Manusia Berada Antara Alam Materi dan Ghaib

Allah menjadikanmu berada di alam pertengahan antara alam (materi) dan malakutnya guna memperkenalkan tingginya kedudukanmu diantara makhluk. Kau adalah mutiara yang tersembunyi dalam kulit ciptaan-Nya.

Wahai manusia, Allah menjadikanmu di alam pertengahan antara kerajaannya (materi) dengan malakutnya (kerajaan ghaib-Nya). Alam materi adalah alam nyata dan alam malakut adalah alam gaib. Manusia tidak murni alam nyata, tidak murni pula dari alam ghaib. Akan tetapi dia berada di pertengahan antara keduanya, baik secara inderawi maupun secara maknawi. Secara inderawi, Allah menciptakannya di antara langit dan bumi. Dia menciptakan makhluk lain, seperti binatang dan tumbuhan tak lain untuk diambil manfaatnya oleh manusia. Adapun secara maknawi Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna dan menjadikannya sebagai sosok yang mengandung seluruh benda-benda yang berwujud, di atas maupun di bawahnya, yang lembut maupun yang kerasnya. Dengan begitu manusia terdiri ruh dan jasad, langit dan bumi. Oleh karena itu manusia sering disebut alam kecil. Sering pula manusia disebut miatur dari seluruh alam semesta, karena di dalam dirinya terdapat sifat-sifat malaikat seperti akal, makrifat dan ibadah; menyimpan sifat-sifat setan seperti suka menggoda memberontak dan melampaui batas; memiliki sifat-sifat khewan seperti pemarah dan nafsu syahwat, tamak dan ganas, serta penuh tipuan.  Saat marah manusia menjadi seperti seekor singa. Saat dikuasai nafsu ia menjadi seperti babi yang tidak peduli dimana dia bekubang. Saat tamak dan ganas ia menjadi seperti anjing. Saat menipu, ia menjadi seperti srigala. Pada diri manusia juga tersimpan sifat tumbuhan dan pepohonan pada awalnya manusia seumpama dahan yang lembut, kemudian tumbuhan hingga akhirnya menjadi keras dan berwarna hitam. Manusia juga menyimpan sifat langit yaitu tempat menyimpannya segala rahasia dan cahaya serta tempat berkumpulnya para malakat. Ia mengandung sifat bumi yaitu bahwa ia tempat tumbuhnya akhlak dan tabiat  yang lembut ataupun yang keras. Ia juga menyimpan arsy  yaitu bahwa kalbunya menjadi tempat penampakan ilahi. Selain itu ia memiliki sifat lauh yaitu menjadi tempat disimpannya ilmu; sifat kalam yaitu bahwa mengatur ilmu itu. Manusia juga menyimpan sifat surga yaitu akhlak yang baik semua temannya akan merasa nikmat nikmat dan nyaman saat bersama dengannya. Ia juga menyimpan sifa neraka yaitu jika akhlaknya buruk.semua temannya akan ikut terbakar.

Allah menjadi semua itu untuk memperkenalkan tingginya kedudukan mu di tengah para makhluk-Nya. Semua makhluk itu diciptakan untukmu agar kau manfaat dengan baik. Oleh karena itu kau harus meninggikan tekadmu dari semua itu dan hanya sibuk dengan Tuhanmu.

Abu Abbas berkata alam semesta benda semuanya adalah hamba yg diciptakan untukmun dan kau adalah hamba Allah.” Ini adaah makna pertengahan inderawi seperi yang disebutkan. Adapun makna maknawi ibnu Athaillah mengisyaratkan dengan ucapannya, kau adalah mitra yang tersembunyi dalam kulit cipaannya. Bahasa lainnya adalah tersimpan dalam kerang ciptaanya, karena sifat-sifat nya semuanya ada dalam dirimu.

Oleh karena itu Allah menjadikannya khalifah yang melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangannya. Allah memberinya  dua arah: satu arah menuju Allah dan satu arah menuju makhluk. Adapun malaikat dan makhluk lainnya yang tercipta dari ruh, mereka tidak memiliki kecuali satu arah saja yaitu menuju Allah.

Namun sifat-sifat itu tidak akan tampak pada dirinya, kecuali setelah ia melakukan olah batin dan mujahadah. Setelah itu dia disebut insan kamil (manusia sempurna). Inilah rahasia-rahasia yang tidak diketahui kecuali dengan dzauq  (perasaan) dan tidak terdengar oleh selain pemiliknya.

Maka dari itu kita harus berusaha menyempurnakan ruh ruh dengan zikir-zikir dan olah batin agar semua kotoran kemanusiaannya hilang sehingga ia layak bergantung kepada Tuhan yang Maha Agung. Adapun untuk jasad kita tak perlu memperdulikannya apa yang layak baginya karena Allah telah menjaminnya.

Dalam sebuah syair disebutkan:

Wahai pelayan tubuh, betapa kau menderita saat melayaninya.

Kau  mengharapkan keuntungan dari sesuatu yang jelas merugikan.

Sebaiknya kau memperhatikan ruh dan menyempurnakan kemuliaannya.

Dengan ruh kau disebut manusia bukan dengan jasad,

 

 

 

 

 

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Penolakan Bisa Jadi Adalah Pemberian

Ketika Dia memberimu, Dia memperskasikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatangimu lewat kelembutan-nya. 

Ketika memberimu, Allah menampakan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghendakimu  untuk mengenali-Nya.

Kitapun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita dikenal oleh orang lain. Maka pahamilah dengan dua cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu kau harus mensyukurinya.

Kesimpulannya, yang dituntut dari para hamba adalah agar  mereka mengenali Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.

Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaan-Nya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberian-Nya  yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah, karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubung dengan sifat-sifat baik-Nya maupun dengan sifat-sifat kuasa-Nya.

Yang membuatmu kecewa ketika tidak diberi adalah karena engkau tidak memahami hikmah Allah di dalamnya.

Jika kau merasa kecewa dan sedih karena tidak diberi oleh-Nya, itu artinya kau tidak memahami hikmah mengapa Allah tidak memberimu. Sekiranya Allah memberimu pemahaman, niscaya engkau akan menikmati kondisimu itu. Bila kau paham mengapa kau tidak diberi, tentu kau akan sadar bahwa dengan penolakan-Nya itu, Da ingin membimbingmu menuju  pintu-Nya dan membuatmu begantung kepada-Nya, sehingga kau menjadi salah seorang yang dicintai-Nya. Jika Allah mencintai hambanya, Dia akan melindunginya dari perkara-perkara duniawi.  Kau juga akan memahami bahwa Allah mendorongmu untuk menempuh jalur para muqarrabin.

Bila kau faham mengapa kau tidak diberi, kau tentu sadar bahwa dunia ini fana dan kenikmatannya akan sirna sehingga kau keluar dari sana dengan membawa bekalmu untuk akhirat kelak. Bila kau paham mengapa kau tidak diberi, tentu akau akan sadar bahwa penolakan Allah itu adalah kurnia dari-Nya.

Adakalanya Dia membukakan pintu ketaatan untukmu, namun tidak membukakan pintu penerimaan. Adakalanya Dia menetapkanmu berbuat dosa, namun ternyata dosa itu menjadi sebab sampainya dirimu kepada-Nya.

Hal itu dikarenakan, ketaatan terkadang disertai pula dengan kekurangan-kekurangan yang merusak keikhlasan, seperti sifat Ujub, sikap bergantung pada ketaatan itu, dan kebiasaan merendahkan orang yang tidak melakukan ketaatan. Semua keburukan itu menghambat ketaatanmu untuk diterima Allah.

Di sisi lain, dosa terkadang juga diikuti dengan permohonan perlindungan kepada Allah dan maaf dari-Nya, penghinaan terhadap diri sendiri, dan pengagungan orang yang tidak melakukannya. Oleh karena itu dosa bisa menjadi sumber pengampunan Allah untuknya dan sampainya ia ke hadirat-Nya.

Ataas dasar itu, seorang hamba tidak patut melihat penampilan lahir segala sesuatu, tetapi hendaknya ia melihat kepada hakekat dan intinya sehingga jika ia sedang taat, ia akan takut. Namun, jiika ia sedang bermaksiat, ia tetap berharap.

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kami Belum Mengenal-Mu sebagaimana Kami seharusnya Mengenal-Mu

Karena keterbatasan kemampuan manusiawi kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan secara langsung. Akan tetapi kita bisa mengenal Sang Khalik secara tidak langsung melalui penglihatan metafisik dibalik fenomena alam atau fenomena sosial dengan merenungkan 99 sifat ilahi atau ” nama-nama indah atau paling baik ” yang disebutkan dalam tradisi islam.

Dari semua sifat itu, satu yang paling sering disebutkan adalah kasih sayang, satu kata yang mengkonotasikan kepedulian mendalam, simpati, dan kesediaan untuk memaafkan. Bahkan Alquran dibuka dengan rujukan pada Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Segala puji  bagi Allah Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1: 2-3) dan hampir di setiap surah dimulai dengan kalimat, Dengan menyebut Allah yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Di sepanjang Alquran banyak ayat mengingatkan kita tentang banyak aspek dari kasih sayang Tuhan. Tuhan kita yang telah menciptakan kita (2;21) melindungi anak yatim (93: 6), memberi petunjuk bagi orang yg tersesat (93:7), yang Mahaluas ampunannya (53:32) dan, dalam kata-kata yang dinisbatkan kepada Nabi Musa, merupakan Maha Penyayang diantara para penyayang (7;151) Ini hanyalah contoh kecil betapa ayat-ayat Alquran mengungkapkan kasih sayang sebagai esensi Tuhan. Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama apa saja kamu seru . Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (17: 110)

Kaum skeptis mungkin saja berkata, ” semua ini adalah setetmen indah, tapi apakah setetmen-setetmen intu benar adanya ? “Kasih sayang ilahi tidak banyak terlihat tatkala kita melihat dunia sekeliling kita. Sejarah manusia penuh dengan wabah, gempa bumi, ombak tinggi, pembunuhan, kezaliman, penindasan, penderitaan, dan kepedihan. Mungkinkah Tuhan yang Maha Penyayang membiarkan penderitaan-penderitaan pedih ini ? Tidak mungkin Tuhan tidak menyadari: Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya pula (6:59). Tidak mungkin Tuhan tidak memiliki kekuatan: Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu makan Allah hanya cukup berkata kepadanya ‘ Jadilah ‘ lalu jadilah dia ! (3: 47). Bagaimana bisa Tuhan yang Maha Penyayang, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa membiarkan kepedihan dan tragedi seperti itu terjadi di dunia yang Dia pelihara dan Dia jaga ?

Tidak ada jawaban logis dan manusiawi bagi pertanyaan ini. Sejumlah guru sufi mengatakan mereka tidak ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, khawatir Tuhan akan mengembalikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada mereka. Mungkin mereka menyadari legenda tentang orang suci yang berkelilimg dunia seraya melihat segala kepedihan dan penderitaan yang harus ditanggung manusia. ” Allah “ dia merintih, Mengapa Kau tidak melakukan sesuatu soal ini ? “  ” Ah Aku sudah melakukan nya “ muncullah jawaban lembut, ” Aku menciptakan engkau “

Terlepas dari usaha pribadi kita untuk menyembuhkan dunia, yang bisa kita lakukan adalah merenungkan kata-kata Nabi Ayub dalam masa-masa gelap penderitaan: Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang (21; 83)

Paradoks-paradoks Tuhan tampak jelas dalam deklarasi menyentuh para pencari sufi yang setelah bertahun-tahun menjalani laku dan pelayanan batin, mendapatkan kesadaran menakjubkan bahwa Tuhanlah Sang Pencari dan kitalah yang sesungguhnya sedang dicari. Merujuk pada ayat-ayat Alquran yang meminta manusia untuk menolong Allah (47:7) atau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik (57: 11) Kaum mestikus terpana bahwa kita yang berutang segala sesuatunya kepada Tuhan justru diminta untuk memberikan bantuan berupa pinjam kepada Tuhan. Rumi secara lembut merenung bahwa Sang Maha Esa menderita karena ketidakhadiran-Nya di dalam diri kita sehingga Tuhan mengeluh kepada diri-Nya sendiri. Misteri yang paling suci, ujar Rumi adalah bahwa hubungan kita dengan Tuhan itu begitu dekat sampai-sampai mencapai tingkat sulit dipercaya. Bukan hanya orang haus yang mencari air, melainkan airlah yang mencari orang haus. Ini bukan soal Tuhan yang memiliki kebutuhan, melainkan soal kasih sayang dan kedermawanan yang tak terbatas. Soal kerinduan ilahi untuk dikenal dan dicintai oleh kita manusia makhluk yang fana ini. Misteri seperti itu berada di luar pemahaman manusia. Sebagaimana Allah katakan kepada kita di dalam Alquran, Tidaklah kamu diberi pengetauan melainkan sedikit (17: 85)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Soal Mid Semester Mata Kuliah Profesi Kependidikan

Mata Kuliah       : Profesi Kependidikan

Program Stusdi : Bahasa dan Sastra

SKS                    : 2 SKS

Dosen                : Drs. H. Zuldafrial M.Si

Soal Ujian:

1. Jelaskan arti undang undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 ?

2. Jelaskan beberapa alasan yang sekali gur menjadi latar belakang diundangkannya   undang undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 ?

3. Sebutkan ciri ciri suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi ?rendahnya

4.Sebutkan prinsip prinsip profesionalitas dalam pelaksanaan pekerjaan profesi guru ?

5. Sebutkan persyaratan guru sebagai pendidik profesional ?

6. Pelaksanaan sertifikasi guru dibedakan dua macam, sebutkan dan jelaskan ?

7. Jelaskan bagaimana pelaksanaan sistem pendidikan  nasional di Indonesia ?

8. Sebutkan dan jelaskan beberapa penyebab rendahnya kualitas penidikan di Indonesia?

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENYUSUNAN BAHAN PEMBELAJARAN

A. Pentingnya Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran merupakan komponen penting yang harus dipersiapkan guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Kelengkapan bahan pembelajaran akan membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Lebih dari itu, bahan pembelajaran merupakan komponen yang sangat menentukan bagi tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran.
Bahan pembelajaran yang lengkap dan disusun secara sistematis dapat menciptakan proses belajar dan pembelajaran yang efektif dan efisien. Kualitas bahan pembelajaran juga merupakan salah satu faktor penentu bagi proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu bahan ajar merupakan suatu unsur yang sangat penting yang harus mendapat perhatian guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan pembelajaran di dalam kelas, sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai.
Guru sebagai pelaksana pendidikan atau proses belajar dan pembelajaran dituntut untuk mampu membuat bahan pembelajaran yang berkualitas. Bahan pembelajaran berkualitas dimaksud adalah bahan pembelajaran dapat menjawab permasalahan serta memenuhi kebutuhan siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu, bahan pembelajaran hendaknya dapat memberikan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap yang harus dipelajari siswa untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.
Mempersiapkan dan membuat bahan pembelajaran tentu saja bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahan pembelajaran tersebut merupakan ramuan yang menentukan kompetensi yang akan dicapai dan dimiliki peserta didik di akhir kegiatan atau setelah berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran.

B. Perbedaan Bahan Pembelajaran dengan Buku Teks
Secara umum dapat dilihat adanya perbedaan yang jelas antara bahan pembelajaran dan buku teks ditinjau dari penggunaan maupun tujuan penyusunannya. Bahan pembelajaran merupakan materi atau sumber informasi yang dirancang dan disusun secara sistematis untuk dipergunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran, sementara buku teks adalah sumber informasi yang disusun dengan urutan atau struktur berdasar bidang ilmu tertentu.
Gintings (2008) mengemukakan perbedaan antara bahan pembelajaran dengan buku teks dilihat dari beberapa aspek yaitu tujuan pembelajara, isi, tingkat pendalaman materi, bentuk, macam atau jenis, pembuat dan lingkup penggunaan sebagaimana manadijelaskan berikut ini.
1. Tujuan pembelajaran yang terkandung dalam bahan pelajaran sepesifik sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Sedangkan pada buku teks bersifat umum sesuai dengan asumsi penulis.
2. Isi bahan pembelajaran merupakan rangkuman atau cuplikan dari buku tesk atau prosedur kegiatan yang terkait. Sedangkan buku teks dapat merujuk sepenuhnya kepada kurikulum dan dapat pula merujuk kepada sistimatika ilmiah suatu topik bahasan.
3. Tingkat kedlaman materi bahan pembelajaran disesuaikan dengan kondisi kelas dan atau berdasarkan tes awal. Sedangkan buku teks disesuaikan dengan tuntutan perkembangan ilmiah.
4. Bentuk bahan pembelajaran berupa cuplikan, ringkasan, materi, prosedur. Sedangakan buku teks himpunan materi lengkap.
5. Macam atau jenis bahan pembelajaran berupa lembar teori atau hand out, modul, lembar praktek atau job sheet, tape recorder, CD pembelajaran. Sedangkan bukuteks berupa buku, majalah, dan diktat.
6. Pembuat bahan pembelajaran guru/dosen yang akan menyampaikan materi. Sedangkan buku teks penulis profesional yang bekerja sama dengan penerbit.
Menurut Pannin dan Purwanto (2001) bahan ajar berbeda dengan buku teks. Perbedaan antara bahan ajar dengan buku teks tidak hanya terletak pada format, tata letak dan perwajahannya, tetapi juga pada orientasi dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya. Buku teks biasanya ditulis dengan orientasi pada struktur dan urutan berdasarkan bidang ilmu (content oriented), sedangkan bahan pembelajaran ditulis dan dirancang untuk dipergunakan oleh dosen atau guru dalam proses belajar dan pembelajaran (teaching oriented). Sangat jarang buku teks dipergunakan secara mandiri dalam proses belajar dan pembelajaran karena memang tidak dirancang untuk itu, namun demikian buku teks dapat dipergunakan sebagai sumber untuk menyusun bahan pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan buku teks dalam proses belajar dan pembelajaran memerlukan dosen atau guru yang berfungsi sebagai penterjemah yang menyampaikan isi atau sebagian isi buku tersebut kepada peserta didik.
Berikut ini dikemukakan pula perbedaan antara bahan pembelajaran dengan buku teks secara terperinci.
1. Bahan ajar menimbulkan minat baca. Buku teks mengasumsikan minat dari pembaca.
2. Bahan ajar ditulis dan dirancang untuk peserta didik. Buku teks ditulis untuk pembaca.
3. Bahan ajar dikemas untuk proses instruksional. Buku teks dirancang untuk dipasarkan secara luas.
4. Bahan ajar menjelaskan tujuan instruksional. Buku teks belum tentu menjelaskan tujuan instruksional.
5. Bahan ajar disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel. Buku teks disusun secara linier.
6. Bahan ajar, struktur berdasarkan kebutuhan peserta didik dan kompetensi akhir yang akan dicapai. Buku teks struktur berdasarkan logika bidang ilmu.
7. Bahan ajar mengakomodasi kesulitan peserta didik. Buku teks tidak mengantisipasi kesukaran belajar peserta didik.
8. Bahan ajar memberi rangkuman. Buku teks belum tentu memberi rangkuman.
9. Bahan ajar gaya penulisan komunikatif dan semi formal. Buku teks gaya penulisan naratif tetapi tidak komunikatif.
10.Bahan ajar kepadatan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Buku teks sangat padat,
11.Bahan ajar mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta didik, Buku teks tidak memiliki mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pembaca,
12,Bahan ajar memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berlatih, Buku teks belum tentu memberikan latihan,
13,Bahan ajar menjelaskan cara mempelajari bahan ajar. Buku teks tidak selalu ada penjelasan cara mempelajari.

C. Prinsip-Prinsip Pemilihan Bahan Pembelajaran
Keterampilan memilih bahan pembelajaran yang tepat merupakan kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh setiap guru atau dosen. Pemilihan bahan pembelajaran yang tepat merupakan masalah penting dalam proses belajar dan pembelajaran dalam rangka membantu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Materi atau bahan pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Untuk mencapai maksud tersebut, guru atau dosen hendaklah mempehatikan prinsip-prinsip dan kriteria pemilihan bahan pembelajaran yang baik dan tepat.
Beberpa prinsip yang mesti diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran yaitu; prinsip relevansi, prinsip konsistensi, dan prinsip kecukupan.
a. Prinsip Relevansi
Bahan pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dan ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Misalnya, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
b. Prinsip Konsistensi
Bahan pembelajaran hendaknya bersifat konsisten atau ajeg terhadap kompetensi yang hendak dicapai. Jika kompetensi dasar yang hendak dicapai empat macam, maka bahan pembelajaran yang hendak disajikan harus meliputi empat macam bahan yang sesuai untuk mencapai empat kompetensi dasar dimaksud. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
c. Prinsip Kecukupan
Bahan pembelajaran yang diajarkan hendaknya cukup memadai atau memiliki kelayakan dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan. Bahan pembelajaran tidak boleh terlalu sedikit sehingga kurang membantu peserta didik untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, dan tidak boleh pula terlalu banyak sehingga membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
D. Kriteria Pemilihan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Oleh karena itu, pemilihan bahan pembelajarn hendaklah sejalan dengan ukuran-ukuran atau kriteria yang digunakan untuk memilih isi kurikulum mata pelajaran yang bersangkutan. Kriteria pemilihan bahan pembelajaran akan dikembangkan dalam system instuksional dan yang mendasari penentuan strategi belajar dan pembelajaran. Pemilihan bahan pembelajaran tersebut hendaknya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini.
a. Sesuai dengan tujuan pembelajaran
Bahan pembelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional khusus atau tujuan-tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut hendaknya sejalan dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
b. Menjabarkan tujuan pembelajaran
Perincian bahan pembelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap tujuan pembelajaran telah dirumuskan secara spesifik, dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan yang erat antara spesifikasi tujuan dan spesifikasi bahan pembelajaran.
c. Relevan dengan kebutuhan peserta didik
Kebutuhan peserta didik yang pokok adalah berkembang berdasarkan potensi yang dimilikinya. Oleh sebab itu bahan pembelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh terkait dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap.
d. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Peserta didik dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu hidup mandiri. Dalam hal ini, bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya turut membantu mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang berguna dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakatnya.
e. Mempertimbangkan norma yang berlaku
Bahan pembelajaran yang dipilih hendaknya mempertimbangkan norma-norma yang berlaku. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari bahan pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan diri peserta didik sebagai manusia yang memiliki etika dan moral sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya.
f. Tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik serta logis
Setiap bahan pembelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya dan terpusat pada satu topik masalah tertentu. Bahan pembelajaran disusun secara berurutan dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologis peserta didik. Dengan cara ini diharapkan isi bahan pembelajaran tersebut akan lebih mudah diserap oleh peserta didik dan tujuan pembelajaran dapat dapat tercapai.
g. Bersumber dari buku sumber yang baku, keahlian guru, masyarakat dan fenomena alam.
Keempat faktor ini perlu diperhatikan dalam memilih bahan pembelajaran. Buku sumber yang baku dimaksud adalah yang disusun oleh para ahli dalam bidang pendidikan dan disusun berdasarkan GBPP yang berlaku. Kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang diharapkan, setidaknya keberadaan buku tersebut akan sangat membantu bagi penyusunan bahan pembelajaran. Keahlian guru dalam menyusun bahan pembelajaran tentu sangatlah penting, karena sumber utama dari proses belajar dan pembelajaran adalah guru itu sendiri. Guru dapat menyimak semua hal yang dianggapnya perlu utuk disajikan kepada peserta didik berdasarkan ukuran pribadianya. Masyarakat juga merupakan sumber yang luas, sedangkan fenomena alam merupakan sumber bahan pembelajaran yang paling besar.
E. Prosedur Penyusunan Bahan Pembelajaran
Sebagaimana telah dikemukan pada bagian terdahulu, bahan pembelajaran merupakan komponen penting yang harus disusun dan dipersiapkan guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar dan pembelajaran. Bahan pembelajaran tersebut merupakan ramuan yang menentukan kompetensi yang akan dicapai dan dimiliki peserta didik di akhir kegiatan atau setelah berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran. Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan pembelajaran sebagaiman dijelaskan berikut ini.
1. Memahami Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, Silabus, Program Semester, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyusun bahan pembelajaran adalah memahami standar isi (Permen 22/2006) berarti memahmai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini telah dilakukan guru ketika menyusun silabus, program semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Memahami standar kompetensi lulusan (Permen 23/2006) juga telah dilakukan ketika menyusun silabus. Walaupun demikian, ketika menyusun bahan pembelajaran, dokumen-dokumen tersebut perlu dihadirkan dan dibaca kembali. Hal itu akan membantu penyusun bahan ajar dalam mengaplikasikan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Selain itu, penyusunan bahan ajar akan terpandu ke arah yang jelas, sehingga bahan ajar yang dihasilkan benar-benar berfungsi.
2. Mengidentifikasi Jenis Bahan Pembelajaran Berdasarkan Pemahaman terhadap Poin
Mengidentifikasi jenis materi pembelajaran dilakukan agar penyusun bahan pembelajaran mengenal dengan tepat jenis-jenis materi pembelajaran yang akan disajikan. Jenis materi pelajaran secara umum disajikan oleh para guru terdiri : (a) fakta adalah segala yang berwujud kenyataan dan kebenaran meliputi nama-nama obyek, peristiwa, lambang, nama tempat, nama orang dan lain sebagainya. Contoh mulut, paru-paru; (b) konsep adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran meliputi definisi, pengertiam, ciri khusus, hakekat, inti/isi dan sebagainya. Contoh hutan hujan tropis di indonesia sebagai sumber plasma nutfah, usaha-usaha pelestarian keanekaragaman hayati indonesia secara in-situ dan ex-situ dsb; (c) prinsip adalah berupa hal-hal pokok dan memiliki posisi terpenting meliputi dalil, rumus, paradigma, teori serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh hukum handy-weinberg; (d) prosedur merupakan langkah-langkah sistimatis atau berurutan dalam melakukan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh langkah-langkah dalam menggunakan metode ilmiah yaitu merumuskan masalah, observasi, hipotesis, melakukan eksprimen dan menarik kesimpulan; (e) sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap contoh pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan yaitu pengertian liungkungan komponen ekosistem lingkungan hidup sebagai sumberdaya pembangunan berkelanjutan
3. Melakuan Pemetaan Materi
Hasil identifikasi dipetakan dan diorganisasikan sesuai dengan pendekatan yang dipilih (prosedural atau hierarkis). Pemetaan materi dilakukan berdasarkan standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan standar kompetensi lulusan (SKL). Tentu saja di dalamnya terdapat indikator pencapaian yang telah dirumuskan pada saat menyusun silabus. Jika ketika menyusun silabus telah terpeta dengan baik, pemetaan tidak diperlukan lagi. Penyusun bahan ajar tinggal mempedomani yang ada pada silbus. Akan tetapi jika belum terpetakan dengan baik, perlu pemetaan ulang setelah penyusunan silabus.
4. Menetapkan Bentuk Penyajian
Langkah berikutnya yaitu menetapkan bentuk penyajian. Bentuk penyajian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Bentuk-bentuk tersebut adalah seperti buku teks, modul, diktat, lembar informasi, atau bahan ajar sederhana. Masing-masing bentuk penyajian ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Di antaranya dapat dilihat dari sisi kompleksitas struktur dan pekerjaannya. Bentuk buku teks tentu lebih kompleks dibandingkan dengan yang lain. Adapun yang paling kurang kompleksitasnya adalah bahan pembelajaran sederhana.
5. Menyusun Struktur (Kerangka) Penyajian
Jika bentuk penyajian sudah ditetapkan, penyusun bahan pembelajaran menyusun struktur atau kerangka penyajian sesuai dengan bentuk penyajian yang dipilih. Kerangka-kerangka itu diisi dengan materi yang telah diatetapkan. Struktur atau kerangka penyajian disusun berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta indikator yang ingin dicapai sesuai dengan rumusan pada silabus mata pelajaran atau bidang studi..
6. Membaca Buku Sumber
Membaca buku sumber diperlukan untuk menentukan materi yang diisikan pada kerangka struktur penyajian. Buku sumber dapat dicari diperpustakaan atau toko-toko buku. Bahan materi ajar dapat pula dicari melalui internet. Penyusun bahan ajar harus mampu menseleksi dan merekayasa kembali materi yang dipilih sesuai dengan pemahaman sendiri dan menyajikan kembali dalam gaya bahasa sendiri. Kegiatan pengisian dilakukan setelah penyusunan Struktur Penyajian.
7. Membuat Draft Bahan Pembelajaran
Kegiatan membuat draf (termasuk membahasakan, membuat ilustrasi, gambar) ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya. Pengisian atau penulisan materi dalam kerangka struktur penyajian tidak harus berurutan dari bab pendahuluan sampai bab akhir. Tapi dimulai darimana saja pada kerangka struktur penyajian sesuai dengan materi sajian yang telah dikumpulkan.
8. Merevisi (Menyunting) Bahan Pembelajaran
Meneliti ulang draf yang telah jadi seraya melakukan perbaikan (revisi) jika diperlukan. Materi sajian yang dianggap masih perlu dikembangkan dan memerlukan tambahan uraian atau penjelasan dari beberapa buku sumber perlu diberi tanda semisal penebalan dengan warna merah umpamanya. Urutan alenia atau paragraf tulisan jika dinilai tidak logis dapat dipertukarkan letak atau tempatnya.

9. Mengujicobakan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yang sudah disusun sesuai dengan struktur kerangka penyajian itu, selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui tingkat kelayakannya sebagai bahan pembelajaran.Uji kelayakan materi ajar ini dimaksudkan untuk mengvaluasi apakah dapat difahami dan sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan peserta didik. Apabila materinya dinilai sulit, contohnya kurang relevan, uraiannya masih perlu ditambahkan, maka materi sajiannya selanjutnya masih perlu direvisi atau disesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian diujicobakan kembali, jika dianggap sudah layak dan dapat diterima oleh pesrta didik, maka selanjutnya dilakukan rivisi ulang dan finalisasi
10. Merevisi dan Menulis Akhir (Finalisasi)
Melakukan perbaikan terhadap materi draf yang telah diujicobakan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Kemudian melakukan kegiatan penulisan akhir (finalisasi). Selanjutnya setelah prosedur sebagaimana tersebut telah dilakukan, maka bahan ajar berupa buku teks, modul, diktat, atau bahan ajar sederhana dapat dipergunakan secara konsisten atau berkelanjutan untuk pembelajarkan peserta didik.
Ealuasi
1. Jelaskan pentingnya bahan pembelajaran ?
2. Jelaskan perbedaan bahan pembelajaran dengan buku teks ?
3. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip pemilihan bahan pembelajaran ?
4. Sebutkan dan jelasakn kriteria pemilihan bahan pembelajaran ?
5. Sebutkan dan menjelaskan prosedur penyusunan bahan pembelajaran ?

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen Dikdasmenum, 2004, Pedoman Umum Pemilihan dan Pemanfaatan bahan Ajar, Jakarta: Depdiknas.

Gintings, Abdorrakhman, 2008, Essensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Humaniora.

Pannin, Paulina dan Purwanto, 2001, Penulisan Bahan Ajar, Jakarta: Pusat antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Ditjen Dikti Diknas.

Prastowo, Andi, 2011, Panduan Kreaftif Membuat Bahan Ajar Inovatif, Jogjakarta: Diva Press.
Satori, Djam’an, dkk, 2007, Profesi Keguruan, Jakarta: Universitas Terbuka.
http://zulkarnainidiran.wordpress.com/2009/06/28/131/
http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/02/pengertian – bahan – ajar – materi pembelajaran.
http://dianramadani150393.blogspot.com/2012/12/pemilihan-materipelajaran.html

Dipublikasi di Publikasi | Meninggalkan komentar

MERENCANAKAN DAN MENULIS BUKU TEKS

A. Definisi Perencanaan Penulisan Buku Teks
Secara difinisi, perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Beberapa difinisi perencanaa antara lain :
1. Proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistimatis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Perhitungan dan penetuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka
mencapai tujuan tertentu. Siapa yang melakukan? Dimana? Bagaimana cara melakukannya ?
3. Sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang menyangkut hal-hal yang akan dikerjakan di masa datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Proses penyiapan seperangkat keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang, yang diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu.
5. Kegiatan yang meliputi : a) Pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi, 2) Penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapau tujuan.
6. Proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif ( pilihan) mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya yang dilakukan secara sistimatis dan berkesinambungan.
Banyak sekali definisi perencanaan yang dikemukakan para pakar, tetapai pada dasarnya perencanaan memiliki kata kunci “ penentukan aktivitas yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan“. Kata kunci ini mengindikasikan bahwa perencanaan merupakan suatu kegiatan merancang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien dengan mempertimbangkan stategi, metode, alat, sarana, biaya, waku dan sumber daya manusia.
Perencanaan penulisan buku teks merupakan suatu kegiatan merancang berbagai kegiatan dalam rangka untuk menyusun bahan ajar dalam suatu buku ajar sesuai dengan tujuan dalam ;proses pembelajaran yang telah ditentukan. Dalam konteks pendidikan berbasis kompetensi, maka tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah kompetensi yang harus dimiliki siswa yang telah dirumus dalam silabus mata pelajaran.Sehingga kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dijalani siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan bahan ajar sebagai isi pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan itu melalui scenario pengalamanp belajar yang disusun oleh guru dalam program pembelajaran.

B. Fungsi Perencanaan Penulisan Buku Teks
Pada hakekatnya bila suatu kegiatan direncanakan terlebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya untuk menyusun suatu buku teks sebagai bahan ajar diperlukan perencanakan. Seorang guru dituntut mampu menyusun bahan ajar dalam melaksanakan pembelajaran di kelas guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kemampauan guru menyusun bahan pembelajaran, akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa di kelas..
Kemampuan guru dalam menyusun bahan pembelajaran merupakan salah satu tuntutan tugas profesional guru disamping kemampuannya di dalam mengelola program pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, melaksanakan pelatihan dan pembimbingan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sebagaimana yang dikehendaki di dalam Undang- Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat 2 dan undang undang Guru dan dosen nonmor 14 tahun 2005 pasal 20 tentang hak dan kewajiban guru.
Perencanaan penulisan bahan ajar ini berfungsi : pertama, menentukan kompetensi yang akan dihasilkan dari proses pembelajaran yang akan dilakukan. Penentukan kompetensi ini merupakan hal yang paling penting dalam keberhasilan peroses pembelajaran. Penentuan kompetensi yang salah akan berakibat fatal pada : a) tidak dapat dicapainya standar kompetensi sesuai dengan tuntutan kurikulum mata pelajaran 2) tidak sesuainya dengan kebutuhan dan harapan stakeholder 3) tidak dapat dikembangkannya kompetensi secara berkelanjutan karena pencapaian kompetensi yang satu merupakan prasyarat untuk mencapai kompetensi berikutnya dan 4) terjadi pemborosan sumber daya karena kompetensi yang dirumuskan tidak sesuai dengan tuntuan kebutuhan dan bila dilaksanakan menjadi pekerjaan yang tidak bermanfat.
Kedua, menentukan pokok bahasan/sub pokok bahasan serta sumber belajar yang diperlukan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Pokok bahasan/sub pokok bahasan serta sumber belajar yang menjadi isi dalam suatu proses pembelajaran harus mendukung pencapaian kompetensi sebagai hasil belajar siswa yang meliputi ranah kognitif kemampun berfikir, ranah affective kemampuan dalam bersikap dan ranah psychomotor kemampuan motorik berkaitan dengan mata pelajaran.
Ketiga, menentukan kegiatan belajar mengajar yang harus dilaksanakan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Pengalaman belajar yang dilalui oleh siswa melalui proses kegiatan belajar mengajar haruslah mendukung terbentuknya kompetensi yang diharapkan kepada siswa. Oleh karena itu pemilihan isi bahan ajar oleh guru dalam program pembelajaran harus mendukung terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang sudah dirancang dalam rangka mencapai kompetensi dasar yang sudah dirumuskan dalam silabus atau kurikulum mata pelajaran.
Keempat, menentukan alat evaluasi untuk menilai ketercapaian kompetensi yang telah dirumuskan. Proses belajar mengajar adalah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan. Tujuan dari pembelajaran adalah terbentuknya kompetensi pada masing-masing siswa sesuai dengan jenjang, jenis pendidikan dan program pendidikan yang ditempuh siswa melalui pengalaman belajar di sekolah dengan kurikulum sebagai alat atau sarananya. Oleh karena itu pada setiap akhir dari suatu proses pembelajaran perlu adanya evaluasi yang diberikan guru kepada siswa untuk mengukur ketercapaian hasil belajar siswa. Alat evaluasi yang disusun guru haruslah sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan isi bahan ajar dalam pembelajaran. Alat evaluasi tersebut dapat berupa tes lisan, tes tertulis atau tes dalam bentuk perbuatan.
Dengan demikian jelas bahwa perencanaan penyusun buku teks bagi guru sangat penting sekali dalam menunjang keberhasilannya dalam melaksanakan tugasnya profesionalnya sehari-hari di sekolah.

C. Manfaat Perencanaan Penulisan Buku Teks
Perencanaan penyusunan bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi guru antara laian : Pertama, memberikan kejelasan materi apa yang harus disajikan dalam pencapaian kompetensi peserta didik dalam suatu mata pelajaran. Kondisi ini mengidentifikasikan bahwa perencanaan penyusunan buku teks yang baik akan memudahkan pelaksanaannya dalam menghimpun dan menyajikan bahan ajar sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Kedua, Meningkatkan efesiensi dalam proses pelaksanaanya. Adanya perencanaan akan memberikan gambaran tentang kebutuhan bahan belajar yang diperlukan dalam menyelesaikan buku teks sesuai dengan kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran. Dengan diketahuinya berbagai bahan ajar yang diperlukan, maka guru dapat menghimpun dan meyajikan bahan ajar dari berbagai sumber belajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Selain itu dengan adanya perencanaan ini, kegiatan yang dilakukan menjadi terarah dan effisien
Ketiga, Memudahkan dalam proses pelaksanaannya. Adanya perencanaan dapat memudahkan dalam proses penulisan buku teks. Produk suatu perencanaan penulisan buku teks adalah terbentuknya kerangka tulisan yang telah disusun sesuai dengan kompetensi yang dituntut dalam kurikulum. Memperhatikan kerangka tulisan tersebut, guru dapat memulai tulisan dari mana saja sepanjang bahan ajar yang diperlukan untuk penulisan tersebut sudah tersedia. Jadi penulisan tidak harus dari awal bab, bisa pertengahan atau akhir bab,tergantung dari tersedia tidakn nya bahan ajar yang akan disajikan sesuai dengan kerangka tulisan buku teks tersebut.

D. Menyusun Kerangka Tulisan Buku Teks
Langkah langkah dalam menyusun suatu kerangka tulis untuk buku teks antara lain.
1. Menelaah kurikulum atau silabus mata pelajaran/mata kuliah
Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang berisikan kompetensi yang diharapkan dari suatu lulusan satuan pendidikan sesuai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan tingkat dan jenjang satuan pendidikan.Satuan pendidikan terdiri dari satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan tinggi. Satuan pendidikan dasar terdairi program pendidikan Sekolah Dasar/MI, Sekolah Menengah Pertama/MTs dan Sekolah Menengah Atas/MA. Satuan Pendidikan Tinggi terdiri dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Akademi.
Kompetensi lulusan yang dinginkan untuk setiap jenjang dan satuan pendidikan berbeda karena perbedaaan kadar kualitas kompetensi yang diharapkan. Kompetensi yang ingin dicapai mencakup Standar kompetensi lulusan satuan pendidikan, Standar Kompetesni mata pelajaran/bidang studi, Kompetensi Dasar dan indikator keberhasilan dalam belajar. Kompetensi itu mencakup kemamapuan cognitive, affective dan psychomotor. Kompetensi-kompetensi itu di susun dalam suatu kurikulum/silabuas mata pelajaran sesuai dengan tujuan kurikuler mata pelajaran/mata kuliah yang ingin dicapai, dengan menawarkan topik/tema atau pokok bahasan yang dijadikan bahan kajian/bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar yang diinginkan, alokasi waktu untuk setiap Standar Kompetesi, Kompetresi Dasar, indikator, Evaluasi kompetensi hasil belajar dan Sumber belajar yag dijadikan referensi.
2. Menyusun kerangka tulisan Buku Teks berdasarkan kompetensi dan bahan kajian yang terdapat dalam silabus mata pelajaran sesuai dengan tingkatkan kelas/semseter.
Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) indikator keberhasilan belajar, topik,tema/bahan kajian yang terdapat dalam silabus mata pelajaran, menjadi isi kurikulum dalam mencapai kompetensi lulusan melalui pengalaman belajar yang dirancang oleh guru sesuai dengan waktu dan konteks pembelajaran. Penulisan kerangka tulisan buku teks mengacu pada SK, KD, indikator hasil belajar dan topik,tema/bahan kajian yang terdapat dalam silabus tersebut. Judul BAB dapat menagacu kepada Standar Kompetensi, uraian isi BAB mengacu pada KD dan indikator hasil belajar.
3. Menulis Kerangka Isi Buku Teks
Secara umum, sistimatika kerangka isi buku teks pelajaran terdiri dari:
a. Bagian Pendahuluan
1). Kata Pengantar
2). Daftar Isi
3). Penjelasan tujuan buku pelajaran
4). Petunjuk penggunaan buku
5). Petunjuk pengerjaan soal latihan

b. Bagian Isi
1). Judul bab atau topik bahasan,
menngacu kepada Standar Kompetensi dan pokok bahasan yang terdapat di dalam silabus mata pelajaran atau bidang studi
2). Uraian singkat pokok bahasan,
diskripsi singkat tentang pokok bahasan yang akan disajikan
3). Penjelasan tujuan bab,
capaian hasil pembelajaran yang diharapkan tercapai, setelah proses pembelajaran selesai disampaikan kerpada peserta didik oleh guru berupa penguasaan Standar Kompetensi materi pembelajaran.dalam bentuk perubahan kemampuan siswa baik dari segi cognitrive, affective maupun psychomotor.
4). Uraian isi pembelajaran,
penjelasan sajian materi pelajaran berupa fakta, istilah, konsep, teori, prinsip, prosedur, proses, peristiwqa, kasus disertai dengan contoh, gambar, garfik, bagan, skema, sesuai dengan Standar Kompetensi Dasar dan indikator hasil belajar yang dirumuskan dalam siabus mata pelajaran atau bidang studi berdasarkan cognive domain, affective domain atau psychomotor domain.
5). Ringkasan isi bab,
rangkuman materi pelajaran yang disajikan dalam setiap bab per bab untuk memudahkan peserta didik memahami materi pelajaran yang telah disajikan.
6). Soal latihan,
soal soal yang diberikan baik berupa tes tertulis, unjuk kerja maupun dalam bentuk tugas baik individu mapun kelompok yang mengacu kepada indikator capaian hasil belajaran yang diharapkan.
7). Kunci jawaban soal latihan,
jawaban terhadap soal-soal yang diberikan, agar memudah kan guru dalam mengoreksi jawaban poeserta didik terhadap soal soal ujian yang diberikan.
c. Bagian Penunjang
1). Daftar pustaka,
buku-buku referensi yang digunakan dalam mengembangkan materi pelajaran yang disajikan dalam Buku Teks
2). Lampiran-lampiran

E. Menulis Buku Teks
Jika kerangka tulisan buku teks sudah siap, maka penulis mulai menulis dengan mengembangkan isi kerangka tulisan buku teks tersebut. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Mencari dan mengumpulkan materi ajar yang akan ditulis dalam kerangka tulisan buku teks tersebut dengan membaca berbagai buku referensi yang isinya relevan dengan materi ajar yang akan disajikan.
2. Menelaah dan menseleksi isi buku tersebut dan mengambil materinya
untuk diekembangkan dalam tulisan buku teks.
3. Menulis materi tersebut dalam kerangka tulisan buku teks dalam bentuk uraian dan contoh sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator hasil belajar yang ingin dicapai.
4. Membuat rangkuman pada akhir tulisan dalam setiap bab yang telah diselesaikan sesuai dengan sistimatika uraian pada sub-sub judul bab.
5. Menysun alat evaluasi sesuai dengan indikator capaian hasil beajar yang diinginkan dalam bentuk soal tes tertulis maupun tugas dan unjuk kerja.
6. Menulisa daftar pustaka yang berisikan buku-buku sumber yang dijadikan acuan atau rujukan dalam penyajian materi pelajaran.
7. Membaca dan menelaah kembali isi bab perbab jika keseluruhan tulisan
sudah diselesaikan, untuk dilakukan revisi maupun pengembangan uraian yang menurut penulis masih perlu dikembangkan.
8. Meminta validasi isi tulisan kepada pakar atau orang-orang yang dianggap kompeten.
9. Mengusulkan kepada penerbit untuk dipublikasikan secara luas
10. Penerbit memintakan nomor ISBN buku yang akan diterbitkan
11. Penerbit menyampaikan draf tulisan untuk dikoreksi oleh penulis
12 Penerbit memperbaiki dan mengedit tulisan dan menyampaikan kembali kepada penulis untuk diperiksa ulang
13. Jika menurut penulis draf tulisan tersebut sudah sempurna, maka penerbit
segera menerbitkan dan menggandakan buku teks tersebut untuk dipublikasikan secara luas

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Republik Indonesia (2003). Undang Undang Republik Indonesia Nomo 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Sekretaris Negara Republik Indonesia
Menteri Pendidikan Nasional (2002). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Jakarta : Mendiknas
—————————– (2007) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta : Mendiknas
Hadari Nawawi (1985). Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung
Depdiknas, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (2004). Standar Kompetensi Guru Sekolah Menengah Atas. Jakarta : Direktorat Tenaga Kependdikan
Zuldafrial. (2009). Profesi Keguruan. Pontianak : STAIN Pontianak Press

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bahan Ajar dan Buku Sumber Bahan Ajar

A. Bahan Ajar
1. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan materi penting bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tanpa bahan ajar, tampaknya guru akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pada prinsipnya, guru harus selalu menyiapkan bahan ajar dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Pada umumnya, sumber bahan ajar telah tersedia di perpustakaan atau diberbagai toko buku. Sumber bahan ajar yang dikemas dalam bentuk buku teks pelajaran ditulis oleh para pakar dan praktisi dari latar mata pelajaran atau bidang studi. Menulis sumber bahan ajar seperti buku teks tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus mengikuti kaidah penulisan bahan ajar yang standar. Oleh karena itu, tidak semua guru mengetahui dan memahami bagaimana menulis atau menyusun buku tesk sebagai sumber bahan ajar yang baik.
Menurut Kamaruddin (1999:1), bahan ajar bukan sekadar alat bagi guru untuk mengajar siswa. Namun, yang lebih penting ialah buku sebagai sumber yang digunakan siswa agar ia belajar. Bahan ajar pada umumnya dikemas ke dalam buku ajar atau buku teks. Buku teks hendaknya terpaut dengan kurikulum yang dioperasikan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap.
Terdapat beberapa rumusan tentang pengertian bahan pembelajaran, antara lain dikemukakan oleh Gintings (2008: 152) yaitu, bahan pembelajaran adalah rangkuman materi yang diberikan dan diajarkan kepada siswa dalam bentuk bahan tercetak atau dalam bentuk lain yang tersimpan dalam file elektronik baik verbal maupun tertulis. Bahan pembelajaran ini sebaiknya disampaikan atau dibagikan terlebih dahulu kepada peserta didik sebelum proses belajar dan pembelajaran dilaksanakan. agar siswa memiliki pemahaman awal tentang materi pembelajaran yang akan dibahas. Hal ini baik untuk dilakukan karena dengan mempelajarinya lebih dulu diharapkan peserta didik dapat berpartisipasi aktif selama berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran.
Pengertian lain tentang bahan pembelajaran dikemukakan oleh Pannin (2001), ia menyebutkan bahwa bahan ajar sebagai bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Prastowo (2011) menyatakan pemahaman bahan ajar sebagai segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pengertian sebagaimana tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa bahan pembelajaran merupakan susunan sistematis materi pembelajaran dari berbagai sumber bahan pembelajaran baik tertulis seperti buku pelajaran, modul, handout, LKS maupun yang tidak tertulis seperti maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif yang di pakai atau digunakan sebagai pedoman atau panduan oleh pendidik atau instruktur dalam proses belajar dan pembelajaran.
2. Fungsi dan Manfaat Bahan Pembelajaran
a. Fungsi BahanPembelajaran
Terdapat tiga fungsi utama bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan penyelenggaraan proses belajar dan pembelajaran. Tiga fungsi tersebut adalah:
1). Bahan ajar merupakan pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses belajar dan pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan/dilatihkan kepada siswa.
2). Bahan ajar merupakan pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan aktivitas dalam proses belajar dan pembelajaran, sekaligus merupakan substansi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3). Bahan ajar merupakan alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran. Sebagai alat evaluasi maka bahan ajar yang disampaikan harus sesuai dengan indikator dan kompetensi dasar yang ingin dicapai oleh guru. Indikator dan kompetensi dasar ini sudah dirumuskan dalam silabus mata pelajaran.
b. Manfaat Bahan Pembelajaran
Bahan ajar merupakan sarana, alat atau instrumen yang baik dan memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Manfaat dari bahan ajar itu adalah sebagai berikut:
1). Manfaat Bagi Guru
a) Memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa
b) Tidak bergantung pada buku teks yang terkadang sulit didapat
c) Memperkaya wawasan karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi
d) Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menyusun bahan ajar
e) Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dan peserta didik, karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya maupun kepada dirinya
f) Dapat dikumpulkan menjadi buku dan dapat diterbitkan (Depdiknas, 2004:1).
2) Manfaat Bagi Peserta Didik
a) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b) Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.
c) Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya
Gintings (2008) menyatakan bahwa manfaat utama dengan adanya bahan pembelajaran yang disusun bagi penyelenggaraan peoses belajar dan pembelajaran ialah:
1). Jika diberikan kepada peserta didik sebelum proses belajar dan pembelajaran berlangsung maka peserta didik dapat mempelajarinya terlebih dahulu sehingga peserta didik dapat:
a) Memiliki kemampuan awal (entry behaviour) yang memadai untuk mengikuti kegiatan belajar dan pembelajaran sehingga dapat mencapai keberhasilan belajar yang maksimal.
b) Berpartisipasi aktif dalam proses belajar dan pembelajaran , seperti, dalam diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan lain-lain.
2). Proses belajar dan pembelajaran di kelas berjalan dengan lebih efektif dan efisien karena waktu yang tersedia dapat digunakan sebanyak-banyaknya untuk kegiatan belajar dan pembelajaran yang intraktif seperti tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, dan lain-lain.
3). Mengembangkan kegiatan belajar mandiri dengan kecepatannya sendiri.
3. Macam-Macam Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran yang digunakan perlu didesain secara khusus sehingga sesuai dengan karakteristik proses belajar dan pembelajaran. Pengembangan bahan ajar dapat dilakukan dengan cara; pertama, membuat atau menulis sendiri, ini merupakan pengembangan bahan ajar yang paling ideal; kedua, memodifikasi atau kompilasi, yaitu menggunakan bahan ajar yang telah ada namun dilakukan perubahan atau penambahan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran; ketiga, mengadaptasi yaitu menggunakan sebagian atau secara utuh dengan melengkapi panduan belajar dalam menggunakan bahan ajar yang telah ada.
Berdasarkan pada sudut pandang yang dipegunakan untuk melihat bahan pembelajaran yang dipegunakan dalam proses belajar dan pembelajaran maka bahan pembelajaran dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu; menurut karakteristik materinya dan menurut cara pengorganisasiannya (Satori, dkk., 2007: 2.40-2.43).
a. Macam-macam Bahan Pembelajaran menurut Karakteristik Materinya
Berdasarkan karakteristik materi atau isinya, bahan pembelajaran dapat digolongkan menjadi enam macam sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1). Bahan Pembelajaran Fakta
Bahan pembelajaran fakta adalah bahan pembelajaran yang isinya terdiri dari sejumlah fakta atau informasi yang secara umum diyakini kebenarannya. Misalnya, tahun-tahun sejarah atau peristiwa-peristiwa.
2) Bahan Pembelajaran Konsep
Bahan pembelajaran yang isinya berupa gagasan, ide, pendapat, teori, atau dalil. Konsep itu bersifat abstrak, namun akan menjadi nyata jika diwujudkan dalam bentuk benda atau perbuatan. Misalnya konsep tentang bilangan ganjil dan genap yang dlambangkan dalam bentuk angka 1, 3, 5 dan 2, 4, 6, dan seterusnya.
3) Bahan Pembelajaran Prinsip
Prinsip adalah tuntutan praktis bagi terselenggaranya perbuatan tertentu, seperti dalam proses belajar dan pembelajaran. Bahan pembelajaran prinsip merupakan bahan pembelajaran yang memberikan landasan bagi terwujudnya suatu perbuatan yang diharapkan sehingga setiap tindakan yang dilakukan dapat dikontrol dengan baik. Contoh; prinsip-prinsip proses belajar dan pembelajaran.
4). Bahan Pembelajaran Keterampilan
Bahan pembelajaran keterampilan terdiri dari keterampilan-keterampilan tertentu yang harus dikuasai terutama yang menyangkut keterampilan motorik, seperti keterampilan mengetik, memukul bola, lari cepat, bermain bola kaki, dan sebagainya. Bahan pembelajaran keterampilan ini banyak digunakan pada bidang pembelajaran kejuruan. Cara mempelajarinya pada umumnya dengan melaksanakan tugas-tugas dan latihan-latihan.
5). Bahan Pembelajaran Pemecahan Masalah
Bahan pembelajaran pemecahan masalah mengandung unsur permasalahan yang harus diselesaikan/dipecahkan oleh peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Misalnya, guru memberikan tugas kepada sekelompok siswa untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah dan bagaimana memanfaatkannya. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pemecahan masalah. Peserta didik diberi tugas untuk berpikir, berbuat, dan membuat kesimpulan.
6). Bahan Pembelajaran Proses
Bahan pembelajaran proses adalah bahan pembelajaran yang melukiskan proses terjadinya sesuatu, sperti proses terjadinya perubahan warna, proses terjadinya hujan, proses terjadinya pengendapan, dan lain-lain. Bahan pembelajaran proses mengacu pada pengamatan dan pengalaman. Cara mempelajarinya dengan praktik di laboratorium atau studi lapangan.
b. Macam-macam Bahan Pembelajaran menurut Cara Pengorganisasiannya
Macam-macam bahan pembelajaran ditinjau dari cara pengorganisasiannya dapat digolongkan menjadi empat macam sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1). Bahan Pembelajaran Mata pelajaran Linier
Karakteristik bahan pembelajaran mata pelajaran linier disusun secara berurutan dari yang mudah kepada yang sulit atau dari yang sederhana kepada yang kompleks. Peran sistematika dalam bahan pembelajaran ini sangat tinggi dan disampaikan secara berangsur-angsur sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Misalnya dalam pelajaran matematika, bahan pembelajaran disusun mulai dari himpunan benda-benda nyata, kemudian meningkat menjadi melambangkannya dalam bentuk lambang bilangan, dan seterusnya.
2). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Kumulatif
Bahan pembelajaran mata pelajaran ini tidak disusun dalam serangkaian tingkatan yang berseri seperti pada bahan pembelajaran mata pelajaran linier. Pendekatan metodologisnya adalah Child Centered, yaitu proses belajar dan pembelajaran seluruhnya berpusat pada kebutuhan, minat, dan perhatian peserta didik. Bahan pembelajaran mata pelajaran ini disampaikan dari keseluruhan menuju kepada bagian-bagian. Metoda pembelajaran unit sangat cocok dipergunakan untuk menyajikan bahan pembelajaran ini.
3). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Praktikal
Bahan pembelajaran ini dapat disajikan dengan pendekatan dan metode drill atau pelatihan, demonstrasi, tugas, dan presentasi. Peran metode demonstrasi dalam penyajian bahan pembelajaran mata pelajaran praktikal ini sangan besar. Pelajaran oleh raga dan kesehatan, kesenian, dan kejuruan banyak mengandung bahan pembelajaran praktikal.
4). Bahan Pembelajaran Mata Pelajaran Eksperensial
Bahan pembelajaran mata pelajaran ini sangat erat kaitannya dengan bahan pembelajaran mata pelajaran praktikal, hanya saja di sini lebih menekankan pada unsur kreativitas. Dalam penyajian bahan pembelajaran mata pelajaran ini peserta didik diharapkan dapat mengembangkan kegiatannya dalam bentuk kreativitas, tidak terlalu terikat oleh kebiasaan-kebiasaan tertentu. Bahan pembelajaran eksperensial tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan atau kejuruan saja, melainkan juga terdapat pada mata pelajaran IPA. Pendekatan dalam penyajian bahan pembelajaran ini bersifar child centered melalui prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
B. Buku Sumber Bahan Ajar
Buku sumber bahan ajar adalah sarana untuk mendukung penyampaian materi pembelajaran. Buku sumber bahan ajar dapat berbagai macam, seperti buku teks pelajaran, modul, diktat, atau karya terjemahan. Penulisan buku ajar merupakan komponen pengembangan profesionalisme guru sehingga guru diharapkan dapat menghasilkan buku, modul, atau diktat.
1. Buku Teks pelajaran
Buku teks pelajaran adalah sumber utama rujukan bahan ajar yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bila merujuk pada KTSP, maka buku teks pelajaran harus mengacu pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator yang telah ditetapkan sehingga membantu siswa untuk memahami materi yang disampaikan.

2. Diktat
Diktat adalah bahan ajar tertulis suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan oleh guru/dosen untuk mempermudah dalam menyampaikan materi mata pelajaran atau bidang studi dan mempermudah siswa memahaminya dalam proses pembelajaran. Diktat diartikan pula sebagai buku pelajaran yang disusun guru/dosen berupa stensilan atau foto copy (bukan cetakan). Diktat dapat dikembangkan menjadi buku teks atau buku ajar yang diterbitkan oleh suatu Penerbit dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam penulisan suatu karya ilmiah.

3. Buku Referensi
Buku refrensi adalah buku yang dijadikan sumber rujukan dalam penulisan suatu karya ilmiah seperti makalah, skripsi, Thesis atau Desertasi. Buku referensi disusun oleh pakar yang menguasai suatu bidang ilmu tertentu seperti ilmu pendidikan, ekonomi, politik. Penyusunan materi tulisannya berdasarkan tema dan substansi keilmuan yang terkandung dalam teman tersebut yang dikembangkan dalam tulisan merujuk pada buku-buku referensi yang relevan dengan tema yang menjadi bahan kajian tulisan.

4. Modul
Modul adalah materi pembelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis dan sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut. Modul juga berarti bahwa kegiatan proses pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa dengan bantuan yang minimal dari guru pembimbing (biasa juga disebut tutor), meliputi perencanaan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pembelajaran, bahan yang dibutuhkan, dan alat untuk penilai dalam mengukur keberhasilan siswa dalam penyelesaian mata pelajaran.
Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah menulis bahan ajar dan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran adalah sumber pembelajaran yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru mesti selektif dalam memilih buku yang layak dan berkualitas. Untuk memacu kreativitas guru, dimungkinkan pula untuk menulis buku teks pelajaran. Penulisan buku teks pelajaran harus mengacu pada rambu penilaian yang telah ditetapkan oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Agib, Zainal. 2004. Karya Tulis Ilmiah bagi Pengembangan Profesi Guru. Bandung: CV Yrama Widya.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Instrumen dan Deskripsi Penilaian Buku Teks Pelajaran bahasa Indonesia SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

Kamaruddin. 1999. “Beberapa Pertimbangan Penilaian Bahan Ajar Bahasa dan Sastra Indonesia” Makalah disajikan dalam Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis XXXVIII IKIP Ujung Pandang, 13-14 juli 1999, di Kampus Gunungsari Baru IKIP Ujung Pandang.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1993. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar