadang-kadang dianggap tabu. Namun dewasa ini proses asimilasi itu banyak sulit dihilangkan. Apalagi hal-hal yang membatasi proses prejudis, perbedaan agama dan kepercayaan dapat menghalangi suatu proses asimilasi yang cepat. Di dalam kehidupan bernegara terdapat berbagai kebijakan yang mempercepat proses tersebut, ada yang terjadi secara alamiah ada pula yang tidak alamiah. Biasanya proses asimilasi kebudayaan yang terjadi di dalam perkawinan akan lebih cepat dan lebih alamiah sifatnya.
e. Inovasi
Inovasi mengandalkan adanya pribadi yang kreatif. Dalam setiap kebudayaan terdapat pribadi-pribadi yang inovatif. Dalam masyarakat yang sederhana yang relatif masih tertutup dari pengaruh kebudayaan luar, inovasi berjalan dengan lambat.Dalam masyarakat yang terbuka kemungkinan untuk inovasi menjadi terbuka karena didorong oleh kondisi budaya yang memungkinkan. Oleh sebab itu, di dalam masyarakat modern pribadi yang inovatif merupakan syarat mutlak bagi perkembangan kebudayaan. Inovasi merupakan dasar dari lahirnya suatu masyarakat dan budaya modern di dalam dunia yang terbuka dewasa ini. Inovasi kebudayaan di dalam bidang teknologi dewasa ini begitu cepat dan begitu tersebar luas sehingga merupakan motor dari lahirnya suatu masyarakat dunia yang bersatu. Di dalam kebudayaan modern pada abad teknologi dan informasi dalam millennium ketiga, kemampuan untuk inovasi merupakan ciri dari manusia yang dapat survive dan dapat bersaing. Persaingan di dalam dunia modern telah merupakan suatu tuntutan oleh karena kita tidak mengenal lagi batas-batas negara. Perdagangan bebas, dunia yang terbuka tanpa-batas, teknologi komunikasi yang menyatukan, kehidupan cyber yang menisbikan waktu dan ruang, menuntut manusia-manusia inovatif. Dengan sendirinya wajah kebudayaan dunia masa depan akan lain sifatnya. Betapa besar peranan inovasi di dalam dunia modern, menuntut peran dan fungsi pendidikan yang luar biasa untuk melahirkan manusia-manusia yang inovatif. Dengan kata lain,pendidikan yang tidak inovatif, yang mematikan reativitas generasi muda, berarti tidak memungkinkan suatu bangsa untuk bersaing dan hidup di dalam masyarakat modern yang akan datang.Dengan demikian, pendidikan akan menempati peranan sentral di dalam lahirnya suatu kebudayaan dunia yang baru.
f. Fokus
Konsep ini menyatakan adanya kecenderungan di dalam kebudayaan ke arah kompleksitas dan variasi dalam lembaga-lembaga serta menekankan pada aspek-aspek tertentu. Artinya berbagai kebudayaan memberikan penekanan kepada suatu aspek tertentu misalnya kepada aspek teknologi, aspek kesenian seperti dalam kebudayaan Bali, aspek perdagangan, dan sebagainya. Proses pembudayaan yang memberikan fokus kepada teknologi misalnya akan memberikan tempat kepada pengembangan teknologi kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang. Tidak jarang terjadi dengan adanya fokus terhadap teknologi maka nilai-nilai budaya yang lain tersingkirkan atau terabaikan. Hal ini tentu merupakan suatu bahaya yang dapat mengancam kelanjutan hidup suatu kebudayaan. Dalam dunia pendidikan hal ini sudah terjadi seperti di Indonesia. Dunia barat yang telah lama memberikan fokus kepada kemampuan akal, menekankan kepada pembentukan intelektualisme di dalam sistem pendidikannya.Dengan demikian aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti nilai-nilai moral, lembaga-lembaga budaya primer seperti keluarga, cenderung mulai diabaikan.Ikatan dalam lembaga keluarga mulai longgar, peraturan-peraturan seks mulai dilanggar dengan adanya kebebasan seks dan kebebasan pergaulan. Sistem pendidikannya dengan demikian telah terpisahkan atau teralienasi dari totalitas kebudayaan.Tentu saja kita dapat memberikan fokus tertentu kepada pengembangan ilmu pengetahuan asal saja dengan fokus tersebut tidak mengabaikan kepada terbentuknya manusia yang utuh seperti yang telah diuraikan di muka. Kebudayaan yang hanya memberikan fokus kepada teknologi akan menghasilkan menusia-manusia robot yang tidak seimbang, yang bukan tidak mungkin berbahaya bagi kelangsungan hidup kebudayaan tersebut. Dalam proses pembudayaan melalui fokus itu kita lihat betapa besar peranan pendidikan. Pendidikan dapat memainkan peranan penting di dalam terjadinya proses perubahan yang sangat mendasar tersebut tetapi juga yang dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
g. Krisis
Konsep tersebut merupakan konsekuensi akibat proses akulturasi kebudayaan. Suatu contoh yang jelas timbulnya krisis di dalam proses westernisasi terhadap kehidupan budaya-budaya Timur. Sejalan dengan maraknya kolonialisme ialah masuknya unsur-unsur budaya Barat memasuki dunia ketiga. Terjadilah proses akulturasi yang kadang-kadang menyebabkan hancurnya kebudayaan lokal. Timbul krisis yang menjurus kepada hancurnya sendi-sendi kehidupan orisinil. Lihat saja kepada krisis moral yang terjadi pada generasi muda yang diakibatkan oleh masuknya nilai-nilai budaya Barat yang belum serasi dengan kehidupan budaya yang ada. Keluarga mengalami krisis, peranan orang tua dan pemimpin mengalami krisis. Krisis kebudayaan tersebut akan lebih cepat dan intens di dalam era komunikasi yang pesat. Krisis dapat menyebabkan dis-organisasi sosial misalnya dalam gerakan reformasi total kehidupan. Bangsa Indonesia dewasa ini di dalam memasuki era reformasi menghadapi suatu era yang kritis karena masyarakat mengalami krisis kebudayaan.Apabila gerakan reformasi tidak diarahkan sebagai suatu gerakan moral maka gerakan tersebut akan kehilangan arah. Gerakan reformasi akan menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi dan berbagai jenis krisis lainnya. Oleh sebab itu, gerakan reformasi total dewasa ini perlu diarahkan dan dibimbing oleh nilai-nilai moral yang hidup di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam kaitan ini peranan pendidikan sangat menentukan karena pendidikan didasarkan kepada nilai-nilai moral bangsa dalam jangka panjang akan memantapkan arah jalannya reformasi tersebut.Dalam jangka panjang pendidikan akan menentukan pencapaian tujuan dari reformasi itu sendiri.
h. Visi Masa Depan
Suatu hal yang baru dalam proses pembudayaan dewasa ini ialah peranan visi masa depan. Terutama dalam dunia global tanpa-batas dewasa ini diperlukan suatu visi ke arah mana masyarakat dan bangsa kita akan menuju. Tanpa visi yang jelas yaitu visi yang berdasarkan nilai-nilai yang hidup di dalam kebudayaan bangsa (Indonesia), akan sulit untuk menentukan arah perkembangan masyarakat dan bangsa kita ke masa depan, atau pilihan lain ialah tinggal mengadopsi saja apa yang disebut budaya global. Mengadopsi budaya global tanpa dasar kehilangan identitasnya. Di sinilah letak peranan pendidikan nasional untuk meletakkan dasar-dasar yang kuat dari nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat Indonesia yang akan dijadikan pondasi untuk membentuk budaya masa depan yang lebih jelas dan terarah.

D. Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Sejalan dengan penjelasan perubahan sosial di atas maka sebenarnya di manakah letak posisi pendidikan. Dalam hal ini kita mengingat penuturan Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985) institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan memelihara warisan budaya suatu masyarakat.Melihat perkembangan masyarakat yang sering dilanda perubahan secara tiba-tiba, maka kemungkinan terjadinya dampak negatif yang akan menggejala ke dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dihindari kehadirannya. Gejala ketimpangan budaya atau cultural lag, harus dapat diminimalisasi pengaruhnya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat. Untuk itu sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengarahkan perjalanan masyarakat, pendidikan harus dapat menangkap potensi kebutuhan masyarakat.Dalam proses perubahan sosial, modifikasi yang terjadi seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendi-sendi yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehingga melahirkan ketimpangan kebudayaan. Dikatakan pula olehnya bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dampak luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga munculnya kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.
Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak, dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan.
Adapun fungsi pendidikan dalam mempersiapkan masyarakat mengadakan perubahan sosial yaitu: (1) melakukan reprodukasi budaya; (2) difusi budaya; (3) mengembangkan anlisis kultur terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisonal; (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional; (5) melakukan perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan (Abdullah Idi dan Safarina, 2013: 77). Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya atau moderenisasi pendidikan mengajarkan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan baru seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, dimana nilai-nilai itu semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dari nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah-sekolah sejak proses moderenisasi dari perubahan sosial dengan menggunakan cara berfikir ilmiah, cara analisis dan pertimbangan rasional serta dengan kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berfikir obyektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.
Lembaga pendidikan itu disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya. Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial tertentu yang kemudian diambil sekolah berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah tersebut menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial berkesinambungan.
Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara jeli Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di mana para siswa seolah-olah terobsesi pada angka prestasi, padahal tujuan pendidikan bukan itu. Pembahasan dan analisis mengenai perubahan sosial dan perubahan pendidikan tidak pernah terlepas dari konsep modernisasi.Sebagai sebuah proses masyarakat dunia, modernisasi merupakan gejala universal yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan guna memahami konteks sosial dan pendidikan. Dari sinilah dapat ditarik ruang interpretasi mengenai perspektif perubahan sosial dan perubahan pendidikan. Kata atau istilah modernisasi mempunyai banyak definisi. Meskipun bagitu, namun tetap ada satu kepastian bahwa pengembangan aplikasi teknologi manusia menjadi muara kelahiran modernisasi. Produk modernisasi sebagaimana terlihat pada masyarakat modern, ditandai oleh kehidupan industrialistis dengan struktur pekerjaan serta ruang sosial yang kompleks, termasuk di dalamnya munculnya diferensiasi sosial yang semakin tajam. Dalam menjelaskan tingkat modernisasi suatu masyarakat selain berpatokan pada kekuatan-kekuatan materil baik itu ruang lingkup ekonomi maupun aplikasi teknologinya, ada banyak ahli lain yang mengedepankan pada atribut strukturalnya. Semisal Parson, Einsantand, Smelser, Buckley dan Marsh. Sebagaimana dituangkan dalam Faisal dan Yasik (1985) pendapat mereka lebih condong menempatkan diferensiasi sosial sebagai titik tolak analisisnya. Menurut mereka paling tidak ada dua alasan, kenapa titik pangkal diferensiasi sosial begitu pentingnya untuk memahami modernisasi. a) Diferensiasi merupakan suatu keniscayaan yang pasti dilalui oleh sistem sosial dalam mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di lingkungannya, dan b) Kemampuan untuk melakukan diferensiasi merupakan sebuah indikator positif mengenai kemampuan suatu sistem dalam menyesuaikan diri sesuai dengan proses-proses perubahan yang terjadi. Suatu cara untuk menggambarkan hubungan perubahan dunia pendidikan dengan tumbuh kembangnya modernisasi, kiranya perlu berangkat dari konsep deferensiasi. Dengan berkembangnya diferensiasi sosial, secara perlahan-lahan akan mengubah fungsi dan sistem pendidikan agar berjalan sejalur dengan kecenderungan sosial tersebut. Perkembangan tersebut ditandai dengan adanya spesialisasi peran serta merebaknya organisasi di dalam sistem pendidikan, sehingga secara internal menumbuhkan diferensiasi struktural dalam tubuh pendidikan. Proses yang mempengaruhi tubuh pendidikan ini dapat digambarkan dalam pengamatan komparatif antara masyarakat modern dengan masyarakat primitif. Pada masyarakat tradisional proses pendidikan menyatu dengan fungsi-fungsi lain yang kesemuanya diperankan oleh institusi keluarga. Sedangkan pada masyarakat modern proses pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh institusi di luar keluarga.Meskipun terdapat perbedaan karakter pendidikan yang cukup tajam dalam kedua tipe masyarakat tersebut. Namun pada dasarnya masih tersimpan kemiripan fungsi pendidikan antar kedua tipologi masyarakat tersebut. Baik pendidikan pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern, keduanya sama-sama bertanggung jawab untuk mentransmisikan sekaligus mentransformasikan perangkat-perangkat nilai budaya pada generasi penerusnya. Dengan demikian, keduanya sama-sama menopang proses sosialisasi dan menyiapkan seseorang untuk peran-peran baru. Letak perbedaannya, tanpa banyak perubahan di dalam fungsi pendidikan menjadi semakin besar dan kompleks. Menurut Faisal dan Yasik (1985) alur perkembangan diferensiasi pendidikan dapat diterangkan dalam beberapa poin sebagai berikut. a) Pendidikan pada masyarakat sederhana yang belum mengenal tulisan. Dalam kehidupan masyarakatnya mengembangkan pendidikan secara informal yang berfungsi untuk memberikan bekal keterampilan-keterampilan mata pencaharian dan memperkenalkan pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai serta norma masyarakat setempat. Pada tingkatan ini, peran sebagai siswa dan guru secara murni ditentukan oleh ukuran-ukuran askriptif. Anak-anak menjadi siswa dilatarbelakangi oleh faktor usia mereka, sementara guru disimbolkan sebagai representasi orang tua yang memiliki derajat karisma serta kewibawaan untuk mendidik kaum-kaum muda. Spesifikasi peran para guru itu, juga ditentukan oleh jenis kelamin (yang wanita mengajarkan memasak sementara para laki-laki mengajarkan berburu). b) Pada tingkatan yang lebih maju, sebagian proses sosialisasi teridentifikasi keluar dari batas keluarga, diserahkan kepada semua pemuda di masyarakat tentu saja dengan bimbingan para orang tua yang berpengalaman atau berkeahlian. Kurikulum pendidikan bukan semata-mata kumpulan dari latihan memperoleh ketrampilan-ketrampilan namun juga ditekankan soal-soal metafisik dan budi pekerti. Mengenai siapa yang berperan sebagai guru, tampaknya sudah mulai mempertimbangkan bakat dan pengalaman “berguru” yang pernah diperoleh. Dalam hubungan ini, sang guru bukanlah orang yang memiliki “spesialisasi khusus” seperti halnya spesialisasi-spesialisasi sekarang ini, namun para “siswa” bisa belajar banyak mengenai nilai-nilai kehidupan sebab guru dipandang sebagai sumber segala macam pengetahuan.c) Dengan berkembangnya diferensiasi di masyarakat itu sendiri,maka meningkat pula upaya seleksi sosial. Beberapa keluarga atau kelompok meningkat menjadi semakin kuat dalam segi kekuasaan maupun kekuatan ekonominya dibandingkan warga masyarakat yang lain. Mereka yang telah menempati posisi kuat itu, secara formal membatasi akses mengenyam pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. Pertimbangan utama dalam menentukan siapa-siapa yang menjadi “siswa”,terletak pada latar belakang kelas atau kterurunan seseorang. Sedangkan seleksi para “guru”, di samping disyaratkan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, juga diperhitungkan faktor kecerdasan dan bakatnya. Dari segi kurikulum sudah diperhitungkan kebutuhan-kebutuhan perkembangan zaman dengan memfokuskan perhatian pendidikan pada budi pekerti, hukum, teologi, kesenian serta bahasa. Guru masih berperan sebagai figur yang menguasai segala hal daripada sebagai spesialis dari suatu cabang pelajaran tertentu. d) Pada tingkatan berikutnya hubungan antara pendidikan dengan masyarakat menjadi kian rumit dan semakin kompleks.
Sejalan dengan arus industrialisasi dan kecenderungan diferensiasi sosial, maka spesialisasi peranan menjadi ciri istimewa masyarakat pada tingkatan keempat ini. Di sini pendidikan sudah berjenjang-jenjang begitu rupa, dan kualifikasi para pengajar sudah tersebar ke dalam bidang keahlian yang beragam pula. Dalam hubungan ini, sekolah mendapat beban-beban baru, yaitu sebagai pusat pengajaran bagi masyarakat luas, sebagai media seleksi sosial serta berperan pula sebagai lapangan pekerjaan. Pesatnya arus diferensiasi serta spesialisasi selama decade-dekade terakhir memicu beberapa perubahan dalam tubuh formasi pendidikan. Hal itu terjadi sebagai akibat dari mendesaknya permintaan masyarakat akan tersedianya tenaga-tenaga spesialis yang akan menopang bergulirnya roda kehidupan masyarakat yang tengah bertumpu pada kekuatan industri produk massal. Dalam perkembangan ini, sistem pendidikan beranjak pesat menjadi institusi yang mempunyai “kedudukan penting” terutama dalam menopang perubahan sosial ekonomi (baik perubahan yang direncanakan maupun tidak), lalu pendidikan berkembang menjadi “jembatan” prestise dan status, selain juga tampil sebagai faktor utama mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal, baik intra maupun antar generasi.

Daftar Pustaka

Abdullah Idi dan Safarina (2013) Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Koentjaraningrat (1996) Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta

Nasution S. (1999) Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Zuldafrial (2013) Guru dalam Perspektif Undang-Undang No 14 Tahun 2005. Pontianak: STAIN Pontianak PRESS

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tranportasi, Komunikasi, Mobilitas dan Perubahan Struktur Ekonomi Masyarakat

Perubahan sosial budaya dalam suatu masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan sarana dan prasarana teransportasi dan komunikasi melalui dinamika mobilitas penduduk antar wlayah kota-desa, desa-kota dan kota-kota.
A. Perkembangan Transportasi dan Komunikasi
Perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi telah dapat mengubah sistem transportasi dan komunikasi dalam kehidupan manusia. Banyak kemudahan yang dinikmati, bahkan seakan-akan menyebabkan dunia semakin sempit, semakin kecil, mengapa demikian?
Marilah kita telusuri usaha-usaha manusia di bidang transportasi dan komunikasi sebelum dan sesudah perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Pra sebelum perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, trasportasi darat dilakukan dengan berjalan kaki, berkuda, kreta kuda, atau unta untuk di padang pasir. Di laut transportasi menggunakan kapal layar, sedangkan melalui udara belum dikenal. Cara tersebut di atas memakan waktu lama, karena kecepatannya relatif rendah, sehingga jarak 100 km terasa sangat jauh.
Pasca setelah perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, orang dapat membuat sarana dan prasarana transportasi maupun komunikasi. Untuk transportasi di darat, misalnya sepeda motor, mobil, bis, truk, kreta api, jembantan dengan kekuatan tertentu sesuai dengan kebutuhan kendaraan yang boleh melewatinya. Untuk transportasi melalui laut, telah dapat dibuat kapal laut dengan bobot yang bermacm-macam sesuai dengan kebutuhan dengan ukuran tertent. Bahkan telah dapat pula dibuat kapal laut yang bertenaga nuklir. Tansportasi lewat udara, dengan perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi, telah dapat diciptakan industri pesawat terbang dengan kecepatan lebih besar dari kecepatan suara. Pesawat yang menggunakan teknologi tinggi, misalnya cocorde 602 (pesawat terbang transportasi supersonik) yang mempunyai kecepatan 1.400 mil perjam. Dengan pesawat concorde 602 jarak London-New York dapat ditempuh dengan waktu lebih kurang tiga setengah jam. Dapat anda bayangkan dua buah kota yang terletak di dua benua yang dipisahi oleh samudra seakan-akan hanya terletak pada jarak yang pendek saja karena dapat ditempuh dalam waktu yang relative pendek.
Demikian pula kalau kita tinjau alat komunikasi sebelum perkembangn ilmu pengetahuan alam dan teknologi, zaman dahulu baru megenal alat komunikasi misalnya bunyi kentongan untuk mengumpulkan penduduk kampong di suatu tempat, dengan bunyi beduk yang bertalu-talu untuk mengkomunikasikan ibadah shalat telah tiba, dimana jangkauannya sangat terbatas.Untuk mengirim surat orang menggunakan kendaraan kuda, burung merpati dan lain-lain dimana cara semuanya itu dilakukan secara alami. Pasca hasil perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi alat komunikasi yang digunakan lebih masju seperti radio, televisi, tape recorder, teleks, radar, handphone, satelit komunikasi dan lain-lain. Alat-alat tersebut diatur dengan teknologi tertentu supaya tidak saling mengganggu. Misalnnya penggunaan satelit komunikasi diadakan perjanjian oleh Negara-negara pemakai, disebut dalam Populer Science (1982) ada 92 negara pemakai dengan 110 stasiun dimana penggunaannya diatur oleh Internasional Telecomunication Statelit Consortium yang disingkat dengan Intelsat. Radio merupakan alat komunikasi satu arah dimana para pendengar memperoleh kemudahan dalam menerima informasi. Pesawat televisi dapat sebagai alat komunikasi searah atau dua arah bila telah diatur dengan peralatan tertentu. Di Negara yang mempunyai televisi yang dilengkapi peralatan sehingga dapat digunakan untuk komunikasi dua arah, seorang guru besar yang berada di suatu universitas dapat memberi kuliah kepada beberapa universitas yang memerlukan.Mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut dapat berkomunikasi langsung bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan.
Handphone banyak menarik minat, terutama bagi kaum muda, merupakan alat komunikasi yang sangat praktis, dapat dibawa kemana-mana dengan jangkauan terbatas, orang-orang dengan mudah dapat mengadakan komunikasi dengan kalangan tertentu yang mempunyai alat serupa.
Radar merupakan alat untuk berbagai bidang antara lain pada bidang transportasi dan komunikasi, misalnya pada lapangan terbang untuk mengatur pemberangkatan, kedatangan, dan petunjuk dimana suatu kapal terbang berada, demikan pula untuk kapal laut maupun mobil.Jadi sebagai control lalu lintas laut. darat dan udara.
Dalam abad ke-20 ini orang telah berhasil menciptakan pesawat ualng-alik dari bumi ke angkasa luar, maka pada awal abad ke-21 nanti mungkin manusia akan dapat naik kendaraan untuk bertamasya ke pelanet-pelanet atau satelit yang dekat dengan bumi, bahkan bila perlu hijrah ke sana.

B. Mobilitas Penduduk
1. Arti Mobilitas Penduduk
Secara etimologis arti penduduk dapat dijelaskan dari makna katanya yaitu “ mobilitas “ dan Penduduk “. Mobilitas adalah (a) kesiap siagaan untuk bergerak; (b) gerakan berpindah-pindah; (c) gerak perubahan yg terjadi di antara warga masyarakat, baik secara fisik maupun secara sosial. Penduduk adalah orang atau orang-orang yg mendiami suatu tempat (kampung, negeri, pulau, dsb). Jadi mobilitas penduduk dapat diartikan pergerak seseorang atau sekelompok oang dari suatu suatu tempat ke tempat lain.
Mobilitas penduduk secara difinitif diartikan sebagai semua gerakan penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu. Batas wilayah pada umumnya dipergunakan batas administrasi misalnya propinsi, kabupaten, keluruhan atau pedukuhan. (Mantra, 1991). Pengertian tersebut dapat diperluas sampai pada batas negara yang lebih dikenal dengan istilah mobilitas internasional.
2. Macam Mobilitas Penduduk
Mobilitas penduduk dapat dibagi dalam dua bentuk yaitu mobilitas permanen dan mobilitas non permanen. Mobilitas permanaen adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan tujuan untuk menetap. Sedang mobilitas non permannen adalah gerakan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan tidak ada niatan untuk menetap di daerah tujuan.
Mobilitas non permanen dapat dibagi menjadi bermacam-macam bentuk, misalnya mobilitas ulang-alik atau sirkuler, periodik, musiman dan jangka panjang. Mobilitas sirkuler dapat terjadi antara desa dengan desa, desa dengan kota, kota dengan desa, kota dengan kota, bahkan antara negara dengan negara yang dikenal dengan sebutan mobilitas internasional yang dilakukan oleh warga negara-negara maju seperti negara-negara Eropa Barat.
Perbedaan mobilitas permanen dan non permanen terletak pada ada atau tidaknya niat untuk bertempat tinggal di daerah tujuan. Apabila seseorang yang pindah ke daerah lain tetapi sejak semula sudah bermaksud kembali kedaerah asal, maka perpindahan tersebut dapat dianggap sebagai mobiltas serkuler bukan migrasi. Contoh yang baik dalam hal ini adalah mobilitas non permanen (merantau) dari orang minang (Sumatra Barat). Apabila dari sejak semula sudah tidak ada niat untuk menentap di daerah tujuan, walaupun bertempat tinggal di daerah tujuan dalam jangka waktu lama, orang yang melaksanakan mobilitas tersebut pasati juga akan pulang ke daerah asalnya.
Pada dasarnya, manusia melakukan mobilitas dengan tujuan yaitu untuk meningkatkan kualitas hidupnya, mulai dengan kebutuhan pangan sampai dengan kebutuhan sekunder lainnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa seseorang akan melakukan mobilitas dengan tujuan untuk memperoleh pekerjaan atau pendapatan. Dengan demikian daerah tujuan mobilitas penduduk merupakan daerah dimana terdapat peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, atau peningkatan pendapatan. Sehingga kesempatan kerja yang tersedia di suatu daerah merupakan salah satu faktor pendorong adanya mobilitas penduduk.
Selanjutnya jika kebutuhan dasar telah dapat dipenuhi, maka bobilitas dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan sekunder, termasuk wisata, bahkan mungkin sampai pada tingkat foya-foya. Hal terakhir ini dinyatakan sebagai suatu keadaan dimana berlaku kosumsi massal atau berlebihan. Dengan memperhatikan perbedaan tujuan individu atau kelompok melakukan mobilitas, maka dapat dibedakan bentuk-bentuk mobilitas penduduk sebagai berikut:
a. Mobilitas tradisional, dimana penduduk melakukan mobilitas atas dasar untuk memenuhi kebutuhan primer, terutama pangan. Aktivitas mobilitas tradisional merupakan arus desa ke kota, yang termasuk dalam pengertian urbanisasi.
b. Mobilitas pra modern, yang merupakan transisi dari mobilitas tradisional menuju mobilitas modern. Dalam hal ini penduduk mulai melakukan mobilitas dengan tujuan yang lebih luas bukan hanya sekedar untuk cukup pangan. Aktivitas mobilitas dari desa ke kota meningkat, disertai dengan mobilitas antar kota dan juga mobiltas dari kota ke luar kota (pedesaan). Sehingga terjadi juga apa yang disebut urbanisasi modern. Penduduk melakukan mobilitas atau migrasi dengan tujuan yang lebih luas, termasuk kesenangan dan kenyamanan.
c. Mobilitas modern, di mana mobilitas penduduk telah melampau batas-batas negara, dengan berbagai macam tujuan baik kegiatan perdagangan maupun berwisata.
d. Mobilitas canggih atau super modern, dimana mobilitas dilakukan telah melampaui pengertian berwisata secara wajar yang dapat dimasukan dalam kategori berfoya foya dengan konsumsi yang berlebih-lebihan (Aris Ananta,1993).
Bentuk mobilitas penduduk di atas dapat difahami berkaitan dengan keberhasilan dalam aktivitas ekonomi individu yang bersangkutan, yang meliputi dua komponen yaitu kesempatan kerja (produktivitas) dan pendapatan (atau dana).

C. Transportasi, Komunikasi dan Perubahan Struktur Ekonomi Masyarakat
Perubahan sosial adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam struktur dan budaya suatu masyarakat hasil dari suatu proses pembelajaran. Perubahan sosial mengandung makna dalam suatu masyarakat terjadi suatu proses pembaharuan, pencerahan, perbaikan dan kemajuan dari keadaan sebelumnya. Konsep perubahan tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut: dari masyarakat tradisional menuju masyarakat moderen, komunitas kecil menjadi komunitas besar, msyarakat terbelakang menjadi masyarakat maju, masyarakat irasional menjadi masyarakat rasional, masyarakat miskin menjadi masyarakat sejahtera.
Salah satu indikasi yang dapat menunjukan telah terjadinya suatu perubahan sosial dalam masyarakat adalah semakin meningkatnya intensitas mobilitas sirkuler dalam suatu masyarakat akibat terjadinya perbaikan sarana tranportasi dan komunikasi dalam suatu masyarakat. Kehidupan masyarakat mulai bergeser dari masyarakat, tradisional, terbelakang, dan irasional menjadi masyarakat modern, maju dan rasional. Hal ini dimungkinkan karena masuknya berbagai informasi dan budaya dari luar yang menyebabkan terjadinya pencerahan dalam kehidupan masyarakat. Informasi dan budaya luar yang diterima itu mendorong warga atau kelompok warga masyarakat untuk segera melakukan perubahan dalam kehidupan sosialnya. Proses perubahan itu melalui dua arah yaitu pengaruh dari luar dan dorongan dari dalam masyarakat itu sendiri untuk berubah.
Semakin meningkatnya mobilitas sekuler antar penduduk desa-kota, kota desa, menyebabkan terjadinya prubahan struktur ekonomi masyarakat pedesaan yang ditunjukan dengan bergesernya lapangan pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor jasa dan industri. Tumbuhnya lapangan kerja baru di sektor jasa seperti transportasi, perhotelan, restoran, listrik, gas dan air, bangunan, perdangangan dan home industri. Kualitas hidup masyarakat semakin baik dengan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Daftar Pustaka

Aris Ananta (1993) Ciri Demografis Kualitas Penduduk dan Pembangunan Ekonomi Jakarta: Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Mawardi dan Nur Hidayati, (2007), Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar IAD-ISD-IBD Untuk UIN, STAIN, PTAIS. Bandung: CV Pustaka Setia

Ida Bagus Mantra (1991), Pengantar Demografi : Yogyakarta: Nur Cahaya
Zuldafrial (2010), Demografi, Kesehataan Reproduksi dan Kebijakan Kependudukan. Pontianak: STAIN Press

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tugas Guru dalam Menilai dan Mengevaluasi

A. Arti Menilai dan mengevaluasi
Apa itu penilaian dan evaluasi ? Kedua kata ini tidak bisa dipisahkan, bilamana ada penilaian, maka harus ada evaluasi. Sebaliknya tidak ada evaluasi, bilamana tidak ada penilaian.Untuk dapat mengadakan penilaian, kita mengadakan pengukuran terlebih dahulu.
Sebagai contoh untuk menentukan mana pensil yang lebih panjang, kita ukur dulu kedua pensil itu dengan menggunakan penggaris. Setelah mengentahui berapa panjang masing-masing pensil itu, kita mengadakan penilaian dengan melihat bandingan panjang antara kedua pensil tersebut. Selanjutnya dapatlah kita mengatakan Ini pensil panjang dan ini pensil pendek.Maka pensil yang panjang itulah yang kita ambil.Ukuran ini bersifat kualitatif.
Contoh lain untuk menentukan mana jeruk yang manis, kita menggunakan ukuran “ besar, kuning dan halus kulitnya”. Ukuran ini bersifat kualitatif, berdasarkan pengalaman. Setelah membandingkan jeruk jeruk yang kita pilih dengan ukuranya tersebut, maka kita akan memilih jeriuk yang besar, kuning dan halus kulitnya sedangkan jeruk yang kecil, hijau dan kasar kulitnya tidak kita ambil karena berdasarkan pengalaman masam rasanya.
Dengan demikian kita mengenal dua macam ukuran, yaitu ukuran yang terstandar (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak terstandar, ukuran perkiraan berdasarkan hasil pengalaman (jeruk manis adalah yang kuning, besar dan halus kulitnya).
Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi.yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat melakukan penilaian sebelum kita mengadakan pengukuran. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kegiatan mengukur dan menilai.
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, digunakan untuk menilai pencapaiam kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran.(P.P RI Nomor: 19 Tahun 2005). Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelengraan pendidikan, yang meliputi kinerja pendidikan, sekurang-kurangnya meliputi : 1) Tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan 2) Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler 3) Hasil belajar peserta didik 4) Realisasi anggaran .(P.P RI Nomor: 19 Tahun 2005)
Penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar adalah kegiatan untuk menentukan mutu proses dan hasil berlajar dalam suatu satuan pendidikan melalui proses pengumpulan dan pengolahan informasi berkaitan dengan proses dan hasil belajar siswa dengan menggunakan alat pengukuran berupa tes dan non tes.

B. Prinsip-Prinsip Penilaian dan Evaluasi Proses dan Hasil Belajar
Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. (Prayitno dan Erman Amti ,1999). Prinsip adalah merupakan dasar, asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar seseorang berpikir atau bertindak (Zuldafrial,2009). Prinsip berarti dasar, asas atau kebenaran yang merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang dijadikan pegangan bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan ataupun perbuatan. Perbuatan yang dilakuan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu akan dapat menghasilkan tujuan yang diinginkan secara efektif dan efisien. Efektif artinya tepat sasaran dan efisein artinya dengan waktu, tenaga dan biaya yang ringan.
Adapun prinsip-prinsip penilaian secara umum adalah sebagai berikut:
1. Valid. Penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, tepat dan sahih.Sebagai contoh apabila dalam pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan eksprimen maka kegiatan melakukan percobaan harus menjadi salah satu obyek yang dinilai.Ketika merencanakan penilaian guru memerlukan jaminan bahwa semua kegiatan telah berorientasi pada usaha untuk menyediakan informasi yang relevan dengan kompetensi dan indikator pencapaian hasilbelajar.
2. Mendidik. Penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan yang memotivasi bagi siswa yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil.
3. Berorientasi pada kompetensi. Penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
4. Adil dan obyektif. Penilaian harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa yang tidak berkaitan dengan pencapaian hasil belajar. Objektivitas penilaian bergantung dan dipengharuhi oleh faktor-faktor pelaksana, kriteria untuk skoring dan pembuatan keputusan pencapaian hasil belajar.Suatu tugas harus adil dan objektif untuk laki-laki dan petrempuan, siswa dengan latar belakang budaya yang berbeda, menggunakan bahasa yang dapat difahami serta mempeunyai kriteria yang jelas dalam membuat keputusan atau menerapkan angka atau nilai.
5. Terbuka. Kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehinga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi fighak-fihak yang berkepentingan.
6. Berkesinambungan. Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, teratur, terus menerus, dan berkesinambungan unutk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. Hasil penilaian perlu dianalisis dan ditindaklanjuti. Penilaian hendaknya merupakan bagian yang integral dari proses pembelajaran.
7. Menyeluruh. Penilain terhadap hasil belajar siswa harus dilaksanakan menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif serta berdasarkan pada berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa. Penilaian terhadap hasil belajar siswa meliputi aspek pengetahuan, sikap atau nilai,dan keterampilan, serta materi secara representatif sehingga hasilnya dapat dintegrasikan dengan baik.
8. Bermakna. Penilaian hendaknya mudah difahami dan bisa ditindak lanjuti oleh fihak-fihak yang berkepentingan. Hasil penilaian mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang men gandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat, dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang ditetgapkan.
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan, penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2. Obyektif, berarti penilaian berdasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilaian.
3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi dan gender.
4. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh fihak yang bersangkutan.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Sistimatis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langklah-langkah baku.
8. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9. Akuntabel, berarti, penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

C. Aspek-Aspek Proses dan Hasil Belajar yang Dinilai
1. Evaluasi Proses Pembelajaran
Untuk menilai dan mengevaluasi sesuatu hal diperlukan suatu ukuran atau kriteria sebagai standar penilaian. Adapun standar penilaian proses pembelajaran berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggrakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Setiap satuan pendidikan harus melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Banyak faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yang dapat dijadikan sasaran penilaian untuk mnentukan efektif tidaknyha proses pembelajaran yang berlangsung antara lain : 1) Kurikulu/materi; 2) Strategi dan metode pembelajaran; 3) Sarana pendidikan/media/sumber belajar; 4) Sistem administrasi; 5) Aktivitas belajar siswa dan 6) Lingkungan belajar siswa..

1) Kurikulum/materi
Kurikuluam atau materi pelajaran berkaitan dengan karektersitiknya yaitu mudah-sukarnya materi pelajaran di akses, mudah sukarnya materi pelajaran dipelajari atau diajarkan oleh guru, luas sempitnya materi pelajaran yang diajarkan.
Standar kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai oleh guru dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum atau silabus mata pelajaran memerlukan sejumlah materi atau pokok bahasan yang akan disampaikan kepada siswa. Bilamana materi pelajaran ini sulit didapat baik oleh guru itu sendiri sebagai pengajar yang memerlukan persiapan dan perencanaan dalam mengajar dan siswa itu sendiri sebagai pelajar, maka hal ini akan menjadi faktor kendala yang dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa. Belajar tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi siswa juga dituntut untuk mendalami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru baik secara mandiri maupun secara kelompok.Oleh karena itu materi pelajaran dapat diakses oleh siswa baik di perpustakaan maupun melalui E-Learning.
2). Strategi dan metode mengajar guru
Strategi dan metode mengajar adalah pendekatan dan cara yang dipilih oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pemilihan strategi dan metode mengajar oleh guru memerlukan banyak pertimbangan antara lain: tujuan pembelajaran, siswa, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, media/sumber belajar dan evaluasi belajar. Walaupun guru dalam memilih strategi dan metode mengajar dengan mempertimbangkan komponen-komponen seperti tersebut di atas, namun dalam pelaksanaannya sangat ditentukan oleh kompetensi guru .
Aplikasi kompetensi guru seperti kemampuan pedagogik, kemampuan kepribadian, kemampuan sosial dan kemampuan profesional sangat menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran sisw. Kemampuan pedagogik pada dasarnya dalah kemampuan guru dalam melaksanakan strategi dan metode mengajar yang dipilih belumlah cukup namun masih diperlukan kemampuan lain seperti kemampuan kepribadian berupa sikap disiplin, tegas, adil, berwibawa. Kemampuan sosial dapat menghargai siswa, dapat membangun kepercayaan siswa, dapat memahami siswa. Kemampuan profesional, memahami kurikulum/silabus mata pelajaran dan menguasai materi mata pelajaran yang diampu dan mampu mengembangkannya.
Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa proses pembelajaran bukanlah situasi pembelajaran yang sederhana, tapi merupakan suatu situasi yang kompleks, banyak faktor-faktor yang terlibat.Banyak faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran.

3) Sarana pendidikan/media/sumber belajar
Sarana adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sarana dapat berupa media dan atau sumber belajar. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh oleh guru sebaai alat dalam menyampaikan materi palajaran. Media dapat berupa buku teks, OHP, LCD, perpustakaan atau E.Learning. Sedangkan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai objek kajian dalam proses pembelajaran. Sumber belajar yang dirancang dan ada pula yang tidak dirancang. Sumber belajar yang dirancang seperti buku teks, LKS, modul dan buku ajar. Sedang kan sumber belajar yang tidak dirancang adalah ligkungan sosial dan lingkungan fisik yang ada di sekitar siswa.
Ketersediaan sarana/media/ sumber belajar akan sangat membantu terlaksananya proses pembelajaran yang mendidik. Siswa akan dapat dengan mudah mempelajari dan memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru baik secara terbimbing maupun secara mandiri.

4) Sistem administrasi
Sistem adminsitrasi dimaksudkan adalah penyusunan jadwal belajar oleh sekolah, program tahunana, program semester dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ) yang disusun oleh guru.
Penyusunan jadwal pelajaran, mata pelajaran sangat menentukan kefektifan proses pembelajaran oleh guru. Ada mata pelajaran-mata pelajaran tertetu yang cocok dijawalkan pada pagi hari dan tidak cocok pada siang hari. Sebagai contoh misalnya mata pelajaran IPA dan Olah raga.
Program tahunan, semester dan RPP disusun agar proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung secara efisien, efektif dan terarah pada tujuam pembelajaran yang ingin dicapai. Program ini disusun berdasarkan silabus mata pelajaran.
Pelaksanaan proses pembelajaran mengacu pada RPP yang telah disusun oleh guru berdasarkan silabus mata pelajaran. Prakteknya di sekolah, tidak semuan guru dalam menyusun RPP sesuai dengan tuntutan silabus. Tidak semua guru dalam memilih strategi dan metode mengajar sesuai dengan tuntutan kegiatan belajar mengajar dan indikator yang terdapat di dalam silabus mata pelajaran. Ini akan berpengaruh terhadap pencapaian indikator dan kompetensi dasar yang diinginkan terbentuk pada siswa sebagai hasil belajar.

5) Aktivitas belajar siswa
Belajar akan berhasil bila diikuti oleh aktivitas belajar yang intensif. Aktivitas belajar dapat berupa aktivitas fisik maupun aktivitas mental. Aktivitas fisik seperti mencatat, menggambar,meringkas, mengetik, menyusun, memperhatikan, mengerjakan tugas dan lain-lain. Aktivitats mental seperti mengingat, menjelaskan, mengaplikasikan, menghubung-hubungkan, menguraikan dan menilai. Pada dasarnya kedua aktivitas ini hanya dapat dipisahkan secara teoritis, namun dalam prakteknya berjalan secara simultan dan sinergis.

2. Evaluasi Hasil Belajar
a. Arti Belajar
Belajar pada dasarnya adalah merupakan suatu proses mental karena orang yang belajar perlu memikir, menganalisa, mengingat, dan mengambil kesimpulan dari apa yang dipelajari. Sehubungan dengan itu terdapat bermacam-macam pendapat tentang apa yang dimaksud dengan belajar. Dibawah ini akan diketengahkan beberapa pendapat tentang belajar yang dikemukakan oleh beberapa aliran psikologi.
1). Menurut aliran psikologi koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi. Menurut pendapat ini orang belajar karena menghadapi masalah yang harus dipecahkan.Masalah itu merupakan perangsang atau stimulus terhadap individu. Kemudian individu itu mengadakan reaksi terhadap rangsangan itu dan bilamana reaksi itu berhasil, maka terjadilah hubungan perangsang dan reaksi dan terjadilah peristiwa belajar.
2). Belajar menurut aliran fungsionalisme adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi atau situasi situasi yang terdapat di sekitar kita. Dalam pengertian menyesuaikan diri itu termasuk mendapatkan kecekatan kecekatan dan sikap yang baru.
3). Aliran behaviorisme dan psicho-reflexologi menganggap belajar sebagai usaha untuk membentuk reflex-reflex baru. Bagi aliran ini belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan gerakan reflek dan dengan adanya conditioning. Rentetan gerakan-gerakan reflek itu dapat menimbulkan reflek reflek buatan.
4). Menurut aliran psikologi asosiasi, belajar adalah merupakan usaha untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru. Peristiwa dipandang sebagai masalah yang harus dipecahkan berdasarkan tanggapan-tanggapan yang telah ada. Orang mendapatkan hubungan antara tanggapan tanggapan itu dan hubungan antara tanggapan tanggapan dengan obyek yang dipecahkan.
5). Para ahli psikologi pikir dan psikologi gestalt mengatakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses yang aktif, yang dimaksud dengan aktif disini bukan hanya aktivitas yang tampak seperti gerakan gerakan anggota anggota badan tetapi juga aktivitas aktivitas mental seperti persepsi berpikir, mengingat ingat dan sebagainya.
6). Psikologi dalam dan Klinis mengemukakan belajar adalah suatu usaha untuk mengatasi ketegangan-ketegangan psichis. Bila orang ingin mencapai tujuan dan ternyata mendapatkan rintangan, maka hal itu bisa menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu baru bisa berkurang bila rintangan itu di atasi, dan usaha mengatasi rintangan itulah yang dinamakan belajar.
Dari uraian di atas, menunjukan bahwa adanya pendapat yang bermacam macam mengenai apa yang dimaksud dengan belajar. Namun demikian disamping adanya perbedaan perbedaan mengenai prumusan tentang arti belajar tersebut, tetapi kalau kita kaji dan analisa secara dalam maka terdapat kesamaan kesamaan mengenai aspek aspek yang terdapat dalam proses kegiatan belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh J.L. Mursell sebagai berikut :
It has revealed a number or specipic or emphasis in the general orientation more define 1) Learning is assentially purposive. It is meaningful in the sense that it matters to the learner. 2) The basic process of learning is one of exploration and discovery, not of routine repetition. 3) The out come or result achieved by learning is always the emergence of insight or under standing or intelegible respond. 4) That result is not tied to the situation in which it was achieved, burt can be used also in other situation.
Sesuai dengan pendapat J.L. Mursell, maka aspek aspek yang terdapat dalam kegiatan proses belajar adalah :
1). Bahwa belajar itu bertujuan. Adanya tujuan itu akan nyata apabi;a murid dihadapkan masalah. Ia bertujuan memecahkan masalah itu. Ia terlibat dalam pemecahan masalah itu.
2). Bahwa belajar itu prosesnya berlangsung dengan penyelidikan dan penemuan, bukan berlangsung secara ripititif. Seorang yang belajar perlu dihadapkan pada sesuatu masalah. Untuk dapat memecahkan masalah itu perlu adanya penyelidikan dan penemuan pemecahannya.
3). Bahwa hasil belajar adalah munculnya pemahaman, munculnya pengertian, munculnya respond yang berakal.
4). Bahwa hasil belajar itu tidak hanya terikat pada situasi munculnya pemahaman saja, tetapi dapat digunakan pada situasi lain.
Dengan demikian seseorang dikatakan belajar, apabila menghadapi masalah yang harus dipecahkan. Untuk memecahkan masalah tersebut tentu saja diperlukan cara atau jalan untuk memecahkannya dengan mencari keterangan-keterangan atau data yang diperlukan. Kemudian keterangan ataupun data-data yang sudah dikumpulkan tersebut dihubungkan dengan masalah yang dihadapi sehingga apabila terdapat kesesuaian akan muncul pemahaman dan dengan dengan demikian masalahpun akan terpecahkan. Bilamana telah sampai pada tingkat pemahaman ini, maka seseorang yang belajar akan dapat memecahkan masalah ini dalam situasi yang bagaimanapun dan dimanapun. Peristiwa ini dalam belajar dikenal dengan istilah transfer of learning atau tarnfer of training. Dengan munculnya pemahaman maka sesuatu yang dipelajari pada sesuatu situasi akan dapat diterapkan pada situasi yang lain. Dengan demikian tidak ada perbedaan yang nyata antara pengertian tranfer of learning dengan application (pengeterapan). Apabila tidak terjadi transfer dalam belajar berarti belajarnya gagal. Kegagalan dalam transfer disebabkan dalam belajar hanya mentitik beratkan kepada belajar secara memorisasi, secara ripitatif, bukan secara insight (pemahaman).
Sehubungan dengan itu ada sementara pendapat yang membedakan adanya dua macam proses kegiatan belajar yaitu connection formaing dan rationall learning. Proses belajar connection forming adalah proses belajar yang dilaksanakan oleh mereka yang lemah berfikir (feeble minded human) yaitu dengan menghafal fakta-fakta. Sedangkan belajar rationall learning adalah belajar yang dilakukan dengan jalan pemahaman.
Berdasarkan urian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila terjadi perubahan dalam tingkah laku (respond). Dengan demikian apabila tidak terjadi perubahan dalam respond tidak ada perbuatan belajar. Perbuatan-perbuatan (tingkah laku) di mana ada prubahan dalam respond adakalanya perbuatan yang menuju kemunduran dan adakalanya menuju ke perkembangan. Dalam hal ini perbuatan belajar berwujud adanya perubahan dalam respod yang menuju ke proses perkembangan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Pinsent ” Learning is process of development and we can define it as a process of developmen which result in the modifications of respond “ .
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses perubahan. Perubahan-perubahan itu tidak hanya perubahan lahir tetapi juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang nampak tetapi juga perubahan –perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan- perubahan itu buka perubahan yang negatif tetapi perubahan yang positif yaitu perubahan yang menuju ke arah kemajuan atau ke arah pebaikan.
Untuk mengetahui ada tidaknya perubahan pada peserta didik sebagai hasil dari suatu proses belajar yang dilakukan oleh guru di sekolah, maka perlu adanya evaluasi hasil belajar.

b. Domain Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar di sekolah meliputi tiga domain yaitu domain cognitive, affective dan psychomotor. Domain cognitive adalah kemampuan dalam berfikir, domain affective adalah kemampuan dalam bersikap dan domain psychomotor adalah kemampuan motorik.
Bentuk prilaku yang diukur berdasarkan tingkat kemampuan domain masing-masing sesuai dengan ranah tujuan pembelajaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Bloom sebagai berikut:
1). Cognitive Domain yaitu: a) Pengetahuan, aspek ini mengacu pada kemampuan mengenal/mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada hal-hal yang sukar. Pada umumnya unsur pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang perlu diingat seperti : batasan, peristilahan, pasal, hukum, dalil, rumus, nama orang, nama tempat, dan lain lain; b) Pemahaman, aspek ini mengacu pada kemampuan memahami makna materi yang dipelajari. Pada umumnya unsur pemahaman ini menyangkut kemampuan menangkap makna suatu konsep, yang ditandai antara lain dengan kemampuan menjelaskan arti suatu konsep dengan kata-kata sendiri. Pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yakni penerjemahkan (misalnya dalam lambang ke arti), penafsiran, dan ekstrapolasi (menyimpulkan dari sesuatu yang telah diketahui): c).Penerapan, aspek ini mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan pengetahuan yang sudah dimiliki pada situasi yang baru, yang menyangkut penggunaan aturan, prinsip, dan sebagainya, dalam memecahkan persoalan tertentu. Jadi dalam aplikasi harus ada konsep, teori, hukum, rumus, kemudian diterapkan atau digunakan dalam memecahkan suatu persoalan; d). Analisis, aspek ini mengacu pada kemampuan mengkaji atau menguraikan sesuatu ke dalam komponen-komponen atau bagian-bagian yang lebih sepesifik, serta mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian yang satu dengan yang lain, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih difahami. Kemampuan ini merupakan akumulasi atau kumpulan pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi; e). Sintesis, aspek ini mengacu pada kemampuan memadukan berbagai konsep atau komponen, sehinga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sentisis adalah lawan dari analisis.; f).Evaluasi, aspek ini mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan atau penilaian terhadap gejala/peristiwa berdasarkan norma-norma atau patokan-patokan tertentu. Hasil belajar dalam tingkatan ini merupakan hasil belajar yang tertinggi dalam domain kognitif, sehingga memerlukan semua tipe hasil belajar tingkatan sebelumnya (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentisis ).
2). Affective Domain yaitu: a). Kemauan menerima/Penerimaan, aspek ini mengacu pada kesediaan menerima dan menaruh perhatian terhadap nilai tertentu, seperti kesediaan menerima nilai-nilai disiplin yang berlaku di sekolah; b) Kemampuan menanggapi/Pemberian respond, aspek ini mengacu pada kecenderungan memperlihatkan reaksi terhadap norma tertentu, menunjukan kesediaan dan kerelaan untuk merespond, serta merasakan kepuasan dalam merespons, seperti misalnya mulai berbuat sesuai dengan tata tertib disiplin yang telah diterimanya.; c). Berkeyakinan/Penghargaan, aspek ini mengacu pada kecenderungan menerima suatu norma tertentu, menghargai suatu norma, serta mengikat diri pada suatu norma. Siswa, misalnya, telah memperlihatkan prilaku disiplin yang menetap dari waktu ke waktu.; d). Penerapan karya/Pengorganisasian, aspek ini mengacu pada proses membentuk suatu konsep tentang suatu nilai serta menyusun suatu sistem nilai dalam dirinya. Pada taraf ini seseorang mulai memilih nilai-nilai yang ia sukai, misalnya tentang norma-norma disiplin tersebut, dan menolak nilai-nilai yang lain.; e).Ketekunan/ketelitian /Karakterisasi, Aspek ini mengacu pada proses mewujudkan nilai-nilai dalam pribadi sehingga merupakan watak, di mana norma itu tercermin dalam pribadinya. Dalam taraf ini prilaku disiplin, misalnya betul-betul telah menyatu dalam dirinya. Aspek ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam domain afektif.
3). Psikomotor Domain yaitu: a) Persepsi, aspek ini mengacu pada penggunaan alat dria untuk memperoleh kesadaran akan suatu objek/gerakan dan mengalihkannya ke dalam kegiatan/perbuatan. Dalam bermain bulu tangkis, misalnya siswa menggunakan indera penglihatan, pendengaran, dan sentuhan untuk dapat menyadari unsur-unsur fisik dari permainan tersebut. Aspek ini merupakan tingkatan yang paling rendah dalam domain psikomotor; b) Kesiapan ( set ), aspek ini mengacu pada kesiapan memberikan respon secara mental, fisik maupun perasaan untuk suatu kegiatan. Kesiapan fisik dan mental pada saat seseorang mengambil ancang-acang sebelum melakukan pukulan service pada permainan bulu tangkis, misalnya, merupakan contoh dari aspek kesiapan ( set) ini. Aspek ini berada satu tingkat di atas persepsi; c) Respons terbimbing, aspek ini mengacu pada pemberian respons sesuai dengan contoh perilaku/gerakan-gerakan yang diperlihatkan /didemonstrasikan sebelumnya. Siswa yang mempraktekan pukulan-pukulan service dengan cara tertentu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diperlihatkan oleh gurunya, merupakan sal;ah satu contoh dari respons terbimbing. Aspek ini berada satu tingkat di atas kesiapan/set; d) Mekanisme, aspek ini mengacu pada keadaan dimana respons fisik yang dipelajari telah menjadi kebiasaan. Siswa yang selalu melakukan pukulan service dengan cara-cara tertentu sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya, merupakan contoh dari aspek mekanisme. Aspek ini berada satu tingkat di atas respons tetrbimbing; e) Respons yang kompleks, aspek ini mengacu pada pemberian respons ataun penampilan perilaku/gerakan yang cukup rumit dengan terampil dan efisien. Siswa yang dapat bermain bulu tangkis dengan pukulan-pukulan service yang akurat, tanpa membuat kesalahan selama permainan, merupakan contoh respons yang kompleks. Aspek ini berada satu tingkat di atas mekanisme; f). Adaptasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menyesuaikan respons atau perilaku/gerakan dengan situasi baru. Sebagai contoh, setelah menguasai cara-cara bermain bulu tangkis dengan lawan-lawan tertentu, siswa dapat menerapkan/menggunakan keterampilan yang telah dikuasainya dalam menghadapi lawan-lawan yang lain.Aspek ini berada satu tingkat di atas respons yang kompleks; 7). Originasi, aspek ini mengacu pada kemampuan menampilkan dalam arti menciptakan perilaku/gerakan yang baru. Setelah cukup lama belajar dan berlatih bulu tangkis, siswa dapat menciptakan cara melakukan pukulan service yang unik, berbeda dari yang lain. Aspek ini menduduki tingkatan yang paling tinggi dalam domain psikomotor.
Penilaian aspek cognitive dalam bentuk tes yaitu tes lisan dan tes tertulis atau tes hasil belajar. Penilaian afektif penilaian dalam bentuk tes sikap, minat, motivasi, nilai dan moral. Penilaian psikomotorik penilaian dalam bentuk unjuk kerja atau perbuatan.
Materi bahan ajar mata pelajaran yang dinilai berkaitan denga aspek cognitive, affective dan psikomotor domain adalah fakta, konsep, teori, prinsip, prosedur yang berkaitan dengan materi ajar yang telah disampaikan sesuai dengan standar kompetensi dasar, kompetensi dasar dan indikator yang telah dirumuskan dalam silabus maata pelajaran.

3. Prosedur Penilaian dan Evaluasi Proses dan Hasil Belajar
Berdasarkan arti kata prosedur adalah saluran, proses,strategi, langkah dan garis haluan. Secara konsepsual prosedur diartikan sebagai tahapan kegiatan untuk menyelesaikan suatu akativitas. Prosedur adalah metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu masalah. Prosedur adalah rangkaian metode yang telah menjadi pola tetap. Prosedur juga dapat diartikan sebagai serangkaian dari tahapan-tahapan atau urutan-urutan dari langkah-langkah yang saling terkait dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Menurut pendapat pakar prosedur adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya yang berkaitan dengan melaksanakan dan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi. Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang.
Berdasarkan pendapat di atas maka prosedur dapat diatikan sebagai tata cara kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan berupa langkah-langkah yang dilakukan secara berurutan dan terpola.
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dengan demikian penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu.( Sudjana, 2005 ). Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa.Hasil belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku setelah melalui proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah (PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 63 Ayat 1) . Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut:
a). Menentukan Kriteria Ketuntasan Minilal (KKM) setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
b). Mengkoordinasikan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
c). Menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik.
d). Menentukan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik.
e). Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
f). Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah.
g). Menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
h). Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan.
i). Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.
j). Menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria: 1). Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; 2).Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; 3). Lulus ujian sekolah/madrasah; 4). Lulus Ujian Nasional.
k. Menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara Ujian Nasional.
l. Menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan pendidikan penyelenggara Ujian Nasional .
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian proses merupakan penilaian yang menitik beratkan sasaran penilaian pada tingkat efektifitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar. Penilaian proses belajar berkaitan dengan paradigma bahwa dalam kegiatan belajar kegiatan utama terletak pada siswa, siswa yang secara dominan berkegiatan belajar mandiri dan guru hanya melakukan pembimbingan. Dalam konteks ini guru harus memantau berbagai kesukaran siswa dalam proses belajar tersebut setiap pertemuan. Sedangkan untuk mengukur hasil belajar dilakukan ulangan harian, tengah semester, dan akhir semester.
Prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar adalah tata cara kerja yang dilakukan oleh guru untuk melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa berupa langkah-langkah yang dilakukan secara berurutan dan terpola sebagai berikut:
a. Mengkaji Materi Pembelajaran
Tahap pertama yang harus dilakukan guru sebagai penilai adalah mempelajari dan mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar. Kajian materi ini dapat dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan secara komprehensif dari beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang diharapkan.
b. Memilih Teknik Penilaian
Tahap kedua memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu penilaian melalui tes dan non tes. Sekolah biasanya para guru banyak menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan keakuratan perlu dipertimbangkan proporsi kemampuan yang diukur, tingkat kesukaran dan daya beda setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih mudah dibandingkan dengan non tes
c. Perumusan Kisi – Kisi
Tahap ketiga merumuskan dan membuat matrik kisi-kisi sesuai dengan teknik penilaian yang telah ditentukan. Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai informasi dan ruang lingkup dari materi pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk menulis soal atau matriks soal menjadi tes. Pembuatan kisi-kisi memiliki tujuan untuk menentukan ruang lingkup dalam menulis soal agar menghasilkan perangkat tes yang sesuai dengan indikator.
Kisi kisi dibuat berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai serta bentuk tes yang akan diberikan kepada peserta didik. Tes dapat berbentuk tes objektif benar-salah, pilihan ganda atau tes uraian serta non tes berupa penilaian afektif dan psikomotorik.
Kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes. Dengan adanya kisi-kisi penulisan soal menjadi terarah, komprehensif dan representatif. Dengan pedoman kepada kisi-kisi penyusunan soal menjadi lebih mudah dan dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes.
Syarat penyusunan kisi-kisi adalah: 1). Dapat mewakili isi silabus atau kurikulum; 2). Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami; 3). Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya sesuai bentuk soal yang ditetapkan; 4). Sesuai dengan indikator.
Komponen kisi-kisi: 1). Komponen Identitas; 2). Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan; 3). Mata pelajaran; 4). Tahun ajaran; 5) Jumlah soal; 6). Bentuk soal; 7). Standar Kompetensi; 8). Kompetensi Dasar; 9). Indikator
Dalam pembuatan kisi-kisi harus mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang mengacu kepada teori Bloom sebagai berikut:
1). Cakupan yang diukur dalam ranah kognitif adalah: a). Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode; b). Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan; c). Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur; d). Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan; e). Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan; f). Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan.
2). Cakupan kemampuan yang diukur dalam ranah afektif adalah: a). Menerima (A1), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian; b). Merespon (A2), meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam merespon, mematuhi peraturan; c). Menghargai (A3), meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai; d).Mengorganisasi (A4),meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai; e). Karakteristik suatu nilai (A5), meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya
3). Cakupan kemampuan yang diukur dalam ranah psikomotorik adalah: a) gerak refleks; b) gerak dasar fundamen; c) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinas; d) keterampilan fisik; e) gerakan terampil; f) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
d. Penulisan Butir Soal
Tahap keempat, menulis dan membuat butir-butir soal yang sesuai dengan kisi-kisi dan bentuk soal yang telah ditentukan. Bila menggunakan teknik non tes, maka diperlukan untuk membuat pedoman pengisian instrumen. Misalnya untuk observasi atau wawancara.
e. Penimbangan/Reviewe
Dalam tahap ini, butir soal dan atau pedoman yang telah disusun, ditimbang secara rasional (analisis rasional oleh); dibaca, ditelaah dan dikaji kembali butir-butir soal dan atau pedoman yang dibuat telah memenuhi persyaratan.
f. Perbaikan
Pedoman diperbaiki sesuai dengan hasil penimbangan, bagian-bagian mana yang perlu dikurangi atau ditambah kalimat atau kata-katanya perbaikan inipun biasanya didasarkan kepada pemikiran peserta didik untuk memahami isi dari kalimat yang diberikan, hal ini mengandung arti bahwa kalimat yang disusun hendaknya mudah di pahami oleh para peserta didik .
g. Uji-coba dan Penggandaan.
Uji-coba terhadap tes/soal yang dibuat adalah untuk menentukan apakah butir soal yang dibuat telah memenuhi kriteria yang dituntut, sudahkah mempunyai tingkat ketetapan, ketepatan, tingkat kesukaran dan daya pembeda yang memadai. Untuk bentuk tes kriterianya dituntut adalah tingkat ketepatan (validitas) dan ketetapan (reliabilitas) sehingga diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang baku (standar)
h. Diuji (diteskan)
Setelah diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang memenuhi persyaratan sudah barang tentu perangkat alat ini diorganisasikan, disusun berdasarkan pada bentuk-bentuk atau model-model soal bagi perangkat tes, dan untuk perangkat non tes.Setelah perangkat tes maupun non tes digandakan kemudian siap untuk diujikan.
i. Pemberian Skor
Lembar jawaban peserta didik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomer induk peserta didik untuk memudahkan dalam memasukkan skor peserta didik. Kemudian dilakukan pemberian skor sesuai dengan kunci jawaban, sehingga diperoleh skor setiap peserta didik. Untuk bentuk soal objektif diberi skor 1 jika benar dan 0 jika salah, sedangkan skor bentuk essay bergantung kepada tingkat kesulitan soal. Berdasarkan hasil tes akan diketahui skor masing-masing peserta atau skor siswa.
j. Putusan.
Setelah pengolahan data skor hasil tes sampai pada menafsirkan, guru/skolah atau team penilai ujian memperoleh putusan akhir dari kegiatan penilaian. Putusan yang diambil diharapkan obyektif sesuai dengan aturan atau kriteria yang telah ditentukan. Putusan tersebut tuntas-tidak tuntas, naik kelas-tidak naik kelas dan lulus-tidak lulus.

DAFTAR BACAAN

Anonim. (1977). Ki Hajar Dewantara, Bagian I- Pendidikan, Bagian II-Kebudayaan. Yogyakarta : Majelis Persatuan Taman Siswa.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.Jakarta : Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta : Mendiknas

Suharsimi Arikunto. (1993). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Zuldafrial. (2009). Strategi dan Pendekatan Pengelolaan Kelas. Pontianak: Pustaka Abuya

————–( 2011). Keterampilan Komunikasi Pendidikan. Pontianak: STAIN Press Pontianak
————–(2013), Perencanaan Pengajaran Geografi, Pontianak: STAIN Press Pontianak

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar