Hubungan Kepedulian Orang Tua pada Pendidikan Anak dan Kelengkapan Fasilitas Belajar siswa dengan Hasil Belajar Siswa


Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang penting sekali. Maju mundurnya suatu negara atau bangsa pada dasarnya tergantung pada kualitas pendidikan manusia atau kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itulaah pemerintah tidak dapat melepaskan tanggungjawabnya terhadap penyelenggaraan pendidikan, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang berbunyi : “ setiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.

Melalui proses pendidikan anak-anak bangsa dididik menjadi manusia yang cerdas, terampil dan mampu membangun bangsa dan negara sesuai dengan pandangan hidup Pancasila sebagai idiologi negara. Sejalan dengan itu maka di dalam Undang-Undang Pendidikan nonor 20 tahun 2003 sebagai landasan konstitusional penyelenggaraan pendidikan dikatakan sebagai berikut : “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan unutk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Ynag Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab “.

Dalam rangka mencapai tujuan itu, maka pemerintah mendirikan sekolah-sekolah dengan berbagai jenjang dan jenisnya, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, baik umum maupun kejuruan sampai pada Perguruan Tinggi dan mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam membangun sekolah-sekolah.

Keberhasilan sekolah dalam mewujudkan fungsinya guna mencapai tujuan itu sesuai dengan jenjang dan jenisnya masing-masing tidak hanya tergantung pada sumber daya pendidikan yang ada di sekolah berupa guru, tenaga administratif, sarana dan prasarana pendidikan, namun sangat ditentukan pula oleh aktivitas belajar siswa.

Aktivitas belajar siswa baik di rumah maupun di sekolah, sangat dipengaruhi oleh kepedulian orang tua pada pendidikan anak berupa motivasi dan pengawasan orang tua terhadap proses belajar anak. Disamping itu ditentukan pula oleh kelengkapan fasilitas belajar siswa sehingga dapat dapat mendorong siswa lebih aktif dalam belajar.

Berkenaan dengan inilah peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan antara kepedulian orang tua pada pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas belajar siswa dengan aktivitas belajar siswa. Daerah yang dipilih menjadi satudi kasus dalam penelitian ini adalah Kecamatan Entikong kabupaten Sanggau karena daerah ini menjadi lokasi tempat kegiatan kemah kerja mahasiswa.

Sehubungan dengan uraian di atas masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1) Seberapa baik tingkat kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah ?

2) Seberapa baik kelengkapan belajar siswa di sekolah ?

3) Seberapa baik aktivitas belajar siswa di sekolah ?

4) Apakah terdapat hubungan antara kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak dengan aktivitas belajar siswa di sekolah?

5) Apakah terdapat hubungan antara kelengkapan fasilitas belajar siswa dengan aktivitas belajar siswa di sekolah ?

6) Apakah terdapat hubungan antara kepedulian orang tua pada anak   dengan kelengkapan fasilitas belajar siswa di sekolah di sekolah ?

7) Apakah terdapat hubungan antara kepedulian orang tua pada pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas belajar siswa dengan aktivitas belajar siswa di sekolah.

8) Seberapa besar konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah ?

9) Seberapa besar konstribusi kelengkapan fasilitas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah ?

10) Seberapa besar konstriubusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak terhadap kelengkapan fasilitas belajar siswa siswa di sekolah? 11) Seberapa  besar konstribusai kepedulian orang tua pada pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah ?

Berdasarkan Rumusan masalah tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini adalah :

1) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang kepedulian orang tua pada pendidikan anak.

2) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang kelengkapan fasilitas belajar siswa di sekolah.

3) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang aktivitas belajar siswa di sekolah.

4) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang hubungan kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak dengan aktivitas belajar siswa di sekolah.

5) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang hubungan antara kelengkapan fasilitas belajar siswa dengan aktivitas belajar siswa di sekolah.

6) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang hubungan antara kepedulian orang tua pada pendidikan anak dengan kelengkapan fasilitas belajar siswa di sekolah.

7) Mendapatkan informasi dan kejelasan tentang hubungan kepedulian orang tua  pada pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas siswa dengan aktivitas belajar siswa di sekolah.

8) Mendapatkan informasi dan kejelasan konstribusi kepedulian orang tua pada anak  terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah.

9) Mendapatkan informasi dan kejelasan konstribusi kelengkapan fasilitas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah.

10) Mendapat informasi dan kejelasan konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak terhadap kelengkapan fasilitas belajar siswa siswa di sekolah.

11) Mendapatkan informasi dan kejelasan konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah.

Kepedulian Orang Tua pada Pendidikan Anak

Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang penting sekali. Maju mundurnya suatu.masyarakat sangat tergantung pada tinggi rendahnya pendidikan yang telah diperoleh masyarakat. Melalui proses pendidikan sumber daya manusia dapat ditingkatkan, sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Manusia twerdidik akan lebih produktif dibandingkan dengan manusia yang tidak terdidik, karena dengan pengetahuan, keahlian dan wawasan yang dimilikinya, pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih efektif dan efisien dengan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Di dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional fasal 3, tujuan pendidikan nasional dirumuskan sebagai usaha untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kereatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan itu dilakukan melalui proses pendidikan yaitu pendidikan informal, formal dan non formal. Pendidikan informal dilakukan dalam keluarga, pendidikan formal dilakukan di sekolah sedangkan pendidikan non formal dilakukan melalui kursus-kursus maupun pelatihan-pelatihan keterampilan.

Sehubungan dengan pendidikan anak di sekolah, maka tanggung jawab pendidikan tidak hanya pada guru, tetapi juga pada orang tuadalam membantu membimbing anak, mengarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu keberhasilan pendidikan anak di sekolah sangat ditentukan oleh kepedulian orang tua tehadap pendidikan anak.

Kepedulian dalam kamus bahasa Indonesia ( Depdikbud, 1991 ) diartikan sebagai “ prihal sangat peduli, sikap mengindahkan “. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai usaha orang dwewasa, 1991 ) diartikan sebagai “ prihal sangat peduli, sikap mengindahkan “. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai usaha orang dewasa dalam membantu, menolong, membimbing dan mempengaruhi anak yang belum dewasa agar mencapai kedewasaannya masing-masing ( Hadari,1978 ). Ki Hajar Dewantara dalam ( A.Mury Yusuf, 1982) pendidikan diartikan sebagai daya upaya untuk memberikan bantuan pada segala kekuatan kodrat yang pada anak, agar mereka baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir batin yang setinggi-tingginya.

Dari pengertian yang telah diutarakan di atas, maka arti kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah adalah perhatian yang ditunjukanleh orang tua kepada anak dalam proses belajarnya di sekolah berupa pemberian bantuan, bimbingan dan pengaruh agar kegiatan belajar siswa di sekolah dapat berlangsung dengan baik.

Adapun wujud kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah dapat berupa pemberian motivasi dan pengawasan terhadap prosesbelajar anak di sekolah. Pemberian motivasi belajar pada anak akan menjadi penggerak dan pendorong bagi anak untuk lebihgiat dan rajin belajar di sekolah. Hal ini sejalan dengan fungsi motivasi ( Nasution, 192 ) yaitu :

  1. Mendorong manusia untuk berbuat. Jadi sebagai penggerak atau motor melepaskan energi.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai
  3. Menseleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan apa yang harus dijalankan yang sesuai guna mencapai tujuan dengan mengenyampingkan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan itu.

Pemberiian motivasi pada anak dapat berupa pemberian penguatan, baik yang bersifat positif ( Positive Reinforcement ) ataupun penguatan negative ( negative Reinforcement ). Penguat positif dapat berupa pemenuhan kebutuhan anak dalam belajar baik berupa fisik maupun psychologis. Kebutuhan fisik dalam belajar antara lain kebutuhan yang berhubungan langsung dengan proses belajar dan kebutuhanyang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar ( Zuldafrial,1996 ). Kebutuhan fisik yang langsung berhubungan dengan kebutuhan belajar anak antara lain : buku-buku pelajaran, alat-alat pelajaran seperti : pensil, penghapus, pulfen, meja belajar dan rak buku. Kebutuhan yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar anak seperti pakaian seragam sekolah, pakaian pramuka, tas sekolah, sepatu, uang jajan, transportasi dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan psychologis yaitu perhatian orang tua terhadap kebutuhan anak dalam belajar yang dalam bentuk kongkritnya berupa pujian atau penghargaan terhadap keberhasilan anak dalam belajar  yang diwujudkan dalam bentuk hadiah.Penguat negative berupa sangsi ataupun hukuman yang diberikan kepada anak karena tidak berhasil dalam belajar dalam bentuk kongkritnya dapat berupa pembatalan hadiah yang dijanjikan ataupun uang saku maupun jajan yang diberikan.

Sedangkan pengawasan anak dalam belajar dimaksudkan agar proses belajar mengajar anak di sekolah maupun dirumah menjadi terarah.Sebagaimana kita ketahui anak adalah merupakan individu yang sedang tumbuh tumbuh dan berkembang dalam usahanya untuk mencapai kedewasaan. Dalam proses perkembanagan itu tentu saja anak, mengalami hambatan-hambatan, baik yang datang dari dirinya sendiri umpamanya ketidak percayaan diri, ketidak mampuan dalam merencanakan masa depan, tidak mengetahui dan memahami manfaat belajar. Sedangkan factor yang datang dari luar dirinya umpamanya pengaruh lingkungan dan teman yang tidak menunjang kegiatan belajar anak. Oleh karena itu perlu diawasi, diarahkan sehingga tidak mengalami kegagalan dalam belajar.

Pengawasan itu bentuk kongritnya berupa ( Zuldafral, 1988 ) :

  1. Memberi laporan dan berkonsultasikepada guru atau guru pembimbing sekolah tentang perkembangan pribadi dan proses belajar putra putrinya.
  2. Memberikan umpan balik kepada guru ataupun guru pembimbing tentang masalah terutama yang menyangkut keadaan putra putrinya.
  3. Bersedia datang ke sekolah bila diundang atau dipanggil guru atau guru pembimbing..
  4. Bersedia dan mau berdiskusi memecahkan masalah yang dihadapi putra-putrinya dengan guru dan guru pembimbing di sekolah.
  5. Mengontrol putra-putrinya pada jam –jam belajar
  6. Menghindari putra-putrinya  dari pengaruh yang tidak menguntungkan
  7. Mengontrol pekerjaan rumahyang diberikanguru kepada putra-putrinya.
  8. Memberikan pengertian kepada putra-putrinya tentang pentingnya semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sehingga menyenangkan

Fasilitas Belajar Siswa di Sekolah

Dalam kamus Bahasa Indonesia “ fasilitas” diartikan sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi; kemudahan. “ Fungsi “ diartikan kegunaan suatu hal ( Depdikbud, 1995 : 281 ). Sedangkan belajar merupakan suatu proses mental karena orang yang belajar perlu memikir, menganalisa, mensentesa, mengingat dan mengambil kesimpulan dari yang dipelajari.

Sehubungan dengan itu terdapat bermacam-macam pendapat tentang apa yang dimaksud dengan belajar. Dibawah ini akan diketengahkan beberapa pendapat tentang belajar yang dikemukakan beberapa aliran psikologis.

  1. Menurut alairan psikologi koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike belajar adalah usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan stimulus
  2. Belajar menurut aliran funghsionalisme adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi atau situasi-situasi yang terdapat di sekitar kita.
  3. Aliran behaviorisme menganggap belajar sebagai usaha untuk membentuk reflek-reflek baru.
  4. Menurut pandangan aliran psikologi asosiasi belajar adalah merupakan usaha membentuk tanggapan-tanggapan baru.
  5. Para ahli psikologi piker dan gestalt mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses yang aktif. Bukan saja aktivitas mental tetapi juga aktivitas phisik.
  6. Psikologi dalam mengemukakan, belajar adalah suatu usaha untuk mengatasi ketegangan-ketegangan psichis.

Dari uraian di atas menunjukan adanya pendapat yang bermacam-macam mengenai apa itu yang dimaksud dengan belajar. Namun bila dikaji dan dianalisa secara mendalam, maka terdapat kesamaan-kesemaanya mengenai aspek-aspek yang terdapat dalam proses kegiatan belajar seperti : 1) Bahwa belajar itu betujuan 2) Prosesnya berlangsung dengan penyelidikan dan penemuan. 3) hasil belajar munculnya pemahaman 4) Hasil belajar dapat diaplikasikan pada situasi lain.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan fasilitas belajar adalah segala sarana yang diperlukan bagi siswa dalam mencapai tujuan belajar melalui kegiatan belajar dalam bentuk penyelidikan dan penemuan untuk mendapatkan pemahaman tentang masalah-masalah yang dipel;ajari.

Sehubungan dengan itu fasilitas belajar dapat dilihat dari tempat dimana aktivitas belajar itu dilakukan. Berdasarkan tempat, aktivitas belajar dilaksanakan, maka fasilitas belajar dapat dikelompokan : a) Fasilitas belajar di sekolah seperti : meja dan kursi belajar, papan tulis, kapur, buku-buku teks, media belajar, alat peraga, perpustakaan dan lain lain. b) Fasilitas belajar di rumah seperti : meja dan kursi belajar, lampu belajar, rak buku, mesi tik, computer dan lain-lain. c) Fasilitas belajar di masyarakat seperti sarana olah raga, tempat-tempat rekreasi, tempat-tempat bersejarah dan lain-lain.

Bila dilihat dari penggunaannya, maka fasilitas belajar, dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu : a) Fasilitas yang berhubungan langsung dengan proses belajar siswa seperti : buku-buku tulis, buku-buku teks, pulpen, penggaris, penghapus, meja dan kursi belajar, papan tulis, media, kapur tulis, spidol, alat peraga perpustakaan dan lain-lain.b) Fasilitas belajar yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar siswa seperti : sepatu, pakaian seragam, tas sekolah, kendaraan, uang transport, uang jajan dan lain-lain.

Kesemua fasilitas belajar tersebut sangat mendukung bagi keberhasilan siswa dalam belajar. Oleh karena itu perlu diperhatikan baik oleh sekolah maupun oleh para orang tua siswa jika menginginkan keberhasilan siswa dalam belajar.

Fungsi fasilitas belajar ini adalah sebagai alat dalam membantu kjelancaran siswa melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan secara efektif dan efisien.Tanpa fasilitas belajar yang memadai maka siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.Oleh karena itu peranan orang tua dan kepala sekolah sanagt penting dalam upaya menyediakan fasilitas belajar yang memamdai dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu lulusan.

Aktivitas Belajar Siswa di Sekolah

Aktivitas diartikan “ keaktifan, kegiatan, kerja atau kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam perusahaan ( Depdikbud, 1995 : 20 ). Sedangkan belajar adalah proses orang memperoleh kecakapkan, keterampilan dan sikap ( Martinis Yamin : 97 ). Menurut pengertian secara psikologi, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu, untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku  yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkunagan. ( Abu Ahmadi dan Widodo, 1990 : 121 ).

Dari beberapa pendapat di atas, aktivitas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh siswa untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan, keterampilan dan sikap yang berdampak pada terjadi perubahan pada pribadi siswa dimana prosesnya berlangsung dalam suatu kontes libgkungan.

Semua kegiatan yang bertujuan, memerlukan aktivitas. Tinggi rendahnya frekwensi aktivitas, intensif tidaknya aktivitas yang dilakukan akan menentukan berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai.

Demikan pula aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa, tinggi rendahnya frekwensi aktivitas belajar atau intensitasnya yang dilakukan oleh siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar.Ada beberapa jenis aktivitas belajar yaitu : a) Mendengarkan; b) Memandang; Membaca; f) Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggaris bawahi; g) Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan; h) Menyusun paper atau kertas kerja i) Mengingat j) Berpikir k) Latihan dan Praktik                 ( Abu Ahmadi dan WEidodo, 1990 )

a.  Mendengarkan

Dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ada ceramah atau kuliah dari guru atau dosen.Tugas siswa atau mahsiswa adalah mendengarkan. Tidak setiap orang dapat memanfaatkan situasi ini untuk belajar. Tidak setiap orang dapat belajar baik dengan mendengarkan. Apabila hal mendengar mereka tidak didorong oleh kebutuhan, motivasi dan tujuan tertentu, maka sia-sia pekerjaan mereka. Tujuan belajar mereka tidak tercapai karena tidak adanya set set yang tepat untuk belajar.

b. Memandang

Setiap stimuli visual member kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Stimuli yang dilihat seseoran merangsang seseorang untuk berpikir tentang obyek yang diamati. Berfikir berarti mendorong seseorang untuk mengingat, memahami, menganalisis, menyimpulkan dan menilai. Oleh karena itulah dalam proses belajar mengajar di sekolah dalam menyampaikan materi pelajaran seorang guru dianjurkan untuk menggunakan alat peraga maupun menggunakan media visual seperti gambar-gambar atau bagan-bagan agar untuk memudahkan siswa memahami bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru.

c.  Meraba, membau dan mencicipi/mencecap

Meraba, mambau dan mencecap adalah aktivitas sensoris seperti halnya mendengar dan memandang. Segenap stimuli yang dapat diraba, dicium dan dicecap merupakan situasi yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Hal aktivitas meraba, aktivitas membau ataupun aktivitas mencecap dapat dikatakan belajar apabila aktivitas itu didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan pembelajaran.

d. Menulis atau mencatat

Aktivitas belajar menulis dan mencatat sangat penting. Sebab tidak semua apa yang kita dengar dan kita lihat dapat diingat dengan baik. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar siswa perlu menulis dan membuat catatatan-catatan tentang apa yang diengar dan dilihat pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga dengan demikian materi pelajaran atau hal-hal yang terlupakan dapat dipelajari kembali melalui catatan yang dibuat. Siswa dapat mengkonstruksi sendiri pemahamannya terhadap materi pelajaran yang disampaikan guru melalui perbaikan-perbaikan catatan di rumah.

e.  Membaca

Membaca merupakan suatu aktivitas belajar penting sekali, dengan membaca pengetahuan dan wawasan kita bertambah. Bertambahnya pengetahuan dan wawasan dari hasil membaca akan membuat seseorang semakin cerdas dalam menyelesaikan atau pun memecahkan masalah-masalah  yang dihadapi. Oleh karena itu dalam proses blajar mengajar di sekolah guru harus mendorong siswa untuk membaca buku-buku yang berkaitan dengan materi pelajaran yang disampaikan. Siswa akan lebih memahami dan mendalami materi pelajaran yang diberikan oleh guru, ketimbang hanya mendengarkan ceramah ataupun penjelasan dari guru. Deangan membacasiswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.

f.  Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggaris bawahi

Banyak orang merasa terbantu dalam belajarnya, karena menggunakan ikhtisar-ikhtisar materi yang dibuatnya. Ikhtisar atau ringkasan dapat membantu siswa dalam hal mengingat atau memahami materi pelajaranm yang terdapat di dalam buku-buku teks. Dengan membuat ringkasan siswa tidak perlu lagi membaca keseluruhan materi pelajaran yang terdapat di dalam buku. Selain membuat ringkasan untuk memudahkan mengingat dan mencari kembali hal-hal yang dianggap penting atau belum difahami dalam buku-buku pelajaran, siswa perlu menggaris bawahi hal-hal yang dianggap pentingh atau belum dimengerti itu misalnya dengan menggunakan pensil atau stabilo.

g.  Mengamati tabel-tabel, diagram dan bagan-bagan

Dalam buku-buku pelajaran, sering kita jumpai tabel-tabel, diagram-diagram ataupun bagan-bagan. Material non verbal semacam ini sangat berguna bagi siswa dalam memahami materi pelajaran yang terdapat dalam buku pelajaran tersebut. Tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan itu dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu merangsang daya piker siswa unutk memahami tentang sesuatu hal.

h. Menyusun paper atau kertas kerja

Dalam mebuat paper, pertama yang perlu mendapat perhatian ialah rumusan topik paper itu. Dari rumusan topik-topik itu akan dapat menentukan material yang akan ditulis.Selanjutnya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan materi yang akan ditulis ke dalam paper dengan mencatat pada buku notes atau kartu kartu catatan.

i. Mengingat

Mengingat merupakan salah satu aktivitas belajar yang penting sekali di dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Melalui proses mengingat kita mereproduksi kembali pengalaman-pengalaman atau pengetahuan yang telah kita miliki unutk dijadikan bahan dasar unutk memecahkan masalah yang kita hadapi pada saat sekarang. Tanpa pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki sangat sulit unutk dapat memecahkan suatu masalah secara tepat.

j.  Berpikir

Berpikir merupakan suatu aktivitas mental yang sangat kompleks. Dalam proses berpikir terdapat aktivitas mengingat,memahami, menganalisis, mensentesis, mengabstraksi, menilai dan menyimpulkan. Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh kemampuan berpikirnya.Kemampuna berpikirnya akan berkembang apabila siswa sering dihadapkan pada pemecahan masalah, mulai dari masalah yang ringan sampai pada masalah yang sukar.

k. Latihan atau praktek

Latihan dan praktek akan dapat membantu siswa untuk menguasai suatu kecakapan ataupun keterampilan tertentu yang diinhginkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tanpa latihan dan praktek tak mungkin siswa akan dapat menguasai suatu kecakapan atau pun keterampilan secara professional.

Kaitan Kepedulian Orang Tua terhadap Pendidikan Anak, Kelengkapan Fasilitas Belajar dan Aktivitas Belajar Siswa

1. Kepedulian Orang Tua terhadap Pendidikan Anak dan Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas belajar siswa di rumah maupun di sekolah sangat dipengaruhi oleh kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak berupa motivasi dan penghawasan orang tua terhadap anak. Motivasi belajar yang diberikan oleh orang tua kepada anak akan membangkitkan semangat anak untuk belajar lebih giat sehingga akan dapat meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah. Motivasi tersebut dapat berupa penguatan yang diberikan oleh orang tua baik positif maupun negatif. Penguat positif dapat berupa pujian maupun hadiah sebagai penghakuan atas keberhasilan anak dalam belajar. Sedangkan penguatan negatif berupa hukuman ataupun pembatalan hadiah yang dijanjikan akibat kegagalan anak dalam belajar. Sedangkan pengawasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dimaksudkan agar kegiatan belajar anak menjadi terarah. Anak dapat memanfaatkan waktu belajar dengan sebaik-baiknya dan menghindari anak dari pengaruh yang tidak menguntungkan baik dari teman bergaul maupun dari pengaruh media hiburan seperti siaran televise dengan tayangan tayangan senetronnya pada jam-jam belajar, kaset VCD atau DVD, buku-buku novel yang disewa dan dipinjam yang dapat mengganggu konsentrasi belajar anak. Bentuk pengawasan tersebut secara kongrit dapat berupa nasehat dan teguran pada anak gar terhindar dari hal-hal buruk itu.

2.. Kelengkapan FasilitasBelajar dan Aktivitas BelajarSiswa

Kelengkapan fasilitas merupakan faktor penting  yang dapat mendorong aktivitas aktivitas dalam belajar. Anak tidak akan dapat belajar dengan baik, jika tidak dilengkapi dengan fasilitas belajar yang dibutuhkan. Fasilitas belajar merupakan sarana yang dapat membantu anak dalam menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah. Fasilitas belajardpat diumpamakan sebagai sebuah perahu alat kelengkapan penangkapan ikan. Sedangkan aktivitas belajar anak dapat diumpamakan sebagai pekerjaan nelayan dan kebutuhan hidup sebagai tujuan yang ingin dicapai yaitu penguasaan materi pembelajaran. Nelayan tak mungkin dapat menangkap ikan dengan baik jika tidak dilengkapi dengan perahu dan jala sebagai alat penangkap ikan.Demikan pula anak tak akan mungkin mendapat hasil belajar baik,jika tidak ditunjang dengan fasilitas belajar yang lengkap seperti buku-buku teks pelajaran, pensil penghapus, stabile, buku-buku tulis,tas sekolah, sepatu, pakaian seragam,jam tangan, meja dan kursi belajar,rak buku,lampu belajar, mesin tik, uang transportasi kendaraan seperti sepeda atau motor dan computer.

3. Kepedulian Orang Tua terhadap Pendidikan Anak dengan Fasiltas Belajar

Kelengkapan fasilitas anak di sekolah maupun di rumah sangat ditentukan oleh kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak. Orang tua yang peduli terhadap pendidikan anaknya akan berusaha memenuhi kebutuhan belajar anak tersebut. Nemun kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak ditentukan pula oleh status sosial ekonomi orang tua seperti tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua dan pekerjaan orang tua.

Orang yang berpendidikan tinggi umumnya sangat peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka. Demikian pula orang tua yang berpendapatan tinggi karena dapat memenuhi segala kebutuhan belajar anak. Pekerjaan dan pendidikan berkaitan erat dengan pendapatan. Umumnya orang tua yang bekerja pada pekerjaan professional lebih peduli terhadap pendidikan anak karena umumnya mereka berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi.

Hubungan antara variabel penelitian tersebut dapat digambarkan seperti di bawah in

M etode Penelitian

Dalam Penelitian ini dipergunakan metode survey. Menurut Singarimbun  (1989 ) penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan terhadap sampel dari populasi dengan menggunakan questioner sebagai alat pengumpul data pokok.

Berdasarkan pendapat di atas, penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian dengan menggunakan sampel sebagai sumber datanya dan  informasi di didapat melalui wawancara dengan menggunakan questioner sebagai alat pengumpul datanya.

Bentuk penelitian yang dipilih adalah korelasi, karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak sebagai variabel bebas dengan kelengkapan dan aktivitas belajar siswa di sekolah sebagai variabel terikat.

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan rumah tangga yang mempunyai anak masih sekolah. Karena alasan keterbatasan kemampuan, dana dan waktu maka jumlah sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 38 keluarga/rumah tangga. Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah quota sampel. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutrisno hadi  ( 1979 ), jika dasar quotum yang digunakan dalam penarikan sampel, yang penting adalah jumlah subjek yang diselidiki, ditetapkan terlebih dahulu.Selanjutnya penelitian segera dilakukan. Siapa yang diwawancarai atau diberi questioner sama sekali diserahkan pada team. Satu pesan yang diberikan pada team bahwa yang diselidiki harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu. Di dalam pengumpulan informasi team boleh menghubungi siapa saja yang mudah dihubungi sepanjang memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Pengumpulan data melalui responden dilakukan dengan menugaskan mahasiswa yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata di desa tersebut. Sebelum penelitian dilakukan kepada mahasiswa diberikan terlebih dahulu penjelasan mengenai cara-cara melakukan wawancara dan pengumpulan data.

Data yang masuk dari hasil wawancara dengan menggunakan questioner diolah dengan teknik perhitungan persentase dan teknik korelasi yaitu teknik korelasi tunggal dan teknik korelasi ganda.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan perhitungan persentase dan korelasi di dapat kan kesimpulan sebagai berikut :

1. Kepedulian oran tua terhadap pendidikan anak dikategorikan sangat baik. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan rumusan persentase di dapat hasil olah data bahwa kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak mencapai skor 80,11%. Ini bila dikonsultasikan dengan kriteria penilaian berada pada katagori sangat baik.

2. Kelengkapan fasilitas belajar siswa dikatagorikan sangat baik. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan rumus persentase  didapat hasilolah data bahwa kelengkapan fasilitas belajar siswa mencapai skor 85,57%. Ini bila dikonsultasikan dengan kriteria penilaian berada pada katagori sangat baik.

3. Aktivitas belajar siswa dikatagorikan sangat baik. Berdasarkan analisis data dengan menggunakan rumus persentase  didapat hasilolah data bahwa aktivitas belajar siswa mencapai skor 87,25%. Ini bila dikonsultasikan dengan kriteria penilaian berada pada katagori sangat baik.

4. Tidak terdapat korelasi positif  yang signifikan antara kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak dengan aktivitas belajar siswa di sekolah. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan rumus korelasi tunggal di dapat nilai hitung koefisien korelasi r y1 = 0,27 lebih kecil dari nilai kritik tabel  dengan db N-2 = 38-2 = 36 baik pada taraf signifikan 95% maupun 99% atau r y1 = 0,27 < 0,325 dan 0,418.

6. Terdapat hubungan yang positif yang signifikan antara kelengkapan fasilitas belajar siswa dengan aktivitas belajarnya di sekolah. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan rumus korelasi tunggal di dapat nilai hitung koefisien korelasi r y2 = 0,55 lebih besar dari nilai kritik tabel  dengan db N-2 = 38-2 = 36 baik pada taraf signifikan 95% maupun 99% atau r y2 = 0,55> 0,325 dan 0,418.

7. Tidak terdapat korelasi positif yang signifikan antara kepedulian orangh tua terhadap pendidikan anak dengan kelengkapan fasilitas belajar siswa. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan rumus korelasi tunggal di dapat nilai hitung koefisien korelasi r 1.2 = 0,31 lebih kecil dari nilai kritik tabel r dengan db N-2 = 38-2 = 36 baik pada taraf signifikan 95% maupun 99% atau r 1.2 = 0,31< 0,325 dan 0,418.

8. Terdapat korelasi positif yang signifikan antara kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak dan kelengkapan fasilitas siswa dengan aktivitas belajar siswa di sekolah. Berdasarkan hasil olah data dengan menggunakan rumus korelasi ganda di dapat nilai hitung koefisien korelasi  r y1.2 = 0,53 lebih besar dari nilai kritik tabel r dengan db N-2 = 38-2 = 36 baik pada taraf signifikan 95% maupun 99% atau r y1.2 = 0,53 > 0,325 dan 0,418.

9. Besarnya konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah adalah r2 x 100% =0,272 x 100% = 7,29%

10. Besarnya konstribusi kelengkapan fasilitas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah adalah r2 x 100% =0,552 x 100% = 30,25%

11. Besarnya konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak terhadap kelengkapan fasilitas belajar siswa adalah r2 x 100% =0,312 x 100% = 9,61%

12. Besarnya konstribusi kepedulian orang tua pada pendidikan anak dan kelengkapan fasiltas belajar siswa terhadap aktivitas belajar siswa di sekolah adalah r2 x 100% =0,532 x 100% = 28,09%

Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan hasilpenelitian maka dapatlah disarankan sebagai berikut :

1. Orang tua hendaknya selalu meningkatkan kepeduliannya terhadap aktivitas belajar anak dengan cara memotivasi, membimbing, dan mengawasi anak dalam proses belajarnya, baik di sekolah maupun di rumah, karena melengkapi anak dengan fasilitas belajar belumlah cukup unutk membangkitkan aktivitas belajar anak, masih diperlukan perhatian sunguh-sungguh dari orang tua kepada anak.

2. Guru hendaknya selalu membina hubungan kerja sama dengan orang tua siswa,karena orang tua lebih dekat dan lebih mengetahui perkembangan anaknya dan sebaliknya orang tua pun hendaknya menjalin hubungan kerja sama dengan guru,karena guru lebih mengetahui perkembangan belajar siswa di sekolah.Dengan demikian maka kesulitan belajar yang dialami siswa akan dapat diatasi secara bersama sama antara orang tua dan guru.

DAFTAR  PUSTAKA

Akhmadi dan Widodo.(1990).Psychologi Belajar.Jakarta ; Renika Cipta

Biro Pusat Statistik.(1996). Kota Madya dalam Angka.Pontianak

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.(1995).Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi Kedua.Jakarta : Balai Pustaka

Ediastuti dan Faturochman.(1995).Ferilitas dan Aktivitas Wanita di Pedesaan. Yogyakarta : Pusat Penelitian Kependudukan UGM

Hadari Nawawi.(1987).Pendidikan Nasional. Pontianak : Fakultas Ilmu Pendidikan Tanjungpura

Kuntjaraningrat.(1996).Pengantar Antropologi. Jakarta : Renika Cipta

Mantra,Ida Bagus dan Kasto.(1989).” Penentuan sampel”dalam Singarimbun Masri dan Effendi( Ed): Metode Penelitian Survai.Jakarta : LP3S hal 149-173

Martinus Yamin.(1997). Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Gunung Persada Press

Mury Yusuf. (1978). Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta : Ghalia Indonesia

Nasution. (1982). Didaktik Azas Azas Mengajar. Bandung : Jemmars

Republik Indonesia. (1983). Undang undang Dasar, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila,TAP MPR No II/MPR/1978, Garis Garis Besar Haluan Negara, TAP MPRNo II/1983

————————(2003). Undang Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (UURI No 20 th 2003) dan Peraturannya. Jakarta: Balai Pustaka

Sri Hastuti. (1986). “ Keluarga Sebagai Tonggak Kemajuan Masyarakat” dalam Pelita BPKS No 112 hal 26

Singarimbun. (1989). “ Metode dan Proses Penelitian” dalam Singarimbun Masri dan Effendi Masyarakat” dalam Pelita BPKS No 112 hal 26

Singarimbun. (1989). “ Metode dan Proses Penelitian” dalam Singarimbun Masri dan Effendi  (Ed). Metode Ed). Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3S Hal 3

Sutrisno Hadi. (1979). Metode Research. Jilid I. Yogyakarta : Fakultas Psychologi Universitas Gajah Mada

Tateki Yoga. (1990). “ Kenakalan RemajaR Suatu Tantangan Bagi Orang Tua “ dalam Pelita BPKS No 134 hal 17

Zuldafrial. ( 1996). Fertilitas dan Kualitas Pendidikan Anak. Yogyakarta : Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada

————–(2008). Belajar dan Interaksi Belajar Mengajar. Pontianak : STAIN Press

————–(1998). Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan Penyuluhan. Pontianak : STKIP-PGRI

————–(1999). Hubungan Sosial Ekonomi dengan Kepedulian Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak di Sekolah, Studi Kasus di Kecamatan Sukadana. Pontianak : STKIP-PGRI

 

Tulisan ini dipublikasikan di Publikasi, Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Hubungan Kepedulian Orang Tua pada Pendidikan Anak dan Kelengkapan Fasilitas Belajar siswa dengan Hasil Belajar Siswa

  1. husni aminul berkata:

    nomor telp cancer55 kok tidak ada…. saya mw konsul dengan Bpak Drs. ZULDAFRIAL, M.Si….
    bagi yang ada nomor HP beliau kasih thu saya di 085265659506…
    terimakasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s